NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 6

"Siska," Andi memanggil pelan, suaranya memecah keheningan malam yang tenang di taman belakang. Arlan sudah terlelap di kamarnya, dan kini hanya ada mereka berdua, duduk di bangku kayu yang menghadap ke kolam ikan. "Ingat tidak, waktu kita pertama kali bicara soal masa depan di pinggir sungai di Kalimantan? Waktu itu aku bilang, aku cuma ingin membangun jembatan yang kuat."

Siska menoleh, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Aku ingat. Kamu terlihat sangat ambisius tapi juga sangat lelah saat itu. Debu konstruksi ada di mana-mana."

"Yah, ternyata jembatan yang paling sulit dibangun bukan yang melintasi sungai," Andi terkekeh, jemarinya mempermainkan cincin pernikahannya. "Tapi jembatan yang menghubungkan ekspektasi ayahmu dengan idealisme kita. Aku sempat takut jembatan itu akan runtuh sebelum kita sempat menyeberang."

Siska menyandarkan kepalanya ke bahu Andi, menghirup aroma kopi yang masih tersisa dari cangkir di tangan suaminya. "Tapi kita tidak cuma membangun jembatan, Ndi. Kita membangun fondasi baru. Perusahaan sekarang bukan lagi soal siapa yang paling berkuasa, tapi soal bagaimana kita bisa tetap menjadi manusia di tengah angka-angka itu."

Ia terdiam sejenak, menatap bayangan bulan yang bergoyang di permukaan air kolam. "Tadi siang, aku melihat daftar pelamar untuk program beasiswa keberlanjutan kita. Ada banyak anak dari daerah terpencil, persis seperti tempat kita bekerja dulu. Aku merasa... untuk pertama kalinya, warisan ini benar-benar memiliki nyawa."

Andi merangkul bahu Siska lebih erat, menariknya masuk ke dalam kehangatan jaketnya. "Itu karena kamu yang memberinya nyawa, Sis. Kamu tidak membiarkan dirimu jadi boneka. Kamu memilih jadi penggerak."

"Kita penggeraknya," koreksi Siska tegas. Ia mendongak, menatap mata Andi yang selalu menjadi kompasnya saat ia merasa kehilangan arah di belantara korporat. "Kalau suatu saat nanti Arlan bertanya kenapa kita bekerja begitu keras, apa yang akan kamu katakan padanya?"

Andi terdiam cukup lama, memikirkan jawaban yang paling jujur. "Aku akan bilang padanya bahwa bekerja keras itu perlu, tapi bekerja dengan hati itu wajib. Aku ingin dia tahu bahwa keberhasilan bukan diukur dari seberapa tinggi gedung yang dia bangun atau seberapa besar perusahaan yang dia pimpin, tapi dari seberapa banyak orang yang merasa aman saat berteduh di bawah keputusannya."

Siska memejamkan mata, meresapi kata-kata itu. Di kejauhan, suara bising kota Jakarta masih terdengar seperti dengungan lebah yang tak pernah berhenti, namun di sini, di sudut kecil dunia yang mereka bangun dengan air mata dan keberanian, semuanya terasa begitu sinkron.

"Besok pagi rapat jam delapan, kan?" tanya Andi, merusak suasana puitis itu dengan sedikit nada jahil.

Siska mendesah pelan, meski ia tertawa. "Jangan ingatkan aku. Mahesa bilang dia ingin presentasi kolaborasi startup-nya dengan divisi teknologi kita. Sepertinya dia benar-benar ingin membuktikan diri."

"Baguslah. Berikan dia waktu sepuluh menit. Kalau dia tidak bisa meyakinkanmu dalam sepuluh menit, berarti dia memang harus belajar lebih banyak lagi," Andi bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Siska. "Ayo masuk. Udara mulai dingin, dan sang CEO butuh istirahat supaya besok bisa tetap terlihat galak di depan direksi."

