Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf Untuk Apa?
"Mas...," Shanum mend*s*h tertahan saat tangan Abi menemukan titik sensitifnya kembali, rasa kantuknya hilang sepenuhnya dan digantikan oleh gelombang gairah yang kembali membuncah.
Di bawah guyuran air hangat, di tengah uap yang kian menebal, Abi kembali menjemput takdirnya. Ia tidak membiarkan satu inci pun dari tubuh Shanum terlewat dari jamahannya. Hubungan intim kali ini terasa lebih intens, suara napas yang memburu bersahutan dengan bunyi air yang jatuh ke lantai.
Di dalam ruang privat itu, Abi kembali membuktikan bahwa ketegasannya sebagai Dosen bisa berubah menjadi pemujaan yang luar biasa bagi wanita yang kini menjadi separuh jiwanya.
Setelah beberapa saat yang penuh peluh dan gairah, Abi akhirnya membasuh tubuh Shanum dengan sangat telaten, ia menyabuni setiap jengkal kulit istrinya dengan gerakan yang kini jauh lebih lembut. Shanum hanya bisa bersandar lemas pada dada Abi dan membiarkan suaminya melayani dirinya.
Tepat saat mereka selesai mengeringkan tubuh dan mengenakan pakaian masing-masing, sayup-sayup suara azan Subuh mulai berkumandang dari masjid di kejauhan.
"Ayo, kita salat," ucap Abi sambil mengecup kening Shanum yang masih nampak lemas.
Gema azan Subuh yang syahdu menembus kaca jendela apartemen, membawa ketenangan setelah badai gairah yang baru saja mereda di kamar mandi. Shanum melangkah keluar dengan kaki yang terasa sedikit gemetar, tubuhnya dibalut mukena putih bersih yang kontras dengan rona merah yang masih tertinggal di pipinya.
Di sudut kamar yang kini mulai benderang oleh lampu utama, Abi sudah berdiri tegak di atas sajadah. Pria itu mengenakan sarung tenun berwarna gelap dan baju koko putih yang rapi, memancarkan aura wibawa yang berbeda. Saat Shanum mengambil posisi di belakang sang suami, Abi menoleh sejenak dan memberikan tatapan teduh.
"Allahu Akbar...,"
Suara bariton Abi melantunkan takbir mengawali ibadah mereka. Di setiap sujudnya, Shanum merasakan haru yang luar biasa, ia menyelipkan doa paling tulus dan memohon agar pengabdiannya sebagai istri diterima dan rasa cinta yang mulai tumbuh ini diberkahi.
Selesai salam, Abi berbalik. Shanum segera mendekat dan meraih tangan suaminya dan menciumnya lama, menghirup aroma sisa air wudhu dan parfum maskulin yang menenangkan.
"Mas... maaf ya," bisik Shanum pelan saat mereka masih bersimpuh di atas sajadah.
Abi mengernyitkan alisnya, tangannya bergerak mengusap puncak kepala Shanum yang tertutup mukena.
"Maaf untuk apa?" tanya Abi.
"Tadinya aku mau bikin bekal buat Mas ke kampus, kan Mas bilang jam 7 harus berangkat karena ada rapat. Tapi... tapi kayaknya nggak jadi, soalnya...," Shanum menggigit bibir bawahnya dan tak sanggup melanjutkan perkataannya.
Abi terkekeh, tawa yang terdengar sangat ringan. Ia menarik dagu Shanum agar menatapnya, "Gara-gara saya yang nggak mau lepas maksudnya?" goda Abi.
"Sayang, dengar. Soal bekal gampang, nanti saya bisa dibeli di kantin atau pesan antar," ucap Abi.
"Tapi, Mas...,"
"Tidak ada tapi-tapi," potong Abi yang tidak bisa diganggu gugat.
Waktu bergerak cepat menunjukkan pukul 06.15 pagi, Abi mulai sibuk di depan cermin besar walk-in closet dan mengenakan kemeja biru navy yang pas di tubuh tegapnya.
Meski persendiannya terasa lemas dan matanya terasa berat, Shanum tetap berusaha membantu. Ia berdiri di depan Abi, jemarinya yang mungil mencoba merapikan kerah kemeja dan memasangkan dasi hitam milik suaminya.
