Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kompensasi Waktu
Pukul 17:55. Eleanor melangkah masuk ke pintu belakang kafe dengan napas yang masih sedikit memburu karena ia harus sedikit berlari dari halte bus. Ia segera mengganti jaketnya dengan celemek hitam kebanggaannya. Setelah merapikan rambut, ia melangkah menuju area depan.
Namun, baru saja kakinya menginjak lantai bermotif kayu area pelanggan, langkahnya terhenti seketika.
Di sana, di meja yang sama dengan posisi yang sama seperti dua hari lalu, duduk seorang pria dengan setelan jas yang berbeda—kali ini berwarna hitam pekat seolah ia baru saja menghadiri pemakaman atau jamuan kenegaraan. Edward Zollern. Pria itu tidak sedang memegang ponsel atau tablet. Ia hanya duduk, menatap lurus ke arah pintu masuk dengan tangan yang saling bertautan di atas meja.
Eleanor menghela napas panjang sampai bahunya naik. "Demi Tuhan... pria ini benar-benar tidak punya pekerjaan," bisiknya pada diri sendiri.
Eleanor berjalan mendekat, mencoba bersikap seprofesional mungkin meski tangannya sudah gatal ingin menyiramkan air es. "Selamat malam, Tuan Zollern. Saya tidak tahu Anda sekarang sudah beralih profesi menjadi penjaga pintu kafe kami."
Edward perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang abu-abu terlihat lebih tajam dari biasanya, ada gurat kelelahan namun didominasi oleh kekesalan yang amat sangat.
"Kau terlambat, Eleanor," suara Edward rendah, bergema di antara meja-meja yang mulai sepi.
"Terlambat?" Eleanor mengerutkan kening, melirik jam di dinding. "Saya masuk shift pukul enam, dan sekarang masih kurang tiga menit. Di planet mana Anda tinggal sampai menganggap saya terlambat?"
Edward berdiri, membuat Eleanor refleks mundur selangkah karena perbedaan tinggi badan mereka yang mencolok. "Aku sudah di sini sejak jam sepuluh pagi tadi. Aku melewatkan tiga pertemuan dewan direksi, membatalkan makan siang dengan menteri, dan menunda akuisisi pelabuhan hanya untuk duduk di kursi keras ini menunggumu. Dan kau baru muncul sekarang?" Dustanya.
Eleanor menatap Edward dengan tatapan tidak percaya. "Tunggu dulu. Anda menunggu saya sejak pagi? Di saat saya sedang asyik jogging dan tidur siang?"
"Tepat sekali."
Eleanor tertawa kecil—tawa sinis yang meledak begitu saja. "Tuan, Anda ini bukan manusia, tapi psikopat! Siapa yang menyuruh Anda menunggu? Apa saya mengirimkan surat undangan resmi? Tidak. Kalau Anda rugi waktu miliaran Poundsterling, ya itu urusan Anda! Kenapa jadi saya yang harus bertanggung jawab?"
Edward melangkah maju, mempersempit jarak hingga Eleanor bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu. "Karena waktuku sangat mahal, Eleanor. Dan hari ini, kau telah membuang sepuluh jam waktuku secara cuma-cuma. Kau tahu apa artinya itu di dunia bisnis?"
"Artinya Anda tidak efisien!" Potong Eleanor cepat. "Seorang CEO sejati akan menelepon manajer kafe untuk menanyakan jadwal saya, bukan duduk diam seperti patung porselen yang sedang merajuk. Anda rugi waktu karena kebodohan Anda sendiri, Tuan Zollern."
Rey, yang berdiri di sudut ruangan, mencoba menutupi mulutnya agar tidak terlihat sedang menahan tawa. Baru kali ini ada yang berani mengatai Edward Zollern bodoh dan tidak efisien.
Edward menyipitkan mata. Urat di pelipisnya sedikit berdenyut. "Kau menyebutku tidak efisien? Aku adalah efisiensi itu sendiri. Aku di sini karena aku ingin memastikan bahwa kau tahu... kau berhutang padaku."
"Hutang apa? Saya tidak pernah meminjam sepeser pun dari perusahaan raksasa Anda!" Seru Eleanor, tangan di pinggang.
"Hutang kompensasi waktu," balas Edward dengan nada mutlak. "Karena aku sudah kehilangan sepuluh jam produktifku, kau harus menggantinya. Mulai malam ini, setiap detik setelah shift-mu berakhir, kau adalah milikku sampai hutang sepuluh jam itu lunas."
"Mimpi saja Anda, Tuan Zollern!" Eleanor mendengus. "Saya lebih suka melayani seratus pelanggan cerewet daripada harus menghabiskan satu menit tambahan dengan pria yang hobi menghitung waktu orang lain. Silakan Anda pulang, minum obat penenang, dan cari hobi baru selain mengganggu pelayan kafe."
"Aku tidak akan pergi," Edward kembali duduk, kali ini dengan tangan bersedekap di dada, terlihat seperti anak kecil yang sangat berkuasa tapi sedang tantrum secara elegan. "Aku akan duduk di sini sampai shift-mu selesai. Dan kau akan menyajikan kopi untukku setiap tiga puluh menit sebagai bunga atas keterlambatanmu."
Eleanor memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Terserah Anda! Duduklah di sana sampai Anda berlumut. Saya tidak peduli!"
Eleanor berbalik dengan hentakan kaki yang keras menuju dapur, meninggalkan Edward yang menatap punggungnya dengan seringai tipis yang hampir tidak terlihat. Baginya, adu mulut ini jauh lebih membangkitkan gairah daripada kesepakatan bisnis mana pun di London. Eleanor tidak hanya punya mulut yang tajam, tapi dia punya keberanian yang membuat Edward merasa... hidup.
"Rey," panggil Edward tanpa menoleh.
"Ya, Sir?"
"Pesan semua menu di kafe ini. Aku ingin dia terus bolak-balik ke mejaku sampai kakinya pegal."
"Tapi Sir, Anda tidak suka makanan manis—"
"Aku tidak bilang aku akan memakannya, Rey. Aku bilang aku ingin dia melayaniku."