Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Bryan akhirnya melirik jam tangannya.
Gerakan kecil yang sebenarnya biasa saja, namun cukup membuat Yusallia menyadari bahwa waktu mereka hampir habis.
“Gue kayaknya harus cabut bentar lagi,” kata Bryan pelan.
Nada suaranya santai, tapi terdengar sedikit menyesal.
Yusallia mengangguk kecil.
“Kerjaan?”
“Iya. Ada meeting yang ga bisa gue tunda.”
“Diplomat sibuk,” goda Yusallia ringan.
Bryan tersenyum.
“Psikiater juga sibuk.”
“Ga sesibuk lo.”
Bryan tertawa kecil.
“Ga juga.”
Ada jeda kecil di antara mereka.
Bukan jeda canggung, tapi jeda yang terasa terlalu cepat datang.
Seolah percakapan mereka baru saja mulai nyaman, namun waktu sudah meminta mereka berhenti.
“Thanks ya udah mau ketemu,” kata Bryan.
“Gue juga yang harusnya bilang makasih.”
“Kenapa?”
“Udah khawatirin gue dari semalem.”
Bryan menghela napas pelan.
“Ya iyalah gue khawatir.”
Nada suaranya terdengar ringan, namun tulus.
“Lo tau sendiri kan…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Namun Yusallia mengerti.
Bryan memang selalu seperti itu.
Perhatian.
Tanpa terasa berlebihan.
“Gue beneran aman kok,” kata Yusallia lagi, seolah mencoba meyakinkan bukan hanya Bryan, tapi juga dirinya sendiri.
Bryan menatapnya beberapa detik.
Lalu mengangguk.
“Iya.”
Ia tidak bertanya lagi.
Tidak mendesak lagi.
Seperti sebelumnya, ia memilih mempercayai apa yang ingin Yusallia tunjukkan.
“Lain kali kabarin kalo pulang malem,” kata Bryan santai.
“Iya ibu.”
“Enak aja.”
Yusallia tertawa kecil.
Momen kecil yang terasa ringan, meskipun di baliknya ada banyak hal yang tidak mereka ucapkan.
Bryan berdiri lebih dulu.
Yusallia ikut berdiri.
Mereka berjalan menuju kasir bersama.
Bryan secara refleks mengeluarkan kartu dari dompetnya.
“Eh, gue bayar sendiri aja,” kata Yusallia cepat.
“Udah, santai aja.”
“Bryan.”
“Udah gue bilang santai aja.”
Nada suaranya ringan, namun tidak memberi ruang untuk perdebatan panjang.
Yusallia menghela napas kecil.
“Next gue yang traktir.”
“Deal.”
Transaksi selesai dengan cepat.
Setelah itu mereka berjalan keluar cafe bersama.
Udara siang terasa sedikit lebih hangat dibanding saat Yusallia datang tadi.
Langit terlihat cerah.
Suasana jalanan cukup ramai, kendaraan lalu lalang dengan ritme yang terasa biasa.
Bryan berhenti beberapa langkah dari pintu cafe.
Mobil mereka terparkir tidak terlalu jauh satu sama lain.
“Lo langsung pulang?” tanya Bryan.
“Iya.”
“Istirahat yang bener.”
“Iya dokter.”
Bryan tertawa kecil.
“Lo tuh.”
Yusallia tersenyum tipis.
“Thanks ya udah nyempetin ketemu.”
“Anytime.”
Ada jeda kecil.
Seolah masing-masing ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya memilih untuk tidak mengatakannya.
Bryan membuka pintu mobilnya.
Namun sebelum benar-benar masuk, ia menoleh lagi.
“Yusa.”
“Hm?”
“Beneran gapapa kan?”
Pertanyaan yang sama.
Namun kali ini nadanya lebih pelan.
Lebih hati-hati.
Yusallia mengangguk.
“Iya. Gue gapapa.”
Bryan menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
“Yaudah. Hati-hati di jalan.”
“Lo juga.”
Bryan masuk ke mobilnya.
Mesin mobilnya menyala tidak lama kemudian.
Yusallia berdiri beberapa detik di tempatnya, melihat mobil Bryan perlahan menjauh dari area parkir.
Ada rasa hangat yang tertinggal.
Namun juga ada rasa bersalah kecil yang tidak bisa ia abaikan.
Ia menghela napas pelan sebelum berjalan menuju mobilnya sendiri.
Begitu masuk ke dalam mobil, suasana terasa jauh lebih sunyi.
Tidak ada percakapan ringan.
Tidak ada suara mesin kopi.
Tidak ada tawa kecil.
Hanya dirinya sendiri.
Ia menyalakan mesin mobil perlahan.
Tangannya sempat terdiam beberapa detik di atas setir.
Pikirannya kembali pada kejadian semalam.
Cepat.
Terlalu cepat.
Ia memejamkan mata sebentar.
Lalu menggeleng pelan, seolah mencoba mengusir bayangan yang terus muncul tanpa diundang.
Mobilnya mulai bergerak keluar dari area parkir.
Perjalanan menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya.
Padahal jalanan tidak macet.
