NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cowok Dingin yang terlalu percaya diri

Di balkon kamar, Rania berdiri bersandar di pembatas sambil menatap para pekerja yang lalu lalang di bawah sana. Namun sebenarnya bukan pemandangan itu yang memenuhi pikirannya.

Pikirannya justru kembali pada kejadian di pantai pribadi milik Revano—pada pengakuan perasaan Revano yang singkat, tapi terasa tulus.

Sekarang lo milik gue. Gak ada penolakan.

Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya.

“Gue sekarang pacarnya Revano? Cowok dingin itu?” gumam Rania pelan sambil terkekeh kecil.

“Lagi mikirin apa nih?”

Suara Rhea terdengar dari belakang dengan nada menggoda sambil mendekati sang adik.

“Apaan sih, Kak.”

Rhea tersenyum simpul.

“Bagaimana jalan-jalannya dengan calon adik ipar Kakak?” tanyanya dengan nada menggoda.

“Kakak Rhea!”

Rhea tertawa pelan melihat reaksi Rania.

“Dia pacar kamu, Ran?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.

Rania terdiam sesaat. Jujur saja, ia memang belum memiliki perasaan apa pun pada Revano.

“Kenapa diam, Dek? Kamu boleh curhat ke Kakak,” sambung Rhea lembut.

“Revano memang suka dengan Rania. Tadi dia mengungkapkan perasaannya. Tapi…” ucap Rania terhenti.

Rhea tetap menunggu dengan sabar, memberi ruang agar adiknya melanjutkan.

“Rania belum ada perasaan apa-apa padanya, Kak.”

Rhea tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap adiknya beberapa detik, mencoba membaca ekspresi di wajah Rania.

“Belum ada perasaan?” ulang Rhea pelan.

Rania mengangguk kecil sambil kembali menatap ke arah halaman mansion di bawah sana.

Angin malam berhembus pelan, mengibaskan sedikit rambutnya.

Rhea kemudian bersandar santai di pembatas balkon, berdiri di samping Rania.

“Kenapa?” tanyanya akhirnya.

Rania menoleh sekilas.

“Kenapa apa?”

Rhea mengangkat satu alis.

“Kenapa kamu belum punya perasaan sama dia?” tanyanya lagi dengan nada tenang. “Atau jangan-jangan kamu sebenarnya cuma bingung?”

Rania terdiam.

Ia menunduk sedikit, memainkan ujung bajunya tanpa sadar.

“Rania juga gak tahu, Kak.” gumamnya pelan. “Semuanya terjadi cepat banget.”

Rhea tidak menyela, membiarkan adiknya bicara.

“Tiba-tiba dia datang ke rumah, ngajak Rania pergi… terus langsung bilang Rania milik dia,” lanjut Rania pelan.

Rhea terkekeh kecil mendengar bagian itu.

“Gaya banget ya.”

Rania langsung menoleh.

“Kan! Rania juga kaget.”

Rhea tersenyum tipis.

“Tapi dia serius, kan?”

Rania kembali terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.

“Iya,” jawabnya jujur. “Cara dia ngomong… kelihatan banget dia serius.”

Rhea memperhatikan wajah adiknya dengan lebih teliti.

“Terus?” tanyanya lagi. “Kalau dia serius, kenapa kamu masih ragu?”

Rania menarik napas pelan.

“Karena Rania belum merasa apa-apa,” ucapnya jujur. “Bukan gak suka… tapi juga bukan suka.”

Rhea mengangguk pelan, seolah memahami.

“Berarti kamu belum mengenal dia cukup jauh,” katanya santai.

Rania menoleh.

“Mungkin.”

Rhea lalu tersenyum tipis, matanya menatap ke arah langit malam.

“Kadang perasaan memang gak datang langsung, Ran.”

Rania diam mendengarkan.

“Kadang juga datangnya pelan-pelan,” lanjut Rhea. “Dari sering ketemu, sering ngobrol, dan sering diperhatiin.”

Rania memikirkan kata-kata itu.

Entah kenapa bayangan Revano langsung muncul di kepalanya.

Cara dia membuka helmnya.

Dan cara dia menatapnya saat mengatakan perasaannya.

