Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan Tak Terkendali
Hutan pinus di lereng Gunung Lawu biasanya menjadi tempat persembunyian yang tenang bagi Subosito. Namun, bagi pemuda yang memikul beban Segel Garuda Paksi di punggungnya, ketenangan adalah kemewahan yang fana.
Sudah tiga hari sejak kejadian di pancuran desa, Subosito memilih untuk hidup layaknya hantu di antara pepohonan yang menjulang tinggi. Pemuda itu membangun gubuk darurat dari dahan-dahan kering, jauh dari pemukiman warga Desa Hargodalem.
Pagi itu, udara sangat kering. Subosito sedang mengumpulkan kayu bakar di wilayah yang lebih rendah, dekat perbatasan hutan dengan ladang penduduk.
Tubuhnya masih terasa linu; setiap kali dia bergerak terlalu cepat, guratan di punggungnya berputar, mengingatkannya bahwa api di dalam nadinya hanya sedang tertidur, bukan padam.
Tiba-tiba, pendengarannya menjadi lebih tajam menangkap suara yang tak biasa sejak ledakan kekuatan. Bukan suara daun atau kicauan burung jalak Lawu, melainkan suara derap kaki yang terburu-buru dan perkataan yang tertahan.
Subosito mengendap di balik semak rimbun. Di sebuah jalan setapak yang jarang dilalui, Subosito melihat pemandangan yang membuat darahnya berdesir.
Empat orang pria garang, mengenakan pakaian hitam lusuh dengan ikat kepala yang menandakan mereka adalah sekumpulan preman bayaran, sedang menyeret seorang gadis.
Gadis itu adalah Sekar.
Jantung Subosito berdegup kencang. Sekar adalah putri bungsu Pak Modin, satu-satunya orang di desa yang pernah tersenyum tulus padanya. Saat semua orang melemparinya dengan batu, Sekar pernah diam-diam meninggalkan sebungkus nasi jagung di depan gubuk reotnya.
Sekar tidak melihatnya sebagai kutukan; dia melihatnya sebagai manusia.
"Lepaskan aku! Tolong!" teriak Sekar dengan suara gemetar. Mulutnya segera dibekap oleh tangan kasar salah satu preman yang memiliki bekas luka melintang di pipinya.
"Diam, Cah Ayu! Ayahmu punya hutang nyawa pada majikan kami. Kau akan menjadi jaminan yang sangat berharga," geram preman itu sambil tertawa sinis.
Tanpa pikir panjang, Subosito keluar dari tempat persembunyiannya. "Lepaskan dia!" teriaknya.
Suaranya pecah, antara keberanian dan rasa takut yang berbaur menjadi satu.
Keempat preman itu berhenti. Mereka terperangah sekaligus kaget, melihat seorang pemuda kurus dengan baju kumal yang robek di bagian belakang.
Kalingga mungkin takut pada Subosito, tetapi orang-orang ini adalah penjahat yang terbiasa dengan darah.
Mereka belum mendengar kabar tentang "Setan Lawu" yang mengamuk di pancuran desa.
"Lihat ini, ada pahlawan kesiangan yang ingin bermain api," ejek preman yang paling besar, melangkah maju sambil mengeluarkan golok yang berkilat tertimpa cahaya matahari.
"Pergilah, Subosito! Lari!" jerit Sekar saat berkapan tangan preman itu sedikit melonggar.
“Aku tidak akan pergi tanpa dia,” tegas Subosito.
Subosito mengepalkan tangannya sendiri. Subosito mencoba memanggil rasa panas itu, mencoba memicu api di nadinya secara sengaja.
Namun anehnya, api itu seolah enggan muncul saat diperintah. Yang ada hanya rasa perih yang menusuk-nusuk tulang belikatnya.
“Bocah ingusan,” gumam preman berbekas luka itu.
Pemimpin preman memberi isyarat pada dua anak buahnya. "Beri dia pelajaran agar tahu bedanya nyali dan bodoh!"
Dua pria itu menerjang, Subosito mencoba menghindar, tetapi tubuhnya yang masih lemah membuat gerakannya lamban.
Sebuah pukulan mendarat telak di ulu jantung, membuatnya tersungkur ke tanah, terbatuk-batuk mencari udara.
