Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. Tangga Menuju Neraka
Apartemen Aira hanya diterangi oleh cahaya kebiruan dari layar monitor 24 inci miliknya.
Di luar, hujan deras mengguyur Jakarta, menciptakan simfoni rintik yang membosankan di atas atap seng.
Namun, di dalam kepala Aira, dunia sedang meledak.
Di layar, film kultus "The Velvet Manor" sedang mencapai puncaknya. Isabella von Raven—sang villainess legendaris—sedang duduk di singgasana beludru merahnya yang ikonik.
Ia mengenakan gaun hitam yang sangat ketat, memegang gelas kristal berisi cairan merah yang tampak seperti darah.
Di sekelilingnya, empat pria tampan berseragam pelayan berdiri dengan ekspresi yang sulit ditebak: antara benci, takut, dan obsesi yang tak sehat.
"Gila... dia benar-benar jahat," gumam Aira. Ia menyesap kopi instan dinginnya. "Tapi, andai saja aku punya satu persen saja dari keberaniannya."
Aira adalah kebalikan dari Isabella. Dia adalah gadis "transparan" di kantornya.
Gadis yang selalu mengangguk saat disuruh lembur, gadis yang meminta maaf bahkan saat orang lain yang menabraknya.
Hidupnya adalah rangkaian kata "iya" dan "maaf". Menonton Isabella adalah satu-satunya pelariannya—sebuah fantasi tentang kekuatan dan kendali.
Duar!
Petir menyambar sangat dekat, membuat kaca jendela bergetar.
Seketika, layar monitornya mati. Lampu apartemen padam. Kegelapan pekat menelan ruangan itu.
"Sial, laporannya!" Aira panik.
Ia belum menyimpan draf laporan bulanan yang sangat penting.
Ia meraba-raba meja, mencoba mencari ponselnya.
Dalam kegelapan yang total, indranya kacau.
Ia melangkah maju dengan terburu-buru, namun kakinya tersangkut kabel pengisi daya laptop yang melintang di lantai seperti jerat tak kasat mata.
"Ah—!"
Tubuh Aira terlempar ke depan.
Di depannya adalah tangga kayu sempit menuju lantai bawah.
Ia merasakan sensasi melayang yang mengerikan selama satu detik yang terasa seperti selamanya.
Lalu, suara benturan yang memuakkan terdengar.
Brak! Krak!
Kepalanya menghantam sudut tajam anak tangga.
Rasa sakit yang luar biasa panas meledak di tengkoraknya, diikuti oleh kilatan cahaya putih yang menyilaukan mata batinnya.
Namun, ada yang aneh. Saat kesadarannya perlahan memudar, ia tidak mencium bau kayu tua atau debu.
Ia mencium aroma mawar hitam yang pekat, kayu cendana yang mahal, dan hembusan dingin parfum musk pria yang sangat eksklusif.
Lalu, semuanya menjadi senyap.
Ting.
Suara halus denting perak yang beradu dengan kristal memaksanya untuk kembali ke alam sadar.
Aira mencoba membuka matanya, namun kelopaknya terasa sangat berat, seolah baru saja bangun dari tidur yang berlangsung selama berabad-abad.
Hal pertama yang ia rasakan bukanlah lantai kayu yang keras, melainkan permukaan sutra yang sangat dingin dan lembut di bawah punggungnya.
Ia menarik napas dalam-dalam. Paru-parunya dipenuhi oleh keharuman yang memabukkan—campuran antara lilin lebah, buku tua, dan aroma maskulin yang intim.
"Nyonya? Apakah Anda bermimpi buruk lagi? Anda berkeringat cukup banyak sampai-sampai sutranya basah."
Suara itu.
Berat, bariton, dan memiliki nada rendah yang sangat tenang—begitu tenang hingga terasa mengancam seperti ujung pisau yang ditekan di tenggorokan.
Aira tersentak duduk. Rasa pusing langsung menyerangnya. Ia memegangi kepalanya, namun tangannya tidak menyentuh rambut ikat kuda yang berantakan.
Ia menyentuh rambut yang terasa sangat halus, panjang, dan bergelombang seperti aliran sutra hitam.
Ia menoleh ke arah sumber suara. Jantungnya hampir melompat keluar dari dadanya.
