NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TELEPON IBU DARI MEJA KERJA

Pagi hari di kantor setelah insiden mati lampu terasa sangat berbeda bagi Sinta. Setiap kali dia tidak sengaja beradu pandang dengan Jingga di sela-sela kubikel, ada sengatan listrik kecil yang membuatnya buru-buru memalingkan wajah. Jingga pun tampak tidak jauh berbeda; dia menjadi lebih pendiam dan berkali-kali tertangkap basah sedang melamun menatap layar komputernya yang sebenarnya hanya menampilkan spreadsheet kosong.

Namun, ketenangan semu itu hancur berantakan tepat pukul sebelas siang.

Ponsel Sinta yang terletak di atas meja kerja bergetar hebat. Nama "Ibu Sayang" berkedip-kedip di layar. Sinta menelan ludah. Ibunya bukanlah tipe orang yang menelepon hanya untuk menanyakan kabar; biasanya ada agenda tersembunyi yang melibatkan interogasi rumah tangga.

Sinta mengangkat telepon itu sambil bersembunyi di bawah meja, mencoba meredam suaranya. "Halo, Bu? Sinta lagi kerja nih, ada apa?"

"Sinta! Ibu baru saja bicara dengan Jeng Lastri, ibunya Jingga. Katanya kemarin malam di apartemen kalian mati lampu ya? Kalian tidak apa-apa?" suara Ibu Sinta terdengar melengking, cukup keras hingga Luna yang duduk di seberang mulai menoleh curiga.

Sinta memejamkan mata. Gosip ibu-ibu memang lebih cepat dari koneksi internet 5G, batinnya kesal. "Iya, Bu. Cuma sebentar kok, nggak apa-apa."

"Nah, karena Ibu khawatir kalian stres karena kerjaan dan urusan rumah tangga, Ibu dan Jeng Lastri sudah sepakat. Malam ini kalian harus makan malam romantis. Ibu sudah pesankan tempat di restoran Italia favorit Jingga. Kalian harus kirim foto mesra saat makan nanti, ya! Kalau tidak, Ibu bakal nekat datang ke apartemen kalian malam ini juga buat ngecek!"

"Bu! Tapi Sinta banyak lembur—"

Tut... tut... tut...

Telepon diputus sepihak. Sinta memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Ancaman ibunya bukan main-main. Jika mereka tidak pergi, dua singa betina itu akan melakukan inspeksi mendadak ke apartemen, dan mereka belum sempat menyembunyikan jemuran atau mengatur ulang posisi bantal agar terlihat seperti dihuni dua orang.

Sinta melirik ke arah Jingga. Pria itu sedang tertawa kecil menanggapi candaan Luna. Sinta merasa mual. Bagaimana mungkin dia meminta Jingga untuk "kencan palsu" malam ini sementara Luna ada di sana?

Sinta mengambil selembar memo kuning, menuliskan pesan darurat: "DARURAT. NYOKAP NEROR. KITA HARUS DINNER MALAM INI ATAU MEREKA DATANG KE APARTEMEN. TOLONG BANTU GUE NGARANG CERITA KE LUNA!"

Sinta melipat kertas itu menjadi pesawat kecil dan menerbangkannya dengan sangat rendah hingga mendarat tepat di atas tumpukan dokumen Jingga.

Jingga tersentak, membaca memo itu, dan wajahnya langsung berubah drastis. Dia melirik Sinta dengan tatapan "Lu-Beneran-Sinting". Jingga berdeham, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya.

"Eh, Luna..." suara Jingga terdengar sangat ragu.

Luna menoleh, memberikan senyum manisnya. "Ya, Jingga? Ada apa?"

"Anu... malam ini kayaknya aku nggak bisa antar kamu pulang atau makan bareng. Pak Adrian barusan kirim pesan, dia minta aku nemenin Sinta buat ketemu vendor perhiasan cadangan di luar kantor. Katanya ada masalah sama kontrak material Lumiere yang harus selesai malam ini juga."

Sinta yang mendengar namanya disebut langsung bereaksi cepat. Dia berdiri dan menghampiri meja Jingga dengan wajah yang dibuat sangat frustrasi.

"Iya, Lun. Gila banget emang Pak Adrian. Masalahnya vendor ini cuma bisa ketemu jam tujuh malam di daerah Jakarta Selatan. Gue sebenernya males banget berangkat sendirian, makanya gue minta Jingga nemenin sebagai penengah kalau ada debat soal harga," Sinta membual dengan lancar, meskipun tangannya di balik punggung gemetar hebat.

Luna menaikkan alisnya, menatap Jingga lalu beralih ke Sinta. "Vendor malam-malam? Kenapa nggak besok pagi saja di kantor?"

"Katanya dia besok mau ke luar negeri, Lun. Ini kesempatan terakhir buat dapet harga miring," tambah Jingga, keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Luna terdiam cukup lama, suasana di sekitar meja itu menjadi sangat tegang. "Kalian berdua makin kompak ya kalau soal urusan luar kantor. Ya sudah, kalau memang perintah Pak Adrian, aku bisa apa. Tapi awas ya Jingga, jangan sampai kamu lupa kasih kabar ke aku pas sudah selesai."

"Pasti, Sayang. Aku bakal chat kamu setiap jam," janji Jingga.

