NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Lantai empat Rumah Sakit Pusat Seoul berdenyut dalam ritme yang hingar-bingar, seolah-olah seluruh bangunan itu adalah makhluk hidup yang sedang bernapas dengan cepat. Aroma antiseptik yang tajam dan menyengat mengisi setiap sudut koridor, beradu dengan deru roda brankar yang dipacu tergesa menyusuri lorong-lorong berlantai porselen putih bersih. Bunyi suara itu datang dan pergi dengan pola yang tidak terduga—kadang dekat, kadang menjauh, diselingi dengan suara panggilan nama perawat dan tangisan pasien yang lemah dari ruangan rawat inap. Di tengah kekacauan yang terorganisasi itu, Axel berdiri diam di depan layar monitor pemindai spektrofotometer, jemarinya yang ramping menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang persis sinkron dengan jalan pikirannya yang eksakta dan tidak boleh salah.

Sinaran layar komputer memberikan kilau kebiruan pada wajahnya yang tegang, menyoroti tulang pipi yang menonjol dan alis yang terkunci rapat. Setiap angka yang muncul di layar adalah sebuah petunjuk, setiap grafik yang terbentuk adalah bagian dari teka-teki yang harus ia pecahkan dalam waktu sesingkat mungkin. Ia bisa merasakan detak jantungnya yang semakin cepat seiring dengan berjalannya waktu, namun tidak ada kesalahan sedikit pun dalam gerakan jari-jarinya yang menekan tombol-tombol dengan presisi milimeter.

"Xel, kalau kau melototi layar itu satu menit lagi, aku berani sumpah matamu akan berubah jadi piksel yang bisa langsung masuk ke dalam database komputer ini."

Sebuah suara bariton yang jenaka dan akrab memecah konsentrasi yang sudah seperti tembok baja di sekitar Axel. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suaranya—hanya satu orang di dunia yang berani mengganggunya saat ia sedang dalam zona kerja seperti ini.

Samuel bersandar rileks di ambang pintu laboratorium patologi dengan gaya yang sangat santai, sepenuhnya kontras dengan kesibukan yang melingkupi mereka. Jas putih dokternya tidak dikancingkan sama sekali, bagian dalam yang berwarna biru muda sedikit terlihat dari celah antara kolom tubuh dan lengan. Stetoskop yang biasanya melingkar rapi di lehernya tampak miring ke satu sisi, salah satu ujungnya bahkan hampir menyentuh bahu kirinya yang sedang menopang tubuhnya saat ia bersandar. Ia sedang mengunyah sebatang cokelat kecil berwarna kemerahan dengan cara yang tidak tergesa-gesa, mata besarnya yang coklat menatap Axel dengan binar geli yang khas, lengkap dengan lekukan di sudut mulutnya yang menunjukkan ia sedang menikmati kesempatan untuk menggoda sahabatnya.

"Ini kasus darurat, Sam." Sahut Axel tanpa menoleh sedikit pun dari layar yang sedang ia awasi. Jemarinya tetap bergerak tanpa jeda, menginput perintah-perintah yang diperlukan untuk menjalankan analisis ulang data darah pasien. "Pasien di ruang IGD nomor tiga menunjukkan gejala toksisitas yang tidak lazim. Aku harus memastikan jenis neurotoksinnya sebelum ginjalnya menyerah total—laporan awal menunjukkan kadar kreatinin sudah mencapai angka yang mengkhawatirkan."

Samuel melangkah masuk ke dalam laboratorium dengan langkah yang santai, suara desit sepatu kulitnya di lantai linoleum berwarna abu-abu muda terdengar ritmis dan jelas di antara suara mesin-mesin laboratorium yang berdengung lembut. Ia berhenti tepat di belakang Axel, tubuhnya yang lebih tinggi membuatnya bisa melihat layar komputer tanpa harus membungkuk terlalu rendah.

"Aku tahu kau jenius, kawan—bahkan bisa dibilang jenius tingkat dunia dalam hal identifikasi racun dan toksin." Ujarnya sambil masih mengunyah cokelatnya, suara sedikit terdengar teredam karena makanan di dalam mulutnya. "Tapi pasien itu butuh hasil lab yang akurat dan cepat, bukan membutuhkanmu untuk masuk ke dalam molekul darahnya dan mulai bercakap dengan sel-selnya. Santai sedikit dong. Kamu sudah seperti robot yang lupa diisi daya—wajahmu bahkan sudah mulai terlihat seperti layar LCD yang terlalu lama menyala."

"Toksin ini menyerang sistem saraf pusat dengan cara yang tidak pernah aku temui sebelumnya, Sam." Axel menjawab dengan nada yang tegang dan fokus, tangannya sekarang sedang menarik grafik hasil analisis ke layar utama agar bisa dilihat dengan lebih jelas. "Gejalanya mirip dengan gigitan taipan, tapi ada variasi pada kadar asetilkolin yang tidak sesuai dengan profil toksin apapun yang pernah tercatat dalam literatur. Kalau aku salah identifikasi satu mikron saja dalam komposisinya, obat yang diberikan bisa jadi justru mempercepat kerusakan organnya—dan nyawanya melayang karena kesalahanku."

