Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Rumah yang Sesungguhnya
Bungkusan kertas cokelat bergeser di atas kasur kapuk.
Wangi manis khas gula kelapa menguar tipis di udara kamar yang sempit.
Minah dan Yayuk saling pandang. Dua perempuan beda nasib itu tak berani menyentuh bungkusan di depan mereka.
Marni duduk di tepi amben. Tangan keriputnya menepuk lutut Minah pelan.
"Ambil. Iki jatah kowe berdua. Masing-masing setengah kilo. Sukma sing pesen, suruh bagi rata buat masak di dapur."
Minah meraba kertas cokelat itu. Gula merah kualitas super. Padat, bersih, tanpa campuran ampas tebu murahan.
"Bu..." Suara Minah bergetar.
"Iki kan oleh-oleh dari Mbakyu Sukma buat Ibu sama Bapak. Masa kulo sing nerima?"
Yayuk ikut menunduk. Tangan kirinya memijat pelan kaki kanannya yang pincang.
"Iyo, Bu. Kulo ndak enak hati. Mbakyu Sukma wes beliin sandal mahal buat kulo. Daging sapi tadi malam aja kulo sing paling banyak nambah."
Marni mendengus pelan, pura-pura galak.
"Ojo cerewet. Disuruh ambil ya ambil. Ojo sampai Sukma mikir ibune pelit, ndak mau bagi-bagi rezeki nang mantu. Kowe kabeh iki yo anakku."
Kedua menantu itu akhirnya mengangguk. Air mata haru menggenang di pelupuk mata Yayuk.
Dulu, adik iparnya itu selalu datang dengan wajah ditekuk, memandang jijik gubuk reyot mereka.
Sekarang, Sukma adalah malaikat tak bersayap yang mengubah meja makan mereka jadi semewah hajatan juragan.
"Dik Sukma iku bener-bener wes berubah ya, Bu," bisik Minah seraya menyembunyikan gula itu ke balik tumpukan baju.
"Sore tadi de'e ngomong, habis panen jagung iki, Sigit sama adik-adiknya mau didaftarkan sekolah. Aku sampai merinding denger anake mau disekolahin kabeh."
Marni mengangguk pelan. Dadanya terasa penuh.
"Sukma bilang, wong kere lek ndak sekolah bakal terus diinjak-injak. Tono sama Tejo juga setuju. Tahun depan, Budi yo kudu masuk sekolah. Biar ndak selamanya dadi kuli macem bapakne."
Besoknya. Embun masih tebal menyelimuti dedaunan.
Roda gerobak kayu berderit nyaring membelah jalanan desa. Tono menarik tuas gerobak itu sekuat tenaga. Urat-urat di betis legamnya menonjol. Keringat sebesar biji jagung membasahi kaus kutangnya.
Di atas gerobak beralas karung goni itu, Sigit, Gito, dan Sinta duduk tegang.
Seragam merah putih mereka kebesaran di bagian bahu, tapi disetrika sangat rapi sampai lipatannya tajam.
Tiga tas selempang kanvas baru dipeluk erat di dada masing-masing.
Beberapa ibu-ibu yang sedang menyapu halaman menghentikan sapuan mereka.
Anak-anak desa yang berjalan kaki menuju SD Inpres tertawa cekikikan melihat gaya nyentrik tiga bersaudara itu.
"Koyok juragan gabah wae numpang gerobak!" seru Karman, anak Mak Karman, dari pinggir parit.
Tono salah tingkah. Wajah legamnya memerah menahan malu. Seumur-umur baru kali ini ia narik gerobak diisi keponakan, bukan gabah atau pupuk kandang.
Kring! Kring!
Sepeda kumbang jengki menyalip gerobak Tono. Sukma mengerem mendadak tepat di depan gerbang sekolah.
Ia memarkir sepedanya, merapikan kemeja katunnya, lalu melangkah santai menghampiri anak-anaknya.
"Turun kabeh. Jangan lupa salim sama Pakde Tono," perintah Sukma riang.