Jarak mereka begitu dekat hingga napas Abi yang teratur menerpa kening Shanum, Abi membiarkan istrinya sibuk dengan dasinya dan tentu saja matanya tak lepas memandangi wajah Shanum yang tampak mengantuk namun tetap telaten. Begitu dasi terpasang sempurna, Abi tidak langsung menjauh, ia justru melingkarkan tangannya di pinggang Shanum dan menariknya masuk ke dalam pelukan hangatnya.
"Setelah ini kamu istirahat, jngan beres-beres apartemen. Biar nanti saya panggil jasa cleaning kalau memang kotor, saya tidak mau pulang melihat kamu sakit karena kelelahan," ucap Abi lembut sambil mengecup kening Shanum lama.
"Iya, Mas," balas Shanum.
"Saya berangkat ya," pamit Abi.
"Hati-hati di jalan ya, Mas," ucap Shanum lirih.
Suara pintu apartemen tertutup menandakan Abi telah berangkat, Shanum berjalan gontai menuju ranjang king size yang masih sedikit berantakan. Begitu tubuhnya menyentuh kasur empuk dan mencium aroma kayu cendana yang tertinggal di bantal Abi, kesadarannya langsung menguap. Ia jatuh tertidur dengan senyum tipis, merasa benar-benar menjadi wanita paling beruntung.
Suara deru mesin Mercedes-Benz milik Abi membelah aspal jalanan Bandung yang mulai padat di pagi hari. Di balik kemudi, Abi tampak sangat segar meski hanya tidur beberapa jam dan baru saja melewati malam bersama istrinya, energi pria itu justru terasa meluap.
Sesekali Abi melirik cincin perak yang melingkar di jari manisnya lalu tersenyum tipis, sebuah pemandangan langka yang jika dilihat mahasiswanya, mungkin akan dianggap sebagai keajaiban dunia.
Namun, begitu ia memasuki gerbang kampus, aura dingin itu kembali terpasang. Ia memarkirkan mobil, menyambar tas kulitnya dan melangkah mantap menuju gedung rektorat untuk rapat dewan Dosen.
"Pagi, Pak Abi. Cerah sekali wajahnya hari ini," sapa Bu Ambar, dosen Bahasa Inggris, saat mereka berpapasan di lobi.
Abi hanya mengangguk sopan, "Pagi, Bu. Udara Bandung sedang bagus," jawab Abi singkat dan menghindari obrolan lebih jauh tentang urusan pribadinya.
Rapat berlangsung alot selama tiga jam, membahas evaluasi kurikulum dan akreditasi internasional. Ruang rapat Senat yang megah dengan meja jati melingkar itu mendadak sunyi saat pimpinan rapat mengetuk palu, menandakan waktu jeda 15 menit.
Ketegangan sisa perdebatan mengenai akreditasi internasional masih terasa di udara dan membuat beberapa dosen segera berdiri untuk sekadar meregangkan otot atau menuju meja dispenser.
Abi tetap duduk tenang di kursinya. ia membuka tutup pulpen fountain miliknya lalu jemarinya bergerak lincah mencatat beberapa poin evaluasi di buku catatannya.
Pak Haris, dosen senior dari Fakultas Ekonomi yang memang dikenal paling luwes dan sering bercanda dengan Abi, kebetulan duduk tepat di sebelahnya, mata tajam pria paruh baya itu menangkap sesuatu yang tidak biasa pada jemari Abi.
"Wah, Pak Abi," suara Pak Haris memecah keheningan, cukup keras untuk membuat beberapa dosen yang sedang berbisik-bisik di pojok ruangan menoleh serempak.
Abi menghentikan tulisannya, ia menoleh sedikit. "Iya, Pak Haris? Ada bagian dari poin efisiensi biaya yang kurang jelas?" tanya Abi dengan nada datar profesionalnya.
Pak Haris justru tertawa kecil, ia menunjuk terang-terangan ke arah jari manis tangan kanan Abi. "Bukan soal biaya, Pak. Tapi soal cincin di jari manis Pak Abi. Sejak kapan dosen paling cool se-universitas ini pakai cincin? Perasaan minggu lalu pas kita bahas proyek laboratorium, jari Pak Abi masih polos," goda Pak Haris.
Perkataan Pak Haris itu bagaikan bom yang meledak di tengah ruangan, Bu Ambar yang sedang minum air mineral hampir tersedak. Sementara dua dosen muda lainnya, Bu Wina dan Bu Yessi, yang selama ini dikenal sebagai pengagum rahasia Abi, tampak membeku di tempat.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