Di samping tempat tidur canopy raksasa yang terbuat dari mahoni hitam dengan tirai beludru merah, berdiri seorang pria.
Ia mengenakan setelan kepala pelayan (tailcoat) hitam yang dijahit sempurna tanpa satu pun kerutan. Sarung tangan putihnya membungkus tangan yang memegang nampan perak berisi segelas anggur merah.
Wajahnya adalah mahakarya yang berbahaya. Rahang yang tegas, hidung mancung yang sempurna, dan mata berwarna biru es yang tidak menunjukkan emosi manusia sedikit pun.
"D-Dante?" bisik Aira. Suaranya berubah. Tidak lagi cempreng dan ragu-ragu, suaranya kini terdengar rendah, serak, dan penuh otoritas yang alami.
Pria itu sedikit membungkuk.
Gerakannya sangat elegan, namun matanya tetap tertuju pada Aira—menatapnya seolah ia sedang memeriksa sebuah barang berharga yang mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
"Anda memanggil nama saya tanpa gelar hari ini," ujar Dante. Ia melangkah maju. Langkah kakinya di atas karpet bulu tebal tidak bersuara, menambah kesan predator.
"Apakah itu berarti hukuman saya semalam tidak cukup untuk membuat Anda patuh, Nyonya Isabella?"
Aira membeku.
Nyonya Isabella?
Ia segera menoleh ke arah cermin besar yang berdiri di sudut kamar yang sangat luas itu.
Kamar itu bergaya Gotik Victoria, dengan lampu kristal raksasa yang berayun pelan di langit-langit.
Aira turun dari tempat tidur. Kakinya yang telanjang bersentuhan dengan lantai marmer yang dingin, namun ia tidak peduli.
Saat ia berdiri di depan cermin, ia hampir jatuh pingsan karena terkejut.
Wanita di cermin itu adalah Isabella von Raven. Sang Nyonya Menor.
Wajahnya memiliki kecantikan yang kejam. Kulit seputih porselen yang kontras dengan bibir merah darah. Mata hijau zamrudnya tampak berkilat misterius. Dan yang paling mengejutkan adalah apa yang ia kenakan—sebuah gaun tidur renda hitam yang sangat tipis, memeluk setiap lekuk tubuhnya dengan cara yang sangat provokatif. Bagian dadanya rendah, memperlihatkan garis kulit yang halus dan menggoda.
"Ini... ini tidak mungkin," gumam Aira, menyentuh pipinya sendiri.
Wanita di cermin melakukan hal yang sama.
"Aku berada di dalam film itu?"
Dante berdiri tepat di belakangnya.
Bayangannya yang tinggi besar menutupi tubuh Aira di cermin.
Ia meletakkan gelas anggur di meja rias, lalu tangannya yang bersarung tangan putih perlahan naik ke bahu Aira.
Sentuhannya terasa dingin, namun mengirimkan getaran elektrik yang aneh ke seluruh tubuh Aira.
"Anda tampak... berbeda hari ini, Nyonya," bisik Dante di dekat telinganya.
Hawa napasnya yang hangat beradu dengan hawa dingin di dalam ruangan itu.
"Ada ketakutan di mata Anda. Biasanya, Anda akan langsung menampar saya karena masuk tanpa mengetuk. Di mana Isabella yang biasanya senang menginjak harga diri saya?"
Aira menelan ludah. Ia tahu karakter Dante.
Dalam film, Dante adalah pelayan yang paling setia di permukaan, namun ia adalah otak di balik rencana pembunuhan Isabella karena ia terobsesi ingin "memiliki" Isabella sepenuhnya—bahkan jika itu berarti dalam bentuk mayat.
"Aku hanya... sedang tidak ingin diganggu, Dante," sahut Aira, berusaha meniru nada angkuh Isabella meskipun suaranya sedikit bergetar.
Dante tidak melepaskan bahunya. Malahan, jarinya bergerak turun ke arah tulang selangka Aira, menelusuri garis renda gaun tidurnya dengan gerakan yang lambat dan penuh maksud.
"Begitukah?" Dante memberikan seringai tipis yang mematikan.
"Atau mungkin, ini adalah taktik baru untuk memancing Kael? Dia sudah menunggu Anda di ruang mandi. Dia tampak sangat... tidak sabar untuk menjalankan tugasnya."
