NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Menghadapi kenyataan pahit masa lalu

Dan dari dalam kegelapan, suara gadis penjaga itu kembali terdengar, namun kali ini penuh dengan keheranan dan sedikit... kekaguman.

"Kau... menolaknya? Kau memilih untuk meninggalkan kebahagiaan sempurnamu?"

Kegelapan di sekelilingku masih pekat, tapi kini terasa berbeda. Lebih jernih. Seolah kabut di pikiranku sendiri telah tersibak.

"Aku tahu," ucapku ke dalam kekosongan, suaraku lebih tenang dari yang kuduga. "Aku tahu ini semua ilusi. Dan aku tahu persis apa yang sebenarnya terjadi."

Bayangan akan Yuni dalam "mimpi" tiba-tiba muncul lagi di depan mata, wajahnya penuh kebahagiaan yang sempurna. Tapi kali ini, aku hanya tersenyum getir.

"Dia... Yuni yang asli, tidak pernah bisa sebahagia itu bersamaku." Suaraku bergetar, tapi aku teruskan. "Orang tuanya tidak pernah menyetujui hubungan kami. Aku cuma seorang buruh pabrik, tidak punya masa depan cerah di mata mereka. Dia... dia akhirnya menikah dengan pria pilihan keluarganya."

Mengungkapkan kebenaran yang selama ini kupendam dalam-dalam itu terasa seperti mengeluarkan duri dari hati. Sangat sakit, tapi juga melegakan.

"Itulah kenapa aku tahu yang tadi bukan dia. Bukan Yuni yang sebenarnya. Dia tidak akan pernah bisa tersenyum semudah itu, seolah tidak ada luka dan pertempuran yang kami lalui. Dia tidak akan pernah memintaku untuk menikahinya dengan begitu mudahnya. Kenangan yang kau ciptakan... itu terlalu sempurna. Terlalu... bersih. Padahal hidup yang sebenarnya berantakan."

Aku menarik napas dalam. "Aku memahami kenapa Yuni memilih untuk pergi. Itu bukan karena dia tidak mencintaiku, tapi karena dia terjepit. Aku sudah lama menerima itu. Dan kau... kau memberikanku versi yang sama sekali salah tentang dia. Versi di mana tidak ada air mata, tidak ada perpisahan pahit, tidak ada pengorbanan. Dan justru karena itulah, itu terasa palsu."

KRAAK!

Tiba-tiba, suara pecahan kaca yang dahsyat memecah kesunyian. Sebuah retakan besar muncul di kegelapan di depan mataku, seperti layar kaca raksasa yang pecah. Melalui celah retakan itu, untuk sesaat, aku bisa melihat sekilas pemandangan reruntuhan kota tua yang diselimuti kabut, dan sosok gadis berbaju putih yang kini berdiri dengan mata terbelalak penuh keterkejutan.

"Tidak mungkin!" teriaknya, suaranya yang dulu penuh tipu daya kini bergetar ketakutan dan tidak percaya. "Tidak ada yang pernah bisa menolak Khayalan Terdalam mereka! Mereka selalu terlena dan mati dalam kebahagiaan palsu itu!"

Dia menatapku, dan untuk pertama kalinya, ada rasa hormat di balik ketakutannya.

"Kau salah," ucapku, merasakan ikatanku dengan Eveline semakin kuat, seolah dia sedang berjuang mendekatiku dari balik ilusi ini. "Kebahagiaan palsu justru lebih menyakitkan daripada kenyataan pahit. Karena di dalamnya, kita kehilangan hak untuk merasakan dan berjuang. Aku memilih kenyataanku, seberapa menyakitkan pun itu."

Kini retakan di kegelapan itu semakin menjalar di hadapanku, perlahan seperti sebuah kaca yang hendak pecah. Cahaya mulai merembes masuk, menembus ilusi kegelapan tersebut, hingga aku dapat mendengar suara gadis yang menciptakan ilusi itu.

