NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:965
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan balikan!

"Kalian sudah punya teman baru?" tanya Freya.

Saat ini Rania dan para sahabatnya sedang berkumpul di kantin sekolah.

"Iya... mereka semua baik-baik kok," jawab Balqis.

"Gue juga udah. Sama seperti Balqis, mereka baik-baik, ramah juga," sahut Bunga.

"Lo, Ran," tanya Freya pada Rania.

"Gak," jawab Rania singkat, masih mengunyah makanannya.

"Ran, kamu harus mulai beradaptasi," ucap Bunga pelan. Di antara mereka berempat, dialah yang sebenarnya paling enggan berbaur dengan orang lain.

"Nanti," bala Rania acuh.

"Biarin aja sih. Rania kan memang dari dulu gitu... orang yang dia temani dekat ya kita doang," sahut Freya.

Rania mengangguk. "Gue malas berbaur," ucapnya.

Mereka bertiga pun tak berkomentar lagi dan mengalihkan obrolan. Freya mengerutkan kening saat menoleh pada Bunga yang terlihat seperti sedang mencari sesuatu.

"Lo lihat apa sih, Bun?" ucap Freya.

"Biasa, cari cowok. Apa lagi," sahut Balqis, yang sudah sangat paham bagaimana Bunga.

"Hehehe." Bunga hanya cengengesan. Apa yang Balqis katakan memang benar.

"Gue ke toilet dulu," ucap Rania sambil berdiri dari tempatnya.

"Mau gue temenin gak?" tawar Bunga.

"Gak usah," ucap Rania lalu meninggalkan sahabat-sahabatnya.

Saat menuju toilet, Rania menjadi pusat perhatian. Mungkin karena ia memang memiliki pesona yang memikat. Rania yang merasa ditatap hanya bersikap cuek dan terus menatap lurus ke depan.

"Gila, cantik banget tuh junior," ucap salah satu murid dengan nada berbisik.

"Iya, tapi sayangnya datar."

"Gue aja cewek insecure lihat dia."

Begitulah bisik-bisik yang Rania dengar. Seperti biasa, ia hanya bersikap cuek.

Setelah sampai di toilet khusus wanita, Rania langsung masuk dan buang air kecil. Setelah selesai, Rania keluar dari bilik kamar mandi, tak lupa mencuci tangannya. Ia menatap dirinya di cermin lalu tersenyum tipis.

"Pantes saja mereka ngomongin gue, gue kan cakep," ucapnya dengan nada pede.

Setelah semua selesai, Rania keluar dari toilet. Tiba-tiba—

Brugh!

Rania hampir terjatuh. Untungnya, ia dengan cepat memegang dinding tembok di sampingnya.

"Maaf, aku gak sengaja," ucap seseorang yang hampir menabrak Rania.

"Tidak masalah," ucap Rania, lalu menatap orang itu. Matanya sedikit melebar.

"Rania..."

"Adrian..."

"Kamu sekolah di sini?" tanya Adrian, yang tak lain adalah mantan Rania saat sekolah menengah pertama.

Rania mengangguk. "Iya, aku sekolah di sini," ucap Rania sambil tersenyum tipis.

"Sorry ya, udah nabrak kamu," ucap Adrian dengan nada bersalah.

"Iya, gak apa-apa. Aku juga nggak kenapa-napa," balas Rania santai.

"Syukurlah. Oh iya, kamu kelas berapa?" tanya Adrian.

"X A 1," jawab Rania.

"Wah, kelas unggulan tuh," ucap Adrian dengan nada kagum. "Tapi kamu pantas sih. Kamu memang dari dulu sudah pintar, gak heran sih."

Rania tersenyum simpul menanggapinya. "Kalau gitu aku duluan ya, Ran. Kapan-kapan kita ketemu lagi," ucap Adrian.

"Iya, aku juga ingin balik," ucap Rania lalu meninggalkan area toilet.

Adrian mengangguk pelan, tatapannya mengikuti langkah Rania hingga gadis itu menghilang di ujung lorong toilet. Setelah sosoknya benar-benar lenyap, sudut bibir Adrian terangkat tipis.

~~

"Ran, kenapa lo lama banget di toilet?" tanya Freya pada Rania yang baru kembali.

"Ada insiden kecil," ucap Rania sambil tersenyum lalu duduk di samping Freya.

Balqis yang melihat perubahan wajah Rania merasa ada yang aneh. "Ran, aman kan?"

Rania mengangguk. "Aman."