Samuel terkekeh dengan suara yang penuh kegembiraan, lalu mendekat lebih jauh ke arah meja kerja yang penuh dengan peralatan canggih. Tanpa meminta izin sama sekali—seperti yang selalu ia lakukan—ia menyambar selembar kertas hasil cetak dari mesin analisis otomatis yang baru saja keluar dari slot cetak, suara mesin yang sedikit berdengung memberitahu bahwa dokumen sudah siap. Ia menggulir kertas itu dengan jari telunjuknya yang panjang, wajahnya perlahan berubah dari ekspresi candaan menjadi wajah seorang dokter yang profesional dan serius.

"Tenang saja, Dokter Bahng Axel—ahli toksikologi terhebat Rumah Sakit Pusat Seoul." Ia mengangkat satu lembar kertas dan mengibaskannya di depan wajah Axel. "Biar Dokter Samuel yang tampan dan cerdas ini yang memberitahumu satu rahasia medis yang paling ampuh dan belum pernah tercatat dalam buku apapun: panik itu menular seperti virus flu, tapi ketampanan itu abadi dan bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang tak terduga."

Axel akhirnya berhenti bekerja dan menoleh ke arah sahabatnya itu, matanya yang merah sedikit karena kurang tidur menatap Samuel dengan ekspresi datar yang seolah-olah menunjukkan rasa jengah, namun di dalamnya menyiratkan rasa sayang yang mendalam. Ia sudah terlalu akrab dengan gaya Samuel yang suka menggoda dan menyemangati orang lain dengan cara yang unik itu.

"Ketampanan tidak bisa menetralisir racun atau menyembuhkan pasien yang sedang dalam bahaya, Sam." Katanya dengan nada yang datar namun penuh makna, lalu berusaha mengambil kertas hasil cetak dari tangan Samuel.

"Tapi bisa menenangkan perawat-perawat di depan loket resepsionis supaya tidak terus-menerus datang ke laboratorium dan menanyakan kapan hasil labmu keluar lho." Balas Samuel dengan cepat, menghindari tanggapan Axel sambil mengedipkan sebelah matanya dengan gaya yang ia kira sangat menarik. Ia kemudian beralih serius, menatap data di kertas dengan teliti, matanya yang biasanya penuh candaan sekarang tertutup oleh fokus yang dalam. "Lagipula, Xel... lihat ini dong. Baris parameter ureum dan kreatinin yang kau abaikan itu. Kau terlalu fokus pada analisis enzim hati dan pencarian struktur molekul toksin sampai-sampai kau lupa menandai kolom ini dengan benar. Kau hampir melewatkan indikasi gagal ginjal akut yang sudah sangat jelas karena terlalu asyik meneliti jenis bisanya—seolah-olah mengetahui nama ularnya akan langsung menyembuhkan pasien itu."

Axel tersentak mendengar kata-kata itu, wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut dan sedikit malu. Ia segera memalingkan pandangannya ke layar monitor dan dengan cepat membuka file data pasien untuk memeriksa kembali deretan angka yang sudah ia analisis beberapa kali. Benar saja. Kolom parameter fungsi ginjal menunjukkan angka yang jauh di atas batas normal—kadar ureum mencapai 89 mg/dL dan kreatinin 3,2 mg/dL, angka yang jelas menunjukkan bahwa ginjal pasien sudah tidak bekerja dengan baik lagi. Karena terlalu terobsesi mencari jenis ular yang mungkin menggigit pasien atau sumber toksin lainnya, ia benar-benar mengabaikan kondisi organ vital yang sudah berada di ambang kolaps.

"Sial. Aku terlalu fokus pada penyebabnya sampai benar-benar lupa pada dampaknya yang sudah ada di depan mata. Jika kau tidak mengingatkanku, aku mungkin akan memberikan hasil analisis yang tidak lengkap dan membuat tim dokter IGD mengambil keputusan yang salah."

"Itulah masalahmu dari dulu, Xel." Samuel menepuk punggung Axel dengan keras, membuat pria itu sedikit terhuyung maju karena kekuatan sentuhan itu. Ia kemudian mengambil sebuah kursi dan duduk di sebelah sahabatnya, meletakkan kertas hasil cetak di atas meja dengan hati-hati. "Kamu itu seperti teleskop yang sangat canggih. Bisa melihat bintang yang sangat jauh dengan detail yang luar biasa, bisa membedakan antara debu antariksa dan planet kecil yang baru terbentuk. Tapi seringkali kamu menabrak pintu di depan hidungmu sendiri karena tidak melihat apa yang ada di sekitarmu—karena fokusmu terlalu terarah pada sesuatu yang jauh di sana." Ia mengangkat bahu dengan santai. "Jadi kamu butuh aku untuk menjadi spionmu yang selalu mengingatkanmu tentang rintangan di depanmu, mengerti kan?"

