Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Maut
Sembilan puluh lima petarung yang tersisa di Gelanggang Asura melolong layaknya sekawanan serigala yang kelaparan. Di bawah ancaman kematian yang membelenggu, ketakutan mereka bermutasi menjadi amarah yang gila.
Dua puluh orang di barisan terdepan melepaskan serangan serentak. Hujan Qi elemen api yang membakar, bilah es yang membekukan tulang, dan sabetan pedang angin yang melolong tajam melesat menutupi langit-langit gelanggang, membidik satu titik: sosok berjubah hitam bertopeng hantu.
Serangan gabungan itu membawa daya hancur yang mampu meratakan sebuah bukit batu menjadi debu. Penonton di tribun menahan napas, mata mereka terbelalak menanti tubuh pemuda sombong itu tercabik-cabik.
Namun, Jian Chen hanya tertawa pelan. Tawa yang terdengar sangat jernih di tengah gemuruh ledakan.
Ia tidak menghindar. Ia membiarkan lautan elemen mematikan itu menelan tubuhnya.
BOOOOOOM!
Ledakan Qi berbagai warna menyilaukan mata semua orang. Gelombang kejutnya menyapu pasir berdarah hingga menciptakan badai debu yang tebal.
"Mati kau, iblis sombong!" teriak salah satu petarung Tingkat Sembilan Awal dengan napas terengah-engah.
Namun, sebelum sorak kemenangan sempat pecah, sebuah bayangan melesat keluar dari pusaran debu dan api tersebut dengan kecepatan hantu.
Jubah hitam Jian Chen hangus di beberapa bagian, tetapi kulit putih gioknya yang terekspos sama sekali tidak memiliki satu pun luka bakar maupun goresan. Hujan elemen Qi dari puluhan ahli Tingkat Delapan itu terbukti tidak mampu menembus ketangguhan Raga Tirani Kekacauan! Lebih dari itu, sisa-sisa Qi liar yang menyentuh kulitnya langsung ditelan oleh Seni Melahap Surga Primordial menjadi pakan bagi Dantiannya.
"Giliranku," bisik Jian Chen.
Langkah Hantu Kekosongan!
Jian Chen seolah terbelah menjadi belasan bayangan yang berkedip menyusup ke tengah barisan para petarung. Ia tidak menghunus pedang raksasa di punggungnya. Ia hanya menggunakan kedua tangan kosongnya.
BAM! CRAAAT!
Setiap kali tinju atau sapuan tangannya bergerak, sebuah nyawa melayang.
Jian Chen meraih kepala seorang pria berkapak dan meremukkannya seperti memecahkan buah labu. Tangan kirinya menusuk dada seorang wanita beracun, mencabut jantungnya dalam satu tarikan napas tanpa membiarkan racunnya melukai kulitnya sedikit pun. Ia menangkap tebasan tombak spiritual dengan tangan kosong, mematahkan bilahnya, lalu menancapkan patahan itu ke tenggorokan pemiliknya.
Dua belas ribu kilogram tenaga murni adalah kutukan mutlak bagi fisik fana. Setiap benturan selalu berakhir dengan hancurnya senjata atau meledaknya tubuh musuh menjadi kabut darah.
"M-Monster! Dia bukan manusia! Lari!"
Jeritan putus asa mulai terdengar dari para petarung. Aliansi rapuh mereka hancur lebur melihat rekan-rekan mereka dibantai layaknya rumput liar yang disabit. Beberapa dari mereka mencoba melompat ke arah tembok gelanggang untuk menyerah, namun pintu jeruji besi telah ditutup mati dari luar.
Di Gelanggang Asura, tidak ada jalan keluar selain kematian.
Di atas tribun kehormatan, para bangsawan dan tetua sekte berdiri terpaku. Cawan arak dari tangan seorang jenderal perang jatuh pecah berkeping-keping.
"Dia... dia menyerap darah mereka!" seru sang jenderal dengan suara bergetar, menunjuk ke arah arena.
Apa yang dilihat jenderal itu adalah pemandangan yang menyalahi kodrat alam. Seiring dengan semakin banyaknya tubuh yang meledak dan darah yang tumpah, gelanggang itu perlahan diselimuti oleh kabut merah pekat. Namun, kabut darah itu tidak mengendap ke tanah; sebaliknya, kabut itu tersedot ke arah sosok berjubah hitam tersebut, meresap ke dalam pori-porinya layaknya pusaran air raksasa.
Di balik topeng hantunya, Jian Chen memejamkan mata sesaat, menikmati aliran esensi kehidupan yang membanjiri meridiannya.
Sembilan puluh lima ahli Tingkat Delapan dan Sembilan Awal. Kekuatan darah dan Qi mereka digiling tanpa henti oleh Dantian Jian Chen.
Di masa lalu, menyerap satu ahli Pembentukan Fondasi mampu mendorongnya ke puncak tingkatannya. Kini, menyerap puluhan ahli Kondensasi Qi bertindak layaknya tumpukan kayu bakar yang tak ada habisnya bagi nyala api kultivasinya.
