Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Pedang Penelan Langit
Keheningan yang mencekik menguasai Aula Utama Makam Tuan Tanah Hantu. Ribuan murid pilihan Sekte Pedang Langit menahan napas, menatap tak percaya pada sosok pemuda berjubah abu-abu lusuh yang berdiri tegak di atas peti mati batu hitam kelam.
Di tangannya, sebilah pedang patah yang berkarat teracung lurus ke arah Jian Wushuang, menantang sosok jenius mutlak dari alam menengah.
"Bocah fana yang tidak tahu berterima kasih pada langit!"
Seorang Penatua di tahap menengah Ranah Pengumpulan Lautan Qi tidak bisa lagi menahan amarahnya. Wajahnya memerah karena dihina. "Membunuhmu tidak membutuhkan tangan Tuan Muda Pertama! Biar aku yang memenggal kepalamu dan mempersembahkan pusaka itu!"
Penatua itu melesat ke udara, pedang panjangnya memancarkan cahaya biru yang menyilaukan. Hawa murni Lautan Qi-nya membentuk bayangan naga air yang mengelilingi mata pedangnya, menukik turun dengan kekuatan yang sanggup membelah bukit batu. Dua Penatua lainnya segera mengikuti dari sisi kiri dan kanan, mengunci setiap jalur pelarian Shen Yuan dengan jaring pedang hawa murni.
Tiga ahli Lautan Qi menyerang serentak!
Shen Yuan menatap ketiga serangan mematikan itu dengan mata sedalam jurang malam. Nadi Iblis Penelan Surga di dalam tubuhnya mendidih. Ia menggenggam erat gagang Pecahan Gigi Naga. Pedang patah ini memiliki berat yang tidak masuk akal—lima ribu kati—namun di tangan Shen Yuan yang berada di Kesempurnaan Fana, pedang ini seringan ranting bambu.
"Mari kita lihat seberapa rakus pedang ini," bisik Shen Yuan.
Ia memutar Sutra Penelan Surga, namun kali ini, ia mengalirkan hawa murni iblisnya langsung ke dalam gagang Pecahan Gigi Naga. Ribuan aksara kuno dari Gulungan Pedang Penelan Langit berkelebat di dalam lautan kesadarannya.
Shen Yuan mengambil satu langkah ke depan, dan mengayunkan pedang patah itu dalam satu tebasan mendatar yang sederhana.
Tidak ada cahaya pedang yang menyilaukan. Tidak ada suara ledakan yang memekakkan telinga.
Saat pedang patah berkarat itu membelah udara, sebuah celah berwarna hitam pekat tercipta di jalurnya. Celah itu bukanlah kehampaan ruang, melainkan sebuah pusaran penelanan mutlak yang dibentuk dari niat pedang!
Wussshhh!
Tebasan pusaran hitam itu menyongsong ketiga Penatua Lautan Qi. Saat naga air hawa murni dan jaring pedang mereka bersentuhan dengan lintasan pedang Shen Yuan, pemandangan yang menghancurkan nalar sehat terjadi. Serangan hawa murni dari ketiga ahli itu langsung tersedot dan ditelan tanpa sisa ke dalam pusaran hitam mata pedang, seolah setetes air yang jatuh ke padang pasir yang kerontang!
"A-Apa?!" Ketiga Penatua itu terbelalak ngeri, merasakan senjata mereka mendadak menjadi seringan bulu karena hawa murninya lenyap.
Namun, Niat Pedang Penelan Langit tidak berhenti di sana. Setelah menelan serangan mereka, ketajaman mutlak dari Pecahan Gigi Naga melintas di tubuh ketiga Penatua tersebut.
Craaak!
Suara pelan terdengar. Ketiga Penatua Lautan Qi itu membeku di udara. Garis merah tipis muncul di pinggang mereka. Sedetik kemudian, tubuh mereka terbelah menjadi dua bagian yang sangat rapi. Darah tidak menyembur keluar, karena sebelum darah itu sempat memercik, pusaran hitam dari ujung pedang Shen Yuan telah menyedot habis seluruh esensi kehidupan mereka, mengubah ketiga ahli itu menjadi abu layu yang tertiup angin makam!
Satu tebasan pedang, tiga ahli Lautan Qi musnah menjadi debu!
Ribuan murid pilihan Sekte Pedang Langit jatuh berlutut, senjata mereka terlepas dari tangan yang gemetar. Teror mutlak mencengkeram jiwa mereka.
Jian Wushuang, yang berdiri mengambang di udara, mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri. Ia bisa melihat dengan jelas; itu bukanlah kekuatan fana dari pemuda tersebut, melainkan keagungan tak tertandingi dari warisan Tuan Tanah Hantu! Seni pedang yang mampu menelan serangan musuh, dipadukan dengan ketajaman pusaka kuno!
"Pusaka itu... seni pedang itu... seharusnya menjadi milikku!" raung Jian Wushuang, matanya memerah karena keserakahan dan kedengkian yang membara.
"Jurus Pedang Inti Emas: Hukuman Ribuan Bintang!"
Jian Wushuang tidak menahan diri lagi. Hawa murni dari Ranah Pembentukan Inti Emas meledak sepenuhnya, mengubah aula bawah tanah itu menjadi seolah-olah siang hari. Ia menusukkan pedang peraknya ke langit-langit makam. Ribuan tetesan cahaya perak yang memancarkan ketajaman mutlak terbentuk di udara, turun bagaikan hujan meteor yang mengincar satu-satunya titik di mana Shen Yuan berdiri.
