NovelToon NovelToon
Pendekar Racun Nirwana

Pendekar Racun Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.

Semua orang mengira ia telah mati.

Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.

Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

​Meski telah beristirahat semalaman, tubuhnya masih terasa berat, seolah mengalami luka parah. Arka bangkit sambil menghela napas panjang dan bergumam,

​“Kalau terus begini, tubuhku benar-benar bisa hancur. Sepertinya aku terlalu memaksakan diri. Namun… ini satu-satunya cara agar dia mau mencarikan tiga benda itu untukku.”

​Arka turun dari ranjang dan berganti pakaian. Setelah melepas pakaian luarnya, ia menggenggam liontin yang tergantung di lehernya, terdiam sejenak… Pada hari pertama kelahirannya kembali, ingatan yang tumpang tindih menimbulkan kecurigaan besar terhadap liontin ini. Pasalnya, di kehidupan sebelumnya, ia juga memiliki liontin yang persis sama!

​Liontin itu tampak terbuat dari perak, dapat dibuka, dan di dalamnya terdapat cermin bersih dan terang di kedua sisinya. Namun selain itu, tidak ada yang tampak istimewa.

​Dulu Gurunya pernah mengatakan bahwa liontin itu sudah ada di lehernya saat ia ditemukan. Sementara liontin yang kini dikenakannya juga telah berada di lehernya sejak ia bisa mengingat. Kakeknya berkata bahwa ini adalah barang yang entah dari mana didapat ayahnya, Yasa Wijaya, dan sejak ia lahir, liontin ini selalu menemaninya sebagai kenang-kenangan sang ayah.

​Dua kehidupan… liontin yang sama persis… apa sebenarnya yang terjadi?

​Setelah berganti pakaian, Arka segera memasuki Permata Racun Nirwana. Di dalam dunia hijau zamrud itu, gadis berambut merah masih melayang dengan tenang dalam posisi terlindungi, tanpa tanda-tanda akan terbangun.

​Dalam dua hari terakhir, ia mencoba bertanya secara tidak langsung kepada kakeknya dan kepada Ratna apakah ada tempat yang dihuni orang berambut merah. Jawaban yang ia dapatkan selalu sama: “Ini pertama kalinya kami mendengarnya.” Hal ini justru membuat rasa penasaran dan kecurigaannya terhadap identitas gadis itu semakin besar. Namun, ia tidak menceritakan keberadaan gadis tersebut kepada siapa pun.

​Setelah mengenakan pakaian santai, ia meregangkan tubuhnya. Tiba-tiba, aroma yang menggoda dan lezat tercium oleh hidungnya, membuat air liurnya hampir menetes. Ia mengikuti aroma itu dan melihat sebuah panci sup di atas meja. Dengan cepat ia menghampirinya. Begitu tutupnya dibuka, uap panas disertai aroma menggugah selera langsung mengepul.

​“Sup ayam ginseng… Ah! Bibi kecil memang yang terbaik!”

​Perut Arka langsung berbunyi. Ia mengambil sumpit dan mulai menyantapnya dengan lahap.

​Belum lama ia makan, pintu depan terbuka. Lili, mengenakan pakaian kuning muda, masuk dengan langkah ringan. Melihat cara makan Arka, ia berseru,

​“Eh? Sup ayam? Baunya enak sekali! Sepertinya ada aroma ginseng. Arka sayang, siapa yang membuatkan sup ini untukmu? Hee hee, kau diam-diam makan sendiri tanpa memberitahuku!”

​Ucapan Lili membuat Arka tertegun sejenak.

​“Bibi kecil, jangan bilang… bukan kau yang membawanya kemari?”

​“Tentu saja bukan!” Setelah berkata demikian, ekspresi matanya tiba-tiba berubah aneh.

​“Siapa lagi di Keluarga Wijaya ini yang akan membuatkanmu sup ayam selain aku? Hm… pasti istrimu, Ratna! Sepertinya hubungan kalian sebagai suami istri cukup baik.”

​Nada suara Lili jelas mengandung sedikit rasa masam. Arka meletakkan sumpitnya dan bergumam,

​“Dia… bagaimana mungkin… membuatkan sup ayam untukku…”

​Ini jelas mustahil!

​“Hmph! Tidak peduli siapa yang membuatkannya. Kau memang suka sup ayam, jadi habiskan saja. Aku datang untuk memberitahumu bahwa utusan dari Perguruan Wijaya akan tiba sore ini. Seluruh Keluarga Wijaya sedang bersiap-siap. Saat waktunya tiba, kau harus berhati-hati. Jangan sampai tanpa sengaja menyinggung orang-orang dari Perguruan Wijaya,” ujar Lili dengan serius.