Aira teringat adegan film itu.
Isabella sering memaksa Kael—mantan tentara yang pemberontak—untuk memandikannya hanya untuk mempermalukannya.
Itu adalah adegan paling sensual sekaligus paling penuh kebencian dalam film "The Velvet Manor".
"Kael?" tanya Aira pelan.
"Ya. Si 'anjing liar' Anda," ujar Dante. Ia mengambil gelas anggur dan menyodorkannya ke bibir Aira.
"Minumlah. Anda butuh keberanian jika ingin menghadapi kemarahan Kael pagi ini. Anda tahu sendiri, dia tidak suka menunggu."
Aira menolak gelas itu dengan tangan gemetar.
"Tidak. Aku akan mandi sendiri."
Dante terdiam.
Matanya yang biru es menyipit. Keheningan di kamar itu menjadi begitu berat hingga Aira bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu cepat.
"Mandi sendiri?" Dante meletakkan gelas itu kembali dengan suara denting yang keras.
"Sejak kapan sang Nyonya besar tahu cara memegang spons? Apakah Anda sedang mencoba bermain peran sebagai 'gadis lugu', Nyonya? Karena jika ya... itu sangat merangsang, namun juga sangat berbahaya."
Dante melangkah lebih dekat, menekan tubuhnya ke punggung Aira. Aira bisa merasakan kerasnya otot dada pria itu di balik jasnya.
"Jangan bermain-main dengan kami, Isabella," bisik Dante dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat gelap.
"Kami sudah memberikan segalanya untuk Anda. Jika Anda mulai berubah... kami mungkin harus memastikan Anda tetap menjadi 'Isabella' yang kami kenal. Dengan cara apa pun."
Aira menyadari satu hal yang mengerikan: di dunia ini, ia tidak hanya harus berhadapan dengan plot film yang berakhir dengan kematiannya, tapi ia juga harus menghadapi empat pria yang memiliki obsesi gelap padanya.
Pria-pria yang tidak akan ragu untuk menghancurkannya jika mereka tahu bahwa wanita di dalam tubuh ini bukanlah Isabella yang asli.
"Keluar, Dante," perintah Aira dengan sisa-sisa keberaniannya. "Itu perintah."
Dante menatapnya melalui cermin selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Akhirnya, ia membungkuk rendah.
"Sesuai keinginan Anda... untuk saat ini. Pakaian Anda sudah disiapkan di ruang ganti. Jangan membuat kami menunggu di ruang makan, Nyonya. Julian dan Zane sudah menantikan kehadiran Anda."
Dante berbalik dan berjalan keluar. Saat pintu besar itu tertutup dengan bunyi klik yang berat, Aira merosot ke lantai marmer yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat.
Ia melihat ke atas meja rias. Di sana, di bawah gelas anggur, terdapat sebuah buku kecil bersampul kulit hitam yang tidak pernah ada dalam film asli. Aira membukanya dengan jari gemetar.
Di halaman pertama, tertulis dengan tinta emas yang berkilau:
"Selamat datang di panggungmu, Aira. Mainkan perannya, atau biarkan mereka memakanmu hidup-hidup. Ingat: di tempat ini, sensualitas adalah senjata, dan cinta adalah racun paling mematikan."
Aira menatap cermin sekali lagi. Mata hijau zamrud Isabella menatapnya balik dengan penuh tantangan. Ia tidak lagi punya pilihan.
Untuk bertahan hidup, gadis polos dari apartemen sempit itu harus mati, dan Sang Nyonya Menor yang jahat harus bangkit kembali.
-----------------------------------------------------------------------
"Halo guys! Kalau kalian suka sama cerita ini, yuk perhatikan baik-baik tips berikut ini, biar aku makin semangat menuangkan idenya.
caranya gampang ko guys :
✅ Baca urut ya: Biar nggak bingung sama plotnya, dan biar dukungannya kehitung sistem.
✅ Like di semua bab: Kasih tanda cinta kalian di setiap bab yang kalian buka, jangan pelit jempol ya! Hehe. 😉
✅ Jangan kasih kendor: Ikutin terus ceritanya sampe bab paling update.
Dukungan dari kalian itu mood booster banget buat aku lanjutin bab selanjutnya. Thank you so much! 🙏"
Lanjuutt