NovelToon NovelToon
WAKTU YANG SALAH

WAKTU YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Murni
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: starygf

cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 26

Tiba-tiba pintu kelas diketuk pelan.

Aura menoleh lebih dulu. Tubuhnya langsung kaku.

Alden berdiri di sana.

Tidak marah. Tidak tersenyum lebar juga. Hanya tatapan tenang yang sulit ditebak.

Harry mengikuti arah pandang Aura dan langsung berdiri.

Alden melangkah masuk. “Ganggu nggak?”

Aura menggeleng cepat. “Nggak. Kamu kok nggak bilang mau ke sini?”

“Aku pengen lihat kamu.” Jawabannya sederhana.

Harry memasukkan tangannya ke saku celana. “Gue tinggal dulu.”

“Nggak usah,” potong Alden santai. “Lanjut aja. Aku cuma mau jemput Aura.”

Aura berdiri pelan. “Aku bisa pulang sendiri.”

“Aku tahu,” balas Alden. “Tapi hari ini aku mau anterin.”

Tidak ada nada memaksa. Tapi jelas.

Harry mengambil tasnya. “Yaudah. Gue duluan.”

Sebelum keluar, ia sempat menatap Aura sebentar. Tatapan yang biasa. Tidak marah. Tidak kecewa. Tapi cukup membuat Aura merasa bersalah tanpa tahu kenapa.

Di parkiran, Alden berjalan di samping Aura. “Kamu nyaman sama dia?”

Aura menoleh. “Harry?”

Alden mengangguk.

“Iya. Dia teman satu kelas.”

Alden tersenyum tipis. “Aku tahu.”

Mereka berhenti di dekat motor Aura.

“Aku nggak pernah larang kamu dekat sama siapa pun,” lanjut Alden pelan. “Tapi aku juga nggak buta.”

Aura menahan napas.

“Aku lihat cara dia lihat kamu.”

Hening.

“Tapi selama kamu masih pilih aku, aku nggak akan pergi.”

Aura menunduk. “Aku nggak pernah bilang mau pergi.”

Alden mengangkat dagunya pelan agar Aura menatapnya. “Aku tahu.”

Sore itu Alden benar-benar mengantar Aura pulang ke rumahnya. Ibunya sempat menyapa Alden dengan ramah, sudah terbiasa melihatnya datang walau tidak sering.

Sementara itu, Harry kembali ke taman dekat parkiran kampus. Ia duduk di bangku yang sama, menyalakan rokok seperti awal-awal dulu. Asap mengepul pelan di udara sore.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Aura.

*“Maaf tadi nggak bilang dulu.”*

Harry membaca lama sebelum membalas.

*“Ngapain minta maaf.”*

Beberapa detik.

*“Kamu nggak marah?”*

Harry tersenyum kecil.

*“Aku nggak punya hak buat marah.”*

Aura menatap layar cukup lama setelah membaca itu.

Kalimat sederhana. Tapi terasa berat.

Malamnya, Alden mengantar Aura sampai depan rumah lagi setelah mereka sempat makan bersama. Sebelum pergi, Alden berkata pelan, “Aku cuma jarang hadir. Bukan berarti aku kalah.”

Aura terdiam.

Sementara di tempat lain, Harry memandangi langit malam dari balkon kosannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa lelah berdiri di garis yang jelas tapi tetap berharap garis itu suatu hari akan menghilang.

Dan tanpa mereka sadari, perlahan situasinya berubah.

Bukan karena salah satu dari mereka menyerah.

Tapi karena perasaan tidak pernah benar-benar bisa diatur dengan logika.

Hari itu kelas kosong karena dosen berhalangan hadir. Putri dan Ica sudah pindah ke kelas lain untuk mata kuliah berbeda. Aura menutup bukunya pelan, lalu menoleh ke Harry.

“Ke taman?” tanyanya lebih dulu.

Harry tersenyum kecil. “Tumben ngajak.”

Mereka berjalan berdampingan menuju taman dekat parkiran seperti awal-awal dulu. Bangku kayu itu masih jadi tempat yang sama. Tempat di mana banyak hal dimulai.

Aura yang pertama kali duduk. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari tasnya.

Harry mengangkat alis. “Kamu duluan sekarang?”

Aura menyeringai tipis. “Dari dulu juga aku yang duluan.”

Ia menyelipkan satu batang ke bibirnya, menyalakannya dengan gerakan terbiasa. Asap tipis keluar perlahan dari bibirnya. Tatapannya lurus ke depan, kosong tapi tenang.

1
only siskaa
wahhh baruu nii
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!