NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Setelah sekian lama Novita bekerja dengan tenang, akhirnya hari yang ia khawatirkan datang juga.

Beberapa minggu terakhir sebenarnya terasa jauh lebih damai. Andra, direktur administrasi yang terkenal dingin dan sulit ditebak itu, hampir tidak pernah lagi memanggilnya untuk urusan yang tidak masuk akal. Tidak ada lagi perintah membawakan barang-barangnya ke mobil. Tidak ada lagi tugas mengambil makan siang di tempat yang jauh hingga membuat Novita sendiri tidak sempat makan. Bahkan beberapa pekerjaan yang dulu sering dipermasalahkan pun kini tidak lagi disentuh oleh Andra.

Awalnya Novita mengira semuanya sudah selesai.

Ia pikir atasannya itu akhirnya berhenti memperlakukannya dengan buruk.

Namun ternyata ia salah.

Sore itu seorang sekretaris datang menghampirinya dan mengatakan bahwa Andra ingin menemuinya di kantor direktur administrasi.

Tanpa banyak berpikir, Novita berdiri dari kursinya. Ia merapikan beberapa berkas di meja, memastikan semuanya tersusun rapi sebelum akhirnya berjalan menuju lorong panjang yang mengarah ke ruangan pimpinan.

Langkahnya semakin pelan ketika sampai di ujung lorong.

Di depannya berdiri pintu kayu besar dengan kaca buram di bagian tengah.

Novita menarik napas pelan.

Tok. Tok.

"Masuk."

Suara Andra terdengar datar dari dalam.

Novita membuka pintu perlahan lalu melangkah masuk.

Ruangan itu luas dan rapi seperti biasa. Dinding kaca besar memperlihatkan pemandangan kota di luar gedung, sementara meja kerja besar berdiri kokoh di tengah ruangan dengan berbagai dokumen tersusun rapi.

Andra duduk bersandar di kursinya.

Kedua tangannya bertumpu santai pada sandaran kursi, seolah ia memang sudah menunggu kedatangan Novita sejak tadi.

Tatapan pria itu langsung tertuju padanya.

Novita menutup pintu di belakangnya lalu berdiri dengan sikap sopan.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya tenang.

Beberapa detik Andra hanya menatapnya tanpa bicara.

Tatapan itu tajam.

Seolah sedang menilai sesuatu yang tidak terlihat.

Kemudian perlahan ia membuka laci mejanya.

Dari dalam laci itu ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal.

Dengan gerakan santai ia meletakkan amplop itu di atas meja lalu mendorongnya ke arah Novita.

"Ambil," katanya singkat.

Novita sedikit mengernyit.

Ia melangkah mendekat lalu mengambil amplop itu dengan ragu.

"Ini apa, Pak?" tanyanya.

Andra menyilangkan kaki dengan santai. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, tetapi senyum itu sama sekali tidak hangat.

"Hitung saja dulu," jawabnya.

Novita membuka amplop itu.

Begitu melihat isinya, matanya sedikit membesar.

Di dalamnya terdapat tumpukan uang dalam jumlah besar.

Ia menghitungnya cepat.

Sekitar dua puluh juta rupiah.

Novita mengangkat kepalanya menatap Andra dengan bingung.

"Untuk apa ini, Pak?" tanyanya jujur. "Saya tidak menjual apa pun."

Andra tertawa kecil.

Tawa yang terdengar lebih seperti ejekan.

"Kamu masih mau pura‑pura?" katanya santai.

Novita tidak mengerti maksudnya.

Andra mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatapnya dengan tatapan dingin.

"Aku benar‑benar tidak suka perempuan yang berpura‑pura polos," ucapnya pelan.

Novita semakin bingung.

Andra melanjutkan dengan nada penuh sinis.

"Setiap pulang kerja kamu bertemu Pak Danu, bukan?"

Nama itu membuat Novita sedikit terkejut.

Pak Danu adalah manajer bagian delivery dan juga tetangganya sejak dulu ketika ia masih tinggal bersama almarhum neneknya. Pria itu sudah seperti keluarga sendiri. Ia sering memberinya uang saku sejak Novita masih kuliah dan bekerja serabutan.

Namun jelas sekali Andra menafsirkan semuanya dengan cara yang sangat berbeda.

"Anda salah paham, Pak," kata Novita tegas.

Namun Andra mengabaikannya.

"Aku sudah melihatnya sendiri," lanjutnya. "Kamu menerima uang darinya."

Novita menggenggam amplop itu semakin erat.

"Itu hanya uang saku yang biasanya—"

"Tidak perlu menjelaskan," potong Andra.