Rania langsung menggeleng kecil, seolah menepis pikirannya sendiri.

Rhea yang melihat itu justru tersenyum semakin lebar.

“Ran,” panggilnya pelan.

“Apa?”

Rhea menoleh menatapnya.

“Jujur sama Kakak.”

Rania mengernyit.

“Apaan lagi?”

Rhea menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Tadi waktu dia bilang kamu milik dia… kamu marah, takut, atau malah deg-degan?”

Rania langsung membeku beberapa detik.

Wajahnya perlahan memerah.

“Kak Rhea!” protesnya.

Rhea langsung tertawa pelan melihat reaksi itu.

“Oke, Kakak sudah dapat jawabannya.”

Rania mendengus kesal.

“Apaan sih.”

Rhea menepuk bahu adiknya pelan.

“Tenang saja,” ucapnya santai. “Kalau dia benar-benar serius, dia pasti sabar menunggu kamu punya perasaan yang sama.”

Rania kembali menatap ke arah halaman.

Beberapa detik kemudian ia bergumam pelan.

“Dia bilang… dia bakal bikin Rania suka sama dia.”

Rhea mengangkat alis.

“Percaya diri sekali.”

Rania terkekeh kecil.

“Iya.”

Rhea tersenyum tipis, lalu kembali menatap langit malam.

“Kalau begitu kita lihat saja,” ucapnya santai.

Rania menoleh.

“Lihat apa?”

Rhea menatap adiknya dengan senyum yang penuh arti.

“Apakah cowok dingin itu benar-benar bisa menaklukkan hati adik Kakak.”

~~

Di meja makan keluarga Valkon, seperti biasa Raisa sedang sibuk menata sarapan pagi untuk suami dan putrinya. Aroma makanan hangat memenuhi ruangan, menciptakan suasana pagi yang nyaman.

Satu per satu anggota keluarga datang, lalu duduk di meja makan untuk menikmati sarapan bersama.

Saat mereka sedang sarapan, Asep—pekerja yang sudah cukup lama bekerja di mansion Valkon—menghampiri mereka.

“Permisi, Nyonya, Tuan,” ucapnya dengan nada sopan, meski terdengar sedikit bergetar.

Semua yang ada di meja makan langsung menoleh ke arahnya.

“Ada apa, Sep?” tanya Radit.

“Begini, Tuan. Maaf sebelumnya. Saya ingin minta maaf, terutama pada Non Rania,” ucap Asep sambil melirik ke arah Rania.

Rania langsung mengerutkan keningnya.

“Ada apa, Pak Asep” tanyanya heran.

“Tadi saya pakai motor Non Rania. Sebelumnya saya sudah dapat izin dari Nyonya Raisa,” ucap Asep sambil menoleh ke arah Raisa.

“Mommy yang kasih izin. Untuk antar Bibi Maya ke pasar. Motor Asep rusak,” jelas Raisa.

“It’s okay, Mom. Aku gak masalah. Terus, kenapa?” tanya Rania kembali pada Asep.

“Saat pulang dari pasar antar Bibi Maya, saya kecelakaan, Non… dan motor Non lecet,” ucap Asep dengan suara gemetar.

Mereka yang ada di meja makan langsung terkejut mendengarnya.

“Terus bagaimana keadaan kalian berdua?” tanya Radit dengan nada khawatir.

“Saya hanya luka ringan, Tuan. Sementara Bibi Maya sempat pingsan.”

Tiba-tiba Asep berlutut di lantai.

“Maafkan saya, Tuan. Saya janji akan ganti rugi motor Rania. Atau gaji saya bisa dipotong,” ucapnya penuh penyesalan.

“Bangun, Sep. Yang suruh kamu ganti rugi siapa?” ucap Radit tegas.

“Iya, masalah motor bisa beli lagi. Yang penting keadaan kalian. Sudah dibawa ke dokter?” sambung Rania dengan nada khawatir.

Asep masih terlihat ragu untuk berdiri.

“Iya, Non. Setelah kejadian itu saya langsung bawa Bibi Maya ke klinik dekat pasar,” jawabnya pelan.

“Terus?” tanya Raisa dengan wajah khawatir.

