NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19.Jebakan

Gedung Teater Utama Kota Karasu bersinar terang di bawah sinar lampu sorot yang berkelap-kelip, suara kamera klik-klik bergema bersama keriuhan penonton yang memenuhi setiap sudut ruangan. Semua mata tertuju pada panggung yang megah, di mana deretan juri berpakaian jas formal berdiri dengan sikap tegas di belakang meja panjang yang ditutupi kain beludru hitam bersih. Di tengah meja itu, sebuah wadah perak besar dengan ukiran rumit berdiri kokoh—gergajinya terkunci rapat dengan kunci besi yang mengkilap.

Ren berdiri di barisan depan bersama Hana dan Yuki, jaket tebal mereka masih belum dilepas karena masih terasa sisa dingin dari subuh tadi di hutan. Wajah mereka menunjukkan kesan lelah akibat perjalanan dan latihan yang melelahkan, namun mata mereka memancarkan ketenangan yang tenang—sangat berbeda dari peserta lain yang berdiri dengan wajah gelisah dan tangan yang gemetar.

Di sisi lain panggung, Ryuji Asuka berdiri dengan sikap angkuh yang khas. Ia melirik ke arah Ren dengan pandangan yang menyindir, kemudian menyunggingkan senyum yang seolah sudah memastikan kemenangannya—suatu ekspresi yang membuat Hana merasa mual dan ingin segera menghadapinya.

"Selamat pagi, para pecinta kuliner dan seluruh warga Kota Karasu!" suara sang ketua juri—seorang pria paruh baya dengan kumis klimis yang rapi dan suara yang kuat—menggema di seluruh ruangan melalui sistem suara. "Tahun ini, ajang 'Pesta Rasa Nusantara' ingin memberikan tantangan khusus yang menguji kreativitas dan kedalaman pemahaman kalian tentang bahan-bahan lokal. Bahan utama yang akan kita gunakan adalah simbol kekayaan laut kita yang kini mulai terlupakan oleh generasi muda."

Ia mengeluarkan sepasang kunci emas dari kantong jasnya, kemudian membuka gergaji wadah perak itu dengan gerakan yang lambat dan penuh drama.

"Bahan utama babak final adalah... Teripang Pasir Hitam Laut Karasu!"

Seketika, ruangan yang ramai tiba-tiba sunyi seketika sebelum akhirnya meledak dalam bisikan-bisikan panik dan terkejut. Teripang pasir hitam bukanlah bahan yang asing, tapi sangat dikenal sebagai salah satu bahan kuliner yang paling sulit diolah. Teksturnya yang alami kenyal bahkan keras jika tidak diolah dengan benar, aromanya yang sangat khas dan cenderung amis jika salah perlakuan, serta proses pembersihan yang membutuhkan ketelitian dan waktu berjam-jam—bagi pelajar SMA, ini adalah seperti menghadapi "mimpi buruk" yang menjadi kenyataan.

Hana merasa wajahnya menjadi pucat. "Ren... teripang? Kita bahkan tidak pernah belajar teknik dasar membersihkan teripang pasir di sekolah. Ini kan bahan tingkat profesional yang biasanya hanya digunakan di restoran mewah atau untuk keperluan pengobatan tradisional!"

Yuki mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, matanya mengamati Ryuji dengan cermat. "Lihat dia. Ryuji sama sekali tidak terkejut. Seolah dia sudah tahu akan ini jauh-jauh hari."

Benar saja, Ryuji hanya melipat tangan di depan dadanya dengan sikap santai. Di belakangnya, tim asisten Asuka Jaya sudah mulai membawa keluar tabung-tabung transparan berisi cairan bening dengan label "Enzim Pelunak Protein Kolagen"—alat khusus yang jelas tidak dimiliki oleh peserta lain. Tidak diragukan lagi, informasi tentang bahan utama ini sudah bocor dan digunakan oleh pihak Asuka Jaya untuk mempersiapkan diri jauh-jauh hari.

"Waktu persiapan kalian dimulai sekarang! Babak final akan diadakan besok pagi pukul 08.00 di Lapangan Kuliner Utama Kota Karasu!" seru sang juri dengan semangat tinggi, tanpa menyadari atau sengaja mengabaikan kegelisahan yang muncul di antara peserta.

Di tengah kepanikan yang melanda sebagian besar peserta, Ren justru melangkah tenang mendekati meja tempat bahan disusun. Ia mengambil satu ekor teripang pasir hitam yang masih dalam kondisi segar—permukaannya licin dan tubuhnya terasa kaku saat dipegang. Ia memutar-mutarnya dengan lembut di telapak tangannya, merasakan tekstur kulit luar yang sedikit kasar dan bentuk tubuhnya yang panjang.

"Hana, Yuki. Jangan biarkan kegagalan menguasai kalian," suara Ren terdengar sangat jernih dan jelas, memotong kebisingan yang ada di sekitar mereka. "Ingat apa yang kita pelajari di hutan malam itu? Api yang perlu dijaga dengan sabar, air yang menjadi teman setiap proses, dan kesabaran yang menjadi kunci semua transformasi."

"Tapi Ren, mereka punya mesin ultrasound yang bisa melunakkan teripang ini hanya dalam satu jam! Kita butuh waktu seharian bahkan lebih hanya untuk merendamnya dengan cara tradisional!" keluh Hana dengan suara yang hampir pecah akibat frustrasi, matanya sudah mulai berkaca-kaca karena khawatir akan masa depan Ren's Cuisine.