Siska menyambut tangan itu, membiarkan Andi menariknya berdiri. "Aku tidak galak, Ndi. Aku hanya... tegas."

"Tentu, Sayang. Tegas dengan sedikit sentuhan intimidasi yang menawan," goda Andi sambil berjalan beriringan masuk ke dalam rumah, meninggalkan taman yang kini hanya menyisakan jejak langkah mereka di atas rumput yang basah oleh embun.

Siska tertawa kecil, mencubit lengan Andi pelan saat mereka melangkah melewati pintu kaca menuju ruang tengah yang hangat. "Intimidasi yang menawan? Itu deskripsi pekerjaan yang tidak ada di kontrak mana pun."

Andi menutup pintu, menguncinya dengan klik yang mantap. "Tapi itu yang membuat dewan direksi tidak berani macam-macam saat kamu mulai mengetuk pulpen di atas meja. Aku bahkan terkadang harus menahan senyum melihat wajah mereka yang mendadak tegang."

Siska melepaskan syal sutranya, menggantungnya di kursi ruang makan. Tatapannya tertuju pada sebuah foto kecil di atas bufet—foto mereka berdua saat di Kalimantan, dengan latar belakang jembatan kayu yang setengah jadi dan wajah yang penuh lumpur.

"Tadi kamu tanya soal Arlan," Siska berkata, suaranya melunak kembali. "Aku ingin dia tahu bahwa keberanian itu bukan berarti tidak punya rasa takut. Tapi tentang tetap berjalan meskipun lututmu gemetar. Persis seperti kita saat menghadapi Ayah di meja makan setahun lalu."

Andi berdiri di belakangnya, meletakkan tangan di bahu Siska, ikut menatap foto tua itu. "Dan aku ingin dia tahu bahwa dia tidak harus menanggung semuanya sendiri. Dunia ini terlalu besar untuk dihadapi sendirian, Sis."

"Termasuk menghadapi Mahesa besok?" goda Siska, mencoba mengalihkan suasana agar tidak terlalu melankolis.

"Oh, kalau soal Mahesa, biarkan dia yang gemetar menghadapimu," Andi nyengir. "Tapi aku akan ada di sana, duduk di sebelahmu sebagai penasihat teknis yang paling setia—atau mungkin hanya sebagai orang yang akan memesankan kopi paling enak kalau rapatnya mulai membosankan."

Siska berbalik, melingkarkan lengannya di leher Andi. "Terima kasih, Ndi. Untuk tetap menjadi sahabatku di tengah semua gelar CEO dan arsitek ini."

"Selalu," bisik Andi sebelum mengecup kening Siska.

Lampu ruang tengah meredup saat mereka berjalan menuju lantai atas. Di luar, kota Jakarta terus berdenyut dengan segala intrik dan ambisinya, namun di dalam rumah itu, hanya ada ketenangan yang tulus. Mereka tahu esok akan membawa tantangan baru—mungkin sebuah negosiasi yang alot, masalah teknis di lapangan, atau dinamika keluarga yang tak terduga—namun bagi mereka, badai bukan lagi ancaman. Badai hanyalah cara semesta mengingatkan mereka betapa kuatnya akar yang telah mereka tanam bersama.

Malam pun larut, menyisakan keheningan yang nyaman, sebuah jeda sebelum babak baru dalam hidup mereka dimulai kembali saat matahari terbit nanti.

Pagi menyapa dengan rutinitas yang jauh lebih teratur. Di meja makan, Siska sudah rapi dengan blazer berwarna biru dongker yang memberikan kesan otoritas tanpa menghilangkan keanggunannya. Andi, di sisi lain, masih sibuk membujuk Arlan untuk menghabiskan sereal sambil sesekali melirik jam tangan.

"Sepuluh menit lagi, Ndi. Mobil sudah siap," ujar Siska sambil menyesap kopi hitamnya.

