Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu yang Kembali dari Neraka
Tebing Jurang Ratapan menjulang laksana dinding keputusasaan yang memisahkan alam fana dan neraka berlumpur darah. Permukaan batu karangnya setajam bilah pedang yang patah, diselimuti oleh lumut beracun yang licin dan kabut tebal yang mampu membutakan pandangan pendekar biasa.
Bagi para petarung di Kota Debu Merah, memanjat tebing ini tanpa bantuan tali pusaka atau pijakan susunan aksara adalah tindakan bunuh diri. Namun, sesosok bayangan terus bergerak naik menentang hukum alam yang menariknya ke bawah, merayap dengan kecepatan yang mengerikan bak seekor laba-laba iblis.
Crak! Crak!
Suara batu karang yang remuk terdengar setiap kali sosok itu bergerak. Shen Yuan membenamkan kelima jarinya ke dalam dinding batu padat seolah-olah ia sedang menembus sepotong tahu. Otot-otot punggungnya yang terbentuk sempurna menegang kuat, menarik tubuhnya melesat ke atas sejauh belasan tombak dalam satu tarikan napas.
Kekuatan jasmani dari Puncak Ranah Penempaan Raga Lapisan Keempat benar-benar menakutkan. Tubuh fana Shen Yuan kini sekeras zirah perunggu berkat Pembersihan Sumsum dari Teratai Tulang Putih. Kabut beracun yang terus mencoba meresap ke dalam pori-pori kulitnya sama sekali tidak melukainya. Sebaliknya, Nadi Iblis Penelan Surga yang bersemayam di balik dagingnya secara alami menyerap racun-racun ringan tersebut, menggilingnya menjadi debu, dan membuangnya melalui hembusan napas.
"Hanya tersisa seratus tombak lagi..." gumam Shen Yuan, menatap ke arah cahaya bulan pudar yang mulai menembus tabir kabut di atasnya.
Mata hitamnya memancarkan niat membunuh yang sedingin es. Setiap kali ia mengingat rasa sakit saat pembuluh nadinya yang layu ditendang dan Pil Tulang Besi milik mendiang ibunya dirampas, hawa murni di dalam Dantian-nya bergejolak seperti lautan yang mengamuk.
Dengan satu raungan rendah, Shen Yuan mengerahkan sisa tenaganya ke kedua kakinya. Ia menjejakkan kakinya sekuat tenaga pada dinding tebing.
Bum!
Batu karang di bawah kakinya hancur berkeping-keping akibat lonjakan tenaga yang dahsyat. Tubuh Shen Yuan melesat ke udara seperti anak panah yang lepas dari busurnya, menembus lapisan kabut terakhir, dan mendarat dengan suara debuman pelan di atas tanah basah Bukit Belakang Keluarga Shen.
Ia telah kembali.
Angin malam berhembus menyapu wajahnya, membawa aroma pinus basah dan bau tanah khas Kota Debu Merah. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat deretan atap melengkung dari paviliun-paviliun mewah Keluarga Shen yang diterangi oleh lampion-lampion sutra merah. Tempat itu tampak damai dan makmur, sangat kontras dengan neraka berdarah tempat Shen Yuan bertahan hidup selama tiga hari terakhir.
Tepat saat Shen Yuan hendak melangkah maju, telinganya yang kini sangat tajam menangkap suara gemerisik langkah kaki dan percakapan samar dari balik semak belukar.
"...benar-benar sial nasib kita. Malam yang dingin begini, kita malah disuruh berpatroli di bibir Jurang Ratapan. Memangnya siapa yang akan memanjat dari bawah sana? Hantu?"
Seorang pria berseragam abu-abu dengan lentera minyak di tangannya berjalan sambil menggerutu. Di sampingnya, seorang pria lain yang berwajah licik ikut menyahut sambil merapatkan kerah bajunya.
"Sudahlah, jangan banyak mengeluh. Tuan Muda Shen Tian sedang mengadakan perjamuan kecil di Paviliun Angin Musim Gugur untuk merayakan terobosannya ke Ranah Penempaan Raga Lapisan Keempat. Semua pelayan tingkat tinggi sedang sibuk melayaninya di sana. Kita ini hanya pesuruh rendahan, wajar saja dibuang ke bukit belakang."