"Tidak... tidak mungkin kau bisa lolos dari ilusi maut yang telah kubuat ini, tidak... tidak mungkin," ujar gadis itu, suaranya terdengar gemetar di telingaku.

"Tidak ada yang tidak mungkin. Kau telah menjebakku dalam dunia ilusimu, maka akan kubalas perbuatanmu," ujarku dengan nada tegas dan penuh amarah.

Saat ilusi itu akhirnya runtuh sepenuhnya, dunia di sekitarku kembali berubah menjadi tempat semula.

Hingga kekesalanku menjadi mendidih saat melihat gadis kecil tersebut. Aku melangkah mendekati gadis berbaju putih itu, tinjuku terkepal. Rasa ingin menghajarnya begitu kuat—ingin membalas semua permainan emosinya, semua ilusi menyakitkan yang dia paksakan ke dalam kepalaku.

"Dengar kau," geramku, suara rendah penuh ancaman. "Aku nggak peduli kau ini cewek atau bukan. Main-main sama perasaan orang, bikin orang ngira dia bisa bahagia padahal cuma mimpi... itu keterlaluan!"

Aku mengangkat tanganku, siap untuk melepaskan pukulan yang selama ini kusimpan.

Tapi sebelum tanganku melayang, gadis itu menjerit ketakutan.

"Jangan! Aku minta ampun! AMPUN!" teriaknya, tangannya menadah seperti tameng. Air mata mengalir deras dipipinya yang pucat, sama sekali berbeda dengan sosok penuh tipu daya tadi. "Aku... aku akan lakukan apa pun! Apa pun yang kau mau! Cuma... cuma beri aku kesempatan! Aku ingin tahu! Aku ingin tahu seluk-beluk duniamu!"

Mendengar teriakannya yang putus asa itu, amarahku tiba-tiba surut, digantikan oleh rasa tercengang yang dalam. Apa? Bukannya membela diri atau melawan, malah... memohon? Dan alasannya... karena penasaran?

Tanganku yang terkepal pelan-pelan melunak. Aku merasa seperti penjahat yang baru saja mengancam anak kecil. Ekspresinya yang polos dan penuh ketakutan itu terlihat begitu tulus.

"B—buset," gumamku sendiri, merasa sedikit konyol. Dengan emosi yang sudah jauh mereda, aku menurunkan tanganku. Alih-alih memukul, tanganku malah meraih pipinya yang basah oleh air mata dan... mencubitnya dengan gemas.

"Ugghhhhh dah...lah," erangku, melepaskan cubitan itu sambil menggeleng-gelakkan kepala. "Emosi gue jadi ilang karena lo."

Aku menarik napas. "Gue emang nggak segan mukul cewek kalo dia bener-bener udah keterlaluan banget. Tapi..." aku melihatnya yang masih terisak-isak, "berhubung lo udah ngibarin bendera putih... ya udah."

Aku tidak menyangka reaksi selanjutnya.

Dengan terisak-isak, gadis itu justru maju dan memelukku erat-erat, wajahnya buryam di dadaku.

"Terima kasih! Terima kasih sudah tidak memukulku!" isaknya. "Aku... aku hanya sangat kesepian di sini. Dan mimpi-mimpi orang adalah satu-satunya hiburan dan jendelaku untuk melihat dunia lain!"

Aku langsung kaku. Badannya terasa dingin dan ringan. Rasanya... sangat aneh.

"Oi, oi, lepas," kataku dengan suara risih, berusaha melepaskan pelukannya dengan sopan. "Gue bukan pedo. Jarak, jaga jarak."

Dia melepaskan pelukannya, wajahnya masih basah tapi sekarang ada senyuman kecil yang canggung. "Maaf. Aku... lupa."

Aku memandanginya, sekarang dengan rasa penasaran yang menggantikan kemarahan. Siapa sebenarnya gadis kecil ini? Dan mengapa dia begitu terobsesi dengan dunia lain?

"Jadi," tanyaku, mencoba kembali ke topik serius. "Kau bilang kau ingin tahu tentang duniaku. Kenapa?"

