tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Martha mencuri pandang dari balik bulu matanya, menatap majikannya yang sedang makan dengan keanggunan seorang ratu yang sedang duduk di singgasananya, bukan seperti seorang tahanan buangan yang kelaparan. Teror di hati pelayan itu semakin menjadi-jadi. Ia benar-benar tidak mengenali sosok wanita di depannya ini.
"Kau membalut tanganmu sendiri?" tanya Genevieve tiba-tiba, memecah kesunyian setelah menelan suapan ketiganya. Ia meletakkan sendok peraknya ke dalam mangkuk dengan bunyi denting halus.
Martha menelan ludah dengan susah payah, memegangi tangan kanannya yang dibalut perban seolah mencoba melindunginya. "Y-ya, Nyonya. Saya mencuci lukanya dan membalutnya di kamar saya. Tuan Gideon tidak melihatnya."
"Dan apa yang kau katakan pada Gideon pagi tadi?" Genevieve menatap lurus, matanya yang sedingin es membekukan ruang di antara mereka.
"Saya... saya melakukan persis seperti yang Anda perintahkan, Nyonya," jawab Martha terburu-buru, kata-katanya saling bertabrakan karena panik. "Saya berlari kembali ke ruang pelayan utama, menangis, dan memberitahu Tuan Gideon bahwa Anda menolak minum obatnya. Saya katakan bahwa saya terpaksa mencekik leher Anda dan menuangkan seluruh racun itu ke mulut Anda saat Anda memberontak."
Martha mengambil napas pendek, matanya bergerak liar mengingat kebohongannya sendiri. "Saya katakan pada Tuan Gideon bahwa Anda tersedak, batuk darah, dan kemudian jatuh pingsan, tidak bernapas secara teratur. Tuan Gideon sangat senang. Dia mengira paru-paru Anda akhirnya menyerah."
Genevieve mengangguk pelan, sebuah senyuman tipis dan mematikan tersungging di sudut bibirnya. Ia mengambil sepotong roti gandum hangat, membelahnya menjadi dua dengan jari-jarinya yang kurus, dan mencelupkannya ke dalam kuah kaldu.
"Kerja bagus, Martha. Setidaknya kau masih menyayangi nyawamu sendiri," ucap Genevieve lembut, yang justru membuat bulu kuduk Martha meremang hebat. "Lalu, bagaimana reaksi Gideon selanjutnya? Apa yang ia rencanakan untuk membuang mayatku?"
Tubuh Martha menegang kaku. Pelayan itu tiba-tiba meremas ujung celemeknya dengan tangan kirinya yang gemetar parah. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ada sesuatu yang pelayan ini tahan. Sesuatu yang membuatnya lebih takut daripada tatapan dingin majikannya.
Genevieve menghentikan kunyahannya. Matanya memicing tajam. "Bicara, Martha. Kesabaranku sama tipisnya dengan sisa waktu yang kau miliki di dunia ini."
Ancaman tersirat tentang racun di tubuhnya membuat pertahanan Martha hancur seketika. Pelayan itu kembali menjatuhkan dirinya ke lantai batu, berlutut dengan kepala tertunduk dalam.
"T-Tuan Gideon... Tuan Gideon tidak berniat menunggu sampai besok pagi untuk membuang mayat Anda, Nyonya!" isak Martha tertahan, suaranya dipenuhi teror murni. "Dia sangat panik karena surat dari Nyonya Besar semalam. Dia tidak ingin mengambil risiko Anda tiba-tiba terbangun atau racunnya gagal membunuh Anda tepat waktu."
Alis Genevieve bertaut pelan. "Lanjutkan."
"Tuan Gideon memanggil Tabib Silas siang tadi secara rahasia," ungkap Martha, kata-katanya meluncur deras seperti bendungan yang pecah. "Tuan Gideon merencanakan semuanya malam ini. Tepat saat lonceng tengah malam berdentang dan pergantian penjaga terjadi, Tabib Silas akan masuk ke kamar ini."
Genevieve merasakan hawa dingin yang tak lazim merayap naik di tulang punggungnya. Ingatan tentang Tabib Silas tiba-tiba muncul di benaknya. Silas adalah seorang pria tua yang licik, pria yang selalu tersenyum ramah kepada Genevieve yang asli sambil menyodorkan cangkir teh berisi racun pelemah setiap hari. Tabib itu adalah kaki tangan utama Gideon yang dibeli dengan kepingan emas dari ibukota. Silas bukanlah seorang penyembuh; ia adalah algojo berjubah putih.