"Cih, Lapisan Keempat. Pil Tulang Besi yang ia rampas dari si sampah Shen Yuan itu benar-benar manjur ya?" pelayan pertama mendengus iri. "Ngomong-ngomong soal Shen Yuan, aku masih merinding mengingat mata anak itu saat Tuan Muda Shen Tian menendangnya ke jurang tiga hari yang lalu."
Pelayan berwajah licik itu tertawa meremehkan. "Mata apa? Mata anjing yang mau mati? Sudahlah, anak cacat itu pasti sudah jadi kotoran serigala di bawah sana. Lagipula, berkat kematiannya, Tuan Muda Shen Tian akhirnya bisa mengambil alih Paviliun Angin Musim Gugur peninggalan mantan jenius Shen Jian. Keluarga Shen sekarang sepenuhnya berada di bawah kendali kubu Tetua Agung."
Di balik kegelapan cabang pohon pinus purba, Shen Yuan berdiri tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun. Matanya menyipit saat mendengar nama 'Paviliun Angin Musim Gugur' disebut. Itu adalah paviliun tempat ia dan ayahnya tinggal. Tempat yang menyimpan kenangan terakhir ibunya. Dan kini, anjing bernama Shen Tian itu berani menodai tempat tersebut.
"Hehehe... Kau dengar itu, Bocah? Musuhmu sedang berpesta merayakan penderitaanmu. Apakah kau akan masuk dari pintu depan dan meminta maaf seperti orang suci, atau kau akan membasuh gerbang mereka dengan darah?" suara Leluhur Darah bergema menggoda di dalam pikirannya.
Shen Yuan tidak menjawab. Ia hanya perlahan menjatuhkan dirinya dari atas pohon pinus, mendarat tepat di belakang kedua pelayan yang masih sibuk mengobrol itu. Gerakannya sehalus bulu yang jatuh ke tanah, tanpa riak hawa murni, murni mengandalkan kendali otot dari Lapisan Keempat.
"Kalian merindukanku?"
Suara dingin yang tiba-tiba terdengar di belakang tengkuk mereka membuat darah kedua pelayan itu membeku seketika. Hawa dingin yang memancar dari suara itu terasa seperti hembusan napas malaikat maut.
Keduanya berbalik dengan kaku. Lentera minyak di tangan pelayan pertama berayun, menyorot sesosok pemuda dengan pakaian compang-camping, rambut panjang yang berantakan, dan sepasang mata yang menyala merah di tengah kegelapan malam.
"Hiiik!" Pelayan pertama terpekik ngeri, menjatuhkan lenteranya hingga minyaknya tumpah dan apinya padam. Kakinya gemetar hebat hingga ia jatuh terduduk di atas tanah yang basah. "H-Hantu! Arwah penasaran Tuan Muda Shen Yuan kembali!"
Pelayan berwajah licik itu menelan ludah, wajahnya sepucat kertas. Ia mencoba merogoh pedang pendek di pinggangnya. "K-Kau... bukankah kau sudah mati?! Dasar sampah cacat, beraninya kau menakut-nakuti kami!"
Alih-alih mundur, pelayan licik itu mencabut pedangnya dan menusukkannya lurus ke dada Shen Yuan. Di matanya, Shen Yuan hanyalah seorang cacat di Lapisan Pertama. Arwah atau manusia, satu tusukan pasti akan membereskannya.
Namun, yang terjadi selanjutnya membuat kewarasan pelayan itu runtuh.
Trang!
Pedang baja itu menghantam dada telanjang Shen Yuan, namun bukan daging yang tertembus, melainkan suara nyaring logam yang berbenturan dengan batu karang. Ujung pedang itu patah menjadi dua!
Mata pelayan itu membelalak hampir keluar dari kelopaknya. "T-Tubuh sekeras baja... Ini... Ini bukan Lapisan Pertama! Tuan Muda, ampuni—"
Grep!
Sebelum kata-katanya selesai, tangan kanan Shen Yuan melesat ke depan dan mencekik leher pelayan licik itu, mengangkat tubuhnya yang berbobot seratus kati ke udara dengan satu tangan. Urat-urat nadi di lengan Shen Yuan menonjol seperti akar naga.
