Lyra Aldebaran hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan pertunangannya. Namun satu malam di klub hotel mewah mempertemukannya dengan pria yang tidak seharusnya ia kenal.
Darius Baskara, Pria dingin dan berbahaya yang menguasai dunia gelap kota. Sebuah kejadian membuat mereka terjebak bersama sepanjang malam. Lyra mengira semuanya akan berakhir saat pagi datang. Ia salah,Karena bagi seorang mafia seperti Darius Baskara, sekali ia menginginkan sesuatu, ia tidak akan pernah melepaskannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Andreina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu
Suara langkah kaki berat menggema di foyer mansion.l, Lyra berdiri di ambang pintu kamar, sementara Darius sudah berjalan lebih dulu menuju tangga, Langkahnya tenang, Terlalu tenang. Namun Lyra tahu pria itu sedang marah, Sangat marah.
"Darius..."
Lyra mencoba memanggilnya, Tapi Darius hanya berkata tanpa menoleh,"Tetap di sini."
Nada itu bukan permintaan, Itu perintah. Namun tentu saja Lyra tidak mendengarkannya, Ia tetap mengikuti, Begitu mereka sampai di tangga, pemandangan di bawah langsung terlihat jelas.
Seorang pria berdiri di tengah foyer. Rambutnya sedikit berantakan, napasnya masih berat seperti baru saja bertengkar dengan penjaga gerbang.
Rendra.
Begitu melihat Lyra di tangga, matanya langsung berubah "Lyra!" Ia melangkah maju. Namun dua penjaga langsung menahannya, Darius berhenti di anak tangga terakhir, Tatapannya dingin. "Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku?"
Nada suaranya rendah, Namun cukup untuk membuat ruangan terasa lebih dingin.nRendra menatapnya tajam, "Jadi ini dia."
Matanya menyapu mansion itu dengan sinis.
"Orang yang menyembunyikan Lyra di rumahnya."
Darius tidak bergerak sedikit pun.
"Perkataanmu salah."
Rendra mengangkat alis"Benarkah?"
Darius melangkah satu langkah mendekat.
"Aku tidak menyembunyikan siapa pun."
Tatapannya berubah sedikit ke arah Lyra yang berdiri di tangga, "Dia tinggal di sini karena dia memilihnya."
Rendra langsung menoleh ke Lyra."Memilih?"
Suaranya terdengar pahit."Lyra, kau serius?"
Lyra tidak langsung menjawab, Jantungnya berdetak cepat. Situasi ini jauh lebih buruk dari yang dia bayangkan. "Aku datang untuk membawamu pulang," kata Rendra.
Nada suaranya lebih lembut sekarang, Namun justru itu membuat suasana semakin tegang, Darius menyilangkan tangannya.
"Pulang?"
Rendra menatapnya tanpa rasa takut."Ya."
"Dia bukan milikmu."
Darius sedikit tersenyum, Namun senyum itu dingin.
"Kau juga bukan." Beberapa detik ruangan itu sunyi.
Lalu Rendra berkata pelan "Kau tidak tahu siapa dia sebenarnya." Kalimat itu membuat Darius sedikit mengangkat alis."Oh?"
Rendra menatapnya tajam"Jika kau tahu masa lalunya…"nNamun sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya Lyra tiba-tiba turun beberapa langkah tangga."Rendra."
Suaranya tegas, Pria itu langsung diam.
"Jangan."Hanya satu kata.
Namun cukup untuk membuat Rendra mengepalkan tangannya. Darius memperhatikan semuanya dengan tenang, Tapi di sisi lain ruangan Ara berdiri bersandar di dinding, Matanya berkilat pelan, Ini lebih menarik dari yang dia kira. Rendra menatap Lyra dengan emosi yang jelas. "Aku hanya mencoba melindungimu."
Lyra menutup matanya sebentar"Sudah terlambat."
Kalimat itu seperti pukulan, Rendra menatapnya tidak percaya "Lyra…" Namun Darius tiba-tiba melangkah maju.
Cukup dekat untuk berdiri tepat di depan Rendra.
Tatapannya tajam. "Jika kau sudah selesai membuat keributan…"Ia memberi isyarat kecil pada penjaga.
"...kau bisa pergi."
Rendra tidak bergerak, Matanya justru kembali ke Lyra. "Lihat aku dan katakan itu." Lyra terdiam.
Seluruh ruangan menunggu jawabannya, Bahkan Darius, Bahkan Ara. Akhirnya Lyra berkata pelan,
"Aku tidak akan pergi denganmu."
Rendra tertawa pendek, Namun tawa itu tidak bahagia."Baik." Ia menatap Darius sekali lagi.
Tatapan penuh peringatan "Kau pikir kau menang?"
Lalu ia berkata pelan, "Kau bahkan belum tahu permainan apa yang sedang kau masuki."Darius tidak terpengaruh sedikit pun."Keluar."
Penjaga akhirnya menarik Rendra menuju pintu.