Ini adalah serangan pemusnah segala penjuru yang tidak menyisakan ruang untuk menghindar.
"Bocah! Kau tidak bisa menelan serangan ribuan pedang sekaligus! Pedang patah itu belum mengenali jiwamu sepenuhnya!" Leluhur Darah memperingatkan dengan suara menggelegar.
"Aku tidak perlu menelannya! Aku hanya perlu membelah sumbernya!" aum Shen Yuan menentang langit.
Shen Yuan menghentakkan kakinya ke atas peti mati purbakala, menghancurkan penutup batu kelam itu hingga retak. Tubuhnya melesat ke atas, menentang hujan ribuan pedang perak tersebut. Tubuh Emas Gelap-nya memancarkan pendaran keemasan yang paling maksimal.
Beberapa pedang perak berhasil menggores dan menembus bahu serta pahanya, menyemburkan darah segar, namun Shen Yuan bahkan tidak berkedip. Ia menahan rasa sakit yang merobek dagingnya, memusatkan seluruh sisa hawa murni iblis, kekuatan jasmani lima ribu kati, dan kehendak Sutra Penelan Surga ke dalam satu tebasan yang membelah langit.
"Gulungan Pedang Penelan Langit: Belah Kehampaan!"
Pecahan Gigi Naga diayunkan dari atas ke bawah, lurus menuju Jian Wushuang yang mengambang di udara.
Pusaran hitam raksasa meledak dari mata pedang yang berkarat itu, menelan ratusan bintang perak di jalurnya, lalu beradu langsung dengan pedang pusaka milik Jian Wushuang!
Bummmmm!
Ledakan yang sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya mengguncang seluruh Lembah Jurang Seribu Tulang di permukaan bumi. Di dalam makam, gelombang kejut yang tak terlukiskan menyapu bersih puluhan Penatua dan ribuan murid, menghempaskan mereka ke dinding batu hitam kelam hingga memuntahkan darah.
Di pusat ledakan, Shen Yuan memuntahkan seteguk darah hitam. Seluruh tulang lengan kanannya retak menahan pantulan kekuatan Inti Emas. Perbedaan dua ranah besar memang merupakan jurang yang tidak bisa dilompati oleh manusia fana.
Namun, di seberangnya... mata Jian Wushuang membelalak memancarkan ketidakpercayaan yang mutlak.
Pedang perak pusaka sekte yang ia banggakan... retak!
Lebih dari itu, pusaran hitam dari Pecahan Gigi Naga menembus pertahanan hawa murni Inti Emasnya. Sebuah luka sayatan yang dalam merobek dada Jian Wushuang, menyemburkan darah emas yang sangat berharga. Hawa murni penelanan merayap masuk ke lukanya, mencoba menggerogoti fondasi Inti Emasnya!
"Aaarrrghhh!" Jian Wushuang menjerit, bukan hanya karena rasa sakit fisik, melainkan karena rasa sakit pada harga dirinya. Ia, seorang pangeran langit, dilukai oleh semut fana! Ia buru-buru menyalurkan hawa murninya untuk mengusir pusaran iblis itu dari dadanya, memaksanya mundur sejauh belasan tombak.
Benturan itu telah menghancurkan keseimbangan makam. Langit-langit aula mulai runtuh. Bongkahan batu kelam seukuran rumah berjatuhan ke dalam danau darah yang telah mengering.
Shen Yuan tidak membuang waktu. Ia tahu pukulan barusan adalah batas kemampuannya. Tetap tinggal berarti mati.
Ia meminjam daya pantul dari benturan pedang tersebut, membiarkan tubuhnya melayang mundur ke arah lubang raksasa di dasar danau darah yang sebelumnya tertutup oleh peti mati purbakala. Di bawah lubang itu, terdengar suara aliran sungai bawah tanah yang sangat deras.
"Sampai jumpa lagi, Tuan Muda Sekte Pedang Langit!" suara Shen Yuan bergema di tengah reruntuhan yang runtuh. Ia mengangkat Pecahan Gigi Naga yang berlumuran darahnya sendiri. "Lain kali kita bertemu, aku akan meremukkan Inti Emasmu dan menjadikannya makananku!"
Tanpa ragu, Shen Yuan menjatuhkan dirinya ke dalam jurang sungai bawah tanah yang gelap gulita.
"Tidaaaak! KEJAR DIA! BAWAKAN KEPALANYA PADAKU!" raungan murka Jian Wushuang membelah keruntuhan makam. Tuan Muda Pertama itu memuntahkan seteguk darah lagi akibat kemarahan yang menyerang jantungnya.
Namun, bongkahan batu raksasa menutupi lubang tersebut, menghalangi para Penatua yang mencoba menyusul.
Di dalam kedalaman arus sungai bawah tanah yang membekukan tulang, tubuh Shen Yuan terseret oleh pusaran air yang ganas. Kesadarannya mulai memudar karena luka-luka yang menganga di tubuhnya. Namun, tangan kirinya mencengkeram Kantong Qiankun-nya erat-erat, dan tangan kanannya menolak melepaskan gagang Pecahan Gigi Naga.
Babak perburuan makam telah berakhir. Namun, legenda tentang seorang pemuda fana yang melukai ahli Inti Emas dan merampas warisan penguasa jiwa akan segera menyebar seperti badai berdarah, membakar seluruh Sembilan Cakrawala, dan menjadikan Shen Yuan sebagai buronan nomor satu di mata sekte-sekte raksasa alam menengah.