Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.
Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.
Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.
Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: SURAT BERACUN DARI BENUA BIRU
Di lorong istana yang berlapis karpet merah tua, udara terasa kaku dan penuh ketegangan. Cahaya lampu minyak menari-nari di dinding yang berlapis kayu jati, menyelimuti seluruh ruangan dengan bayangan yang membingungkan. Melati duduk di kursi kecil, tangan gemetar, matanya menatap kosong ke lantai berlapis mosaik, tak mampu memahami sepatah kata pun dari kertas yang dipegangnya. Di hadapannya, Kenjiro menatap dengan senyum sinis, duduk di kursi besar dari mahoni, tangannya menyilang di dada seolah menikmati pementasan yang sedang berlangsung.
Seorang pelayan berpakaian serba hitam membawa surat yang tampak tebal dan bersegel emas. Ia meletakkannya di hadapan Melati dengan sikap hormat tapi ketat. “Ini… surat dari Ratu Catherine, Yang Mulia,” ucapnya dengan suara yang nyaris bergetar.
Melati menatap surat itu, dan hatinya meloncat cemas. Ia bisa merasakan ketegangan yang menyelimuti setiap kata yang tertulis di dalamnya, meski huruf-huruf itu tak mampu dibacanya sendiri. Tangannya gemetar saat pelayan itu bersiap membaca, dan ia menunduk, mencoba menahan diri agar air matanya tidak jatuh.
“Bacalah, Melati,” desis Kenjiro, suara dinginnya menusuk seperti pisau. “Ratu Catherine, istri Raja Edward, telah mengirimkannya secara pribadi. Katanya, aku harus mendengarmu membaca sendiri, agar setiap hinaan meresap ke dalam sanubarimu.”
Melati menelan ludah, suaranya serak ketika ia mencoba memanggil kata-kata yang belum pernah ia sentuh. “S-seg… sa… surat… ini… dari… Ratu…?”
Kenjiro menahan tawa yang hampir pecah. Ia bersandar di kursinya, matanya menyipit, menatap setiap gerakan Melati dengan kesenangan yang dingin. “Ya, dari Ratu Catherine sendiri. Mereka ingin ‘menghapus aib’ suamiku—katamu, kau akan dijadikan… pelayan Inggris.” Ia menekankan kata “pelayan” dengan nada yang menusuk, seakan setiap huruf itu menggores kulit Melati.
Pelayan yang membawa surat itu membuka segel dengan tangan bergetar. Ia mulai membaca dengan suara serak dan formal, namun Melati hanya bisa menatap tanpa memahami kata-kata itu. “‘Kepada Yang Mulia Pangeran Kenjiro…’” suara itu bergetar. “‘…kami menuntut agar perempuan bernama Melati diserahkan kepada kerajaan Inggris sebagai pelayan…’”
Melati menutup wajahnya dengan kedua tangan. Istighfar yang lirih keluar dari bibirnya. “Astaghfirullah… astaghfirullah…” Ia menunduk, tubuhnya gemetar. Setiap kata yang terdengar baginya seperti pisau yang menembus jantung, meski ia tak mampu membaca hurufnya sendiri. Ia hanya bisa menahan rasa malu dan kesedihan yang membanjiri hatinya.
Kenjiro menertawakan suasana itu, suaranya berat dan sinis. “Lihatlah, betapa takutnya ia! Betapa rendah hatinya! Ratu Catherine ingin menjadikannya alat untuk membersihkan nama suamiku, dan kau, Melati, harus membacanya sendiri. Betapa tragisnya hidupmu, bukan?” Ia meraih surat itu dari pelayan dengan tangan yang cepat dan kasar, kemudian merobeknya menjadi beberapa potongan, kepingan kertas beterbangan di udara. Potongan-potongan itu jatuh di atas lantai, dan debu tinta masih terlihat menempel pada karpet merah.
Melati hanya bisa menunduk, matanya basah, tangan menempel di dada seakan ingin menahan jantungnya yang berdebar kencang. “Astaghfirullah…” ucapnya lirih, hanya mampu beristighfar di tengah kesombongan yang memuakkan itu.
