Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Debu pekat yang mengepul akibat hantaman dari langit itu perlahan-lahan mulai luruh, tersapu oleh embusan angin malam Wanamarta yang dingin. Namun, atmosfer di dasar tebing itu tidak lagi sama. Udara terasa berat, dipenuhi oleh aroma tanah yang hangus terbakar, bercampur dengan bau anyir darah dan keringat ketakutan yang menguar dari pori-pori pasukan Astina.
Di tengah kawah dangkal yang retak-retak bagai sarang laba-laba, Gatotkaca berdiri tegak menyerupai arca raksasa dari zaman purba.
Uap panas masih mengepul tipis dari sela-sela zirah keemasannya, berpadu dengan napasnya yang menderu pelan namun bertenaga. Ia perlahan memutar tubuh besarnya, memunggungi tebing tempat Pregiwa dan Pregiwati meringkuk, lalu menatap lurus ke arah sisa-sisa pasukan Kurawa yang kini bergelimpangan di atas tanah.
Lesmana Mandrakumara, pangeran Astina yang beberapa detik lalu tertawa begitu pongah bak penguasa dunia, kini terbatuk-batuk memuntahkan gumpalan darah kotor ke atas semak belukar. Punggungnya yang menghantam akar pohon beringin terasa remuk. Dengan tangan gemetar yang tak lagi sanggup menggenggam gagang pedang, ia mendongak, menembus sisa debu yang berterbangan. Matanya terbelalak lebar, memancarkan kengerian yang murni dan primitif. Pupil matanya mengecil saat melihat lambang bintang bersudut tajam yang menyala redup di dada bidang sang ksatria.
"P-Pringgandani..." desis Lesmana dengan suara bergetar hebat, nyaris seperti isakan tangis anak kecil yang tertangkap basah mencuri. Gigi-giginya bergemeretak beradu satu sama lain. "I-itu si keparat Pringgandani!"
Mendengar nama itu disebut, kepanikan massal seketika menyebar bak wabah mematikan di antara puluhan prajurit elit Astina yang masih bisa berdiri. Mereka yang sebelumnya beringas mengurung dua orang putri yang tak berdaya, kini mundur teratur dengan langkah terseret-seret. Tangan mereka yang memegang tombak dan tameng baja bergetar tak terkendali. Mereka tahu betul dongeng mengerikan tentang makhluk separuh raksasa di hadapan mereka ini. Memerangi Gatotkaca di tengah hutan gelap sama saja dengan melompat ke dalam mulut harimau lapar dengan telanjang dada.
Gatotkaca tidak mencabut keris pusaka yang terselip di pinggang belakangnya. Ia bahkan tidak repot-repot memasang kuda-kuda pertarungan. Bagi sang penjaga awan, kecoak-kecoak Astina ini sama sekali tidak layak menerima penghormatan berupa ujung senjatanya.
Ia hanya mengambil satu langkah maju.
Satu langkah yang begitu berat hingga tanah di bawah kakinya kembali bergetar, mengirimkan gelombang kejut kecil yang merambatkan keputusasaan ke seluruh penjuru hutan.
"Kalian," suara Gatotkaca akhirnya memecah keheningan.
Suaranya tidak bernada tinggi, tidak pula berupa teriakan marah. Namun, bariton itu begitu dalam, berat, dan bergema di rongga dada siapa pun yang mendengarnya, seolah suara itu tidak keluar dari pita suara manusia, melainkan berasal dari gesekan lempeng bumi di dasar jurang.
"Kalian berani mengotori hutan ini dengan niat busuk kalian," lanjut Gatotkaca, matanya yang tajam memancarkan kilat kemarahan yang menyala keemasan di tengah kegelapan. "Kalian berani mengarahkan ujung besi rongsokan itu ke arah keluarga Pandawa."
Seorang perwira Astina yang bertubuh paling besar, dalam upaya putus asa yang didorong oleh kepanikan buta, tiba-tiba berteriak histeris. Ia berlari menerjang ke depan, mengayunkan sebuah tombak bergagang kayu jati tebal yang ujungnya terbuat dari baja murni beracun. "Mati kau, Monster!" teriak perwira itu, mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menusuk dada Gatotkaca.
Pregiwati menjerit tertahan sambil menutup mata, sementara Pregiwa menahan napasnya, ngeri melihat ujung tombak itu meluncur deras.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat sisa pasukan Kurawa kehilangan seluruh harapan hidup mereka.
Gatotkaca bahkan tidak berkedip. Saat ujung tombak itu hanya berjarak satu inci dari dadanya, sang ksatria mengangkat tangan kirinya dengan gerakan yang sangat santai, seolah ia hanya sedang mengusir lalat yang mengganggu. Tangan besarnya menangkap bilah baja tombak itu dengan telapak tangan kosong.