“Dokternya bilang tidak apa-apa, Nyonya. Bibi Maya hanya syok dan sedikit memar di kepala. Sekarang beliau sedang istirahat di kamar,” jelas Asep.

Semua yang ada di meja makan akhirnya menghela napas lega.

“Syukurlah kalau begitu,” gumam Raisa.

Radit lalu menatap Asep dengan wajah serius, namun nadanya tetap tenang.

“Yang penting kalian selamat. Soal motor itu tidak perlu dipikirkan.”

“Tapi Tuan—”

“Sudah,” potong Radit. “Kamu kerja di sini sudah lama. Saya tahu kamu bukan orang yang ceroboh.”

Asep terlihat semakin tidak enak hati.

Rania lalu berdiri dari kursinya.

“Pak Asep, motor itu cuma lecet kan?” tanyanya.

Asep mengangguk pelan.

“Iya, Non. Lecet di samping saja.”

Rania menghela napas kecil.

“Ya sudah. Nanti tinggal dibawa ke bengkel saja.”

Asep menatap Rania dengan mata berkaca-kaca.

“Terima kasih, Non.”

Rania tersenyum tipis.

“Yang penting Bibi Maya dan Pak Asep gak kenapa-kenapa.”

Raisa kemudian menoleh pada Asep.

“Sekarang kamu istirahat saja dulu. Kalau luka kamu masih sakit, jangan dipaksakan kerja.”

“Iya, Nyonya. Terima kasih,” ucap Asep dengan penuh hormat sebelum akhirnya berdiri dan pergi dari ruang makan.

Setelah Asep pergi, suasana di meja makan sempat hening beberapa detik.

Rania kembali duduk di kursinya.

“Untung cuma lecet,” gumamnya pelan.

Rhea yang sejak tadi ikut sarapan hanya mengangkat alisnya sedikit.

“Motor kesayangan kamu itu?” tanyanya santai.

Rania mendengus kecil.

“Kesayangan sih enggak, tapi baru juga dipakai beberapa bulan.”

Rhea terkekeh pelan.

Radit kemudian melirik putrinya. “Daddy akan membelikan kamu motor baru. Hari ini Daddy yang akan antar kamu.”

Mata Rania langsung berbinar mendengar itu.

“Terima kasih, Daddy sayang.” Rania langsung memeluk sang Daddy dengan penuh semangat, tak lupa mengecup pipinya.

Radit hanya tersenyum melihat tingkah manja putrinya.

“Sama-sama, sayang. Oh ya, Daddy akan bawa motor itu ke kantor hari ini.”

“Wah, asyik.”

~~

Brum… brumm… brum…

Motor sport milik Radit berhenti tepat di depan sekolah Rania. Suara mesin yang khas itu sempat menarik perhatian beberapa siswa yang lewat.

Rania turun dari motor, lalu membuka helmnya dan menyerahkannya kembali pada sang Daddy.

“Terima kasih, Daddy,” ucapnya sambil tersenyum manis.

Namun belum sempat Radit menjawab, suara motor lain tiba-tiba terdengar mendekat.

Brum!

Motor Revano berhenti tepat di samping motor Radit. Ia kemudian membuka helmnya, memperlihatkan wajah datarnya seperti biasa.

“Selamat pagi, calon papa mertua,” ucapnya dengan ekspresi tenang.

Radit yang baru saja hendak memakai kembali helmnya langsung menoleh.

Rania membeku di tempat.

“Revano?” gumamnya tidak percaya.

Revano turun dari motornya dengan santai. Wajahnya tetap datar seperti biasa, seolah kalimat yang baru saja ia ucapkan adalah sesuatu yang sangat normal.

Sementara Radit menatapnya beberapa detik dengan ekspresi sulit ditebak.

“Calon apa tadi?” tanya Radit akhirnya.

Rania langsung menutup wajahnya dengan satu tangan.

“Van! Jangan aneh-aneh!” desisnya pelan, merasa malu.

Namun Revano tetap berdiri santai di sana.

“Calon papa mertua, Om,” ulangnya tenang.

Radit menatapnya lagi, lalu tiba-tiba terkekeh kecil.