"Si jagoan ini sedang ingin berdiskusi soal aerodinamika pesawat kayunya," jawab Andi santai, lalu memberikan satu suapan terakhir pada Arlan sebelum menyerahkannya pada pengasuh. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut di bagian bahu akibat ulah putranya tadi. "Siap menghadapi 'reuni' kecil dengan Mahesa?"

Siska berdiri, mengambil tas kerjanya. "Aku lebih tertarik melihat apa yang dia pelajari selama setahun ini daripada mendengar permintaan maafnya. Di dunia kita, hasil kerja adalah permintaan maaf yang paling tulus."

Sesampainya di gedung pusat Gunawan Group, atmosfer mendadak berubah. Para karyawan menunduk hormat saat pasangan itu berjalan melintasi lobi. Di ruang rapat utama, Mahesa sudah duduk di sana. Ia tampak lebih kurus, pakaiannya tidak seluxury dulu, namun ada binar di matanya yang tidak pernah Siska lihat sebelumnya—binar orang yang akhirnya tahu apa artinya membangun sesuatu dari nol.

Rapat dimulai tepat waktu. Mahesa berdiri di depan layar besar, mempresentasikan platform logistik berbasis AI untuk daerah terpencil.

"Saya tidak datang ke sini membawa nama keluarga saya," buka Mahesa dengan suara yang lebih rendah namun stabil. "Saya datang membawa solusi untuk efisiensi rantai pasok yang selama ini menjadi kebocoran terbesar di divisi konstruksi Anda, Pak Andi."

Andi menyilangkan tangan di dada, menyimak dengan tajam setiap grafik yang ditampilkan. Sementara Siska, ia hanya duduk tenang, sesekali mencatat sesuatu di tabletnya. Sepuluh menit berlalu seperti kilat.

"Cukup," potong Siska pelan. Mahesa menghentikan presentasinya, tampak sedikit tegang namun tetap berdiri tegak.

Siska menatap Andi, memberi isyarat dengan matanya. Andi mengangguk tipis, mengerti arah pikiran istrinya.

"Model bisnismu menarik, Mahesa," ujar Andi akhirnya. "Tapi integrasi teknisnya di lapangan akan sangat berat. Kamu butuh data dari proyek-proyek riil."

Siska menyambung, "Aku akan memberikanmu kesempatan untuk melakukan pilot project di lokasi kami yang paling menantang. Di Kalimantan. Jika dalam tiga bulan sistemmu bisa memotong biaya logistik sebesar sepuluh persen, kita bicara soal kontrak jangka panjang."

Mahesa tampak menghela napas lega, sebuah senyum tipis yang tulus muncul di wajahnya. "Terima kasih, Siska. Andi. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."

Setelah Mahesa meninggalkan ruangan, Andi bersandar di kursinya, menatap Siska dengan bangga. "Kamu memberinya tantangan paling sulit yang kita punya. Kalimantan bukan tempat untuk main-main."

Siska menutup tabletnya dan berdiri, berjalan menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan lanskap Jakarta yang padat. "Dia bilang dia ingin melawan arus, kan? Mari kita lihat apakah dia bisa berenang di arus yang sesungguhnya, atau hanya sekadar bicara."

Andi berjalan mendekat, berdiri di sampingnya. "Setidaknya sekarang dia punya kesempatan yang adil. Sesuatu yang dulu harus kita perjuangkan dengan darah dan air mata."

"Itulah indahnya menjadi pemegang kendali, Ndi," Siska menoleh pada suaminya, menyentuh lengan Andi dengan lembut. "Kita bisa membuka pintu bagi orang-orang yang mau berusaha, tanpa peduli siapa nama belakang mereka."

Matahari siang menyinari ruangan itu, memantul di atas meja rapat yang bersih. Di luar sana, dunia terus bergerak, namun di dalam ruangan itu, mereka tahu bahwa mereka telah melampaui sekadar bertahan hidup; mereka kini sedang membentuk masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!