Sigit melompat turun paling awal. Wajahnya kaku. Ini dunia baru baginya. Selama sembilan tahun, dunianya hanya sebatas mencari kayu bakar, ngarit rumput, dan menghindari pukulan Lasmi. Belajar di kelas dengan puluhan pasang mata? Mengerikan.
Sukma mengurus semua biaya pendaftaran dan uang seragam tanpa banyak omong.
Lembaran uang kertas berpindah tangan ke guru piket. Tunai. Lunas satu semester penuh.
Gito asyik berdiri di depan pintu kelas satu. Tangan bocah tujuh tahun itu bersedekap, pamer sepatu karet barunya yang mengkilap.
Dua anak perempuan berambut kepang dua cengengesan memperhatikannya. Gito membalas dengan kedipan mata centil.
Sukma menepuk jidatnya sendiri.
Gusti, anak iki nurun sopo? Bapakne tentara kaku, ibune galak. Kok anake pinter tebar pesona?
"Sinta." Sukma berjongkok, merapikan kerah seragam anak perempuan itu.
"Awasi mas-masmu. Lek ada yang nakal, lapor Ibu. Lek Gito kebanyakan main, jewer kupingnya."
Sinta mengangguk mantap. Gadis kecil itu membusungkan dadanya bangga mendapat mandat khusus dari sang ibu.
Matahari makin terik memanggang jalanan tanah.
Sukma kembali ke rumah bata. Baru saja ia memarkir sepeda, Syaiful langsung merengek sambil memegangi dada. Bibir balita itu melengkung ke bawah, siap menangis bombay.
"Ibu... kene lho, sakit." Syaiful menunjuk dadanya sendiri.
Sukma tertawa pelan. "Sakit opo, Le? Digigit nyamuk?"
"Sakit sepi... Mas Gito ndak ada... Mbak Sinta ndak ada..." Syaiful cemberut.
Hati Sukma melembut. Ia menggendong Syaiful, mencium pipi gembilnya gemas.
"Yowes. Ibu titip kowe nang rumah Bulik Wati ya? Main sama Toni. Ibu mau ke ladang, beresin sisa batang jagung bareng Pakde Tono."
Syaiful bersorak kegirangan, langsung lupa pada penyakit 'sepi' di dadanya.
Di ladang belakang rumah bata, sisa-sisa batang jagung menggunung kering.
Tono mengayunkan sabitnya tanpa ampun. Sukma menyusul dengan topi caping lebar.
Tak berselang lama, Paklik Karto datang membantu, disusul Mak Karman dan Lek Pon yang langsung turun tangan tanpa diminta.
"Mak Karman, Lek Pon, ngapain repot-repot turun?" teriak Sukma dari ujung ladang.
"Ojo kakean omong, Mbakyu! Kita wes dibantu, saiki wayahe kita sing bantu!" balas Mak Karman seraya mengikat tumpukan jerami secepat kilat.
Sukma tak membantah. Ia bergegas ke pinggir ladang, mengeluarkan teko tanah liat dari dalam keranjang bambunya.
Es teh yang dia buat dari teh mawar campur daun mint segar ia tuang ke dalam cangkir-cangkir kaleng. Aroma wangi bunga dan dinginnya es langsung meledak menembus udara panas.
Mak Karman meneguk es teh itu. Matanya membelalak lebar.
"Gusti! Iki banyu opo to, Mbakyu?! Seger pol! Tenggorokanku sing panas langsung adem nyess!"
Lek Pon ikut nambah dua cangkir. Kerja keras di bawah terik matahari tak terasa berat sama sekali.
Menjelang siang, seluruh ladang sudah bersih tak bersisa. Gerobak sapi Tono penuh muatan jerami siap dibawa ke rumah Pak Purnomo.
"Makan siang di rumahku yo," ajak Sukma.
"Ndak usah, Mbakyu! Anakku wes nunggu nang omah!" Mak Karman buru-buru menolak halus, menarik tangan Lek Pon agar segera pamit. Mereka tak mau dituduh aji mumpung.
Sukma membiarkan mereka pergi. Kakinya melangkah masuk ke dapur rumah bata. Pintu dikunci rapat dari dalam.
Satu kedipan mata, ruang dapur yang pengap berubah menjadi gudang spasial raksasa bercahaya putih terang.
