NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Voting Diam-Diam

Pertemuan dengan investor institusi terbesar itu dijadwalkan tiga hari kemudian.

Tidak ada konferensi pers.

Tidak ada pengumuman publik.

Hanya ruang rapat tertutup di lantai paling atas gedung pusat investasi mereka.

Nama investornya: Dana Purnama Capital. Pemegang hampir delapan persen saham cukup untuk menggeser keseimbangan jika digabung dengan pihak yang tepat.

Alina datang bersama Arsen dan kepala divisi keuangan. Ia memilih tidak membawa tim hukum. Ini bukan sesi interogasi.

Ini sesi penilaian.

Di dalam ruangan, tiga perwakilan Dana Purnama sudah menunggu. Wajah mereka netral, profesional, sulit dibaca.

“Terima kasih sudah meluangkan waktu,” ujar salah satu dari mereka, wanita paruh baya bernama Ratih.

Alina tersenyum tipis. “Kami selalu terbuka untuk diskusi.”

Tanpa basa-basi panjang, Ratih langsung ke inti.

“Kami menghargai langkah transparansi yang Anda ambil. Namun, volatilitas saham belakangan ini menimbulkan kekhawatiran bagi pemegang dana kami.”

Arsen menjawab dengan data. Grafik proyeksi. Analisis risiko. Tren jangka panjang.

Alina memperhatikan.

Ia tahu ini bukan hanya tentang angka.

Ini tentang kepercayaan.

“Kami ingin tahu satu hal,” ujar pria di sebelah Ratih. “Jika tekanan terhadap kepemimpinan meningkat… apakah Anda siap mempertimbangkan transisi demi stabilitas perusahaan?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Arsen menoleh sedikit ke arah Alina, tapi tidak berbicara.

Alina menautkan jemarinya di atas meja.

“Apakah Anda percaya kepemimpinan saya sumber ketidakstabilan?” tanyanya tenang.

Ratih menjawab hati-hati. “Kami percaya pasar merespons ketidakpastian.”

“Dan apakah mundurnya CEO di tengah investigasi akan mengurangi ketidakpastian… atau justru memperbesarnya?” balas Alina.

Tak ada yang langsung menjawab.

Ia melanjutkan, suaranya tetap stabil.

“Jika saya pergi sekarang, pasar akan membaca itu sebagai pengakuan kesalahan. Kita tahu tidak ada pelanggaran besar. Tapi persepsi akan berubah drastis.”

Pria tadi bersandar di kursinya.

“Jadi Anda menolak opsi itu?”

“Aku menolak menyerah pada tekanan yang belum terbukti berdasar,” jawabnya.

Kata “aku” keluar tanpa ia rencanakan.

Bukan formal.

Tapi jujur.

Ratih memperhatikan wajahnya lama, seolah menimbang sesuatu yang lebih dalam dari sekadar strategi bisnis.

“Kami akan mempertimbangkan posisi kami,” katanya akhirnya.

Itu bukan janji dukungan.

Tapi juga bukan ancaman.

Dalam perjalanan pulang, Arsen memecah keheningan.

“Mereka sedang mengukurmu.”

“Aku tahu.”

“Dan?”

Alina menatap keluar jendela mobil.

“Mereka ingin melihat apakah aku akan goyah.”

“Kau tidak goyah.”

“Belum tentu.”

Arsen mengernyit.

Alina menghela napas pelan.

“Aku bukan takut kehilangan jabatan. Aku takut jika perpecahan internal ini memberi ruang bagi orang yang salah untuk mengambil alih.”

Arsen menatapnya dalam.

“Kau takut perusahaan ini jatuh ke tangan orang yang mempermainkannya.”

Alina mengangguk.

Itu lebih dari sekadar ambisi pribadi.

Ini tentang warisan.

Tentang fondasi yang ia bangun dengan risiko yang tidak sedikit.

Keesokan paginya, kabar yang ia duga akhirnya muncul.

Dewan mengajukan rapat luar biasa.

Agenda: Evaluasi Kepemimpinan Eksekutif.

Secara teknis, itu bukan voting pencopotan.

Tapi semua orang tahu arahnya.

Bima adalah pengusul utama.

Daniel menelepon hampir segera setelah kabar itu beredar.

“Mereka bergerak cepat,” katanya.

“Lebih cepat dari dugaanku,” jawab Alina.

“Beberapa anggota mungkin netral. Tapi jika Dana Purnama condong ke mereka…”

“Voting bisa imbang,” gumam Alina.

“Dan jika imbang?”

“Ketua dewan yang memutuskan.”

Daniel terdiam sesaat.

“Ketua dewan bukan orang yang suka risiko.”

Alina tersenyum pahit.

“Artinya, aku adalah risiko.”

Malam sebelum rapat luar biasa, Alina duduk sendirian di ruang kerjanya di rumah.

Di depannya, bukan laporan.

