Crystal Kusuma sih bungsu dari keluarga Kusuma yang terobsesi pada sang daddy sejak bayi.
Sedari dalam kandungan bayi mungil berusia dua tahun tersebut selalu ingin berada dekat dengan Jimmy Kusuma sang daddy.
Mereka pikir itu hanya ketertarikan biasa putri kecil pada daddynya. Siapa sangka obsesi tersebut malah berubah menjadi dosa terlarang selama belasan tahun?
Dosa terlarang dimana sang daddy Jimmy Kusuma pun tidak menyadarinya.
Selama ini kematian-kematian pegawai di kantor hukumnya, jimmy kira semata hanya kecelakaan biasa.
Tapi mereka salah, semua itu adalah dosa yang dilakukan Crystal kecil.....
Lalu dosa apa itu? Apa yang bisa dilakukan oleh bayi berusia dua tahun?
Saksikan eklusif disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21 : Mommy
Hari Rabu di Menara Kusuma bukanlah waktu bagi mereka yang berhati lemah. Sebagai pusat saraf dari imperium bisnis Kusuma Family, gedung ini berdenyut dengan kecepatan yang mematikan.
Meskipun secara legal setiap anak perusahaan Kusuma mulai dari firma hukum hingga logistik berdiri secara terpisah, secara praktik mereka tunduk pada satu matahari yang sama Jimmy Kusuma.
Namun, siang ini ketegangan di lantai eksekutif mencapai puncaknya. Logan Ritchie pria yang dikenal sebagai pemangsa paling berbahaya dari daratan Eropa, telah mendarat di bandara Internasional Halim.
Logan bukan tipe rekan bisnis yang bisa diajak bercanda. Jimmy masih ingat betul laporan intelijen tentang bagaimana Logan dengan dingin menghabisi seorang bocah perempuan di London, hanya karena bocah itu tak sengaja menabraknya dan menumpahkan smoothie ke jas mahalnya.
Jimmy yang biasanya tak kenal takut mendadak merasa was-was. Ia tahu Crystal memiliki tabiat yang sulit ditebak. Jika "penyakit nakal" putrinya kambuh dan ia tiba-tiba muncul di tengah negosiasi untuk memeluk daddynya, nyawa Crystal bisa berada dalam bahaya nyata.
"Arum, Angel, bawa Crystal ke lantai 80. Sekarang," perintah Jimmy tegas melalui interkom. "Jangan biarkan dia lepas dari pengawasan kalian satu detik pun. Kendalikan dia. Aku tidak mau dia terlihat oleh Logan."
Maka jadilah pantry lantai 80 yang luas itu berubah menjadi benteng pertahanan sementara. Lantai ini memiliki area khusus staf untuk beristirahat dengan layar televisi raksasa dan sofa-sofa empuk.
Arum, Angel, dan beberapa staf lain yang pekerjaannya tidak mendesak, duduk melingkari sofa mengapit Crystal dengan segala bentuk perhatian agar sang ratu kecil tidak bosan.
"Nona Muda, ini udang steam kesukaanmu. Masih hangat," Arum menyodorkan sepiring udang segar yang dibumbui bawang putih dan jahe, aroma yang jauh lebih tenang dibanding gorengan berminyak di lantai 85.
Crystal duduk bersila di tengah sofa besar, matanya terpaku pada layar televisi. Alih-alih menonton kartun, TV itu sedang memutar drama Korea yang sedang hits di kalangan staf. Sebuah kisah tentang istri sah yang memiliki kekuatan luar biasa untuk menghajar para pelakor yang mencoba merongrong hartanya.
Di layar, sang pemeran utama wanita baru saja menjambak rambut seorang wanita licik di sebuah restoran mewah, lalu menyiram wajah wanita itu dengan air es sembari memberikan puisi makan siang.
Pluk.
Crystal memasukkan satu ekor udang steam ke mulutnya, mengunyahnya pelan dengan mata yang tidak berkedip. Ia mengamati setiap gerakan tangan sang "istri sah".
Bagaimana wanita itu mempertahankan posisinya, bagaimana ia mengusir rubah-rubah pengganggu, dan bagaimana ia tetap memegang kendali atas suami kayanya.
Otak kecil Crystal mulai bekerja dengan sinkronisasi yang mengerikan. Ia teringat kejadian malam itu saat Alice menyandarkan kepalanya di bahu Jimmy dan ia menangis histeris. Ia juga teringat paper bag hitam berisi kain sutra tipis yang ia berikan pada Alice.
