NovelToon NovelToon
Suami Untuk Shanum

Suami Untuk Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:96k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.

Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Berbohong

"Nggak apa-apa, kamu nggak perlu minta maaf," ucap Abi.

Abi melangkah menuju meja makan yang permukaannya sudah tampak lebih mengkilap dari pagi tadi, ia meletakkan kantong plastik berlogo restoran fine dining dan satu kotak martabak manis yang masih menebarkan aroma mentega serta cokelat yang kuat.

"Saya tadi lewat depan kedai martabak yang antreannya panjang, kata rekan saya di kampus, ini yang paling enak di Bandung. Jadi saya sekalian beli untuk camilan," ucap Abi sambil membuka kancing manset di pergelangan tangannya.

Shanum hanya mengangguk pelan, matanya menatap kotak martabak itu dengan binar tertahan, perutnya yang kosong sejak pagi seolah melakukan protes saat mencium aroma manis tersebut.

"Mas... Mas Abi mau mandi atau mau makan dulu?" tanya Shanum dengan suara yang sedikit bergetar menahan lapar.

Abi menoleh, ia memperhatikan wajah Shanum yang tampak sedikit lebih pucat dari biasanya. "Saya mandi dulu, kamu sudah makan makanan yang di kulkas, kan? Tadi saya pesan menu tambahan dari restoran ini untuk makan malam kita, tapi kamu bisa makan martabaknya duluan kalau mau," ucap Abi datar.

Shanum terdiam sejenak, ia ingin jujur bahwa ia sama sekali belum menyentuh makanan karena tidak tahu cara menyalakan kompor atau microwave, namun rasa malunya jauh lebih besar. Ia takut dianggap udik atau tidak berpendidikan karena tidak bisa menggunakan alat elektronik tersebut.

"I-iya, Mas. Tadi... sudah," bohong Shanum pelan, kepalanya menunduk menghindari tatapan tajam Abi.

"Baguslah," jawab Abi singkat sebelum berlalu menuju kamar utama.

Sepeninggal Abi, Shanum segera menyiapkan piring dan gelas. Ia menata makanan dari restoran tersebut, seporsi bebek peking dan sayur brokoli bawang putih ke atas meja, gerakannya sangat cekatan dan berusaha menutupi rasa lemas di persendiannya.

Dua puluh menit kemudian, Abi keluar dengan pakaian santai, kaus oblong putih dan celana pendek selutut. Rambutnya masih sedikit basah, memberikan kesan segar yang berbeda dari sosok dosen dingin di kampus. Ia duduk di kursi meja makan, sementara Shanum berdiri di sampingnya untuk menuangkan air putih.

"Duduk, Shanum. Kita makan sama-sama," perintah Abi.

Shanum duduk di kursi sebelah Abi, saat sendok pertama menyentuh piring, tangan Shanum sedikit gemetar, ia menyuap nasi dengan perlahan dan berusaha tetap terlihat sopan di depan suaminya. Namun, rasa lapar yang teramat sangat membuatnya tak sengaja menyuap lebih cepat di suapan kedua.

Abi pun mulai menyadari sesuatu yang janggal, ia meletakkan sendoknya dan menatap piring Shanum lalu beralih ke wajah istrinya.

"Shanum," panggil Abi rendah.

"I-iya, Mas?" Shanum tersentak, butiran nasi hampir tersedak di tenggorokannya.

"Tadi siang kamu makan jam berapa?" tanya Abi menyelidik.

Shanum menelan ludahnya susah payah, "Tadi... setelah salat zuhur, Mas," jawab Shanum.

Abi menyipitkan mata, kemudian ia berdiri dan berjalan menuju dapur, tepatnya ke arah tempat sampah kecil yang tersembunyi di bawah wastafel. Abi membukanya dan mendapati tempat sampah itu masih kosong bersih dan hanya ada tisu bekas yang dibuang pagi tadi, ia lalu membuka kulkas dan melihat wadah fuyunghai serta tumis buncis sisa semalam masih berada di posisi yang persis sama dengan saat ia meninggalkannya tadi pagi.

Abi berbalik dan wajahnya kini mengeras, "Kamu berbohong, Shanum," ucap Abi.

