Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALIF YANG MELURUSKAN NIAT
Kyai Abdullah menepuk bahu Hafiz dengan sangat kuat, tanda dukungan yang tak ternilai. Tatapan pria tua itu seolah menembus langsung ke dasar jiwa Hafiz yang baru saja retak namun mulai menyatu kembali.
"Alhamdulillah. Ternyata doanya sudah sampai lebih cepat dari yang saya bayangkan," gumam Kyai Abdullah pelan. Hafiz mengernyit heran, tidak menyadari bahwa semalam Kyai pun terbangun dan menyaksikan bayangan Hafiz yang bersimpuh di balik pilar masjid.
Matahari merayap naik, mengusir kabut tipis yang sempat menyelimuti pelataran masjid. Angin pagi berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan melati dari kebun belakang rumah Kyai. Bagi Hafiz, pagi ini tidak lagi terasa mencekik seperti kemarin.
"Kamu serius, Hafiz? Belajar dari nol itu tidak mudah bagi orang yang sudah terbiasa memerintah," Kyai Abdullah bertanya sekali lagi, memastikan keteguhan hati pria di depannya.
Hafiz mengangguk mantap, meski tangannya sedikit bergetar. "Serius, Kyai. Saya nggak mau cuma jadi marbot yang bisa nyapu lantai, tapi buta sama isi rumah ini. Saya ingin tahu apa yang Zahra... maksud saya, apa yang orang-orang baca di dalam sana."
Kyai Abdullah tersenyum lebar, menampakkan gurat-gurat keriput yang justru memancarkan wibawa. "Baiklah. Kalau begitu, temui saya di serambi setelah kamu selesai sarapan. Kita mulai pagi ini juga."
Di dapur rumah Kyai, Zahra sedang menyiapkan sarapan sederhana berupa nasi jagung dan urap sayur. Hafiz masuk dengan canggung, kepalanya tertunduk. Sejak ia membuang ponsel mewahnya ke sungai saat pelarian bulan lalu, ia merasa benar-benar terputus dari dunia luar, dan anehnya, itu membuatnya merasa lebih manusiawi.
"Mas Hafiz? Ayah bilang Mas mau mulai belajar?" Zahra bertanya tanpa menoleh, namun ada nada riang yang tak bisa ia sembunyikan dalam suaranya yang lembut.
Hafiz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya, Zahra. Daripada cuma bengong kalau dengar orang ngaji, mending saya ikut belajar. Biar nggak malu-maluin kalau ditanya warga."
Zahra berbalik, menyerahkan sepiring nasi hangat kepada Hafiz. Mata mereka bertemu sejenak. Hafiz melihat binar dukungan yang sangat tulus, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari rekan bisnisnya dulu.
"Semangat ya, Mas. Belajar agama itu nggak ada kata terlambat. Ayah itu guru yang sangat sabar," bisik Zahra tulus.
Hafiz menerima piring itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih... buat semuanya, Zahra. Terutama buat yang semalam."
Langkah Zahra terhenti. Wajahnya memerah sejenak sebelum ia bergegas kembali ke arah tungku. Hafiz tahu Zahra mengerti apa yang ia maksud.
Pukul sepuluh pagi, serambi masjid terasa tenang. Hanya ada suara kicauan burung gereja di atap dan desir angin. Kyai Abdullah sudah duduk bersila, di depannya terdapat sebuah meja kayu kecil dengan kitab Iqra jilid pertama yang warnanya mulai pudar.
Hafiz duduk di depannya, merasa lebih tegang daripada saat ia mempresentasikan laporan keuangan tahunan di depan para pemegang saham di Jakarta.
"Kita mulai dari dasar, Hafiz. Jangan malu, jangan merasa kecil. Di depan huruf-huruf ini, kita semua adalah bayi yang baru lahir," ucap Kyai lembut.
Kyai menunjuk huruf pertama yang tegak lurus. "Ini Alif. Bacanya 'A'. Alif itu tegak, seperti niat yang harus lurus. Kalau niatmu miring, maka bacaanmu akan miring ke belakang."
Hafiz menarik napas panjang. "A..."
Suaranya parau. Ia merasa lidahnya yang terbiasa mengucapkan istilah bisnis internasional mendadak kaku mengucapkan satu huruf sederhana.
"Ulangi. Yang mantap. Biar setan yang mau ganggu niatmu lari karena takut melihat ketegasanmu," goda Kyai Abdullah sambil tertawa kecil.
"A!" Hafiz mengulang dengan lebih keras.
Aneh. Saat ia mengucapkan huruf itu, ada getaran halus yang menjalar dari tenggorokannya ke dadanya. Rasanya seperti ada sumbatan di hatinya yang baru saja terketuk.