Sukma berjalan menuju rak pendingin otomatis. Tangannya meraih satu wadah besar berisi harta karun dari peradaban restoran masa depan.
Ayam Goreng Tepung Krispi ala restoran cepat saji ibu kota.
Potongan paha dan dada ayam super besar, berbalut tepung keriting tebal berwarna kuning keemasan yang digoreng garing sempurna.
Tak lupa, ia menyambar beberapa saset saus sambal kental dan sepanci besar Soto Daging Madura dengan kuah santan pekat kekuningan yang kaya rempah.
Bahkan ia menyelipkan satu kaleng kornet sapi premium untuk tambahan lauk.
Kembali ke dapur bata, Sukma memanaskan Soto Daging itu di atas tungku api.
Minyak samin dan lemak sapi meleleh, menciptakan letupan kecil yang memuntahkan aroma gurih luar biasa.
Udara desa yang biasanya hanya diisi bau tumis kangkung atau sambal terasi kini dijajah oleh aroma kemewahan mutlak.
Bau harum ayam goreng krispi dan kuah soto daging pekat itu menguar melewati jendela nako.
Di halaman depan, tiga bayangan berlari kencang menabrak pagar bambu.
"Bau daging! Bau ayam goreng tepung!" Gito berteriak histeris, hidungnya kembang kempis.
Bocah itu melempar tas sekolahnya ke tanah dan menerjang masuk ke dapur.
Sigit menyusul di belakang, napasnya memburu. Perutnya yang seharian hanya diisi jajan pasar mendadak meronta brutal.
Sinta mengekor sambil menarik tangan Syaiful yang baru dijemput dari rumah Wati.
Keempat anak itu membeku di ambang pintu dapur.
Di atas tikar pandan, tersaji nasi putih panas mengepul. Di tengahnya, piring seng besar dipenuhi potongan ayam goreng bertepung keriting super renyah.
Di sebelahnya, mangkuk besar berisi kuah Soto Daging Madura yang kental dengan potongan daging sapi montok dan tumis kornet sapi wangi.
Tumpukan saus sambal saset warna merah terang menjadi pelengkap yang tak masuk akal di mata anak-anak kampung itu.
"Ibu... iki opo?" Sigit menelan ludah kasar. Tangan kapalannya bergetar menahan lapar.
"Ayam goreng keriting. Makanan wong kota." Sukma duduk bersila, menyobek satu saset saus sambal dan melumurkannya ke atas dada ayam panas.
"Cuci tangan sik. Habis iku makan yang kenyang, biar kalian cepat besar."
Syaiful tak tunggu aba-aba. Balita itu menerjang maju, menyambar satu paha ayam utuh. Gigi susunya merobek kulit tepung yang super renyah.
Kress!
Suara renyahnya kulit ayam tepung itu membelah kesunyian dapur. Minyak gurih dan bumbu rahasia meledak di lidah Syaiful. Mata bulat bocah itu melebar maksimal.
"Ibu! Enaaaak tenan!" pekik Syaiful kegirangan, mulutnya belepotan remah-remah tepung.
Gito menyiram nasinya dengan kuah soto daging pekat, mencampurnya dengan kornet sapi, lalu menggigit dada ayam krispi.
"Gusti... sekolah capek-capek lek pulang disuguhi makanan surga ngene, aku rela sekolah terus, Bu!" Gito mengunyah beringas, tak peduli keringat bercucuran di dahinya saking nikmatnya sensasi pedas saus sambal.
Sinta memakan bagiannya dengan mata berkaca-kaca, menyuap daging empuk dari soto dengan pelan seolah takut makanan itu akan hilang jika ia berkedip.
Sigit duduk diam. Ia merobek kulit keriting ayam goreng itu. Memasukkannya ke mulut. Kerenyahan dan rasa gurih yang sangat asing, sangat mewah, membuat pertahanan hatinya kembali bergetar.
Ia mendongak, menatap ibunya yang sedang mengipasi Syaiful dengan tutup panci bekas.
Perempuan ini... benar-benar telah mengubah neraka mereka menjadi rumah yang sesungguhnya.