Kenjiro menatap potongan-potongan surat yang berhamburan, lalu menatap Melati lagi dengan tatapan tajam. “Kau lihat? Mereka menulis semua ini untuk mempermalukan kita, untuk menunjukkan siapa yang memiliki kekuasaan. Tapi lihat, semua hinaan itu kini menjadi debu. Apakah kau merasa lega, Melati?”
Melati menunduk, air matanya jatuh menetes di karpet. Ia hanya bisa mengangkat wajahnya sebentar, dan matanya menangkap refleksi lilin yang berkelap-kelip di dinding. “Astaghfirullah… ampuni mereka… dan ampuni aku…” bisiknya, suara lirih yang tenggelam di antara tawa sinis Kenjiro dan gemerisik karpet di bawah potongan surat.
Kenjiro berdiri, melangkah mendekat dengan langkah tegas. Ia menatap Melati dari dekat, matanya bersinar sinis. “Begitulah dunia, Melati. Kekuatan menentukan nasib. Benua Biru mengirimkan kata-kata mereka, tapi apakah mereka benar-benar memiliki kuasa atasmu? Tidak. Hanya aku yang memutuskan, dan aku menikmati melihatmu merasakan hinaan itu, meski kau tak bisa membaca hurufnya sendiri.”
Melati menunduk lebih dalam, dadanya naik-turun seiring napas yang tersengal. Ia merasakan setiap detik penuh dengan tekanan dan penghinaan yang tercurah dari raja, ratu, dan pangeran yang menyombongkan diri di sekitarnya. Ia mengulangi istighfar, seakan ingin membersihkan hatinya dari noda kesombongan yang menempel di udara itu.
“Kenjiro…,” suara Melati nyaris tak terdengar, lirih dan gemetar. “Mengapa… mereka begitu kejam?”
Kenjiro menertawakannya lagi, kali ini suaranya lebih dingin dari baja. “Kehausan akan kekuasaan, Melati. Itulah yang membuat mereka kejam. Mereka ingin menunjukkan dominasi, ingin menunjukkan bahwa mereka bisa membeli, menjual, dan mengatur hidup manusia lain. Tapi lihat aku—aku tertawa, karena semua itu sia-sia jika kau menatap dunia dengan mata hatimu sendiri.”
Melati menunduk, matanya masih basah, tetapi hatinya bergetar dengan kesadaran yang pahit. Ia merasakan kerapuhan dunia yang dibangun oleh kesombongan manusia, sebuah dunia di mana seorang ratu bisa menulis kata-kata penghinaan, dan seorang pangeran bisa merobeknya di hadapannya, seolah itu adalah hiburan semata.
Pelayan yang membawa surat itu berdiri di sudut ruangan, menunduk, tidak berani bersuara. Ia tahu, di hadapan Kenjiro, kekuasaan dan kesombongan menjadi pedang yang lebih tajam daripada apapun. Setiap gerakan Melati diawasi, setiap emosi yang keluar bisa menjadi bahan ejekan dan hiburan bagi para penguasa itu.
Kenjiro mencondongkan tubuhnya ke arah Melati, menatapnya dengan mata yang penuh ejekan. “Kau hanya bisa istighfar, bukan? Kau hanya bisa berdoa agar hati ini tetap bersih di tengah kebusukan dunia yang kau lihat. Tapi percayalah, Melati, kekuatan yang sesungguhnya bukan berasal dari kata-kata mereka, melainkan dari ketenangan hatimu sendiri.”
Melati menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Setiap istighfar yang ia ucapkan terasa seperti doa yang menembus dinding-dinding kesombongan di sekelilingnya. Ia merasakan udara berat di ruangan itu, aroma lilin, tinta, dan karpet yang berlapis debu kertas, semua menyatu dalam rasa malu dan ketakutan yang mencekam.