Tubuh Shanum menegang, ia meletakkan sendoknya, tangannya bertautan di bawah meja dengan cemas. "Maaf, Mas," ucap Shanum pelan.

"Kenapa kamu tidak makan? Saya sudah menuliskan pesan agar kamu memanaskan makanannya," suara Abi naik satu oktaf, bukan karena marah karena dibohongi, melainkan karena rasa tidak percaya bahwa istrinya membiarkan dirinya kelaparan selama hampir sepuluh jam.

Shanum menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku... aku nggak tahu cara pakai kompornya, Mas. Tadi aku coba pencet, tapi bunyinya berisik dan nggak ada apinya. Aku takut barangnya rusak, jadi aku taruh lagi makanannya di kulkas," jawab Shanum.

Setelah mendengar jawaban Shanum, suasana di apartemen tersebut pun menjadi hening, Abi terpaku di tempatnya berdiri dan ia melihat bagaimana bahu mungil Shanum gemetar karena menahan tangis dan rasa malu.

Rasa bersalah seketika menghujam dada Abi, ia baru sadar bahwa ia telah membawa seorang gadis yang terbiasa dengan kesederhanaan desa langsung ke dalam lingkungan teknologi tinggi tanpa memberikan penjelasan apa pun.

Abi menghela napas panjang, lalu ia melangkah mendekati Shanum. Alih-alih memarahi, ia justru menarik kursi di dekat Shanum dan duduk menghadapnya.

"Kenapa tidak menelepon saya?" tanya Abi dan suaranya kini melunak.

"Aku... aku nggak punya nomor Mas Abi," jawab Shanum pelan.

Abi memejamkan mata sejenak dan merutuki kebodohannya sendiri, di mana ia lupa memberikan nomor teleponnya pada istrinya.

Tanpa berkata-kata, Abi mengambil piring milik Shanum yang nasinya baru berkurang sedikit, lalu ia menyendokkan potongan bebek peking yang cukup besar dan menyodorkannya ke arah mulut Shanum.

"Makan," ucap Abi singkat.

"Mas, biar aku makan sendiri...," belum sempat Shanum menyelesaikan perkataannya, Abi sudah bersuara.

"Makan, Shanum. Ini perintah suamimu," potong Abi yang tidak ingin dibantah.

Shanum akhirnya membuka mulut dan menerima suapan itu, rasa gurih bebek yang empuk seketika memenuhi indra perasanya. Abi terus menyuapi Shanum dengan telaten dan memastikan istrinya menghabiskan porsi yang cukup sebelum ia sendiri mulai makan.

"Setelah makan, saya akan ajarkan kamu cara pakai semuanya. Kompor, microwave, sampai mesin cuci," ucap Abi di sela-sela kegiatan mereka.

"Iya, Mas," jawab Shanum.

"Jangan pernah berbohong lagi, kalau kamu lapar, bilang lapar. Kalau kamu bingung, bilang bingung. Saya ini suami kamu dan saya berhak atas kamu," ucap Abi tegas seperti membentak Shanum.

Shanum mengangguk pelan, "I-iya, Mas," ucap Shanum dan berusaha agar tidak menangis, meskipun ia sering dibentak oleh keluarga atau tetangganya, namun rasa sedih karena dibentak Abi jauh lebih besar dan membuatnya takut.

Bagi Abi, suara tegas itu adalah bentuk tanggung jawab dan kedisiplinan, namun bagi Shanum, itu terdengar seperti lonceng peringatan bahwa ia telah melakukan kesalahan besar.

​Shanum menunduk dalam, butiran air mata yang nyaris jatuh ia seka dengan gerakan cepat menggunakan ujung hijabnya dan berpura-pura seolah hanya sedang merapikan letak kainnya.

Shanum tidak ingin Abi melihat sisi lemahnya, ia tidak ingin dianggap sebagai beban yang merepotkan.

​"Sudah habis," gumam Abi sambil meletakkan sendok ke piring yang kini bersih.

"Sekarang, ikut saya ke dapur," lanjut Abi.

Abi berdiri di depan kompor induksi yang tadi sempat membingungkan Shanum, ​"Lihat ini, Shanum," ucap Abi sambil menunjuk permukaan kaca hitam itu.

