NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5: Penolakan yang Menyakitkan

Matahari Jakarta hari itu terasa seperti sedang menghukum siapa pun yang berani berdiri di bawahnya. Bagi Nara Setianingrum, panas ini bukan apa-apa dibandingkan dinginnya tatapan setiap Kepala Sekolah atau HRD yang ia temui sejak pagi.

Nara merapikan jilbabnya yang mulai sedikit berantakan karena peluh. Di dalam tas kainnya, tersisa tiga map cokelat berisi riwayat hidup dan ijazah S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia dengan predikat Cum Laude. Prestasi yang dulu ia banggakan, kini terasa seperti kertas kosong tak berharga.

Lembaga Pendidikan Mentari. Itu adalah perhentian kelimanya hari ini.

"Maaf, Bu Nara," ucap seorang pria paruh baya di balik meja kaca, wajahnya tampak tidak enak hati. "Kualifikasi Anda luar biasa. Jujur saja, kami sangat membutuhkan guru bahasa. Tapi..." Pria itu terdiam, matanya melirik ke arah layar komputer yang menampilkan sebuah surel singkat dengan kop surat Setiawan Group.

Nara sudah hafal polanya. Ia menarik napas panjang, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Ada peringatan tentang nama saya kan, Pak?"

Pria itu menghela napas, lalu mengangguk pelan.

"Dunia pendidikan itu sempit, Bu Nara. Apalagi jika penyumbang dana terbesar yayasan kami memberikan 'saran' untuk tidak mempekerjakan orang tertentu. Kami tidak bisa mengambil risiko kehilangan donatur tetap demi satu orang guru."

Nara berdiri, memaksakan sebuah senyum sopan. "Saya mengerti, Pak. Terima kasih atas waktunya."

Langkah Nara keluar dari gedung itu terasa berat. Kakinya yang hanya beralaskan sepatu flat murah mulai lecet. Ia duduk di halte busway, menatap kerumunan orang yang berlalu lalang. Di sudut hatinya, ia mulai bertanya-tanya: Sampai kapan Danu Setiawan akan melakukan ini? Apakah menghancurkan hidup seorang guru adalah hobinya yang baru?

Saat hari mulai jingga, Nara sampai di rumahnya. Bau minyak kayu putih dan obat-obatan langsung menyambutnya. Di ruang tengah yang sempit, ayahnya, Pak Rahardi, terbaring di atas tempat tidur. Wajahnya pucat, kulitnya tampak agak kekuningan tanda bahwa racun dalam tubuhnya mulai menumpuk karena ginjal yang tak lagi berfungsi.

"Nara... sudah pulang, Nduk?" suara ayahnya lemah, hampir seperti bisikan.

Nara segera mendekat, mencium tangan ayahnya yang terasa dingin. "Sampun, Pak. Bapak sudah makan?"

Ibu Nara muncul dari dapur dengan mata sembab. Ia memberi kode agar Nara mengikutinya ke belakang. Di dapur, Ibu menunjukkan sebuah amplop merah surat tagihan dari rumah sakit untuk jadwal cuci darah besok pagi.

"Nara, simpanan Ibu sudah habis," bisik Ibu, suaranya parau karena menahan tangis. "Tadi orang rumah sakit telepon, kalau besok tidak ada pembayaran di muka, Bapak tidak bisa masuk antrean cuci darah. BPJS kita sedang bermasalah karena ada data yang tidak sinkron sejak kamu berhenti kerja..."

Jantung Nara seolah berhenti berdetak. Ia tahu persis apa artinya itu. Ayahnya harus cuci darah dua kali seminggu. Jika terlewat satu kali saja, sesak napas akan menyerang, cairan akan masuk ke paru-paru, dan nyawa ayahnya akan berada di ujung tanduk.

"Uang bisa dicari, Nara. Tapi integritas tidak bisa dibeli kembali."

Kata-kata ayahnya dulu terngiang di telinga. Namun, saat melihat tubuh ringkih pria yang paling ia cintai itu, Nara merasa integritasnya sedang diuji oleh realitas yang sangat kejam.

Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit yang dingin, Danu Setiawan duduk di kursi kulitnya yang mewah. Di depannya, Andra, asisten pribadinya, memberikan laporan harian.

"Dia ditolak di tujuh sekolah dan tiga lembaga bimbingan belajar hari ini, Pak," lapor Andra datar.

