NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Panik

Aku mengangguk lalu berlari pergi. Kesadaran bahwa aku baru saja menyebabkan serangan panik pada Mama Cavell terasa jatuh seperti batu di perutku.

Dia bakal membunuhku.

Begitu pintu kamar aku tertutup, aku memeluk tubuhku sendiri sambil menggeleng.

Astaga.

Apa yang barusan aku lakukan?

Merasa seperti hewan yang terkurung dan menunggu untuk disembelih, aku mulai mondar-mandir di kamar.

Aku seharusnya gak mengatakan apa-apa.

Setiap menit yang berlalu terasa seperti dinding kamar ini makin menyempit. Ketegangan itu akhirnya menjadi tak tertahankan, dan satu per satu kenangan trauma muncul dari bayangan.

Semua saat ketika Mama memukuli aku.

Hari-hari panjang saat aku dikurung di kamar.

Rasa lapar yang gak pernah berakhir.

Hari ketika Papa melemparku dari balkon.

Lenganku jatuh di sisi tubuh. Aku menatap kosong ke depan saat satu demi satu kenangan itu berputar di kepalaku.

Saat pintu kamar aku terbuka dengan keras, napasku sudah terengah dan tubuhku gemetar.

Aku menunggu Cavell menarik pistolnya dan menembakku. Tapi sebaliknya, dia berjalan ke arahku.

Walaupun aku sangat takut, aku gak bergerak sedikit pun.

Saat jarinya kembali mencengkeram leherku dan dia mendorongku sampai punggungku menempel ke dinding, suara melengking keluar dari mulutku.

Tangan kiriku mencengkeram pergelangan tangannya sementara tangan kananku memukul dadanya yang sangat keras.

Untuk sesaat, mata Cavell menatap langsung ke mataku.

Entah bagaimana aku bisa merasakan bahwa cengkeramannya di leherku gak sekuat sebelumnya.

Amarah memancar darinya, aku menelan ludah saat rasanya hampir mustahil mempertahankan tatapannya.

Suaranya rendah saat dia menggeram. “Jangan pernah bilang hal seperti itu di depan Mama lagi.”

“Aku gak akan bohong ke siapa pun. Termasuk kamu.”

Rahangnya mengeras begitu kuat sampai otot di pelipisnya bergerak.

Selama bertahun-tahun aku harus membela diri sendiri, jadi rasanya menyakitkan bagi harga diriku ketika akhirnya aku berbisik.

“Maaf aku udah membuat Mama kamu Panik.”

Cengkeramannya di leher aku sedikit mengendur. Aku terkejut saat matanya turun melihat memar yang dia tinggalkan.

Ibu jarinya mengusap kulitku, dan napas kaget keluar dari bibirku. Belum pernah ada pria yang menyentuhku dengan lembut.

Perutku mulai terasa berputar. Bukan karena takut, tapi karena perasaan aneh.

Aku teringat bagaimana Cavell berbicara dengan lembut kepada Mamanya. Dia memperlakukan wanita itu seolah sangat berharga baginya.

Bagaimana rasanya bisa dilindungi oleh pria sekuat itu?

Gak akan ada yang bisa menyakitiku lagi.

Matanya bergerak ke tanganku yang masih memegang pergelangannya. Aku langsung melepaskannya. Lenganku jatuh ke sisi tubuh, dan aku bersandar ke dinding di belakangku.

Astaga. Buku-buku roman dan Bridgerton benar-benar memengaruhiku. Cavell Rose bukan pria yang seharusnya aku fantasikan.

Dia mundur selangkah dari aku, tapi aku gak bisa berhenti memperhatikan tubuhnya yang berotot.

Saat aku membaca adegan panas di salah satu buku, perutku pernah terasa menegang. Dan saat aku melihat Cavell, perasaan yang sama muncul lagi, hanya saja jauh lebih kuat.

Dia memiringkan kepala sedikit dan menyipitkan mata ke arahku.

Sial.

Untuk sesaat aku menundukkan kepala. Aku menyingkirkan perasaan tertarik yang tiba-tiba muncul dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

Saat aku yakin wajahku sudah kembali datar, aku mengangkat kepala dan menatap matanya lagi.

Masih menatapku, dia berkata tegas. “Ceritain apa yang kamu pikirin sebelum kamu menundukkan kepala tadi.”

Apa dia gak bisa melihatnya di wajahku?

Saat aku gak menjawab cukup cepat, ekspresinya mulai menggelap. Karena aku gak bisa berbohong, pipiku terasa panas saat aku mengaku.

“Aku baru sadar kalau kamu ternyata sangat menarik.”

Raut terkejut muncul di wajahnya, tapi hilang secepat datangnya. Dia berbalik menjauh dari aku dan melihat sekeliling kamar. Tatapannya berhenti di meja riasku yang penuh dengan produk makeup.

Tanpa mengatakan apa pun, dia berjalan ke arah pintu. Tapi tiba-tiba HPku bergetar dan menyala karena notifikasi dari akun media sosial aku.

Dia berhenti.

Jantungku langsung melonjak ke tenggorokan saat dia mengambil HP yang tergeletak di ujung tempat tidurku.

Dia membuka layar lalu bergumam.

“Gak ada kata sandi?”

“Gak.”

Aku mengumpulkan keberanian dan mendekat supaya bisa melihat apa yang dia lakukan dengan HPku.

Cavell memeriksa daftar kontak dan riwayat panggilanku sebelum membuka akun TikTok aku.

Aku terlalu gugup untuk merasa kesal karena dia melanggar privasiku.

Saat video terakhir aku muncul di layar, dia berkata.

“Kamu gak menelepon keluarga kamu.”

“Gak.”

Dia menonton video itu beberapa detik sebelum menyerahkan kembali HPku.

Saat aku mengambilnya, aku langsung memeluk HP itu di dada.

Dia terlihat ragu sejenak. Saat aku menatapnya dengan bingung, dia akhirnya menjauh. Pintu tertutup pelan.

Aku langsung jatuh duduk di tepi tempat tidur. Dengan bibir sedikit terbuka, aku menatap pintu yang sudah tertutup sambil mencoba memahami apa yang barusan terjadi.

Cavell terkenal gak pernah menunjukkan belas kasihan. Cerita-cerita horor yang aku dengar membuatku siap menghadapi kematian, tapi dia bahkan gak melukai aku.

Aku menghela napas lega, lalu sepuluh menit terakhir kembali berputar di kepalaku.

Aku belum pernah merasa tertarik pada pria mana pun sebelumnya, dan aku menyalahkan buku-buku roman atas hilangnya kewarasan aku barusan.

Astaga, kenapa aku gak bisa berbohong saat dia bertanya apa yang aku pikirkan?

Tanganku naik ke leher. Jari-jariku menyentuh tempat di mana Ibu jarinya tadi berada.

Aku berdiri dan berjalan ke cermin. Saat melihat memar merah di leherku, aku menggeleng.

"Hanya karena dia gak menyakiti kamu lagi sekarang, bukan berarti dia gak akan menghukum kamu nanti."

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!