Lampu merah terasa sedikit lebih lama.
Setiap jeda memberi ruang bagi pikirannya untuk kembali mengingat detail yang berusaha ia lupakan sejak pagi.
Tatapan Rionegro.
Nada suaranya yang rendah.
Kehangatan yang masih terasa samar di kulitnya.
Yusallia menggenggam setir sedikit lebih erat.
Ia menyalakan radio, mencoba mengalihkan pikirannya.
Namun lagu yang terdengar justru membuat suasana semakin terasa tenang.
Terlalu tenang.
Dan ketenangan itu justru membuat pikirannya semakin berisik.
Ia akhirnya mematikan radio lagi.
Beberapa menit kemudian, mobilnya memasuki halaman rumah.
Rumah itu terlihat sama seperti biasanya.
Megah.
Rapi.
Indah.
Namun entah kenapa terasa sedikit lebih sunyi hari ini.
Yusallia mematikan mesin mobil dan duduk beberapa detik di dalam.
Ia menatap ke depan tanpa benar-benar fokus pada apa pun.
Lalu akhirnya keluar dari mobil.
Langkahnya pelan saat memasuki rumah.
Beberapa staf rumah menyapanya dengan sopan.
Ia membalas dengan senyum kecil.
“Non Yusa sudah makan siang?” tanya salah satu dari mereka.
“Udah,” jawabnya singkat.
Ia tidak ingin berbicara terlalu banyak.
Ia langsung berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
Langkahnya terasa sedikit lebih cepat begitu sampai di depan pintu kamar.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, suasana langsung berubah.
Sunyi.
Tenang.
Terlalu tenang.
Ia meletakkan tasnya di atas meja.
Sepatu dilepas perlahan.
Jaket panjang yang ia kenakan dilepas dan digantung dengan rapi.
Gerakan kecil yang biasanya terasa biasa saja.
Namun kali ini terasa seperti upaya menenangkan diri.
Ia berjalan ke arah cermin.
Refleks menatap dirinya sendiri.
Wajahnya terlihat sama.
Namun matanya tampak sedikit berbeda.
Lebih lelah.
Lebih banyak berpikir.
Ia menghela napas pelan.
Tangannya menyentuh ujung rambutnya sebentar, merapikannya tanpa benar-benar perlu.
Pikirannya kembali pada semalam.
Apartemen itu.
Hujan.
Percakapan yang terlalu jujur.
Dan kedekatan yang tidak pernah ia rencanakan.
Ia memejamkan mata sejenak.
Kenapa semuanya terasa begitu cepat?
Ia tidak pernah membayangkan sesuatu seperti itu akan terjadi.
Bukan dengannya.
Bukan dengan seseorang yang bahkan baru ia kenal.
Namun semua sudah terjadi.
Dan sekarang ia tidak bisa berpura-pura bahwa itu hanya mimpi.
Ia berjalan menuju lemari.
Mengganti pakaiannya dengan sesuatu yang lebih nyaman.
Kaos longgar dan celana rumah.
Kesederhanaan yang terasa menenangkan.
Ia duduk di tepi tempat tidur.
Tangannya terdiam di atas pangkuannya.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia membiarkan dirinya benar-benar memikirkan semuanya.
Perasaan hangat yang sempat ia rasakan semalam membuat dadanya terasa sedikit sesak sekarang.
Bukan karena penyesalan sepenuhnya.
Namun karena kebingungan.
Ia tidak tahu harus menganggap kejadian itu sebagai apa.
Kesalahan?
Kebetulan?
Atau sesuatu yang memang tidak bisa dihindari?
Ia menunduk pelan.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat mengingat bagaimana semuanya dimulai hanya dari percakapan sederhana.
Tatapan yang terlalu lama.
Jarak yang terlalu dekat.
Keheningan yang terasa terlalu nyaman.
Seolah semuanya berjalan dengan sendirinya tanpa benar-benar dipikirkan.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Berusaha menenangkan pikirannya yang mulai berputar terlalu jauh.
Bagaimana jika semua ini hanya berarti baginya?
Bagaimana jika bagi Rionegro, itu hanya satu malam yang kebetulan terjadi?
Pikiran itu membuat dadanya terasa sedikit lebih berat.
Ia bahkan belum benar-benar mengenalnya.
Belum tahu banyak tentang hidupnya.
Belum tahu bagaimana pria itu memandang hubungan.
Namun yang ia tahu, dirinya tidak terbiasa melakukan sesuatu tanpa memikirkannya lebih dulu.
Dan semalam, ia melakukannya.
Tanpa rencana.
Tanpa persiapan.
Tanpa berpikir panjang.
Ia merebahkan tubuhnya perlahan di atas tempat tidur.
Matanya menatap langit-langit kamar.
Kamar itu terasa sama seperti biasanya.
Namun dirinya terasa sedikit berbeda.
Ia menghela napas panjang.
Mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Bahwa ini hanya satu kejadian yang tidak perlu terlalu dipikirkan.
Bahwa hidupnya tetap akan berjalan seperti biasa.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu sesuatu telah berubah.
Dan perubahan itu mungkin baru saja dimulai.