​“Aku tahu. Kalau perlu, aku tidak keluar. Bagaimanapun, mereka pasti tidak akan memilihku,” jawab Arka dengan nada acuh.

​“Kau tidak boleh bersembunyi.” Lili menggelengkan jarinya yang ramping sambil berkata tegas,

​“Menurut Tetua Jati, tuan muda dari Perguruan Wijaya ingin menilai semua orang di Keluarga Wijaya… tidak boleh ada satu pun yang absen! Saat itu, kau harus menjaga sikap.”

​“Kalau begitu malah tidak perlu khawatir. Bukankah bibi kecil tahu aku selalu yang paling patuh?” jawab Arka sambil tersenyum, lalu kembali melahap supnya.

​“Baiklah. Aku akan pergi membantu Ayah (Nata Wijaya) dulu. Akan lebih baik jika kau menyusul setelah menghabiskan sup ayam ini.”

​Lili berbalik dan pergi setelah berkata demikian.

...

Tak lama setelah Lili pergi, Ratna kembali. Hari ini ia tidak lagi mengenakan pakaian merah, melainkan kebaya modern biru air yang disulam motif burung phoenix. Di rambutnya tersemat jepit safir, dari telinganya menjuntai sepasang anting mutiara, dan di lehernya tergantung kalung mutiara safir berwarna biru. Kulit lehernya yang terlihat putih bersinar bagaikan salju, bening hingga seolah-olah tulang di baliknya dapat terlihat samar. Ia memancarkan cahaya lembut, sungguh pemandangan yang teramat indah.

Arka menatapnya dengan ekspresi tertegun. Matanya seakan menyala terang. Pemandangan kecantikan yang begitu khas ini benar-benar menyerupai lukisan bidadari yang turun ke dunia fana…

Ratna melangkah masuk ke dalam ruangan. Setiap langkahnya ringan dan anggun, seakan berjalan di atas awan. Wajahnya yang putih bersih dan lehernya yang jenjang bukan hanya memancarkan keindahan luar biasa, tetapi juga aura keagungan dan kebanggaan dingin yang membuat orang lain merasa rendah diri. Siapa pun yang melihatnya takkan percaya bahwa ia hanyalah putri seorang pedagang kota kecil; sebaliknya, ia akan dianggap sebagai permaisuri agung yang tinggi dan tak tersentuh.

Arka menatapnya dengan pandangan kosong, hatinya menghela napas ribuan kali. Ruangan ini adalah satu-satunya tempat ia bisa berganti pakaian! Aku pasti tertidur terlalu nyenyak hingga melewatkan pemandangan indah saat ia berganti baju! Ahhhhh… sungguh tak termaafkan!

“Pakaian biru jauh lebih cocok untukmu dibandingkan merah,” puji Arka dengan tulus, wajahnya dipenuhi kegembiraan.

Ratna sama sekali tidak tergerak oleh kekagumannya. Melihat panci sup di atas meja yang telah kosong, ia berjalan mendekat, mengangkatnya, dan bersiap membawanya keluar.

“Sup ayam itu… kau yang membuatnya?” tanya Arka.

​“Rasanya tidak enak?” tanya Ratna dengan nada dingin, punggungnya menghadap Arka. Namun di kedalaman matanya, tersembunyi emosi samar yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya pahami.

“Rasanya sangat enak. Saat itu aku tahu, ternyata kau juga luar biasa dalam urusan memasak,” jawab Arka sambil tersenyum. Ia berdiri dan meregangkan tubuh, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, “Sebagai balasan atas sup ayam dari istriku Ratna, malam ini di ranjang… aku akan mengerahkan tenaga lebih besar.”

“……”

Ratna sudah terbiasa dengan godaannya yang sesekali muncul. Dengan wajah datar, ia berkata, “Orang-orang dari Perguruan Wijaya akan tiba sore ini. Pemimpinnya adalah putra bungsu ketua Perguruan Wijaya, bernama Darma Wijaya. Guru pernah mengatakan bahwa tingkat berlatih tenaga dalamnya hanya tergolong biasa di kalangan generasi muda Perguruan Wijaya, dan reputasinya di luar sana sangat buruk. Namun karena ia adalah putra bungsu, ia sangat dimanjakan. Di Kota Tirta Awan, tidak ada seorang pun yang berani memprovokasinya. Sebaiknya kau menghindari bertemu dengannya secara langsung.”

“Darma Wijaya? Baik, aku mengerti. Terima kasih atas peringatannya, Ratna, istriku,” kata Arka sambil tersenyum cerah.

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
Uswatun Hasanah
lanjut
Uswatun Hasanah
bagus... up
Jojo Shua
gasss
Sastra Aksara: Gasss terus 😄😄
total 1 replies
Oktafianto Gendut
alurnya kerennn
Sastra Aksara: Terimakasih kak. Terus Support yaa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!