"Kenapa?" Gadis kecil itu memandangku dengan mata membesar, seperti anak kecil yang ditanya mengapa menyukai permen. "Karena aku sudah terjebak di sini selama... mungkin 250 tahun? Aku lupa tepatnya. Dunia luar hanyalah kenangan samar bagiku sekarang. Mimpi-mimpi para pendatang adalah satu-satunya jendelaku untuk melihat pemandangan baru, mendengar cerita baru."

"Dua ratus lima puluh tahun?!" desakku spontan, mata membelalak. "Lah, jangan-jangan umur lo lebih tua dari buyut gue! Maaf, maaf, tadi gue hampir mukul nenek-nenek!"

Gadis itu justru terkikik kecil, suaranya seperti gemerisik daun. "Tidak usah minta maaf. Justru... aku yang harusnya meminta maaf. Pada kamu, dan pada semua orang yang datang ke sini." Ekspresinya kembali muram. "Aku sudah berdosa besar. Mempermainkan perasaan, menyuguhkan mimpi palsu... banyak yang tidak sekuat kamu. Mereka lebih memilih untuk mati dalam mimpi itu daripada kembali pada kenyataan pahit mereka. Dan mayat-mayat itu..."

Dia menunduk. "Mereka yang tidak bisa lepas dari ilusiku... akhirnya jiwa mereka tetap terperangkap di sini, sementara tubuhnya hanyut dan membusuk di laut."

Lalu dia menjelaskan dengan suara lirih, "Tapi, tidak semua pendatang mati karena ilusiku. Laut di sekitar pulau ini... dia hidup. Semakin buruk niat seseorang datang ke sini—ingin menjarah, menguasai, atau mencari kekuatan untuk kejahatan—semakin besar kemarahan Sang Penjaga, Dewi Laut yang melindungi tempat ini. Mereka yang berniat jahat, kapalnya langsung dihancurkan oleh ombak dan kabut sebelum sempat mendarat."

Aku mengangguk pelan. Itu masuk akal. Mayat-mayat yang kulihat pasti campuran antara korban ilusi gadis ini dan korban kemarahan alam—atau Dewi Laut—tersebut.

"Tapi kamu berbeda," ujarnya tiba-tiba, menatapku dengan penuh rasa ingin tahu. "Aura yang kamu bawa... sangat besar. Nyaris setara dengan setengah dewa."

Aku langsung mengernyit. "Setengah dewa? Jangan ngaco. Gue cuma orang biasa. Buruh pabrik dari Jakarta yang lagi tersesat."

"Dunia ini tidak pernah berbohong," bantuhnya dengan yakin. "Aku bisa merasakannya. Ada 'sesuatu' yang melekat padamu, sesuatu yang... asing, tapi sangat kuat. Seperti benang takdir yang tidak seharusnya ada di sini." Dia mendekat, matanya berbinar. "Kekuatan 'Pembangkit'-mu itu bukan sembarang sihir. Itu ada hubungannya dengan 'aura'-mu ini."

Aku hanya bisa menghela napas dan mengangkat bahu. "Yah, terserah lo deh ngomong apa. aku juga lagi bingung soalnya."

Akhirnya, rasa penasaranku muncul. "O iya, ngomong-ngomong, siapa sih nama lo?"

Gadis itu tersenyum kecil, senyuman pertama yang terlihat tulus sejak kami bertemu. "Aku dipanggil Faye."

"Faye?" ulangku, sedikit terkesiap. "Kedengerannya kayak nama karakter di game RPG murahan, atau... peri kecil di cerita anak-anak."

Wajah Faye langsung merah padam. "B-Bukan begitu! Itu nama yang diberikan padaku oleh... oleh orang yang dulu menempatkanku di sini!"

"Ooh, jadi lo emang sengaja dikurung di sini?" tanyaku, langsung menangkap poin penting itu.

Dia mengangguk, ekspresinya sedih. "Aku adalah penjaga, sekaligus tahanan. Namaku yang asli... sudah lama kulupakan. 'Faye' hanyalah panggilan yang diberikan untuk tugas ini."