"Kondisi ayahnya kritis. Mereka butuh setidaknya dua puluh juta rupiah untuk biaya perawatan mendesak besok pagi."

Danu memutar kursinya, menatap kerlip lampu kota dari ketinggian lantai 50. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, namun ada kilat kepuasan yang aneh di matanya.

"Bagus. Biarkan dia tahu, bahwa prinsip tidak akan bisa memberi napas buatan untuk ayahnya."

"Pak," Andra ragu sejenak. "Karin terus bertanya, kapan Ibu Nara itu akan datang ke rumah untuk berlutut padanya."

Danu mendengus. "Karin terlalu kekanak-kanakan. Saya tidak ingin dia sekadar berlutut. Saya ingin Nara datang pada saya, memohon dengan sisa-sisa harga dirinya, dan mengakui bahwa saya adalah dunianya sekarang. Setelah itu, baru saya akan memberinya 'sedekah'."

Malam itu, Nara tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk di samping ayahnya, memegangi tangan pria itu sambil terus melantunkan doa. Setiap kali ayahnya terbatuk dan terlihat kesulitan bernapas, hati Nara seperti disayat sembilu.

Ia mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

“Rumah Sakit Pelita Harapan. Jam 9 pagi besok. Datanglah menemui saya jika Anda ingin ayah Anda tetap melihat matahari lusa. - DS”

Tangan Nara gemetar. Danu tahu. Pria itu tahu segalanya. Dia seperti pemangsa yang sedang menonton mangsanya perlahan-lahan tenggelam di lumpur hisap, menunggu saat yang tepat untuk mencengkeram lehernya.

Nara menatap wajah ibunya yang tertidur di kursi sambil memegang tasbih. Ia menatap ayahnya yang merupakan sosok yang selalu mengajarkannya untuk jujur.

"Ya Allah... apakah hamba salah membela kebenaran?" bisiknya dalam keheningan malam.

Pagi harinya, suasana di rumah sakit terasa sangat mencekam bagi Nara. Ayahnya sudah dibawa menggunakan ambulans karena kondisinya menurun drastis sejak subuh. Sesampainya di bagian administrasi, kenyataan pahit kembali menghantam.

"Maaf, Mbak Nara. Sesuai prosedur, karena ini tindakan darurat dan status asuransi masih bermasalah, harus ada deposit minimal sepuluh juta rupiah sebelum tindakan dimulai," ucap petugas administrasi dengan nada robotik.

"Tapi ini nyawa, Mbak! Ayah saya sudah sesak napas!" Nara memohon, air matanya mulai mengalir tanpa bisa dibendung. "Saya janji akan melunasinya sore ini. Saya guru, saya punya jaminan..."

"Mohon maaf, Mbak. Ini peraturan rumah sakit."

Nara mundur perlahan. Ia merasa seluruh dunia sedang mengepungnya. Di saat itulah, ia melihat sosok tinggi tegap berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah angkuh. Danu Setiawan, dengan setelan jas hitam yang tampak sangat kontras dengan lingkungan rumah sakit yang penuh duka.

Danu berhenti tepat di depan Nara. Ia melihat air mata di pipi wanita itu. Tidak ada rasa iba di matanya, hanya ada sorot kemenangan yang dingin.

"Masih mau bicara soal prinsip, Bu Nara?" tanya Danu dengan suara bariton yang menusuk.

"Atau Anda ingin saya yang bicara pada bagian administrasi sekarang?"

Nara menatap Danu. Di satu sisi, ia membenci pria ini lebih dari apa pun. Di sisi lain, pria ini adalah satu-satunya jembatan antara ayahnya dan napas berikutnya.

"Apa yang Anda inginkan?" tanya Nara, suaranya hampir hilang.

Danu tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk Nara berdiri.

"Ikut saya ke mobil. Kita bicara di sana. Jika dalam lima menit saya puas dengan jawaban Anda, ayah Anda akan mendapatkan fasilitas VIP terbaik di rumah sakit ini dalam sekejap."

Nara menoleh ke arah ruang gawat darurat, lalu kembali menatap Danu. Ia tahu, langkah yang ia ambil setelah ini akan mengubah hidupnya selamanya. Ia akan masuk ke dalam perangkap singa, demi menyelamatkan orang yang ia cintai.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!