NovelToon NovelToon
ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

cerita keluarga besar yang harmonis dan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin Novel Toon Alif cariza nofiriyanto,isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili Novel Toon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 2

Minggu berikutnya, Raka dan Dina diundang ke pesta kecil keluarga besar Dina. Suasana awalnya hangat, dengan tawa dan canda yang mengisi ruang. Namun, ketegangan mulai terasa saat Nenek Mira datang, membawa serta opini-opini yang sulit ditolak oleh semua orang.

“Raka, Nak, kau duduk di sini saja. Di sebelah Dina,” kata Nenek Mira sambil menepuk bahu Raka, membuat beberapa tamu tersenyum geli.

Aku tersenyum tipis, mencoba mengendalikan diri, tapi rasa kesal mulai muncul. Rasanya seperti posisiku sebagai suami sedikit digeser oleh ibunya sendiri.

Sepanjang malam, Nenek Mira terus berkomentar. “Dina, Nak… kau harus lebih sabar sama Raka, dia kan baru belajar.”

“Raka, Nak… kalau mau renovasi rumah, aku punya beberapa ide lagi. Kau pasti setuju, kan?”

Aku menelan napas, berusaha tetap sabar. Dina menatapku, seakan meminta aku menahan diri, tapi aku tahu kalau ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Akhirnya, setelah beberapa komentar lagi yang membuatku terasa terpojok, aku menarik napas panjang dan berkata dengan suara tenang tapi tegas:

“Ma… aku tahu Ma sayang sama Dina, dan aku hargai semua perhatian Ma. Tapi aku juga suaminya, dan keputusan tentang keluarga kami harus tetap kami yang buat. Aku ingin Ma tetap hadir di hidup kami, tapi tolong beri kami ruang untuk menentukan sendiri.”

Ruang makan hening sejenak. Dina menatapku dengan mata berbinar, bangga melihat keberanianku. Nenek Mira menatapku lama, matanya berkaca-kaca, lalu tersenyum tipis.

“Raka… aku… aku hanya ingin yang terbaik untuk Dina. Aku tidak bermaksud menggantikanmu.” Suaranya bergetar sedikit.

Aku menunduk, menepuk tangan Dina lembut. “Aku tahu, Ma… aku cuma ingin kita semua bisa nyaman. Aku ingin hubungan ini tetap hangat, tapi juga ada batas.”

Dina menaruh tangan di bahuku. “Raka… kau hebat. Kau bisa menegaskan diri tanpa membuat Ma tersinggung.”

Nenek Mira menghela napas panjang, lalu tersenyum dengan lembut. “Baiklah… aku mengerti. Aku akan belajar memberi ruang pada kalian. Tapi ingat, Ma selalu sayang sama Dina, dan itu tak akan pernah berubah.”

Aku tersenyum lega. “Terima kasih, Ma… itu yang paling penting.”

Aku menatapnya, tersenyum, dan merasakan lega yang luar biasa. Untuk pertama kalinya, aku merasa posisi sebagai suami benar-benar dihargai—tanpa mengurangi kasih sayang yang Nenek Mira miliki untuk istriku.

 

Suatu sore, aku duduk di ruang tamu sambil membaca koran. Dina masuk membawa secangkir teh hangat dan senyum yang selalu mampu menenangkan hatiku.

“Raka… Ma tadi telpon, bilang dia ingin datang besok bawa beberapa kue buat kita. Katanya cuma ingin lihat kita berdua saja,” kata Dina sambil menaruh teh di mejaku.

Aku tersenyum, menatap Dina. “Baiklah… itu terlihat menyenangkan. Kali ini kita bisa santai tanpa ada campur tangan urusan rumah atau pekerjaan.”

Dina tersenyum, duduk di sebelahku. “Lihat, Raka… Ma sudah belajar. Kita bisa tetap punya ruang sendiri tapi dia tetap hadir dengan kasih sayang.”

“Raka… Dina… aku cuma ingin lihat kalian bahagia. Kalian berdua sudah tumbuh sebagai pasangan yang hebat,” kata Nenek Mira sambil menepuk bahuku.

Aku tersenyum hangat. “Terima kasih, Ma… sekarang aku juga merasa lebih dihargai sebagai suami.”

Dina menatapku penuh kasih. “Lihat, Raka… kita bisa harmonis, Ma tetap sayang, dan kita tetap punya ruang sendiri. Semua bisa berjalan bersamaan.”

Nenek Mira tersenyum, seolah lega. “Ya… aku mengerti sekarang. Aku akan tetap sayang sama Dina, tapi juga akan menghargai kalian sebagai pasangan.”

“Raka… aku senang kita bisa menegaskan batas dengan baik. Aku bangga sama kau,” kata Dina, menempelkan kepala di bahuku.

Aku memeluknya erat. “Aku juga bangga, Dina. Kita berhasil menghadapi semua ini bersama-sama, dengan cinta dan kesabaran. Aku tahu, selama kita saling percaya, tidak ada yang bisa mengganggu kita—bukan Ma, bukan orang lain, bahkan masalah yang paling rumit sekalipun.”

“Raka… kau mau coba kue ini?” tanya Dina sambil menaruh sepiring kue hangat di depanku.

Aku mengambil satu, menggigit perlahan, lalu tersenyum puas. “Hmm… enak banget. Rasanya manis tapi pas. Ma, kau benar-benar punya bakat masak tersembunyi, ya?”

Nenek Mira tersenyum malu-malu. “Ah, kau terlalu memuji, Nak. Aku cuma mencoba resep baru. Tapi kalau Raka suka, aku senang.”