Axel menghela napas lagi, lalu menyandarkan kepalanya sejenak pada tangan yang tertumpu di atas permukaan meja yang dingin dan bersih. Ia merasakan bagaimana otot-otot di leher dan bahunya yang sudah kaku mulai sedikit rileks, meskipun rasa bersalah masih tetap ada di dalam hatinya. Ia tahu bahwa Samuel benar—ia seringkali terlalu tenggelam dalam pencarian ilmu dan penyelesaian masalah sampai lupa akan hal-hal dasar yang sama pentingnya.

"Terima kasih, Sam. Aku... aku rasa aku butuh udara segar sebentar. Pikiranku memang tidak sedang dalam kondisi yang baik hari ini."

"Nah, itu baru sahabatku yang kuhargai!" Seru Samuel dengan suara yang kembali ceria, berdiri dengan cepat dari kursinya. Ia kemudian mengambil selembar formulir hasil lab dari tumpukan di atas meja dan menyodorkannya bersama sebuah pulpen. "Tapi sebelum kamu pergi mencari udara segar yang penuh dengan polusi kota Seoul, tolong tanda tangani hasil lab ini dulu dengan benar ya. Tadi kau hampir menulis namamu sendiri—Axel Bahng—di kolom nama pasien yang jelas sekali tertulis Park Min-jung. Kau benar-benar sudah kehilangan fokus ya?"

Axel terkekeh dengan suara getir namun tulus, mengambil pulpen dan formulir dari tangan Samuel. Ia melihat kolom nama pasien dan memang ada beberapa garis kecil yang hampir menyilang nama pasien sebelum ia berhenti. Ia tidak menyadari bahwa ia hampir membuat kesalahan yang sangat dasar dan bisa menyebabkan masalah besar nantinya. Benar saja, pikirannya memang sedang tidak sinkron dengan realitas di sekitarnya. Bayangan tentang laboratorium bawah tanah di rumahnya semalam masih terus membekas di benaknya—begitu juga dengan percakapannya dengan Ayah Doni yang penuh kasih sayang namun juga penuh peringatan. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam batinnya, sebuah ambisi yang terkadang seperti ombak besar yang menghanyutkannya, membuatnya buta akan apa yang terjadi di sekitarnya.

"Sam, menurutmu..." Tanya Axel tiba-tiba, suaranya merendah saat ia mulai membubuhkan tanda tangan pada formulir tersebut dengan tulisan yang rapi dan jelas. Ia melihat ke arah Samuel dengan mata yang penuh keraguan dan kebingungan yang dalam. "Apakah ada batas bagi seorang dokter dalam mengejar ilmu? Apakah ada saatnya kita harus berhenti mencari jawaban dan menerima bahwa tidak semua hal bisa kita ketahui atau kendalikan?"

Samuel terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu, mengunyah sisa cokelatnya dengan lebih perlahan sebelum menelan dengan teliti. Ia kemudian menatap Axel dengan tatapan yang lebih hangat dan dewasa, jauh dari sikapnya yang biasanya ceria dan suka menggoda.

"Batasnya adalah kemanusiaan, Xel. Jika kamu mengejar ilmu sampai lupa bahwa yang kamu selamatkan adalah manusia—makhluk hidup dengan keluarga, impian, dan rasa sakit yang nyata—bukan sekadar data di layar komputer atau angka di hasil lab, maka kamu sudah melewati batas itu. Ilmu itu ada untuk melayani manusia, bukan sebaliknya."

Samuel kemudian merangkul bahu Axel dengan erat, mulai menyeretnya perlahan menuju pintu keluar laboratorium. Ia tidak peduli jika beberapa perawat yang lewat melihat mereka dengan ekspresi heran—ia tahu bahwa sahabatnya membutuhkan dorongan untuk keluar dari zona nyamannya yang penuh dengan angka dan mesin.

"Sekarang, ayo kita kirim hasil lab ini ke IGD dulu supaya dokter dan perawat bisa segera mengambil langkah yang tepat untuk pasien itu. Setelah itu, aku akan mentraktirmu kopi paling mahal di kantin rumah sakit—yang satuannya ada mesin pembuat kopi espresso asli dari Italia. Anggap saja sebagai biaya konsultasi karena sudah menyelamatkanmu dari kecerobohan konyolmu sendiri yang hampir membuatmu menjadi dokter paling tidak profesional sepanjang masa Rumah Sakit Pusat Seoul."

Axel membiarkan dirinya diseret oleh sahabatnya yang energik itu, merasa bagaimana beban yang selama ini menekan pundaknya mulai sedikit terangkat. Ia mencoba menikmati gangguan kecil dari Samuel yang selalu berhasil menariknya kembali ke permukaan sebelum ia tenggelam terlalu dalam di dasar samudra ambisinya sendiri.

Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah bisikan lembut namun gigih tetap terus berteriak—memintanya untuk kembali ke laboratorium bawah tanah di rumahnya malam nanti, untuk melanjutkan percobaan yang belum tuntas, untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang belum terjawab. Ambisi itu seperti api yang tidak pernah padam, bahkan ketika akalnya sudah tahu bahwa ia perlu beristirahat dan melihat dunia di sekitarnya dengan lebih jernih.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!