Lalu, dengan tatapan mendalam yang membuatku sedikit tidak nyaman, dia berkata, "Tapi... kamu berbeda. Kamu melihatku bukan sebagai penjaga atau monster. Kamu bahkan... hampir memukulku." Dia tersenyum kecil. "Aku ingin kamu memberiku nama. Nama panggilan khusus darimu."

Aku menghela napas, merasa agak kikuk. "Wah, jangan taruh ekspektasi gitu dong. Gue nggak jago urusan nama-nama."

"Tidak apa-apa," desaknya, matanya berbinar penuh harap. "Aku ingin ada nama yang spesial darimu. Agar... agar aku merasa masih punya hubungan dengan dunia luar, melalui kamu."

Dia terdengar sangat serius dan tulus. Aku jadi merasa tidak enak menolak. Kubiarkan pikiranku bekerja, mencoba mengingat-ingat kata-kata yang kudengar atau kubaca yang mungkin cocok.

Dia menghabiskan waktu berabad-abad dalam kesendirian, dikelilingi kabut dan mimpi-mimpi orang lain. Tapi dia masih punya rasa ingin tahu yang besar, dan... nurani, yang membuatnya menyesali perbuatannya.

Lalu, sebuah kombinasi kata muncul di kepalaku. Mungkin agak norak, tapi rasanya pas.

"Gimana kalau..." ucapku, sedikit ragu. "Ratri Nirmayasha."

Matanya membesar. "Apa artinya?"

"Ratri artinya malam. Karena lo tinggal di tempat yang kayak malam abadi, penuh kabut dan misteri. Tapi di balik malam, ada bintang-bintang. Dan Nirmayasha... itu dari kata Nirmaya yang artinya tanpa ilusi, atau murni. Karena di balik semua ilusi yang lo buat, gue rasa ada sesuatu yang... murni di dalam lo. Rasa penyesalan lo, rasa ingin tahu lo, itu terasa nyata."

Aku menggaruk-garuk kepala. "Yah, mungkin kedengerannya lebay. Tapi intinya, itu mewakili sisi lo yang sebenarnya, yang tersembunyi di balik semua kabut dan mimpi palsu itu."

Faye—atau sekarang, Ratri—diam sejenak. Lalu, air mata mengalir lagi di pipinya, tapi kali ini diiringi senyuman yang sangat cerah, berbeda dari semua ekspresi yang pernah kulihat darinya.

"Ratri Nirmayasha..." ujarnya, mencoba melafalkan namanya yang baru. "Itu... nama yang paling indah yang pernah kudengar. Terima kasih, Rian."

Dia tidak memelukku lagi, tapi dia menatapku dengan penuh rasa syukur yang dalam, dan untuk pertama kalinya, aku merasa telah melakukan sesuatu yang benar di dunia aneh ini. Memberikan identitas baru pada seorang penjaga tua yang tersesat dalam wujud anak kecil, sebuah pengakuan bahwa di balik semua kekuatan dan usianya yang panjang, ada jiwa yang haus akan pengakuan dan hubungan.

"Ratri, aku perlu tahu," pinta ku, mencoba kembali fokus pada tujuan awalku. "Tentang empat orang dengan kekuatan anomali seperti yang tercatat di arsip. Apa kamu tahu sesuatu tentang mereka?"

Ratri mengerutkan keningnya yang mungil, seolah mengais ingatan yang sangat lama. "Banyak orang datang dan pergi... sulit mengingatnya."

Aku sebutkan nama-nama yang kuhafal dari buku catatan itu. "Ivan Petrov? James Walker? Ahmad Raza? Budi Santoso?"

Saat kusebut nama terakhir, matanya berkedip. "Budi... ya, aku ingat pria itu! Dia yang bisa menciptakan benda dari pikirannya. Dia tidak lama di sini, hanya singgah sebentar. Dia bilang sedang kabur dan mencari tempat terpencil yang paling tidak mungkin dicari."