"Lo nggak biasa senyum gitu, Ran," ucap Freya. Ia sama seperti Balqis, bingung melihat Rania. Biasanya Rania datar, tapi setelah dari toilet ia malah tersenyum, seperti bukan dirinya.

"Emang salah kalau gue senyum?" tanya Rania balik.

"Gak salah sih, Ran. Tapi aneh aja, lo senyum. Biasanya datar terus," kali ini Bunga yang menimpali.

Rania mendesah pelan. Sahabat-sahabatnya ini memang cukup peka dengan perubahan kecil pada dirinya. "Gue ketemu Adrian," ucap Rania sambil tersenyum.

"Apa!" ucap mereka bertiga dengan nada terkejut, membuat penghuni kantin merasa risih.

"Woi, pelanin suara kalian…"

"Kalian pikir kalian doang yang makan, hah?"

"Maaf, Kak. Maaf," ucap Bunga cepat meminta maaf.

"Sekarang bayar pesanan kalian… dan, Rania, kita harus sidang lo," ucap Freya dengan nada tegas.

Sedangkan Rania hanya menatap Freya dengan ekspresi malas.

~~

Setelah dari kantin, Rania dan sahabat-sahabatnya berada di taman sekolah. Mereka bertiga ingin “mewawancarai” Rania yang baru saja bertemu dengan mantannya, Adrian.

"Jadi mantan lo sekolah di sini, Ran?" tanya Freya.

"Iya," ucap Rania malas.

"Lo masih ada perasaan sama mantan lo yang playing victim itu?" tanya Balqis penuh selidik.

"Adrian gak playing victim, ya." ucap Rania dengan nada tak suka.

"Astaga, Ran… lagi-lagi lo bela mantan lo yang memanfaatkan lo itu," ucap Bunga heran pada sahabatnya. Sudah berapa kali Rania dimanfaatkan oleh mantannya, tapi selalu saja Rania memaafkan Adrian setelah diberi rayuan basi—menurut Bunga. Ia menatap Rania dengan penuh selidik. "Ran, lo sudah move on kan?" tanyanya.

"Hmm…"

Jawaban singkat Rania membuat sahabat-sahabatnya menghela napas berat. Sepertinya Rania memang belum bisa melupakannya.

"Rania Aluna Kim Valkon! Dengar baik-baik apa yang gue ucapkan. Jika mantan lo ngajak balikan, lo jangan terima. Paham," ucap Freya dengan nada penuh tekanan.

Rania menatap mereka satu per satu. "Entahlah," balasnya sambil mengangkat bahu.

Sahabat-sahabat Rania kembali menghela napas. Lagi-lagi Rania keras kepala, padahal semua itu demi kebaikannya.

"Gue heran deh sama lo, Ran. Lo suka apa sih dari Adrian? Udah gak ganteng, otak pas-pasan, matre lagi. Apa yang lo banggakan dari dia?" ucap Balqis yang tak habis pikir dengan sahabatnya ini.

"Mungkin Rania sudah dijampi-jampi kali," sahut Bunga.

"Gak usah fitnah lo," ucap Rania sambil menatap sinis Bunga.

"Bukan gue fitnah, Ran. Lo itu cantik, Adrian gak cocok sama lo. Apalagi kelakuannya itu loh… gak banget deh," ucap Balqis heran dengan Rania yang selalu membela mantannya, entah apa yang merasukinya.

Kring… kring… kring… waktu istirahat pun telah selesai.

"Gue ke kelas duluan," ucap Rania beranjak dari duduknya, meninggalkan sahabat-sahabatnya. Hal itu membuat mereka hanya bisa menghela napas kasar menghadapi sifat Rania yang keras kepala.

"Kalau sampai si buaya itu ngajak balikan Rania lagi, gue tonjok tuh muka tidak seberapa itu," ucap Freya sambil menatap Rania yang sudah berjalan jauh dari mereka.

"Semoga Rania gak kemakan rayuan Adrian lagi," sahut Bunga.

~~

Pelajaran hari pertama sebagai murid baru telah selesai. Saat ini Rania sedang menunggu taksi. Ia sengaja tidak ikut pulang bersama sahabat-sahabatnya, mengingat perdebatan mereka tadi.

"Coba kalau gue bawa motor, gue udah di rumah gue rebahan," gumam Rania malas. Ia duduk di halte sambil memainkan ponselnya.

Brum!

Rania menoleh ketika suara motor berhenti tepat di depannya. Adrian menghentikan motornya di hadapan Rania.

"Rania."

Rania bangkit dari duduknya. "Hai, Kak."

"Gak usah embel-embel kakak, Ran. Panggil nama saja," ucap Adrian.