Rania langsung menoleh ke arah ayahnya dengan wajah tidak percaya.

“Dad!”

Radit menepuk bahu Revano pelan.

“Berani juga kamu.”

Revano mengangguk sedikit.

“Saya cuma jujur, Om.”

Rania memijat pelipisnya.

“Ya Tuhan… pagi-pagi sudah bikin masalah.”

Radit lalu menatap putrinya.

“Ran.”

“Apa lagi, Dad?”

Radit menunjuk ke arah gerbang sekolah.

“Masuk sana. Nanti telat.”

Rania mendengus kecil.

“Iya, iya.”

Ia lalu menatap Revano dengan mata menyipit.

“Lo nanti gue hitung,” bisiknya kesal sebelum berjalan menuju gerbang sekolah.

Revano hanya tersenyum tipis melihatnya pergi.

Radit memperhatikan interaksi mereka beberapa detik sebelum akhirnya kembali menatap Revano.

“Kamu sengaja datang pagi-pagi ke sini?” tanyanya.

Revano mengangguk.

“Iya, Om.”

“Untuk?”

Revano menoleh ke arah Rania yang kini sudah berjalan cukup jauh.

“Memastikan dia sampai sekolah.”

Radit memperhatikan wajah Revano dengan lebih serius.

Beberapa detik kemudian ia mengangguk pelan.

“Bagus.”

Revano menoleh kembali ke arahnya.

“Tapi,” lanjut Radit tenang, “jaga sikap kamu.”

Revano langsung mengangguk.

“Iya, Om.”

Radit lalu memakai helmnya kembali.

“Kalau kamu memang serius sama anak saya, buktikan.”

Revano menatapnya lurus.

“Saya serius.”

Radit tidak menjawab lagi. Ia hanya menyalakan motornya.

Brummm—

Motor sport itu melaju meninggalkan halaman sekolah.

Setelah Daddynya benar-benar hilang dari pandangan, Rania langsung menghampiri Revano dengan langkah cepat.

“Van, Daddy gue bilang apa tadi? Dia marah?” tanya Rania bertubi-tubi.

Revano menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis.

“Gak.”

Rania mengerutkan kening.

“Serius?”

Revano hanya mengangguk pelan, seolah itu bukan hal penting untuk dibahas lama-lama.

Tanpa banyak bicara lagi, ia tiba-tiba meraih tangan Rania dengan lembut.

“Gue anter lo ke kelas.”

Mata Rania langsung melotot.

“Hah? Gak usah, Van!” protesnya cepat. “Gue gak mau jadi perhatian. Belum lagi fans lo itu. Gue gak mau, Van.”

Namun Revano sama sekali tidak melepaskan tangannya.

Ia justru berjalan santai menuju gedung sekolah sambil tetap menggenggam tangan Rania.

“Lo gak usah peduliin,” ucapnya tenang. “Anggap saja mereka angin.”

Rania mendesah kesal.

“Enak aja bilang angin…”

Beberapa siswa yang lewat langsung menoleh ke arah mereka. Bisik-bisik mulai terdengar di sekitar.

“Eh itu Revano…”

“Dia jalan sama Rania?”

“Pegangan tangan lagi…”

Rania makin menunduk, berharap wajahnya tidak terlalu terlihat.

“Van, lepasin tangan gue,” bisiknya kesal.

Revano hanya meliriknya sekilas.

“Gak.”

Rania menghela napas panjang. Entah kenapa, ia tidak benar-benar bisa melawan. Tangannya tetap berada dalam genggaman Revano sampai mereka tiba di depan kelas Rania.

Begitu sampai, Revano akhirnya melepaskan tangannya.

“Masuk. Gue anterin lo pulang nanti.”

Lalu tanpa peringatan, ia mengacak rambut Rania dengan santai, lalu berbalik dan berjalan pergi dari depan kelas.

Rania membeku di tempat beberapa detik.

Tangannya tanpa sadar merapikan rambutnya yang baru saja diacak.

“Nih orang…” gumamnya pelan.

Ia akhirnya masuk ke dalam kelas.

Namun baru dua langkah, suara teriakan langsung terdengar.

“CIEEEE!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!