Satu jam berlalu. Hafiz mulai berkeringat dingin saat memasuki huruf Ba dan Ta. Ternyata membedakan titik di atas dan di bawah jauh lebih sulit daripada membedakan grafik keuntungan perusahaan.
"Ini Ba, ada titik di bawah satu. Ingat, Ba itu seperti wadah yang menampung berkah di bawah," Kyai Abdullah dengan sabar membimbing.
Hafiz mengulang-ulang nama huruf itu. "Ba... Ta... Ba... Ta..."
Tiba-tiba, suara tawa sinis terdengar dari arah gerbang masjid. Beberapa pemuda kampung yang tadi pagi mengejeknya kembali muncul, berdiri di pinggir pelataran sambil menunjuk-nunjuk.
"Wah, lihat tuh! CEO koruptor lagi belajar ngaji! Baru sadar ya kalau mau masuk neraka makanya buru-buru cari jimat?" teriak salah satu pemuda yang memakai kaos hitam lusuh.
Hafiz membeku. Huruf Ta yang baru saja ia hafal mendadak hilang dari ingatannya, berganti dengan rasa panas yang menjalar ke telinganya.
"Woi, Hafiz! Nanti kalau sudah bisa ngaji, jangan-jangan ayatnya lu pakai buat nipu warga ya?" sahut yang lain, disambut tawa terpingkal-pingkal rekan-rekannya.
Hafiz mengepalkan tangannya di bawah meja kayu kecil itu. Rahangnya mengeras. Emosinya yang labil kembali memuncak. Ia ingin berdiri dan memaki mereka, menunjukkan bahwa meski jatuh, ia masih punya taring.
"Biarkan saja, Hafiz. Fokus pada bukumu. Mata mereka belum dibuka oleh Allah, jadi mereka hanya bisa melihat apa yang mereka ingin lihat," bisik Kyai Abdullah tanpa menoleh ke arah pemuda-pemuda itu.
"Tapi Kyai, mereka menghina saya di depan tempat suci ini!" desis Hafiz, matanya mulai memerah menahan amarah.
"Kalau kamu berhenti hanya karena gonggongan mereka, berarti niatmu belum setegak huruf Alif tadi. Lanjutkan," ucap Kyai telak.
Hafiz terdiam. Ia menarik napas dalam, mencoba membuang muka dari para pemuda itu, dan kembali menatap kitab Iqra.
"Lanjutkan. Setelah Ta, ini apa?" Kyai menunjuk huruf selanjutnya.
"Sa..." jawab Hafiz lirih, mencoba menulikan telinga dari suara-suara sumbang di belakangnya.
Sore harinya, saat Hafiz sedang membersihkan kolam masjid, sebuah motor dinas polisi masuk ke halaman masjid.
"Mas Hafiz!" panggil Kyai Abdullah dari teras rumah.
Hafiz mendekat dengan perasaan tak menentu. Di samping Kyai, berdiri seorang polisi muda yang membawa sebuah koran lokal dan beberapa lembar berkas.
"Ada apa, Kyai? Apa mereka mau membawa saya?" tanya Hafiz pasrah.
Kyai Abdullah menggeleng. Beliau menyerahkan koran itu kepada Hafiz. "Bukan. Polisi ini kebetulan sepupu Zahra, dia membawakan berita yang mungkin perlu kamu tahu."
Hafiz menerima koran itu. Matanya membelalak melihat foto utama di halaman kriminal. Di sana, terlihat Robi asistennya yang merampas hartanya sedang digiring polisi dengan wajah babak belur.
Judul Berita: "Broker Saham Robi Kusuma Ditangkap, Diduga Terlibat Sindikat Pencucian Uang dan Penipuan Aset Perusahaan."
"Dia tertangkap, Kyai..." bisik Hafiz. Suaranya bergetar antara puas dan tidak percaya.
"Bukan cuma itu, Mas Hafiz," sela polisi muda itu. "Tadi pagi, teman wanitanya yang bernama Cindy juga diamankan polisi karena diduga membantu menyembunyikan sisa aset ilegal. Katanya, dia terus-menerus meneriakkan namamu saat ditangkap, meminta perlindungan."
Hafiz terduduk di lantai teras. Rasa dendam yang selama ini ia bawa seolah menguap, meninggalkan rasa hampa yang aneh. Cindy, wanita yang meludahinya beberapa hari lalu, kini mendekam di jeruji besi.
"Dunia itu berputar, Hafiz. Apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai," ucap Kyai Abdullah tenang.
Hafiz menunduk lalu meremas koran itu hingga kusut. Gambar Robi yang babak belur di balik jeruji besi seharusnya menjadi obat bagi luka hatinya. Tapi, yang ia rasakan justru kekosongan yang menyesakkan.