Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Sore itu suasana kantor mulai perlahan sepi. Satu per satu karyawan berkemas dan meninggalkan ruangan setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. Di ruang administrasi, suara keyboard yang sejak siang terdengar cepat kini mulai jarang terdengar. Lampu-lampu ruangan masih menyala terang, tetapi kesibukan yang tadi memenuhi tempat itu sudah mulai mereda.
Novita menatap layar komputernya untuk terakhir kali. Matanya menelusuri baris demi baris tabel laporan yang baru saja ia selesaikan. Setelah memastikan semuanya tersimpan dengan rapi, ia menghela napas kecil lalu meregangkan bahunya yang terasa sedikit pegal.
"Akhirnya selesai juga…" gumamnya pelan.
Ia merapikan beberapa berkas di mejanya dengan hati-hati, memastikan semuanya tersusun rapi. Setelah itu, ia mematikan komputer dan berdiri dari kursinya. Saat menoleh ke samping, ia melihat Yanti masih duduk di depan layar dengan wajah serius. Jarinya bergerak cepat di atas keyboard.
Di sebelahnya, Risa bersandar di kursi sambil memegang beberapa lembar kertas laporan.
"Yan, belum selesai?" tanya Novita sambil mendekat.
Yanti menghela napas panjang tanpa melepaskan pandangannya dari layar.
"Belum," jawabnya. "Laporan bulanan ini ternyata ada data yang harus dicek ulang. Aku kira sudah benar tadi siang, ternyata masih ada yang harus diperbaiki."
Risa mengangkat bahu kecil lalu berkata dengan nada santai, "Aku sudah bilang kan dari tadi kalau laporan ini suka tiba-tiba bikin pusing."
Novita tertawa kecil mendengar itu.
"Mau aku bantu?" tawarnya tulus.
Risa langsung menggeleng.
"Enggak usah. Kamu kan sudah selesai semua. Pulang saja duluan. Kasihan kalau kamu ikut pulang malam gara-gara laporan ini."
Yanti juga akhirnya menoleh dan mengangguk setuju.
"Iya, Vit. Kami berdua saja cukup. Lagi pula tinggal sedikit lagi kok."
Novita sempat ragu beberapa detik. Ia memang tidak enak hati meninggalkan mereka, tetapi pekerjaannya hari itu benar-benar sudah selesai.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya," katanya akhirnya.
"Iya, hati-hati di jalan," kata Yanti.
Risa melambaikan tangan.
"Besok ketemu lagi."
Novita tersenyum kecil. "Sampai besok."
Ia kemudian mengambil tasnya, melangkah keluar dari ruang administrasi, dan berjalan menyusuri lorong kantor yang mulai lengang. Suasana gedung terasa berbeda ketika jam kerja hampir selesai. Tidak ada lagi suara percakapan ramai atau langkah kaki yang tergesa-gesa.
Cahaya matahari sore masuk melalui jendela besar di ujung koridor, memberi warna keemasan yang hangat pada lantai keramik.
Begitu keluar dari gedung kantor, udara sore terasa lebih segar. Beberapa karyawan lain juga terlihat berjalan menuju parkiran atau ke arah jalan utama. Ada yang berbicara santai, ada juga yang sibuk dengan ponsel mereka.
Novita berjalan santai menyusuri trotoar di depan perusahaan.
Belum terlalu jauh ia melangkah, tiba-tiba terdengar suara yang memanggilnya dari seberang jalan.
"Novita!"
Suara itu terdengar akrab.
Novita berhenti dan menoleh.
Di seberang jalan terdapat sebuah warung kopi sederhana yang memang sering dijadikan tempat singgah para karyawan setelah jam kerja. Dari sana, seorang pria paruh baya melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.
Novita langsung mengenali wajah itu.
"Om Danu!"
Wajahnya spontan berbinar. Ia segera menyeberang jalan dengan hati-hati lalu menghampiri meja tempat pria itu duduk bersama dua orang lainnya.
Begitu sampai di dekat mereka, Novita langsung menundukkan badan sedikit dan mencium tangan pria tersebut.
"Assalamualaikum, Om."
"Waalaikumsalam," jawab Danu sambil tertawa kecil. "Wah, Novita… sudah pulang kerja?"
"Iya, Om. Baru selesai."
Danu menatapnya dari atas sampai bawah dengan ekspresi bangga.
"Sekarang sudah jadi karyawan kantoran ya," katanya.
Novita tersenyum malu.
Di meja itu juga duduk dua pria lain yang merupakan staf bagian delivery di perusahaan tersebut.
"Kenal kan ini?" kata Danu sambil menunjuk mereka.
Novita langsung menangkupkan kedua tangannya dengan sopan.
"Selamat sore, Pak Imam… Pak Budi."
Ia juga menunduk sedikit sebagai tanda hormat.