Kenjiro tertawa lagi, kali ini lebih pendek, tetapi tetap penuh dengan kesombongan yang menohok. Ia melangkah mundur, membiarkan Melati sendirian dengan kepingan surat yang berserakan di lantai. “Pergilah, Melati. Duduklah, dan biarkan dunia ini mengajarkanmu pelajaran tentang kekuasaan, kesombongan, dan ketegaran hati. Kau akan belajar, dan aku akan menonton setiap langkahmu.”
Melati duduk, tubuhnya gemetar, dan tangan-tangannya menempel di pangkuan. Ia menunduk, mengangkat wajah sebentar untuk melihat cahaya lilin yang menari-nari, lalu menunduk lagi. “Astaghfirullah… ampuni mereka… dan ampuni aku…” ucapnya, suara lirih yang hampir hilang di antara gemerisik potongan surat yang tergeletak di karpet merah tua.
Dalam kesunyian itu, Melati merasakan kekosongan yang berat. Dunia para penguasa—dengan surat-surat, ejekan, dan kesombongan mereka—seakan menjadi bayangan hitam yang menutupi cahaya hatinya. Namun, di tengah ketakutan dan hinaan itu, ia tetap beristighfar, seakan doa menjadi satu-satunya benteng yang tersisa.
Kenjiro menatapnya dari jauh, tubuhnya tegap, senyum sinisnya tak pernah pudar. “Lihatlah, Melati… inilah dunia para penguasa. Mereka mengirim kata-kata beracun dari benua jauh, dan kita di sini, berdiri di tengahnya. Hina atau mulia, yang penting adalah bagaimana kau menghadapi setiap kata, setiap ejekan, dan setiap hinaan yang datang padamu.”
Melati menunduk lebih dalam, tangannya menutup wajah. Istighfar yang lirih tetap terdengar, meski suaranya hampir tersedak. Ia tahu, dalam dunia yang dipenuhi kesombongan ini, kekuatan hatinya menjadi satu-satunya perlindungan. Ia menutup mata, membiarkan diri hanyut dalam doa, membiarkan setiap ejekan dan hinaan jatuh di udara, tanpa menyentuh jiwanya yang rapuh namun tegar.
Di luar jendela besar yang menghadap taman istana, angin malam bertiup pelan, membawa aroma bunga melati dan debu jalanan kota kolonial. Suara tawa Kenjiro, debu surat yang berserakan, dan lilin yang berkelap-kelip menjadi saksi bisu akan keteguhan hati seorang gadis desa yang dihadapkan pada kesombongan para penguasa.
Melati tetap duduk, menunduk, beristighfar. Dunia boleh menyakitinya, kata-kata boleh menekan, tetapi hatinya tetap mencari cahaya di tengah bayangan. Ia belajar bahwa kesombongan manusia bisa menindas tubuh, tapi tidak bisa menaklukkan doa dan ketegaran hati yang tulus.
Ruangan itu perlahan sunyi. Potongan-potongan surat tergeletak di lantai, Kenjiro berdiri menatap ke luar jendela, dan Melati tetap duduk, tangannya menempel di dada, hatinya beristighfar, membiarkan dunia belajar bahwa doa adalah benteng yang tak bisa dihancurkan.
Suasana mencekam itu berlanjut hingga malam semakin larut, cahaya lilin berkurang, dan bayangan panjang dari tiang-tiang kayu menari di dinding. Surat-surat dari Benua Biru mungkin telah datang, penuh penghinaan dan tuntutan, namun Melati tetap bertahan, hanya bisa beristighfar, menolak membiarkan kesombongan manusia menembus kedamaian hatinya.
Di tengah lorong istana yang panjang itu, hanya suara lembutnya yang terdengar, lirih namun tegas: “Astaghfirullah… ampuni mereka… ampuni aku… ampuni dunia yang dipenuhi kesombongan ini…”
Dan di situ, di antara debu surat, tawa sinis, dan lilin yang hampir padam, Melati duduk, hati tegar, doa menjadi pedang tak terlihat yang membelah keangkuhan para penguasa, menjaga dirinya dari hinaan yang tak bisa ia pahami sepenuhnya dengan matanya sendiri.