"Untuk apa Gideon mengirim Tabib Silas kemari jika ia mengira aku sudah koma dan hampir mati?" tuntut Genevieve, suaranya berubah menjadi desisan berbahaya.
"Untuk mempercepatnya, Nyonya!" ratap Martha, air mata mulai menetes ke lantai batu. "Tabib Silas akan masuk ke kamar ini malam ini untuk memeriksa apakah racunnya sudah benar-benar menghentikan jantung Anda. Dan jika belum... jika ternyata Anda masih memiliki denyut nadi, Tabib Silas telah diinstruksikan untuk menggunakan bantal mematikan."
Genevieve terdiam kaku.
"Dia akan membekap wajah Anda dengan bantal sampai Anda benar-benar tidak bernapas, Nyonya. Dan setelah Silas memastikan Anda mati, Gideon akan membawa peti mati kayu pinus malam ini juga, memasukkan Anda ke dalamnya, dan langsung memerintahkan para penjaga bayarannya untuk membuang peti itu ke dasar Jurang Hitam di belakang kastil sebelum fajar menyingsing," jelas Martha, terisak hebat. "Mereka ingin melenyapkan bukti fisik Anda selamanya."
Keheningan yang pekat dan mematikan menyelimuti kamar raksasa itu. Hanya terdengar suara napas Martha yang putus-putus dan deru angin salju di luar jendela.
Tangan Genevieve yang memegang separuh potong roti perlahan turun dan beristirahat di atas pahanya. Matanya menatap lurus ke depan, menembus kegelapan ruangan, memutar balikkan papan catur di dalam kepalanya dengan kecepatan luar biasa.
Rencana Gideon sangat kejam namun sangat efektif. Membekap seseorang yang sedang dalam kondisi koma akibat racun tidak akan meninggalkan jejak perlawanan yang berarti, dan membuang mayatnya ke dasar jurang yang dipenuhi serigala salju akan menghilangkan semua bukti autopsi. Jika Genevieve tetap berada di ranjang ini berpura-pura sekarat, Silas akan langsung membunuhnya dengan bantal. Namun, jika ia tiba-tiba bangkit dan melawan Silas malam ini, tabib tua itu akan berteriak, Gideon akan datang membawa penjaga bayarannya, dan Genevieve tidak memiliki sisa energi fisik maupun senjata untuk melawan lebih dari satu pria dewasa.
Situasi ini adalah sebuah kebuntuan yang mematikan. Sebuah simpul mati yang sengaja diikat oleh konspirasi ibukota.
Namun, di tengah tekanan psikologis yang seharusnya menghancurkan mental siapa pun, seulas senyum yang amat sangat tipis, nyaris tak terlihat, kembali melengkung di bibir pucat Lady Genevieve. Senyuman itu sama sekali tidak memancarkan ketakutan, melainkan antisipasi gelap dari seorang pemain catur yang baru saja melihat celah kelemahan dalam strategi mematikan lawan.
"Begitu rupanya," bisik Genevieve pelan. Ia mengangkat piala peraknya dan meminum air putih yang jernih itu dengan sangat tenang, seolah laporan tentang pembunuhannya sendiri malam ini hanyalah berita cuaca tentang badai salju di luar. "Gideon sangat terburu-buru memutar roda kematian. Dia lupa bahwa roda yang diputar terlalu cepat bisa terlepas dan menggilas kakinya sendiri."
Martha mendongak dengan wajah basah oleh air mata, menatap majikannya dengan kebingungan dan horor. Bagaimana mungkin wanita ini masih bisa setenang itu?
"Tabib Silas akan datang saat tengah malam," gumam Genevieve, berbicara lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada pelayannya. Matanya beralih menatap Martha yang masih bergetar di lantai. "Bagus sekali, Martha. Kau membawa informasi yang sangat berharga. Malam ini, aku akan memberimu penawar sementara untuk tidur lelap pertamamu."
Genevieve mengambil sepotong roti terakhir, lalu mencelupkannya sedikit ke dalam air di piala peraknya, seolah sedang membuat ramuan obat dadakan. Ia menatap pelayan itu dengan pandangan yang membuat darah Martha membeku.
"Tapi sebelum Silas datang," ucap Genevieve dingin, meletakkan kembali roti basah itu ke nampan. "Kau dan aku harus menyiapkan sambutan yang pantas untuk seorang tabib yang sangat gemar memberikan resep kematian."