"Ini namanya kompor induksi, dia tidak mengeluarkan api seperti kompor gas. Dia menggunakan magnet untuk menghantarkan panas langsung ke pancinya," lanjut Abi.

Abi mengambil tangan Shanum, jemari Shanum yang dingin dan sedikit gemetar itu ia bimbing untuk menyentuh tombol power.

​"Tekan yang ini, kalau ada bunyi pip, itu artinya dia sedang mencari alat masak. Kalau tidak ada panci di atasnya, dia akan terus berbunyi sebagai peringatan, lalu ini untuk mengatur suhunya dan tanda tambah untuk lebih panas, kalau kurang untuk mengecilkan," lanjutnya.

​Shanum mengangguk pelan, matanya memperhatikan lekat-lekat gerakan tangan Abi. Abi menjelaskan dengan sabar dan mengulanginya dua kali sampai Shanum berani mencobanya sendiri.

​Setelah kompor, Abi beralih ke microwave. Ia menunjukkan cara membuka pintu kaca yang berat itu dan menjelaskan fungsi angka-angka di layarnya.

​"Kalau mau menghangatkan nasi atau lauk, cukup masukkan, lalu tekan tombol ini. Mulai dari satu menit saja. Jangan pernah masukkan benda logam atau aluminium foil ke dalam sini mengerti," ucap Abi.

​"I-iya, Mas. Mengerti," jawab Shanum lirih.

.

.

.

Bersambung.....

1
Ladyicha Haruna
Buatlah Shanum berani membela dirinya banyak banyak..jangan jadi manja jadi perempuan
Yuliana Tunru: smoga s3jua badai akan berlalu ..pandu mana ya apa dia tdk cari2 ibu x lagi atau jg sdh tqu kejahatan ihu x pd ahanum diva jg gmn kabar x apa tdk hadir saat sukuran rmh dan kandungan shanum
total 1 replies
Nasiati
mendingan keluar dr rumah shanum
Ha Liyah
kenapa akhir-akhir ini updatenya cuma 1 episode doang thor?
Rea
b
Rea
weslah num, num gemes, mbok yao jangan terus jadi beban suami, kali kali dibuat pinter lah Thor, setidaknya jadi perempuan kuat, untuk dirinya.
Putri Anghita Tera Vita
please lah ko shanum kee cewek lemah banget
Yuliana Tunru
astaga ketemu gea lagi ,yg mukut x kyk racun ayo abi ini kecoak2 yg hrs kaku basmi buat shanum
Ladyicha Haruna
jangan terlalu gambar kan shanum wanita lemah...pantas memang ditindas .dan rasanya enak memang menindas dia..tidak ada perlawanan hanya andalkan orang...bagaimana mau besarkan anak di kejamnya persekolahan🤭🤭🤭
𝐈𝐬𝐭𝐲
mulut Gea minta di tabok pake bakiak nih ..😡
𝐈𝐬𝐭𝐲
dia bilang anak durhaka dia gak sadar kalo dirinya adalah ibu yg durhaka dan biadab👿
𝐈𝐬𝐭𝐲
kenapa kemarin yg mati bapak nya bukan ibunya saja thor...
bikin emosi aja nih ibunya shanum👿👿
Eva Tigan
mati ketabrak aja nya maunya ibu nya si Shanum ini..dia yg ibu durhaka
Nur Syamsi
Siapa tau udah selesai buku nikahnya diurus SMA Mas Abinya cuma lupa dikasi tau Shanumnya,
Nur Syamsi
Alhamdulillah Shanum ngidam mama dan papa mertua 🤲🤲menilai
Nur Syamsi
😂😂😂
Indra Reza Zulkifli
udah baca sampe bab ini,,kurang suka karakter shanum,, 🙏 🤭
Nur Syamsi
Buah dr kesabaranmu Shanum, waktu belum nikah di hina terus Krn miskin dan belum nikah bahkan ibumu sendiri menghinamu ....yg ternyata matre ...
Retno Harningsih
lanjut
Nur Syamsi
Adakah suami yg sebijaksana Abi di dunia nyata ya thor.
Nur Syamsi
😭😭😭😭😭 sabar Shanum ini adalah ujian kehidupan dan rumah tangga ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!