Tak berhenti di situ, tendangan demi tendangan menghunjam pinggang dan punggung.
"Ah!" Subosito meringkuk, mencoba melindungi kepalanya.
Setiap pukulan yang mendarat di punggung, tepat di atas Segel Garuda Paksi , terasa seperti palu yang menghantam bara panas. Rasa sakit itu mulai bermutasi. Dari rasa sakit fisik yang melumpuhkan, menjadi amarah yang mendidih.
Subosito melihat Sekar menangis, melihatnya disiksa. Pemuda itu merasa tidak berdaya, merasa kecil. Subosito merasa dunia ini begitu tidak adil bagi orang-orang yang hanya ingin hidup tenang.
Kenapa? Kenapa harus seperti ini?
Pandangan Subosito mulai mengabur oleh darah yang mengalir dari pelipisnya. Di dalam kegelapan yang mulai mengingatkan kesadarannya, Subosito mendengar sebuah suara. Bukan suara manusia, melainkan suara pekikan nyaring yang menggema di dalam ketakutan.
Itu adalah suara Garuda yang terkunci di dalam dagingnya, memberontak, menuntut untuk dilepaskan.
"Cukup..." bisik Subosito.
"Apa yang kamu katakan?" Salah satu preman mengangkat kakinya untuk tendangan terakhir.
"AKU BILANG CUKUP!"
Tiba-tiba, sebuah ledakan energi terpancar dari tubuh Subosito. Preman yang berdiri paling dekat terlempar hingga menabrak pohon pinus dengan bunyi krak yang mengerikan.
Kesadaran Subosito seketika tersedot ke dalam ruang hampa yang gelap. Subosito tidak lagi melihat hutan, tidak lagi melihat Sekar.
Yang Subosito rasakan hanya aliran lahar yang membanjiri seluruh Indranya.
Subosito kehilangan kendali. Dirinya bukan lagi pengontrol, melainkan penonton di dalam tubuhnya sendiri yang kini diambil alih oleh kekuatan kuno yang haus akan kekacauan.
Secara fisik, pemandangan di hutan itu berubah menjadi neraka dalam sekejap.
Tubuh Subosito terangkat perlahan dari tanah.
Baju yang dikenakan langsung hangus, berubah menjadi abu yang terbang ditiup angin panas. Dari punggung, cahaya merah keemasan memancar begitu terang hingga mengalahkan sinar matahari.
Pola sayap itu kini tidak lagi diam; pola itu seolah-olah mengepak keluar dari kulitnya dalam bentuk api yang padat.
"Setan! Dia setan!" teriak preman bergolok itu, matanya terbelalak melihat mata Subosito yang kini murni berwarna emas menyala, tanpa ada hitam di tengahnya.
Preman itu mencoba mengayunkan goloknya, tepat sebelum logam itu menyentuh kulit Subosito, golok tersebut meleleh seperti lilin di depan tungku pandai besi.
Udara di sekitar mereka bergetar hebat. Gelombang panas yang dihasilkan Subosito menciptakan fenomena fatamorgana , membuat sosoknya tampak mengerikan.
Dengan satu gerakan tangan yang tidak disadari, Subosito melepaskan lidah api yang menyapu sisa gerombolan itu.
Mereka tidak terbakar habis, tetapi panas yang terpancar cukup untuk membuat pakaian mereka berasap dan kulit mereka melepuh seketika, memaksa mereka lari tunggang langgang masuk ke dalam hutan, meninggalkan Sekar yang terjatuh karena ngeri.
Namun, Garuda Paksi tidak berhenti di sana. Kekuatan itu tidak mengenal kawan atau lawan.
Subosito, atau apa pun itu yang kini menggerakkan tubuhnya, mulai berjalan mendekati Sekar.
Setiap langkahnya membakar tanah yang dipijak. Daun-daun kering di sekitarnya mulai terbakar secara perlahan.
Api mulai menjalar ke batang-batang pohon pinus yang penuh dengan getah dan mudah terbakar. Hutan itu mulai berderak, bersiap menjadi lautan api.
"Subosito...berhenti...!" tangis Sekar, menutup wajahnya karena panas yang tak tertahankan.