Pukul tujuh malam, mereka benar-benar berada di restoran Italia yang dipesan ibu mereka. Suasananya sangat romantis dengan cahaya lilin dan musik biola yang mendayu-dayu—sangat kontras dengan wajah mereka yang tampak seperti orang sedang menunggu eksekusi mati.

"Gue ngerasa berdosa banget sama Luna," gumam Jingga sambil mengaduk-aduk pasta di depannya.

"Gue juga, Jing. Tapi kalau nyokap kita dateng ke apartemen malam ini dan liat kita tidur di kamar beda, atau liat kalau kita sebenernya cuma musuh yang terpaksa nikah, semua warisan kakek bakal hangus. Lu mau itu terjadi?" sahut Sinta sambil menyiapkan ponselnya.

Sinta mengatur posisi duduknya. "Ayo, deketan. Kita harus kirim bukti foto ke grup keluarga."

Jingga menggeser kursinya hingga bahunya menempel dengan bahu Sinta. Sinta merangkul lengan Jingga, sementara Jingga memasang senyum paling lebar yang dipaksakan. Cekrek!

"Nah, ini udah cukup mesra. Gue kirim sekarang," ucap Sinta.

Tiba-tiba, ponsel Jingga bergetar. Sebuah panggilan video masuk dari Luna.

Jingga hampir melompat dari kursinya. "Mampus! Luna video call! Dia mau ngecek gue beneran sama vendor apa nggak!"

"Angkat! Cepet! Sembunyiin piring-piring cantik ini! Taruh laptop lu di atas meja!" Sinta panik, dia segera mendorong piring pasta dan gelas anggur ke tepi meja, lalu membentangkan draf desain perhiasan yang dia bawa di tas sebagai tameng.

Jingga mengangkat panggilan itu dengan tangan gemetar, mengarahkan kamera hanya ke wajahnya dan sedikit bagian dari draf di meja.

"Hai, Luna! Eh, maaf ya suaranya agak berisik, restorannya emang lagi rame banget," ucap Jingga, suaranya naik dua oktav karena gugup.

"Kamu lagi di mana, Jingga? Kok lampunya redup banget kayak di tempat makan romantis?" tanya Luna dari seberang layar, matanya menyipit penuh kecurigaan.

"Ini di kantor vendornya, Lun! Dia emang desain kantornya low light gitu biar dapet inspirasi seni," bual Jingga asal-asalan.

Sinta segera muncul di belakang Jingga, ikut masuk ke dalam frame kamera dengan wajah yang dibuat tampak kelelahan dan memegang pulpen di atas kertas desain. "Aduh, Pak Vendor ini ribet banget ya, Jing. Harganya nggak turun-turun!"

Sinta sengaja berbicara dengan nada tinggi agar terdengar seperti sedang rapat serius. Luna tampak sedikit lega melihat Sinta yang memang terlihat "bekerja".

"Oh, ya sudah. Jangan kemalaman ya kerjanya. Semangat kalian berdua," ucap Luna sebelum menutup telepon.

Begitu layar ponsel mati, Jingga dan Sinta secara bersamaan menghembuskan napas lega yang sangat panjang, hingga lilin di tengah meja mereka hampir padam.

"Gila... jantung gue hampir copot," keluh Jingga, dia langsung menenggak segelas air putih sampai habis.

Sinta menyandarkan punggungnya di kursi, menatap langit-langit restoran. "Jing... sampai kapan kita harus begini? Bohong ke semua orang, bohong ke perasaan kita sendiri?"

Jingga menatap Sinta. Cahaya lilin memantul di mata Sinta, mengingatkannya pada malam mati lampu kemarin. Ada keheningan yang berbeda kali ini; bukan keheningan yang penuh benci, tapi keheningan yang penuh dengan rasa lelah yang sama.

"Gue nggak tahu, Sin. Tapi buat sekarang, yang penting kita selamat dulu dari amarah nyokap dan kecurigaan Luna," Jingga meraih garpunya kembali. "Ayo makan. Sayang pastanya mahal kalau nggak diabisin."

"Dasar perhitungan," cibir Sinta, tapi dia mulai memakan pastanya juga.

Malam itu, mereka duduk di sana sebagai dua orang yang terikat dalam jaring kebohongan yang semakin rumit. Di mata pengunjung lain, mereka adalah pasangan kekasih yang sedang merayakan cinta. Di mata keluarga, mereka adalah pasangan suami-istri yang harmonis. Namun di antara mereka sendiri, mereka mulai menyadari bahwa setiap kebohongan yang mereka ciptakan justru membawa mereka selangkah lebih dekat ke dalam realitas yang membingungkan.

Jingga sesekali mencuri pandang ke arah Sinta yang sedang menikmati makanannya. Dia menyadari satu hal yang menakutkan: dia mulai tidak keberatan menghabiskan malam-malam "kencan palsu" ini bersamanya.

"Kenapa lu liatin gue gitu? Ada saus di muka gue?" tanya Sinta galak.

Jingga tersenyum tipis. "Enggak. Gue cuma mikir... lu kalau nggak ngomel ternyata lumayan juga buat diajak makan bareng."

"Dih! Makan tuh pasta!" balas Sinta, meskipun dia tidak bisa menyembunyikan sedikit rona merah di pipinya yang bukan berasal dari cahaya lilin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!