Pak Imam tersenyum ramah.
"Wah, sopan sekali anaknya."
Pak Budi mengangguk sambil tertawa kecil.
"Jarang sekarang anak muda yang masih begini."
Novita hanya tersenyum kecil mendengar pujian itu.
Om Danu kemudian menepuk kursi kosong di sampingnya.
"Duduk dulu, Vit."
"Tidak apa-apa, Om?"
"Tidak apa-apa. Sebentar saja."
Novita akhirnya duduk.
Warung kopi itu sederhana—meja kayu panjang, beberapa kursi plastik, dan aroma kopi hitam yang khas memenuhi udara.
Danu memesan segelas teh hangat untuk Novita.
Sambil menunggu minuman datang, ia memandang gadis itu dengan mata yang penuh kehangatan.
Dalam benaknya, Danu seperti melihat bayangan masa lalu.
Ia masih ingat dengan jelas saat pertama kali mengenal Novita bertahun-tahun yang lalu.
Saat itu Novita masih seorang gadis kecil berumur sekitar sebelas tahun.
Ia sering datang ke toko sembako milik Danu di kampung tempat ia tinggal bersama neneknya. Tubuhnya kecil, rambutnya dikepang sederhana, dan di tangannya selalu ada beberapa keping uang koin.
Novita kecil sering berdiri di depan etalase toko, memandangi jajanan yang tergantung di plastik-plastik kecil.
"Om… ini berapa?" tanya Novita kecil suatu hari sambil menunjuk permen.
"Seribu," jawab Danu waktu itu.
Novita lalu membuka tangannya. Di telapak tangannya hanya ada beberapa koin kecil.
"Kalau lima ratus dapat apa, Om?"
Danu tidak pernah lupa ekspresi polos itu.
Sejak saat itu, setiap kali Novita datang membawa uang lima ratus rupiah, Danu selalu memberikan jajanan jauh lebih banyak dari yang seharusnya.
"Ini buat kamu," katanya.
"Banyak sekali, Om," kata Novita kecil waktu itu dengan mata berbinar.
"Tidak apa-apa. Yang penting kamu senang."
Danu tahu betul kehidupan Novita tidak mudah.
Semua orang di kampung tahu bahwa ibunya meninggalkannya sejak kecil. Novita hanya tinggal bersama neneknya yang sudah tua.
Karena itu, Danu selalu merasa ingin membantu gadis kecil itu sebisanya.
Ia juga cukup dekat dengan nenek Novita, yang sering bercerita tentang cucunya dengan penuh kasih.
Namun waktu berjalan cepat.
Sekarang gadis kecil yang dulu datang dengan uang koin itu sudah duduk di hadapannya sebagai seorang wanita muda yang bekerja di perusahaan besar.
Danu tersenyum bangga.
"Om dengar kamu kerja di kantor ini sekarang," katanya.
Novita mengangguk pelan.
"Iya, Om. Baru beberapa minggu."
Pak Imam ikut menimpali, "Bagus itu. Masih muda sudah dapat pekerjaan bagus."
Pak Budi tertawa kecil.
"Kerja di administrasi kan?"
"Iya, Pak," jawab Novita.
Danu kemudian berkata dengan nada hangat, "Nenekmu pasti bangga sekali kalau lihat kamu sekarang."
Mata Novita sedikit melembut mendengar nama neneknya.
"Iya… semoga saja beliau bisa melihat dari sana," katanya pelan.
Angin sore berhembus pelan melewati warung kopi kecil itu. Suara kendaraan sesekali melintas di jalan depan perusahaan.
Danu menatap Novita sekali lagi dengan perasaan bangga.
"Gimana kerjanya, Vit?" tanyanya kemudian. "Ada masalah di kantor?"
Novita langsung menggeleng.
"Tidak ada, Om."
"Benar?" Danu mengangkat alisnya.
Novita tersenyum.
"Aku malah senang kerja di sana. Teman-temannya baik. Atasan juga tidak pernah mempersulit selama kita bekerja dengan benar."
"Syukurlah," kata Danu lega.
Novita melanjutkan dengan nada tulus, "Aku banyak dibantu juga sama teman-teman di bagian administrasi. Jadi aku tidak merasa sendirian."
Pak Imam tersenyum mendengar itu.
"Kalau begitu pertahankan kerja bagusmu."
Pak Budi menambahkan sambil mengangguk, "Orang yang rajin pasti jalannya bagus ke depan."
Novita hanya menunduk sedikit sambil tersenyum.
Sore itu, di warung kopi kecil di pinggir jalan, percakapan sederhana itu terasa hangat. Bagi Danu, melihat Novita yang dulu hanyalah gadis kecil dengan koin di tangan kini tumbuh menjadi wanita yang berdiri kuat dengan kehidupannya sendiri adalah sesuatu yang membuat hatinya benar-benar bangga.