*Trang!*
Suara logam beradu bergema keras. Tombak itu berhenti mendadak di udara, tertahan mutlak oleh cengkeraman tangan Gatotkaca. Perwira Astina itu berusaha mendorong, menarik, dan memelintir gagang tombaknya dengan urat leher yang menonjol keluar, namun tombak itu bergeming, seakan telah menyatu dengan tebing karang.
Perlahan, Gatotkaca memutar pergelangan tangannya. Suara derak logam yang melengkung dan patah terdengar menyayat telinga. Dengan hanya menggunakan dua jari, ia meremukkan mata tombak baja murni itu menjadi kepingan-kepingan tak berguna, membiarkan serpihannya berjatuhan ke tanah seperti remah-remah roti.
Sebelum perwira Astina itu sempat memproses apa yang baru saja terjadi pada senjata kebanggaannya, tangan kanan Gatotkaca melesat bagai kilat. Ia mencengkeram leher perwira itu, mengangkat tubuh pria dewasa berzirah lengkap itu ke udara hanya dengan satu tangan, seolah pria itu tidak lebih berat dari sebuah guling kapas. Kaki perwira itu menendang-nendang udara, wajahnya membiru karena pasokan udara ke paru-parunya terputus seketika.
"Aku akan memberikan kalian satu kesempatan," desis Gatotkaca pelan, namun suaranya menggema di gendang telinga setiap prajurit yang hadir. Ia menatap Lesmana yang sedang merangkak mundur dengan gemetar di atas tanah berlumpur. "Bawa pergi sampah-sampahmu dari sini, Pangeran Astina. Pergi sebelum hitungan ketiga, atau tidak akan ada satu pun dari kalian yang pulang membawa kepala di atas leher."
Ia melempar tubuh perwira besar itu ke arah kerumunan prajurit Astina bagai melempar karung beras, menabrak lima orang lainnya hingga mereka terpental dan mengerang kesakitan di semak berduri.
"Satu."
Gatotkaca mulai menghitung. Angka pertama itu baru saja meluncur dari bibirnya, namun efeknya lebih dahsyat dari rapalan mantera pengusir setan.
Lesmana Mandrakumara menjerit seperti babi hutan yang disembelih. Ia bangkit dengan sisa-sisa tenaga, tidak lagi memedulikan pedang pusakanya yang tertinggal, tidak lagi mempedulikan wibawanya sebagai seorang putra mahkota. Ia berlari terbirit-birit menerobos semak belukar, mendorong jatuh prajuritnya sendiri yang menghalangi jalannya.
"Mundur! Mundur semua, dasar idiot! Tinggalkan tempat ini!" teriak Lesmana histeris sambil terus berlari tanpa menoleh ke belakang, jubah mewahnya tersangkut ranting hingga robek berantakan.
Melihat junjungan mereka melarikan diri dengan pengecut, mental puluhan prajurit elit itu pun hancur lebur. Mereka menjatuhkan senjata, tameng, dan obor mereka, lalu berlari kocar-kacir menyusul sang pangeran, saling sikut dan saling injak dalam kegelapan hutan demi menyelamatkan nyawa masing-masing.
"Dua," ucap Gatotkaca datar.
Hanya dalam hitungan detik, area di depan tebing itu kosong melompong. Suara langkah kaki yang berlarian menjauh semakin lama semakin sayup, tertelan oleh rimbunnya Hutan Wanamarta, hingga akhirnya keadaan benar-benar sunyi. Yang tersisa hanyalah obor-obor yang tergeletak di tanah, menyala redup menerangi ceceran darah dan senjata-senjata Astina yang ditinggalkan.
Keheningan kembali turun merengkuh malam. Angin berhembus pelan, menari di sela-sela daun pinus.
Gatotkaca berdiri diam selama beberapa saat. Ia memejamkan matanya, meredakan aliran darah di dalam nadinya yang sedari tadi mendidih oleh adrenalin pertarungan. Napasnya yang memburu perlahan mulai teratur. Ketegangan pada otot-otot besarnya perlahan mengendur. Sang badai telah berlalu, dan mode pembunuh tanpa ampun di dalam kepalanya mulai padam.
Lalu, sebuah realitas yang sangat mengerikan menghantam kesadarannya lebih keras dari senjata pusaka apa pun.
*Ada dua orang putri di belakangku,* batin Gatotkaca. Jantungnya, yang sejenak lalu berdetak tenang usai memukul mundur puluhan prajurit elit, kini tiba-tiba berpacu dua kali lipat lebih cepat. Keringat dingin yang tidak pernah ia rasakan di medan perang terpanas sekalipun, kini mulai merembes di pelipisnya.
Sang manusia baja panik.
