Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awalan : Aily Marsela
Happy Reading
Di malam yang tenang tersebut, sebuah buku agak bewarna ungu tersebut sedang terbuka dan memperlihatkan tulisan-tulisan indah dari jarinya yang lentik.
Aily Marsela, atau yang biasa dipanggil Aily tengah menuliskan diary tentang kesehariannya seperti biasanya.
Di bawah sinar rembulan purnama penuh, Aily tersenyum sembari menatap ke arah keluar jendela kamarnya.
Aily menghirup udara malam yang terasa menyegarkan dan sama sekali tidak berubah seperti biasanya. Angin malam menyapu setiap inchi wajah hingga rambutnya yang terikat indah.
Tok...tok...tok...
Terdengar ada seseorang yang sedang mengetuk pintu, Aily langsung yakin bahwa yang mengetuk pintu tersebut adalah sang ibu, Tiara.
"Masuk aja Ma, gak Aily kunci kok."
Pintu pun terbuka, memperlihatkan Tiara masuk menghampiri sang anak sembari membawa susu cokelat panas yang biasa ia bawakan untuknya. Seperti halnya malam-malam sebelumnya, ia mendapati sang anak sedang menulis diary, yang mana itu sudah menjadi kebiasaannya.
"Minum dulu nih susunya. Terus, jangan tidur terlalu malam ya. Nanti ngantuk di sekolahnya." Ucap Tiara sembari meletakkan susu cokelat panas tersebut.
"Iya Ma. Aily abis ini langsung tidur kok." Balas Aily dengan senyuman khasnya.
Sejenak, Aily menghentikan aktivitasnya kemudian beralih mencium pipi Tiara.
"Selamat tidur Ma."
"Selamat tidur juga sayang. Mimpi yang indah ya."
Aily mengangguk dan kemudian Tiara pun pergi meninggalkan kamarnya.
Aily pun dengan cepat menghabiskan susu cokelat yang ibunya bawakan tersebut dan melanjutkan aktivitasnya yang sebelumnya tertunda.
Matanya pun sekalian melihat jam berwarna ungu yang berada di dinding kamarnya yang sudah menunjukan pukul 9 malam. Aily pun menguap lalu menutup bibirnya dengan tangannya. Ia memang sudah mengantuk semenjak jam 8 malam tadi.
Aily pun kembali menatap ke luar jendela, mendapati kehadiran teman-temannya yang bersinar amat terang yaitu bulan dan bintang.
Ia pun sudah kepikiran untuk menuliskan kalimat terakhir yang akan menyelesaikan diary nya hari ini. Aily pun mengambil pulpen ungu nya dan kemudian menuliskan kalimat terakhir itu di buku ungu miliknya.
Selamat malam bulan dan bintang.
Terima kasih sudah datang dan menyapaku hari ini.
Sinar kalian yang begitu terang menyapa wajahku.
Terus jenguk aku setiap malamnya ya.
Karena aku akan selalu merindukan kalian jika kalian tidak ada satu hari pun.
Terima kasih
^^^... Aily Marsela...^^^
Selesai.
Aily pun menutup buku diary nya, kemudian menyimpannya di lemari. Ia menutup rapat-rapat lemari tersebut. Aily tidak mau ada siapapun yang membaca atau mengetahui isi diary nya tersebut, bahkan sang ibu sekalipun.
Aily berjalan menuju tempat tidurnya. Tapi kemudian, ia terlupa akan satu hal. Ya, ia lupa untuk menutup jendela kamarnya yang masih terbuka.
Saat ingin menutup jendela tersebut, Aily tersenyum sembari menatap ke arah langit malam.
"Terima kasih ya bulan dan bintang, karena sudah mau menjadi temanku satu-satunya." Ucap Aily di dalam hati.
Setelah menutup jendela, Aily pun kembali menuju tempat tidurnya, lalu menarik selimut ungu nya yang hangat.
Matanya yang indah pun perlahan menutup. Dengan dinginnya malam, ia siap untuk menyambut esok hari yang cerah.
Atau mungkin, esok hari yang menakutkan baginya.
Terima kasih yang udah baca. Tolong kalo misal author ada kesalahan kata, atau ada typo, atau ada kata yang menurut kalian kurang tepat, tolong di kasih tau ya.