Dina menepuk bahuku, menahan tawa. “Lihat, Raka… Ma nggak lagi ikut campur urusan kita. Sekarang dia hadir untuk hal-hal kecil dan menyenangkan saja.”

Hari-hari kami mulai dipenuhi momen sederhana tapi berarti. Ada sore di mana aku dan Dina memasang rak buku baru, sementara Nenek Mira duduk di sofa, memberi komentar ringan.

“Raka… pastikan raknya lurus ya, jangan sampai miring. Dina, bantuin dia, jangan cuma lihat saja,” katanya sambil tersenyum.

Aku tertawa, menatap Dina. “Lihat? Sekarang Ma cuma ikut memberi saran ringan, bukan mengatur segalanya.”

Dina menggenggam tanganku sambil tersenyum. “Iya… aku senang kita bisa menemukan keseimbangan ini. Kita punya ruang sendiri, tapi Ma tetap hadir dengan hangat.”

“Raka, Nak… kau harus hati-hati kalau main frisbee, jangan sampe kena orang lain,” katanya sambil tertawa kecil.

Aku mengambil frisbee, menatapnya sambil tersenyum. “Tenang, Ma… aku nggak akan sampai bikin masalah.”

Dina tertawa, menggenggam tanganku. “Raka… lihat? Semua berjalan dengan sempurna. Ma bisa hadir, tapi nggak mengganggu.”

Suatu malam, setelah makan malam bersama, kami duduk di balkon menikmati langit malam. Nenek Mira menatap bintang, lalu tersenyum pada kami.

“Raka, Dina… kalian berdua hebat. Aku senang melihat kalian bahagia. Aku tahu, kasih sayang Ma tak akan mengganggu hubungan kalian, tapi malah jadi bagian dari kebahagiaan ini,” katanya dengan mata berbinar.

Aku menggenggam tangan Dina, tersenyum pada Nenek Mira. “Terima kasih, Ma… kehadiran Ma membuat rumah ini hangat, tapi juga memberi kami ruang untuk cinta kami sendiri.”

Aku menatap langit malam, merasakan angin sepoi-sepoi yang membawa damai. “Iya… kita berhasil. Dan aku janji, akan selalu menjaga cinta kita, tanpa takut siapa pun, bahkan Ma yang tersayang sekalipun.”

 

Pagi itu, suasana rumah sudah riuh sejak subuh. Nenek Mira sibuk di dapur mencoba resep sarapan baru, Dina sedang menata meja, dan aku… hanya duduk sambil menatap situasi dengan setengah terkejut, setengah geli.

“Raka… tolong bantu aku cicipi adonan pancake ini. Katanya sih manisnya pas,” kata Nenek Mira sambil menyerahkan sendok kecil padaku.

Aku mengambilnya, mencicipi, lalu membuat ekspresi dramatis. “Hmm… Ma, ini manis banget! Bisa bikin aku kepedesan gula!”

Dina tertawa, menepuk bahuku. “Raka… kau kan suka manis, ini malah kurang manis buatmu.”

Nenek Mira pura-pura tersinggung. “Apa? Kurang manis? Nak Raka ini makin manja saja. Dina, kau harus latih dia supaya nggak gampang protes!”

Aku tertawa, sambil menatap mereka berdua. “Baiklah… Ma, aku akan belajar menahan diri. Tapi kalau terlalu manis, aku tetap protes, ya?”

Hari lain, aku dan Dina mencoba menata ulang rak buku di ruang keluarga. Nenek Mira ikut membantu, tapi caranya khas—selalu menyelipkan komentar kecil yang bikin kami tertawa.

“Raka, Nak… jangan lupa buku favorit Dina di tingkat tengah, biar gampang dijangkau,” katanya sambil menunjuk rak.

Aku menoleh ke Dina, tersenyum. “Lihat? Ma selalu punya trik kecilnya sendiri.”

Dina tertawa, “Iya… tapi aku suka. Rumah jadi terasa hidup dan hangat.”

Momen lucu terjadi ketika aku mencoba memasak makan malam untuk Dina. Aku mulai grogi, dan Nenek Mira muncul di dapur tanpa permisi.

“Raka… apa kau tahu cara pakai wajan ini? Jangan sampai gosong lagi seperti minggu lalu,” katanya sambil tersenyum nakal.

Aku menatapnya, pura-pura serius. “Ma… aku suami Dina, bukan murid Ma. Aku bisa kok!”

Dina menahan tawa, menatap kami berdua. “Raka… Ma cuma ingin bantu, jangan marah.”

Aku akhirnya ikut tertawa juga. “Baiklah, Ma… tapi jangan terlalu ikut campur, ya?”

Dan malam itu, ketika kami duduk di balkon sambil minum teh, Nenek Mira ikut duduk di samping kami, membawa piring kue sisa.

“Kalian tahu… kadang aku senang lihat kalian berdua seperti ini. Bahagia, tapi tetap saling percaya,” katanya sambil tersenyum hangat.

Aku menggenggam tangan Dina, tersenyum ke Nenek Mira. “Terima kasih, Ma… sekarang aku merasa bagian dari keluarga ini, bukan hanya suami, tapi juga teman kalian.”

Dina menatap kami berdua, tertawa kecil. “Aku senang kita bisa bahagia seperti ini. Rumah kita penuh tawa, cinta, dan kue enak!”

Kami semua tertawa, suara tawa mengisi malam, menandai kebahagiaan sederhana yang begitu hangat. Aku sadar, inilah inti keluarga—kasih sayang yang hadir tanpa menekan, perhatian yang memberi ruang, dan cinta yang menguatkan setiap ikatan.

1
Emen Umakpauny
lanjutkan
Khoerun Nisa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!