Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. perjanjian tertulis!
Di lorong sekolah yang cukup sepi, Leonel melepaskan genggamannya dengan kasar. Ia mendorong gadis itu sampai punggungnya membentur tembok, lalu dengan cepat mengunci tubuh Aira, satu tangannya menumpu kuat pada tembok di samping kepala Aira, memerangkapnya tanpa celah.
“El, kamu mau ngapain? Jangan cium di sini, banyak orang…” bisik Aira pelan. Matanya perlahan mulai terpejam, wajahnya terangkat sedikit, benar-benar mengira Leonel menguncinya karena ingin menciumnya.
“Siapa yang ingin menciummu, cewek gila!” desis Leonel tajam, segera menjauhkan kepalanya dengan raut wajah jijik sekaligus tak habis pikir.
Aira membuka mata. Alih-alih merasa bersalah, sebuah senyum justru terbit di bibirnya.
“Ya, Aira kira kamu mau cium. Nanti boleh-boleh saja, tapi jangan di depan banyak orang, ya,” ujarnya dengan nada sangat percaya diri, seolah sedang memberikan izin istimewa.
Leonel mengepalkan tangannya kuat hingga otot lengannya menegang. “Aira, sepertinya semakin aku sabar dengan semua tingkah kamu, kamu makin ngelunjak, ya! Dengar ini baik-baik. Perbuatan kamu tadi sangat memalukan. Sebenarnya... kamu punya harga diri gak sih sebagai cewek?”
Aira terdiam sejenak, namun ia masih berdiri kokoh. Ia menatap langsung ke dalam manik mata Leonel yang berkilat marah.
“Aku punya harga diri, El. Justru karena aku punya harga diri, makanya aku terus maju sampai kamu mau. Dan oh ya, cinta itu diperjuangkan, bukan cuma dilihat. Selama kamu tidak membatasi aku, maka aku akan terus mengejar kamu. Paham!” ujar Aira tegas. Kalimat penolakan Leonel yang sarat akan hinaan itu ternyata belum cukup untuk meruntuhkan pertahanannya.
“Keras kepala! Jangan lagi aku lihat drama kayak tadi. Sampai kamu lakuin lagi, aku tidak akan hanya menegur dengan kalimat, Aira Putri Manggala!” desis Leonel penuh ancaman, lalu ia berbalik dan pergi meninggalkan gadis itu begitu saja.
Aira berdiri mematung di sana. Lagi-lagi, ia tidak mendapat jawaban pasti. Ia hanya diam menatap punggung tegap Leonel yang melangkah lebar menjauh, sampai sosok itu benar-benar menghilang di tikungan koridor.
“Hahaha, ditolak lagi? Aira, kamu tuh harusnya malu. Leonel itu tidak suka sama kamu, masa maksa terus? Malu ih, ditolak berkali-kali!”
Dua cewek cantik dengan seragam yang dimodifikasi agar terlihat lebih modis berjalan mendekat. Mereka menatap Aira dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan senyum mengejek yang menyebalkan.
“Iya, kamu harus tahu kalau tipe Leonel itu cewek anggun seperti Cleo, bukan kamu yang bar-bar seperti ini. Masa gitu saja gak paham!” Mereka berdua terus memanas-manasi, berharap melihat Aira menangis.
Aira hanya menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah mereka dengan tatapan datar namun menantang.
“Ditolak berkali-kali? Gak ada tuh Leonel nolak aku. Dia hanya belum menjawab, bukan nolak!” kekeuh Aira. Tanpa memedulikan raut wajah kedua cewek itu yang melongo, ia melenggang pergi meninggalkan lorong tersebut.
☘️
☘️
☘️
Anya, Nathaniel, dan Denada yang sudah menunggunya sejak tadi kini langsung menarik Aira ke rooftop. Anya menuntun gadis itu duduk tepat di hadapan mereka, sementara Nathaniel dan Denada berdiri dengan tangan bersedekap, menatapnya dengan raut wajah yang luar biasa serius. Posisi mereka benar-benar seperti majelis hakim yang siap menginterogasi terdakwa.
“Perjanjian tertulis,” ujar Anya membuka obrolan sambil mengeluarkan buku catatan kecil dari saku seragamnya. Buku itu sudah agak lecek di bagian ujungnya, saksi bisu perjuangan Aira yang melelahkan.