Bagi Gatotkaca, menghadapi seribu pasukan Kurawa berkuda adalah sebuah rutinitas yang membosankan. Ia tahu persis bagaimana cara mematahkan leher, di mana letak titik kelemahan zirah baja, dan seberapa kuat ia harus mengayunkan tinju. Namun, berhadapan dengan wanita—terlebih lagi wanita dari kasta keraton yang bernapas dengan tata krama—adalah medan perang abstrak yang sama sekali tidak ia kuasai. Ia tidak memiliki kosakata yang anggun. Ia tidak tahu bagaimana cara bersikap lembut. Tubuhnya terlalu besar, suaranya terlalu parau, dan tangannya terlalu kasar untuk sekadar memberikan salam yang pantas.
Dengan gerakan kaku layaknya arca batu yang baru pertama kali digerakkan, Gatotkaca perlahan memutar tubuhnya.
Di bawah bayang-bayang tebing berlumut, hanya diterangi oleh pantulan cahaya obor yang tergeletak di tanah, ia melihat mereka. Pregiwati masih meringkuk sambil menangis tertahan, menyembunyikan wajahnya di balik kain jarik kakaknya. Sementara itu, Dewi Pregiwa sedang berusaha bangkit berdiri dengan susah payah. Salah satu pergelangan kakinya tampak terkilir karena harus berlari menembus akar pepohonan dalam kegelapan.
Gatotkaca menelan ludah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir.
Dari jarak sedekat ini, dengan sisa-sisa cahaya api yang menari di wajah sang putri, Gatotkaca bisa melihat kecantikan Pregiwa dengan jelas. Rambutnya yang terurai berantakan tertiup angin justru membingkai wajahnya yang oval dan sepucat pualam dengan begitu sempurna. Ada sisa-sisa air mata di pipinya yang kotor oleh debu, namun sepasang mata bulat yang memantulkan kerlip api itu tidak lagi memancarkan ketakutan. Mata itu memancarkan keteduhan yang luar biasa, sebuah kelembutan yang seolah mampu memadamkan lautan api di Kawah Candradimuka.
Tatapan mata itu bertemu dengan mata Gatotkaca.
Seketika itu juga, lutut sang ksatria Pringgandani yang mampu menahan beban gajah perang itu terasa lemas tak bertulang. Tangannya yang baru saja meremukkan baja murni, kini gemetar hanya karena melihat ujung jemari Pregiwa yang meremas kain jariknya sendiri yang robek. Ia merasa seperti seorang raksasa kikuk yang secara tidak sengaja masuk ke dalam taman bunga teratai yang paling rapuh.
Gatotkaca buru-buru menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia tidak berani menatap mata itu lebih lama lagi. Ia merasa terlalu kotor, terlalu kasar, dan terlalu mengerikan untuk dipandang oleh sepasang mata seindah itu. Wajahnya yang garang dan bersudut tajam itu kini memerah hebat hingga ke ujung telinga, sebuah pemandangan yang untungnya tersamarkan oleh gelapnya malam.
"K-kanda Ksatria..."
Suara itu mengalun. Lembut, merdu, namun bergetar karena sisa isak tangis dan kelelahan. Bagi telinga Gatotkaca yang terbiasa mendengar lengkingan terompet perang dan gemerincing pedang, suara Pregiwa terdengar bagai denting seruling bambu yang dimainkan dewa-dewi kahyangan. Suara itu menyusup langsung ke dasar relung hatinya, menemukan ruang kosong yang selama ini bergaung sepi, dan mengisinya dengan sesuatu yang hangat.
Pregiwa mencoba melangkah maju satu tindak, menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda penghormatan yang sangat dalam. Ia sedikit meringis saat menahan berat tubuh pada kakinya yang terkilir, namun ia memaksakan diri untuk berdiri tegak di hadapan pahlawannya.
"Hutang nyawa ini... entah dengan apa hamba dan adik hamba harus menebusnya," ucap Pregiwa lirih. "Jika bukan karena turunnya Kanda Ksatria dari langit Wanamarta malam ini, kehormatan keluarga Pandawa, dan kehormatan ayahanda kami Arjuna, pastilah sudah hancur tak bersisa diinjak-injak oleh orang-orang Astina itu."
Mendengar nama pamannya disebut, Gatotkaca semakin merasa salah tingkah. Mulutnya terbuka sedikit, mencoba mencari kata-kata yang pantas, namun pita suaranya seolah menolak bekerja sama. Semua perbendaharaan kata tentang militer, taktik sergap, dan ancaman kematian yang biasa ia gunakan, menguap lenyap tak berbekas dari kepalanya.
"S-saya..." Gatotkaca berdeham kasar, terkejut mendengar suaranya sendiri yang terdengar jauh lebih parau dan sumbang dari biasanya. Ia buru-buru menunduk semakin dalam, menatap ujung sepatunya sendiri yang berlumur lumpur dan darah musuh. Tangannya bergerak gelisah, tanpa sadar meremas ujung jubah besarnya sendiri dengan kikuk. "T-tidak... tidak perlu, Tuan Putri. Tidak ada yang perlu ditebus."