"Kak Adrian kan seniorku sekarang," jawab Rania.

"Gimana ya, kurang enak didengarnya, Ran," jawab Adrian. "Bagaimana kalau saat kita berdua kamu panggil nama saja, kalau ada senior baru panggil kak… bagaimana?"

Rania mengangguk. "Baiklah."

"Kamu nunggu taksi, Ran?" tanya Adrian.

"Iya, Kak," jawab Rania.

"Aku anterin saja," ucap Adrian menawarkan diri.

Rania berpikir sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu.

"Ngerepotin gak?"

Adrian menggeleng. "Gak dong."

"Ya udah deh, tapi gak usah sampai depan rumah, ya," ucap Rania.

"Iya," ucap Adrian. Ia sudah paham dengan hal itu. Sejak dulu, saat ia dekat dengan Rania, ia tak pernah mengantar Rania sampai depan rumahnya.

Adrian langsung memasangkan helm pada kepala Rania, lalu Rania naik ke motor Adrian.

Siang itu terasa terik. Angin menerpa wajahnya saat motor melaju pelan. Ia duduk di belakangnya—orang yang dulu pernah begitu dekat dengannya.

"Ran, kamu belum dibolehkan pacaran?" tanya Adrian memulai obrolan.

"Belum," jawab Rania.

"Padahal kamu sudah SMA loh, Ran."

"Mau bagaimana lagi," ucap Rania dengan napas berat. Kedua orang tuanya belum memberi lampu hijau, jadi dulu saat ia dekat dengan Adrian pun semuanya harus diam-diam.

Tak lama kemudian, jarak rumah Rania sudah dekat. Rania buru-buru berkata, "Berhenti di depan, aku turun di situ saja."

Adrian yang sudah paham langsung menghentikan motornya.

Rania turun dari motor. "Makasih ya," ucapnya, tak lupa mengembalikan helm Adrian.

"Iya, sama-sama… boleh minta nomor kamu gak?" tanya Adrian.

"Boleh," ucap Rania, membuat Adrian tersenyum. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Rania. Rania segera mengetik nomornya sendiri.

"Oke, sudah," ucap Rania lalu mengembalikan ponsel Adrian.

"Kalau gitu aku duluan ya," pamit Adrian.

"Iya, hati-hati," ucap Rania sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.

~~

"Gue kira kalian udah pulang dari tadi," ucap Bunga pada Balqis dan Freya.

"Gue dengerin ceramah dulu baru pulang. Bosan banget," ucap Freya kesal.

"Gue juga tahu, kesel banget," sambung Balqis. "Kalau lo kenapa baru keluar? Denger ceramah juga?" tanyanya pada Bunga.

Bunga menggeleng lalu menjawab, "Gak. Gurunya telat datang."

"Rania udah pulang gak ya?" ucap Freya sambil mencari sosok Rania, menatap sekeliling halaman sekolah yang mulai tampak sepi.

"Sepertinya sudah. Gue tadi lewat kelasnya, sudah tutup," ucap Bunga, mengingat kelasnya memang dekat dengan kelas Rania.

"Ya udah, kita balik. Gue udah pengen rebahan nih," ucap Freya.

"Tunggu," ucap seseorang dari belakang mereka bertiga, membuat langkah mereka tertahan lalu membalikkan badan.

"Lo manggil kami?" tanya Freya.

"Iya," jawabnya.

"Ada apa?" tanya Bunga.

"Kalian temannya Rania kan?"

"Iya. Lo siapa?" tanya Bunga.

"Kenalin, gue Lara, satu kelasnya Rania. Tadi gue lupa ambil buku gue di kelas. Saat gue kembali, gue gak sengaja lihat buku di meja Rania, mungkin dia lupa," jelas Lara lalu memberikan buku Rania pada Bunga.

"Iya, ini bukunya Rania," ucap Bunga sambil melihat halaman buku tersebut.

"Gue sempat panggil Rania tadi, tapi keburu naik motor," ucap Lara.

"Hah? Rania naik motor?" ucap Freya sedikit terkejut, pasalnya hari ini Rania tidak membawa motor.

"Iya, gue lihat dia dibonceng. Kalau gak salah senior kita deh," ucap Lara.

"Senior?" ucap kompak sahabat-sahabat Rania bingung, lalu mereka saling pandang.

Lara membalas dengan anggukan.

"Lo kenal gak sama senior itu?" tanya Balqis, ingin memastikan sesuatu.

"Kalau gak salah Kak Adrian deh," jawab Lara.

"APA?!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!