"Subosito, ini aku, Sekar!"
Mendengar nama itu, sosok Subosito terdiam sejenak. Di dalam kegelapan batinnya, Subosito melihat secercah kenangan tentang sebungkus nasi jagung dan senyuman hangat.
Subosito berjuang menarik kembali kendali atas tubuhnya. Subosito merasakan dampak hebat antara sisi manusianya dan sisi keganasan Garuda.
"Lari... Sekar... lari...!" suara itu keluar dari mulut Subosito, dan terdengar seperti dua suara yang berbicara bersamaan—suara manusia dan suara guntur.
Dengan sisa-sisa kesadarannya, Subosito membalikkan badan, menjauh dari Sekar. Subosito mengarahkan ledakan energi terakhirnya ke arah langit untuk membuang beban panas yang menyesakkan dadanya.
Sebuah pilar api membubung tinggi ke angkasa, menciptakan awan asap hitam yang bisa terlihat dari seluruh penjuru lereng Lawu.
Setelah ledakan itu, cahaya di punggungnya meredup secara drastis. Api yang menutupi tubuhnya, menyisakan kulit yang memerah dan uap yang mengepul dari pori-porinya.
Subosito ambruk, tubuhnya menghantam tanah yang masih panas, tidak jauh dari kaki Sekar.
Di sekeliling mereka, api kecil mulai membakar semak-semak. Jika tidak segera dihentikan, seluruh hutan pinus ini akan musnah.
Dengan keberanian yang muncul dari rasa terima kasih, Sekar mengabaikan rasa takutnya.
Gadis itu melepas kain panjang lebih mirip selendang, membasahinya dengan air dari kendi yang dia bawa, lalu mencoba memadamkan api yang mulai merambat ke arah Subosito yang tengah pingsan.
Gadis itu kemudian berteriak keras, memanggil bantuan. Sekar tahu, membawa Subosito kembali ke desa adalah sebuah risiko besar, tetapi membiarkan Subosito mati di sini adalah sebuah dosa yang sangat besar.
Kegelapan masih terlintas di benak Subosito, tetapi rasa panas yang membakar mulai berganti dengan sensasi dingin yang menenangkan.
Bau hangus hutan dan aroma getah pinus yang terbakar perlahan memudar, digantikan oleh aroma samar kembang melati dan minyak kayu putih.
Pelan, sangat pelan, Subosito mencoba membuka matanya. Langit-langit di atasnya bukan lagi dahan pohon atau langit malam yang berbintang, melainkan anyaman bambu yang rapi dan bersih.
Subosito merasakan kain basah yang dingin menempel di dahinya.
Seluruh ototnya terasa seperti dipelintir, dan punggungnya terasa seberat batu besar.
Subosito mencoba menggerakkannya, tetapi rasa lemas yang luar biasa menghantamnya kembali ke tempat tidur.
"Dia sudah sadar...!" sebuah bisikan terdengar. Suaranya penuh kecemasan, juga ada nada lega di sana.
Subosito berbaring dengan susah payah. Dia tidak lagi berada di gubuk reotnya. Subosito berada di dalam sebuah kamar yang hangat, di atas dipan.
Di sudut ruangan, Subosito melihat Sekar sedang memeras kain di dalam baskom air. Di dekat pintu, berdiri seorang pria tua dan wanita paruh baya—orang tua Sekar.
Mereka menatap dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa terima kasih yang mendalam karena telah menyelamatkan putri mereka, tetapi di balik itu, Subosito bisa melihat ketakutan yang murni di mata mereka.
Mereka melihatnya sebagai penyelamat, tetapi mereka juga tahu bahwa di dalam tubuh pemuda lemas ini, bersemayam kekuatan yang mampu meratakan desa mereka hanya dengan satu teriakan amarah.
Subosito ingin berbicara, ingin meminta maaf karena hampir membakar hutan, tetapi suaranya hilang di tenggorokan.
Subosito hanya bisa terbaring pasrah, menyadari bahwa, meski dirinya selamat, babak baru dalam hidupnya sebagai "Anak Terkutuk" baru saja dimulai dengan cara yang jauh lebih rumit.