Bukan grafik.

Melainkan foto lama ia dan ayahnya berdiri di depan gedung kantor pertama keluarga mereka.

Gedung kecil.

Tidak megah.

Tapi penuh kebanggaan.

Ia teringat alasan awal menerima pernikahan kontrak itu.

Untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya.

Kini, lingkarannya terasa aneh.

Ia kembali berada di titik yang sama melindungi sesuatu yang ia cintai dari kehancuran.

Arsen masuk tanpa suara.

“Kau tidak tidur?”

“Belum.”

Ia duduk di kursi seberangnya.

“Apa pun hasilnya besok, kau sudah melakukan yang terbaik.”

Alina menatapnya.

“Bagaimana jika itu tidak cukup?”

Arsen tersenyum lembut.

“Dulu kau menikah denganku demi kontrak. Tanpa cinta. Tanpa jaminan.”

Ia menggenggam tangannya.

“Tapi kau tetap melangkah. Karena kau percaya pada kemampuanmu sendiri.”

Alina terdiam.

“Percayalah lagi.”

Kata-kata itu sederhana.

Namun menembus jauh.

Hari rapat tiba.

Ruang dewan terasa berbeda.

Lebih tegang.

Lebih sunyi.

Semua anggota hadir.

Bima berbicara pertama.

“Kita tidak bisa mengabaikan gejolak yang terjadi. Kepemimpinan harus memberi rasa aman bagi investor.”

Beberapa kepala mengangguk.

Alina menunggu gilirannya.

Ketika ia berdiri, suaranya tidak gemetar.

“Aku memahami kekhawatiran ini,” katanya. “Namun kita harus membedakan antara tekanan eksternal dan kegagalan internal.”

Ia memaparkan hasil audit awal.

Menunjukkan grafik pemulihan saham setelah konferensi pers.

Menjelaskan strategi percepatan proyek domestik.

“Jika kita mengganti kepemimpinan sekarang,” lanjutnya, “kita mengirim pesan bahwa perusahaan ini mudah digoyahkan.”

Ia menatap satu per satu anggota dewan.

“Aku tidak meminta kepercayaan tanpa alasan. Aku meminta penilaian berdasarkan fakta.”

Keheningan panjang menyusul.

Ketua dewan akhirnya berbicara.

“Kita akan melakukan voting tertutup.”

Kertas dibagikan.

Pulpen bergerak pelan.

Alina duduk tanpa ekspresi.

Arsen, yang hadir sebagai pengamat eksekutif, hanya menatap meja.

Waktu terasa berjalan lambat.

Beberapa menit kemudian, kertas dikumpulkan.

Ketua dewan membaca hasilnya dalam diam, lalu mengangkat kepala.

“Hasil voting: lima mendukung kelanjutan kepemimpinan CEO. Empat menolak.”

Satu suara selisih.

Hanya satu.

Ruang itu tetap sunyi.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada ekspresi berlebihan.

Hanya fakta.

Alina tetap menjunjung kepala.

Bima menatapnya sekilas tatapan yang sulit ditafsirkan.

Setelah rapat usai, Arsen berjalan bersamanya menuju lift.

“Satu suara,” gumamnya pelan.

“Cukup,” jawab Alina.

“Tapi ini belum selesai.”

Alina mengangguk.

Ia tahu.

Selisih tipis berarti posisi masih rapuh.

Namun hari ini, ia tidak jatuh.

Ketika pintu lift tertutup, Arsen menariknya ke dalam pelukan singkat.

“Kau menang.”

Alina menggeleng pelan.

“Ini bukan kemenangan. Ini penundaan.”

Arsen tersenyum miring.

“Kau memang tidak pernah merayakan apa pun.”

Ia menatapnya.

“Karena papan caturnya belum bersih.”

Lift berhenti di lantai dasar.

Pintu terbuka.

Di luar, kamera media sudah menunggu.

Berita tentang rapat luar biasa bocor entah dari mana.

Alina menarik napas dalam, lalu melangkah keluar.

Lampu kilat menyala.

Pertanyaan bersahutan.

“Apakah Anda akan mundur?”

“Apakah perusahaan dalam krisis?”

Ia berhenti sejenak sebelum masuk ke mobil.

“Kami tetap fokus pada pertumbuhan dan transparansi,” katanya singkat.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Mobil melaju meninggalkan kerumunan.

Di kursinya, Alina memejamkan mata.

Satu suara menyelamatkannya hari ini.

Tapi seseorang hampir berhasil menjatuhkannya.

Dan orang itu masih ada di dalam.

Jika mereka ingin permainan terbuka maka ia akan berhenti menunggu serangan berikutnya.

Babak selanjutnya tidak akan lagi bersifat defensif.

Untuk pertama kalinya sejak investigasi dimulai alina memutuskan untuk menyerang balik.

(BERSAMBUNG)

1
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!