Mommy... batin Crystal.
Ia menyadari sesuatu yang sangat krusial. Selama ini ia menganggap Alice sebagai saingan utama pengganggu pelukannya.
Namun melihat adegan pelabrakan di televisi, Crystal mendapat pencerahan baru. Di dunia yang penuh dengan "rubah" seperti Stella atau Riana, ia butuh seseorang yang memiliki otoritas sah untuk menjaga harta bendanya. Ia butuh Alice.
Alice adalah senjata terkuatnya. Jika Alice ada di samping Jimmy maka "rubah-rubah" amatir itu tidak akan punya celah untuk masuk.
Crystal sadar bahwa ia mungkin harus berbagi sedikit porsi "dada Daddy" dengan Alice sesekali. Demi memastikan tidak ada wanita asing yang benar-benar mengambil alih posisi itu. Dan itu sebanding dengan benefitnya.
"Wah, serius sekali nontonnya, Nona Kecil?"
Sebuah suara membuyarkan lamunan taktis Crystal. Dani seorang pria muda yang dulu kuliahnya dibiayai penuh oleh beasiswa Kusuma Scholarship.Kini bekerja sebagai asisten di bagian riset, baru saja masuk ke pantry untuk mengambil kopi.
Dani terkekeh melihat wajah Crystal yang begitu intens menatap adegan penjambakan di layar. "Jangan terlalu serius, Crystal. Itu cuma film. Lagipula, kamu kan masih kecil, tidak perlu belajar cara menjambak orang sekarang," canda Dani sambil duduk di ujung sofa.
"Iya nih, dari tadi matanya tidak berkedip. Seperti sedang menghafal jurus saja," timpal seorang staf wanita lainnya sambil tertawa kecil. Ia gemas melihat pipi Crystal yang menggembung berisi udang, lalu tanpa sadar menarik lembut pipi kemerahan itu. "Lucu sekali sih, keponakan kita ini."
Crystal tidak membalas. Ia hanya memberikan tatapan dingin dan datar pada staf yang mencubitnya, membuat wanita itu langsung menarik tangannya kembali karena merasa ada aura yang tidak biasa dari bocah dua tahun itu.
"Dia bukan lucu, dia sedang merencanakan kudeta," gurau Dani lagi, tidak menyadari bahwa candaannya sebenarnya sangat mendekati kebenaran.
Crystal kembali menatap layar televisi. Di sana, sang istri sah berhasil mengusir pelakor itu keluar dari kantor suaminya dengan penuh kemenangan.
Crystal menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan Jimmy saat berhasil menghancurkan rival bisnisnya.
Istri sah... Mommy adalah istri sah, pikir Crystal. Orang-orang harus tahu kalau mommy adalah Ny. Kusuma yang terhormat. Biar rubah-rubah itu tidak berani mendekat.
Para staf di pantry lantai 80 tertawa-tawa, membicarakan alur drama yang semakin seru, sama sekali tidak menyadari bahwa di tengah-tengah mereka, seorang balita sedang menyusun aliansi taktis yang akan mengubah dinamika di Mansion Kusuma.
Crystal telah memutuskan Alice bukan lagi sekadar saingan. Alice adalah bidak catur terpentingnya untuk mempertahankan "harta" paling berharganya, Jimmy Kusuma.
Sementara di lantai atas di dalam ruang rapat yang dingin, Jimmy sedang berhadapan dengan Logan Ritchie yang haus darah. Jimmy tidak tahu bahwa saat ia sedang berjuang menjaga Crystal dari bahaya luar.
Crystal justru sedang belajar cara menjaga Jimmy dari bahaya dalam dengan cara yang jauh lebih licik dari yang bisa dibayangkan pria manapun.
"Bibi Arum," panggil Crystal lembut, suaranya kembali manis seperti malaikat.
"Ya, Nona Muda?" Arum mendekat dengan sigap.
"Nanti kalau sudah selesai, aku mau beli es krim untuk Mommy," ucap Crystal polos.
Arum terenyuh, matanya hampir berkaca-kaca. "Oh, manis sekali... Tentu, Sayang. Mommy pasti senang sekali."
Para staf lain ikut memuji betapa berbakti dan sayangnya Crystal pada ibunya. Mereka semua terjebak dalam fasad manis itu, tidak tahu bahwa di balik niat membeli es krim itu, Crystal sedang memberikan "uang muka" untuk kerja sama mereka dalam menjaga Jimmy dari serbuan para rubah.