“Setelah ditolak untuk yang ke-99 kalinya, Aira akan berhenti mengejar Leonel.” Anya membaca isi catatan itu dengan suara tegas dan lantang. Itu adalah perjanjian hitam di atas putih yang mereka buat. Setelah selesai membaca, buku kecil itu ditutup dengan bunyi plak yang mantap, lalu ditekan kuat ke dadanya.
Anya melipat tangan, mengembuskan napas kasar yang meniup poni rambutnya. Ia menatap Aira yang hanya tersenyum tengil di depannya, duduk santai sambil menggoyang-goyangkan kaki seolah tidak merasa terpojok sedikit pun.
“Kamu jangan tersenyum, Aira! Ingat perjanjian kita. Tidak ada yang boleh ingkar janji, jadi…”
“Kan di sana tertulis kalau di tolak, Anya. Leonel mana pernah menolak aku? Dia hanya belum menjawab. Sekali lagi aku tegaskan, hanya belum menjawab! Kalian paham gak sih perbedaan antara menolak dan belum menjawab?” jawab Aira tidak mau kalah, dagunya terangkat penuh keyakinan.
Jawaban itu sukses membuat tiga sahabatnya hanya bisa menepuk kening secara bersamaan. Nathaniel bahkan sampai memijat pangkal hidungnya.
“Ditolak itu berarti dia bicara 'nggak'. Ini dia tidak menjelaskan sama sekali. Bisa jadi kan dia sedang menyiapkan jawaban balasan? Ya, kan?” lanjut Aira, tetap kukuh dengan logika melintirnya.
“Astaga… Ya Allah, tolong rasuki pikiran Aira. Sumpah, bukan dia yang malu, tapi kami yang malu, ya Allah…” lirih Denada sambil menggeleng pelan, benar-benar merasa kehabisan energi menghadapi keras kepalanya sahabat mereka yang satu ini.
“Sama saja, Ra! Intinya kita minta kamu berhenti dulu. Kasihan Leonel-nya juga…”
“Kok kasihan ke Leonel?” tanya Aira sambil mengerutkan kening, tampak tulus bingung.
“Ya kasihan dia kalau harus menanggung malu setiap hari! Kamu gak lihat tadi wajahnya sampai merah menahan malu saat kamu meneriaki namanya lewat megaphone? Dia kesal setengah mati. Itu artinya kamu harus berhenti dulu, oke!” ujar Denada memberi pengertian dengan nada yang makin serius.
“Ya sudah, iya,” jawab Aira sekenanya. Ia mengangguk cepat, namun gerak-gerik matanya tidak menunjukkan keseriusan. Padahal, jawaban itu hanya supaya drama sidang kecil ini cepat selesai.
Jujur saja, daripada duduk di sini mendengar ceramah yang terasa memojokkan, Aira lebih ingin tahu keberadaan Leonel. Sedang apa cowok itu sekarang? Masih kesal di kelas? Atau malah sedang menenangkan diri di perpustakaan? Pikiran Aira sudah melayang jauh melampaui pagar pembatas rooftop.
Ketiga sahabatnya saling pandang penuh curiga. Mereka tahu betul, Aira yang mengiyakan permintaan dengan begitu cepat adalah tanda bahaya. Biasanya, gadis ini akan berdebat sampai mulutnya berbusa.
“Sudah, kan? Aku ke kantin dulu kalau begi—”
“Eits… mau ke mana?” Anya bergerak cepat, menarik lengan Aira tepat saat bokong gadis itu nyaris terangkat dari tempat duduknya. “Kita gak akan ke kantin. Nathaniel sudah pesan makanan lewat online dari tadi. Kita makan di sini saja!”
Terpaksa Aira duduk kembali dengan helaan napas panjang yang terdengar sangat terbebani. Ketiga sahabatnya jelas tidak akan membiarkan buruan mereka lepas begitu saja setelah drama di lapangan tadi. Mereka tahu, saat ini seluruh sekolah pasti sedang membicarakan Aira, dan membiarkan Aira berkeliaran sendirian di kantin sama saja dengan melemparkannya ke kandang singa yang haus gosip.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...