Ren menoleh perlahan ke arah Hana. Ia melihat dengan jelas rasa takut yang menghanyutkan di mata gadis itu—takut bahwa semua usaha mereka akan hancur hanya karena tidak memiliki teknologi yang sama dengan lawan mereka. Tanpa berpikir dua kali, Ren melangkah lebih dekat, mengabaikan kamera-kamera yang mulai menyorot mereka berdua. Ia memegang kedua bahu Hana dengan lembut namun kuat, memaksa gadis itu untuk melihat langsung ke dalam matanya.

"Mereka punya mesin yang canggih, Hana. Tapi kita punya sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang—warisan dari orang-orang yang sudah mengenal laut dan bahan-bahannya jauh sebelum teknologi ada," bisik Ren dengan suara yang hangat, membuat Hana bisa merasakan getaran suaranya hingga ke dalam tulang. "Teripang ini bukan musuh yang harus kita lawan. Ini adalah bagian dari laut Kota Karasu yang telah memberi makan orang banyak selama bertahun-tahun. Ibumu dulu selalu bilang... jika bahan itu terasa keras dan sulit diolah, jangan mencoba melawannya dengan kekerasan. Pelukilah dia dengan kehangatan dan kasih sayang seperti kita merawat sesuatu yang berharga."

Hana terpaku pada pandangan Ren. Rasa hangat dari telapak tangan Ren merambat perlahan dari bahunya ke seluruh tubuhnya, memadamkan rasa panik yang seperti api kecil di dadanya. Di tengah panggung yang penuh dengan sorotan lampu dan orang banyak, kemistri yang dalam di antara mereka berdua membuat suasana yang tegang sedikit melunak—seolah ada dunia tersendiri hanya untuk mereka berdua.

Yuki mendekat dan meletakkan tangannya dengan lembut di atas tangan Ren yang berada di bahu Hana, membuat tiga dari mereka saling menyentuh. "Aku ingat teknik tradisional yang diajarkan nenekku dari desa nelayan di pantai barat. Dia sering menggunakan air rebusan batang pisang yang sudah matang untuk merendam teripang—cara itu bisa menetralkan aroma amis tanpa merusak kandungan nutrisi atau tekstur alaminya. Kita bisa melakukan itu, Ren."

Ren mengangguk dengan senyum yang hangat. "Itulah yang aku tunggu. Kita tidak perlu bergantung pada enzim kimia atau mesin mahal. Kita punya kebijaksanaan dari leluhur yang jauh lebih berharga."

Tiba-tiba, Ryuji berjalan melewati mereka dengan langkah yang santai menuju pintu keluar panggung. Ia berhenti sejenak tepat di samping Ren, kemudian menoleh dengan wajah yang penuh kesombongan. "Sangat menyedihkan melihat kalian masih bergantung pada cerita lama dan sentuhan tangan yang tidak berguna, Akira. Besok, aku akan menunjukkan kepada seluruh kota bagaimana ilmu pengetahuan bisa dengan mudah menaklukkan alam yang kamu bangga-banggakan itu."

Ren tidak memberikan tanggapan apapun terhadap hinaan itu. Ia hanya menatap punggung Ryuji yang pergi dengan tatapan yang dingin namun penuh keyakinan. Bagi Ren, lawannya baru saja membuat kesalahan besar dengan memilih untuk mengandalkan teknologi daripada memahami esensi bahan itu sendiri—teripang pasir hitam adalah bahan yang membutuhkan "jiwa" dan perhatian khusus yang tidak bisa diberikan oleh mesin.

Di sudut panggung yang jauh, Bu Keiko mengamati seluruh kejadian dengan tatapan yang tajam dan cermat. Tanpa berlama-lama, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Pak Kudo. "Siapkan tungku batu yang ada di belakang restoran segera. Kita butuh kayu bakau kering dan air laut murni yang diambil langsung dari sisi timur pantai Karasu—tempat di mana arus laut paling tenang. Pertempuran yang sebenarnya baru saja mulai."

Ren memimpin kedua temannya keluar dari gedung teater. Saat mereka berjalan menuruni tangga besar yang menghubungkan panggung dengan halaman luar, angin Kota Karasu berhembus kencang menyapu wajah mereka, membawa aroma laut yang asin dan segar. Ren menghirup udara itu dalam-dalam, seolah menarik kekuatan dari setiap molekul udara yang terhirupnya.

"Hana, Yuki. Malam ini kita tidak akan bisa tidur," ucap Ren dengan nada yang tegas namun penuh perhatian. "Kita akan menghabiskan malam ini bersama teripang—menemani mereka melalui setiap tahap proses, dari pembersihan hingga perendaman. Kita akan membuat mereka 'bernapas' di dalam kuali dengan cinta yang sama seperti yang kita berikan pada setiap hidangan."

Hana tersenyum meskipun wajahnya masih menunjukkan kelelahan—suara Ren sudah cukup membuatnya merasa penuh semangat dan hidup kembali. "Apa pun yang harus kita lakukan, aku akan selalu ada di sini denganmu, Ren."

Yuki mengangguk dengan tegas, matanya bersinar dengan semangat baru. "Kita akan tunjukkan pada mereka semua apa arti sebenarnya dari 'rasa Kota Karasu'—rasa yang tumbuh dari cinta, bukan dari mesin."

Malam itu, di dapur belakang Ren's Cuisine yang biasanya sunyi, sebuah nyala api kecil mulai menyala perlahan di tungku batu. Bukan api gas yang menyala dengan stabil dan tanpa suara, melainkan api dari kayu bakau yang berderak dengan suara yang hangat—menandakan awal dari proses panjang transformasi untuk bahan yang dianggap mustahil diolah oleh banyak orang.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!