BZZZZT!
Di tengah pembantaiannya, sebuah letupan redam terdengar dari dalam tubuh Jian Chen. Auranya melonjak setingkat lebih tinggi, meniup sisa-sisa kabut darah di sekitarnya.
"Kondensasi Qi Tingkat Delapan Menengah," Jian Chen tersenyum buas.
Ia tidak berhenti. Tangannya bergerak kembali, menangkap leher dua petarung yang mencoba merangkak menjauh, lalu membenturkan kepala mereka satu sama lain hingga hancur.
Waktu berlalu layaknya air yang mengalir ke hilir. Sorak-sorai penonton yang awalnya menggelegar kini berubah menjadi keheningan yang mencekam, diiringi suara gigi yang bergemeretak ketakutan.
Dalam waktu kurang dari setengah batang dupa, tarian maut itu berakhir.
Angin malam bawah tanah bertiup pelan, menyapu debu pasir. Di tengah Gelanggang Asura yang maha luas, hanya satu sosok yang masih berdiri tegak. Sembilan puluh sembilan mayat—sebagian besar hancur tak berbentuk dan mengering kehilangan sari patinya—berserakan di bawah kakinya layaknya karpet kematian.
Jian Chen menghembuskan napas keruh. Pusaran di perutnya perlahan mereda.
Berkat limpahan esensi dari sembilan puluh sembilan jiwa, kultivasinya kembali menembus rintangan kecil, membawanya menjejak kokoh di Kondensasi Qi Tingkat Delapan Akhir. Jaraknya menuju Alam Pembentukan Fondasi kini hanya tinggal hitungan langkah.
Ia merunduk, mengumpulkan sembilan puluh lima kantong penyimpanan dari mayat-mayat itu dan mengikatkannya menjadi satu buntelan besar, lalu memanggulnya dengan santai.
Ia kemudian mengangkat wajahnya yang tertutup topeng hantu, menatap lurus ke arah anjungan tempat wasit dan pengelola gelanggang berdiri. Pandangannya menembus jarak dan ilusi, mengunci sosok Pengawas Gelanggang yang kini gemetar dengan lutut lemas.
"Malam Seratus Iblis telah berakhir," suara Jian Chen terdengar jelas, tidak perlu berteriak, namun gaungnya membungkam seluruh gua bawah tanah. "Gelar itu, dan seluruh koin emas pertaruhan di pihakku... bawakan kemari."
Wasit yang bertugas nyaris mengompol. Ia menatap Pengawas Gelanggang dengan tatapan memohon. Sang Pengawas, yang tahu bahwa pemuda bertopeng ini mungkin dilindungi oleh sosok raksasa di ibu kota, tidak berani membantah. Ia mengangguk dengan wajah seputih mayat.
Tak lama kemudian, pintu besi terbuka. Empat pelayan bungkuk masuk membawa nampan besar berhiaskan sutra emas, tubuh mereka gemetar saat harus melangkah di antara mumi mayat yang berserakan.
Di atas nampan itu terdapat sebuah medali hitam pekat yang terbuat dari Besi Inti Bumi, berukirkan lambang tengkorak berdarah. Itulah Medali Raja Asura—simbol ketakutan dan penghormatan mutlak di dunia bawah tanah Ibu Kota Kerajaan Angin Langit. Di samping medali itu, terdapat sebuah Cincin Penyimpanan yang berisi ratusan ribu koin emas dan ribuan batu spiritual dari hasil taruhan malam ini.
Jian Chen mengambil medali dan cincin itu, lalu memasukkannya ke dalam sakunya tanpa memeriksa isinya lebih lanjut.
Di tribun kehormatan yang tersembunyi, Feng Wuya yang menyamar sebagai pengemis tua tersenyum lebar sambil menenggak araknya.
"Luar biasa... Dia bahkan belum mencabut pedangnya, namun sudah menaklukkan gelanggang. Lima bulan lagi... ah, lima bulan lagi, seluruh kerajaan ini akan bergetar melihat kedatangan iblis kecilku ini," gumam Feng Wuya dengan puas, sebelum sosoknya perlahan memudar, meninggalkan arena tanpa jejak.
Jian Chen membalikkan tubuhnya. Ia tidak memberikan pidato kemenangan, tidak pula bersorak layaknya petarung rendahan. Ia berjalan meninggalkan Gelanggang Asura dengan keheningan seorang penguasa sejati.
Namun, semua yang hadir malam itu tahu, sejarah baru saja diukir dengan lautan darah. Mulai detik ini, setiap kali nama "Kekosongan" disebut di sudut tergelap Kerajaan Angin Langit, bahkan tetua sekte tingkat atas pun akan merasakan dingin yang merayap di tengkuk mereka. Takhta Raja Asura telah menemukan penguasa yang tak terbantahkan.