Senyumnya kini berubah menjadi dingin dan merendahkan.

"Kalau dia saja bisa, kenapa aku tidak?"

Beberapa detik Novita hanya diam menatapnya.

Andra bersandar kembali di kursinya.

"Anggap saja itu bayaran yang lebih pantas," katanya santai. "Dua puluh juta. Jauh lebih besar dari yang biasanya kamu dapat."

Dada Novita terasa panas.

Namun Andra belum selesai.

"Sekarang," lanjutnya pelan, "layani aku seperti kamu melayani Pak Danu."

Ruangan itu tiba‑tiba terasa sangat sunyi.

Novita menatapnya tidak percaya.

Andra mengangkat bahu ringan.

"Oh ya," katanya seolah baru teringat sesuatu. "Aku sudah menyuruh sekretarisku untuk tidak mengizinkan siapa pun masuk selama dua jam."

Ucapan itu seperti tamparan keras.

Novita menunduk sebentar.

Tangannya mencengkeram amplop itu begitu kuat hingga kertasnya sedikit terlipat.

Dalam kepalanya, satu dorongan kuat muncul.

Ia benar‑benar ingin melempar amplop itu langsung ke wajah pria di depannya.

Ingin menamparnya.

Ingin berteriak.

Namun Novita menahan semuanya.

Dengan napas yang tertahan ia melangkah maju lalu meletakkan kembali amplop itu di atas meja Andra.

"Maaf, Pak," katanya pelan namun tegas. "Saya tidak membutuhkan uang itu."

Ia membalikkan tubuhnya.

"Saya permisi kembali bekerja."

Namun sebelum ia sempat melangkah pergi, suara kursi bergerak terdengar.

Andra berdiri.

"Berhenti."

Langkah Novita terhenti.

Andra berjalan mendekatinya dengan langkah pelan.

"Sudah cukup sandiwaramu," katanya dingin. "Lepaskan saja topeng sok suci itu."

Novita perlahan menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

"Segera lakukan apa yang aku perintahkan," lanjut Andra. "Kamu sudah dibayar."

Beberapa detik Novita hanya diam.

Tidak ada rasa takut di wajahnya sekarang.

Hanya kemarahan yang tertahan.

Ia menatap Andra lurus di mata.

"Pak Andra," katanya pelan.

Andra menunggu jawabannya.

Namun kata‑kata yang keluar dari mulut Novita membuat ekspresi pria itu langsung berubah.

"Direktur administrasi perusahaan ini mungkin terkenal kejam," ucap Novita tenang.

Ia berhenti sejenak.

"Namun saya tidak menyangka ternyata Anda juga manusia yang sangat menjijikkan."

Ruangan itu kembali sunyi.

Udara terasa berat.

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, senyum di wajah Andra benar‑benar menghilang.

Rahangnya mengeras.

Matanya dipenuhi kemarahan.

"Berani sekali kamu," gumamnya.

Dalam satu gerakan cepat ia menarik pergelangan tangan Novita dan menariknya mendekat.

Novita terkejut.

Belum sempat bereaksi, tangan Andra sudah mencengkeram pipinya dengan kasar.

"Berhenti berpura‑pura!" desisnya tajam. "Aku sudah tahu semuanya sejak dulu."

Cengkeramannya membuat wajah Novita sedikit terangkat.

Namun kali ini ia tidak melawan.

Tidak juga berbicara.

Matanya hanya menatap Andra.

Dan entah mengapa, dalam wajah pria itu ia melihat sesuatu yang sangat familiar.

Sesuatu dari masa lalu.

Bayangan seseorang yang pernah ia kenal.

Arya.

Nama itu tiba‑tiba muncul dalam ingatannya.

Wajah, tatapan, bahkan cara pria itu berbicara… semuanya terasa begitu mirip.

Hati Novita bergetar.

Air mata yang selama ini selalu ia tahan akhirnya jatuh juga.

Satu tetes.

Lalu satu lagi.

Ia tidak pernah menangis di depan siapa pun.

Tidak ketika hidupnya sulit.

Tidak ketika neneknya meninggal.

Namun sekarang, di depan pria yang begitu membencinya ini, air matanya justru jatuh tanpa bisa ia tahan.

Andra yang melihat itu sempat terdiam.

Tangannya masih mencengkeram pipi Novita.

Namun untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresi wajahnya berubah.

Bukan marah.

Bukan sinis.

Melainkan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Karena tatapan mata Novita yang dipenuhi air mata itu… terasa sangat berbeda dari wanita yang ia kira selama ini.

1
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!