"Tiga hari yang lalu, kau yang menyeret kaki kiriku ke tepi tebing, bukan?" bisik Shen Yuan pelan, menatap lurus ke dalam mata pelayan yang kini meronta-ronta kehabisan napas itu.
"Ugh... ugh..." Pelayan itu menendang-nendang udara, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Shen Yuan, namun tangan itu kokoh bagai penjepit besi pembakar.
"Tidak perlu menjawab."
Krek!
Dengan satu remasan ringan, Shen Yuan meremukkan tulang leher pelayan itu hingga berkeping-keping. Kepalanya terkulai dengan sudut yang tidak wajar. Shen Yuan membuang mayat itu ke samping seolah membuang sekarung sampah busuk.
Melihat temannya mati dalam satu kedipan mata, pelayan pertama yang terduduk di tanah kehilangan kendali atas kandung kemihnya. Celananya basah kuyup. Ia bersujud berkali-kali hingga dahinya berdarah terbentur batu.
"T-Tuan Muda Shen Yuan! Ampuni anjing rendah ini! Saya hanya menjalankan perintah! Saya dipaksa oleh Shen Tian!" ratapnya sambil menangis tersedu-sedu.
Shen Yuan melangkah maju, ujung sepatu jeraminya yang berlumuran darah berhenti tepat di depan hidung pelayan yang sedang bersujud itu.
"Kau bilang... Shen Tian ada di Paviliun Angin Musim Gugur?" tanya Shen Yuan, suaranya datar, tanpa emosi, layaknya dewa kematian yang sedang mencatat buku umur.
"B-Benar! Tuan Muda Shen Tian sedang berada di sana bersama beberapa pemuda dari keluarga cabang! Dia... Dia merayakan kebangkitannya ke Lapisan Keempat! Tolong, jangan bunuh saya, saya akan menutup mulut rapat-rapat!" pelayan itu memohon, air mata dan ingus bercampur di wajahnya.
"Terima kasih atas keterangannya," ucap Shen Yuan perlahan.
Lalu, kaki kanannya melesat ke bawah, menghantam kepala pelayan yang sedang bersujud itu dengan kekuatan penuh.
Baaam!
Kepala pelayan itu amblas ke dalam tanah berlumpur sedalam setengah jengkal. Tubuhnya kejang sesaat sebelum akhirnya tak bernyawa. Shen Yuan tidak pernah memiliki niat untuk membiarkan mereka hidup. Hukum pertama dari Iblis Penelan Surga adalah mencabut rumput hingga ke akarnya; menyisakan saksi mata hanya akan membawa bencana yang tidak perlu sebelum ia benar-benar siap.
Shen Yuan memutar Sutra Penelan Surga. Hawa murni merah kehitaman keluar dari tangannya, menyapu kedua mayat pelayan itu. Meski esensi darah manusia fana tingkat rendah ini sangat kotor dan hampir tidak memberikan peningkatan ranah apa pun bagi Shen Yuan yang kini berada di Puncak Lapisan Keempat, namun itu cukup untuk memulihkan sedikit tenaga fisiknya setelah mendaki tebing.
Kedua mayat itu mengering menjadi kerangka berlapis kulit layu, mustahil dikenali lagi sebagai manusia.
Shen Yuan berdiri tegak di tengah kegelapan. Tatapannya tertuju pada puncak tertinggi di kediaman Keluarga Shen—sebuah paviliun mewah yang dihiasi lentera terang benderang. Samar-samar, suara tawa angkuh dan denting cangkir arak terdengar terbawa angin malam.
"Lapisan Keempat? Sayang sekali, ranah yang kau banggakan itu hanyalah langkah pertamaku," gumam Shen Yuan.
Ia berjalan menembus bayang-bayang pohon pinus, meninggalkan Bukit Belakang dan melangkah masuk ke dalam area kediaman utama Keluarga Shen. Malam ini, langit mendung tanpa bintang. Hujan rintik-rintik kembali turun, seolah alam semesta sedang bersiap untuk membersihkan darah yang akan segera tumpah di Kota Debu Merah.
Jalan Iblis Penelan Surga benar-benar dimulai dari sini.