Namun sebelum benar-benar keluar, Rendra berkata kerasn"Lyra!" Ia menoleh sekali lagi. "Kalau dia tahu siapa yang benar-benar kau khianati…"
Tatapannya tajam. "...dia tidak akan menatapmu seperti itu lagi."
Pintu mansion akhirnya tertutup keras, Suasana langsung berubah sunyi, Namun ketegangan belum selesai. Karena sekarang tatapan Darius perlahan kembali ke Lyra, Lebih tajam dari sebelumnya.
"Ada sesuatu yang ingin kau jelaskan?"
Di sudut ruangan, Ara tersenyum kecil lagi, Rahasia.
Itulah yang paling cepat menghancurkan hubungan.
*****
Pagi di mansion terasa lebih sunyi dari biasanya. Lyra berdiri di depan jendela kamar, memandang taman yang dipenuhi bunga mawar putih. Namun pikirannya masih dipenuhi kejadian semalam, Kata-kata Rendra.
Tatapan Darius setelah itu. Dan keheningan yang terjadi di antara mereka, Lyra menghela napas pelan.
"Aku butuh udara."
Beberapa menit kemudian, ia sudah berjalan keluar dari mansion dengan mantel tipis, Ia mengatakan pada pelayan bahwa ia hanya ingin membeli bunga di toko kecil beberapa blok dari sana, Tempat yang pernah ia lewati beberapa hari lalu, Udara pagi terasa dingin di kulitnya, Namun setidaknya pikirannya sedikit lebih ringan. Di toko bunga kecil itu, aroma segar langsung menyambutnya. Seorang wanita tua tersenyum ramah.
"Mencari bunga apa, Nona?"
Lyra berjalan perlahan di antara rak, Matanya berhenti pada seikat bunga lily putih.
"Yang ini."
Wanita itu membungkusnya dengan rapi. Beberapa menit kemudian Lyra keluar dari toko dengan bunga di tangannya, Jalanan terlihat tenang, Terlalu tenang.
Lyra baru berjalan beberapa langkah ketika sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari trotoar.
Pintunya terbuka, Seorang pria turun, Topi hitam menutupi sebagian wajahnya, Lyra tidak terlalu memperhatikan. Sampai pria itu mengangkat sesuatu di tangannya, Sebuah pistol. Semuanya terjadi terlalu cepat.
DOR!
Suara tembakan memecah udara. Lyra bahkan tidak sempat memahami apa yang terjadi. Sebuah rasa panas menyambar tubuhnya, Bunga lily putih terlepas dari tangannya dan jatuh ke trotoar. Beberapa kelopaknya langsung ternoda merah, Lyra terhuyung mundur, Napasnya tercekat. Tangannya refleks menekan sisi tubuhnya. Darah mengalir di sela jarinya, Matanya melebar, Kakinya kehilangan kekuatan. Tubuhnya jatuh ke jalan, Orang-orang mulai berteriak panik di sekitar. Mobil hitam itu langsung melaju pergi.
Di mansion sebuah mobil berhenti mendadak di gerbang. Seorang penjaga berlari masuk dengan wajah pucat.
"Tuan!"
Darius yang sedang berbicara dengan asistennya langsung menoleh.
"Ada apa?"
Penjaga itu hampir kehabisan napas.
"Nona Lyra.."Kalimatnya terputus"Dia ditembak."
Ruangan itu langsung terasa membeku. Untuk pertama kalinya sejak lama wajah Darius benar-benar berubah.
"DIMANA?"
Beberapa menit kemudian, mobil hitam milik Darius melaju seperti badai di jalanan, Saat ia tiba kerumunan orang sudah memenuhi trotoar. Dan di tengah kerumunan itu Lyra terbaring di tanah.
Mantelnya berlumuran darah. Bunga lily putih berserakan di sampingnya, Mata Lyra masih terbuka sedikit, Namun napasnya lemah, Ketika Darius melihatnya sesuatu di dalam dirinya seperti hancur.
Ia berlutut di sampingnya tanpa peduli siapa pun di sekitar.
"Lyra."
Suaranya rendah.
Hampir tidak terdengar, Lyra mencoba fokus pada wajah di atasnya.
"Darius…"
Darah masih mengalir dari tubuhnya, Darius menekan luka itu dengan tangannya."Tetap sadar."
Namun Lyra hanya tersenyum sangat kecil.
" bunga…" Tangannya bergerak lemah, menunjuk ke bunga yang jatuh di jalan. Darius menggenggam tangannya, Matanya sekarang gelap, Lebih gelap dari sebelumnya."Aku akan menemukan siapa yang melakukan ini."Nada suaranya sangat dingin, Sangat berbahaya.
Karena pria yang menembak Lyra, bukan hanya menyerangnya. Dia baru saja memulai perang dengan Darius, Dan di kejauhan sebuah mobil hitam berhenti di sudut jalan. Seorang pria melihat semuanya dari dalam mobil, Dia menghela napas kesal.
"Seharusnya yang mati itu Darius, bodoh, kenapa Lyra yang dia tembak"