"Kabur dari siapa?" tanyaku, sudah bisa menebak jawabannya.

"Dari Kekaisaran Aethelgard," jawab Ratri. "Dia bilang, siapa pun yang terlibat atau menolongnya akan dicap sebagai pengkhianat. Dia tidak ingin mencelakakan siapa pun, jadi dia memilih menghilang begitu saja."

Hatiku jadi berat. Peringatan Paman Alaric ternyata bukan main-main. Kekaisaran memang aktif memburu orang-orang seperti kami.

"Lalu, dia bilang akan pergi ke mana?"

Ratri menggeleng. "Dia sendiri tidak tahu. Hanya bilang akan terus berjalan ke arah matahari terbenam, sampai menemukan tempat di mana tidak ada lagi yang mengenalinya." Dia memandangku dengan tatapan iba. "Sepertinya, nasib 'Pendatang Celah' memang selalu berakhir dalam pelarian."

Mendengar itu, tekadku untuk meninggalkan pulau ini semakin kuat. Aku tidak bisa terus bersembunyi di sini. Aku harus menemukan jawaban, atau setidaknya, menemukan tempat di mana aku dan Eveline bisa hidup dengan tenang.

"Aku harus pergi, Ratri," ucapku, berbalik untuk pergi.

"Bawa aku bersamamu!"

Aku berhenti. "Apa? Nggak bisa."

"Kenapa?!" protesnya, suara kembali seperti anak kecil.

"Ya nggak etis aja! Bawa anak kecil di tengah perjalanan berbahaya, lagi pula aku sudah sama Eveline. Nanti orang-orang ngira aku... uh, hal yang nggak-nggak." Aku tidak mau menyebut kata 'pedofil'.

Ratri mendecakkan lidahnya kesal. "Aku bukan anak kecil!"

Sebelum aku sempat membalas, sesuatu yang luar biasa terjadi. Tubuh Ratri tiba-tiba diselimuti kabut perak. Tubuhnya yang mungil mulai meregang dan berubah. Dalam hitungan detik, di hadapanku bukan lagi seorang gadis kecil, melainkan seorang wanita dewasa yang... sangat, sangat memesona.

Tingginya sekitar 180 cm, membuatku yang Cuma tinggi 167 cm harus mendongak. Rambut peraknya yang pendek kini memanjang hingga ke punggung, berkilauan lembut. Tubuhnya semampai namun berisi di tempat yang tepat, dengan lekuk dada yang membulat dan pinggang yang ramping, terbungkus gaun putih sederhana yang kini terlihat nyaris tidak cukup menutupi bentuk dewasa dan seksi yang sempurna. Wajahnya masih mempertahankan fitur elfin yang halus, tapi sekarang dipadu dengan kematangan seorang dewi.

Aku terdiam, mulut terbuka. "As...taga." Itu satu-satunya kata yang bisa kucuatkan. Kecantikannya bukan hanya sekedar cantik, tapi seperti sesuatu yang keluar langsung dari mimpi terindah—atau mungkin ilusi terhebatnya.

Dia membungkuk, mendekatkan wajahnya yang sempurna ke wajahku, dan kini suaranya bukan lagi suara cempreng, melainkan suara alto yang dalam dan mendayu, penuh dengan keyakinan.

"Gimana? Apa ini sudah bukan anak kecil lagi, Rian?"

Aku berdiri terpaku, seperti patung yang disambar petir. Otakku nyaris hang mencoba memproses perubahan drastis di depan mataku. Dari seorang gadis kecil yang bisa kupukul, tiba-tiba berubah menjadi... ini.

"L-Lo... ini beneran?" gumamku, suara serak. Mataku tak sanggup berkedip, menelusuri setiap lekuk wajahnya yang sekarang sempurna, garis rahangnya yang tegas, dan bibirnya yang merona. Aroma bunga dan kabut yang samar menyertainya, menambah kesan surgawi—atau mungkin iblis—pada penampilannya sekarang.