Pregiwa sedikit mengernyitkan dahi. Ia memperhatikan ksatria bertubuh raksasa di hadapannya ini dengan saksama. Ksatria yang beberapa saat lalu mengamuk layaknya iblis haus darah dan meremukkan tombak baja dengan dua jari, kini berdiri menunduk di hadapannya sambil meremas jubah, tampak lebih ketakutan daripada anak kecil yang tertangkap basah mencuri mangga. Kontras yang luar biasa ini membuat sebuah senyum tipis—senyum yang sangat kecil namun tulus—terbentuk di sudut bibir sang putri.
"Bolehkah hamba mengetahui nama Kanda Ksatria?" tanya Pregiwa lagi, suaranya kini sedikit lebih tenang, berusaha mencairkan kekakuan ksatria raksasa itu. "Meskipun hamba mengenali lambang bintang Pringgandani di dada Kanda, namun hamba rasa hamba belum pernah memiliki kehormatan untuk bertatap muka secara langsung dengan sang pelindung langit."
Jantung Gatotkaca seperti berhenti berdetak sesaat. Ia ditanya namanya. Oleh putri Arjuna.
Dengan napas yang tertahan, Gatotkaca perlahan mengangkat wajahnya sedikit, hanya cukup untuk melihat dagu dan leher sang putri, masih belum berani menatap matanya secara langsung.
"N-nama saya..." Gatotkaca terbata-bata, merutuki dirinya sendiri di dalam hati mengapa ia harus terdengar setolol ini. Ia menelan ludah dengan susah payah. "Gatotkaca. Saya keponakan dari ayahanda Tuan Putri. Saya... patroli. Langit. Di atas. Mendengar jeritan. Turun."
Rentetan kalimat yang terputus-putus dan tanpa tata bahasa yang jelas itu meluncur begitu saja dari mulut Gatotkaca. Ia merasa ingin menenggelamkan dirinya sendiri ke dasar Kawah Candradimuka saat itu juga. Sungguh memalukan. Seorang panglima perang tertinggi Amarta, gagal menyusun satu kalimat utuh hanya karena ditanya nama oleh seorang wanita.
Namun, alih-alih tertawa atau merasa aneh, mata Pregiwa justru memancarkan kelegaan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa di balik wujud yang mengerikan dan kekuatan yang menghancurkan itu, bersemayam sebuah jiwa yang sangat polos, tulus, dan rapuh. Ksatria raksasa ini tidak berbahaya baginya. Ksatria ini melindunginya dengan segenap nyawanya.
Pregiwa mendadak merasa kakinya tak lagi kuat menahan beban tubuhnya akibat terkilir dan sisa kelelahan yang mendera. Tubuhnya terhuyung ke depan, lututnya lemas, dan ia nyaris jatuh tersungkur ke tanah berbatu.
"Tuan Putri!"
Insting Gatotkaca bergerak jauh lebih cepat dari akal sehatnya. Ia melesat maju, mengulurkan kedua tangannya yang besar dan kapalan, menangkap tubuh Pregiwa sebelum sang putri menyentuh tanah.
Untuk sepersekian detik, semesta kembali berhenti.
Tangan besar Gatotkaca yang terbungkus zirah baja, dengan gemetar menahan pinggang dan bahu Pregiwa. Sentuhan itu sangat ringan, seolah Gatotkaca sedang menahan sehelai bulu angsa agar tidak jatuh ke lumpur. Aroma wangi melati bercampur keringat dari rambut Pregiwa menguar, menyapu wajah Gatotkaca, membuat dadanya sesak oleh debaran yang tak masuk akal.
Pregiwa mendongak, wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari dada bidang Gatotkaca. Ia bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh sang ksatria, dan untuk pertama kalinya malam itu, Pregiwa merasa benar-benar aman. Sangat aman, hingga air matanya kembali menetes, bukan karena takut, melainkan karena kelegaan yang membuncah.
Gatotkaca mematung. Matanya membelalak, napasnya tercekat di tenggorokan. Ia menatap wajah wanita yang berada dalam rengkuhannya itu, dan pada detik itulah, Gatotkaca menyadari sebuah takdir yang jauh lebih mutlak daripada kematian di medan perang.
Di malam yang dingin dan bersimbah darah itu, di dasar Hutan Wanamarta yang sepi, benteng pertahanan terakhir yang dimiliki oleh manusia baja itu telah runtuh tak bersisa. Sang penjaga awan tidak lagi terbang bebas di langit. Hatinya telah jatuh, mengakar kuat, dan tertambat selamanya pada sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.