Ratri—atau Bagaimanapun keadaannya sekarang —tersenyum, senyum penuh kemenangan yang tahu persis efek yang ditimbulkannya. "Sangat nyata, Rian. Ini wujud asliku, sebelum... dikurung dalam wujud itu selama berabad-abad." Suara dewasanya seperti aliran madu hangat, meresap sampai ke tulang.

"Tapi... kenapa baru sekarang berubah?" tanyaku, masih tak percaya.

"Dibutuhkan banyak energi untuk mempertahankan wujud dewasa. Energi yang kudapat dari... mimpi-mimpi para pendatang." Ada secuil rasa bersalah di matanya. "Tapi sejak kau menghancurkan ilusiku tadi, ada sedikit energi yang kembali. Cukup untuk ini."

Dia melangkah lebih dekat, bayangannya saja sudah cukup membuatku merasa kecil. "Jadi, bagaimana? Masih mau bilang aku 'anak kecil'? Masih keberatan membawaku?"

Aku menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa logika yang tersisa. "Ini... ini nggak adil. Lo curang pake jurus gitu."

Dia tertawa, suaranya seperti gemerincing bel. "Kehidupan tidak pernah adil, Pembangkit. Kau tentu sudah merasakannya."

Dia benar. Tapi melihatnya sekarang, dengan wujud yang bisa membuat dewa-dewi di dunia ini cemburu, masalahnya jadi... berbeda. Aku bukan lagi merasa seperti akan membawa anak kecil, tapi justru seperti akan membawa sebuah pus perhatian yang terlalu menyilaukan. Setiap orang yang melihatnya pasti akan menatap, dan itu berbahaya bagi kami yang sedang bersembunyi.

"Ratri, denger," ucapku, mencoba bersikap rasional. "Wujud lo yang sekarang... ini... terlalu mencolok. Kita sedang berusaha tidak menarik perhatian."

Dia mengangguk, paham. "Tenang saja. Aku bisa mengendalikannya. Aku bisa kembali ke wujud yang lebih... biasa, jika diperlukan. Tapi tolong, jangan tinggalkan aku di sini lagi. Kesendirian selama 250 tahun sudah lebih dari cukup."

Ada lonjakan empati di dadaku. Bayangkan terjebak sendirian selama itu, hanya dengan mimpi orang lain sebagai teman. Aku sendiri hampir gila hanya dalam beberapa bulan di dunia ini.

Aku menoleh ke Eveline, yang sejak tadi hanya diam memperhatikan dengan mata merahnya, siap siaga. "Eveline, apa pendapatmu?"

"Dia kuat," jawab Eveline singkat dan datar. "Bisa menjadi aset. Bisa juga menjadi ancaman. Keputusan ada padamu, Tuanku."

Great. Sangat membantu.

Aku memandang Ratri lagi. Dia menatapku dengan harapan dan tekad yang membara di mata birunya yang sekarang terlihat lebih dalam dan bijaksana.

"Oke," akhirnya kukatakan, menghela napas. "Kau bisa ikut. Tapi ada syaratnya. Pertama, kau harus patuh padaku dalam hal keamanan. Kedua, kau harus bisa menjaga penampilan agar tidak mencolok. Dan ketiga..." Aku menatapnya tajam. "Tidak ada lagi permainan ilusi. Tidak pada siapa pun. Deal?"

Wajah Ratri bersinar seperti bulan purnama. "Deal! Aku janji!" Dia hampir saja melompat kegirangan seperti anak kecil lagi, tapi dia menahan diri, berusaha tetap elegan dalam wujud dewasanya.

Dengan demikian, kelompokku kini bertambah satu anggota lagi: seorang penjaga pulau berusia 250 tahun dalam wujud dewi, seorang putri mayat hidup yang setia, dan aku, si "Pembangkit Sempurna" yang hanya ingin pulang. Kombinasi yang aneh, tapi entah mengapa, di dunia yang sudah gila ini, hal itu justru terasa... tepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!