NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Kembalinya Samudera Biru dari Kegelapan

Lorong bawah tanah Istana Samudera Biru dindingnya dilapisi oleh kristal laut kuno yang terus berdenyut, memancarkan cahaya biru pucat yang dingin, seolah dinding itu memiliki rohnya sendiri.

Namun, yang membuat bulu kuduk berdiri bukanlah suasananya, melainkan aliran energi sukma yang mengalir di sepanjang dinding tersebut, seperti pembuluh darah raksasa yang menyedot setiap kehidupan dari seluruh penjuru kota Kertawana Samudera.

Wira dan Sekar bergerak seperti bayangan di antara sela-sela pilar kristal.

Berkat teknik Nol Sukma yang kini semakin sempurna, keberadaan mereka nyaris tidak terdeteksi oleh radar energi penjaga istana.

"Wira, apa kau merasakannya?" bisik Sekar sambil menempelkan telapak tangannya ke dinding kristal.

"Energi ini... ini bukan hanya milik para pendekar sayembara. Ini adalah energi murni dari rakyat jelata, bahkan anak-anak." lanjut Sekar dengan nada yang mulai gemetar karena marah.

Wira mengepalkan tinjunya hingga kuku jarinya memutih.

Sedangkan Siwa yang di punggungnya kini bergetar hebat, memberikan sinyal bahaya yang sangat pekat.

"Bocah, kita sudah hampir sampai di pusat pusaran. Hati-hati, tekanan di depan sana bukan lagi tekanan air biasa. Ini adalah tekanan dimensi," peringat Siwa.

Wira pun mengangguk dan lebih waspada melihat sekeliling sembari melanjutkan langkahnya yang di ikuti Sekar.

Tak berselang lama, mereka berdua tiba di sebuah pintu gerbang raksasa yang terbuat dari karang hitam, yang jika dilihat sekilas, karang itu seolah tidak bisa hancur.

Pintu raksasa itu terlihat terbuka sedikit, membiarkan aroma belerang dan laut mati merembes keluar.

Wira mengintip ke dalam, dan pemandangan di depannya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Di tengah ruangan luas yang menyerupai palung laut dalam itu, Kaisar Baruna berdiri di atas altar berbentuk bintang segi enam.

Di sekelilingnya, ribuan bola kristal kecil, identik dengan yang dihancurkan Wira di Majapatih terlihat melayang-layang yang di dalamnya berisi sukma manusia yang meronta-ronta.

Namun, yang paling mengerikan adalah sosok yang berdiri di hadapan Kaisar.

Sosok itu tidak memiliki bentuk fisik yang tetap, hanya berupa gumpalan asap hitam pekat dengan mata merah menyala yang sangat familiar bagi Wira.

"Berikan aku lebih banyak, Baruna," suara sosok itu bergema, bukan di telinga, melainkan langsung di dalam sukma.

"Dengan sukma dari benua ini, aku akan memberimu kekuatan untuk melampaui dewa dan menjadikanmu penguasa tunggal bumi sebelum aku melahap sisanya." lanjutnya dengan suara parau dan serak.

Kaisar Baruna bersujud dengan wajahnya yang biasanya angkuh kini penuh dengan ketamakan yang menjijikkan.

"Tuan Agung, sayembara besok akan memberikan sepuluh ribu pendekar terbaik. Jiwa mereka akan menjadi persembahan terakhir untuk membuka Gerbang Palung Abadi." ucap Kaisar Baruna dalam sujudnya.

Melihat kejadian di depan matanya itu, Wira tampak tidak bisa menahan diri lagi.

Kenangan tentang kematian orang tuanya, api yang melahap desanya, kehancuran Kerajaan Majapatih beberapa waktu yang lalu, dan wajah Mahesa yang hancur karena energi hitam yang sama, meluap menjadi amarah yang dingin.

"Jadi, kau hanyalah seekor anjing peliharaan lainnya, Kaisar?" suara Wira memecah keheningan ruangan ritual tersebut.

Kaisar Baruna tersentak dan berbalik dengan cepat.

Matanya menyipit melihat pemuda bercaping bambu yang kini melangkah masuk ke ruang ritualnya.

"Kau... si pendekar rendahan yang mengacaukan rencanaku!" ucap Kaisar Baruna yang saat ini dalam tatapannya sudah muncul sebuah kemarahan.

Sosok asap hitam itu juga menoleh. Matanya yang merah berkilat saat melihat Siwa di tangan Wira.

"Ruh Pohon Jagat... dan bocah pembawa takdir. Akhirnya, kau datang mengantarkan nyawamu sendiri, Hahaha..." ucapnya dengan suara parau dan besar.

"Wira, ini jebakan!" teriak Sekar tiba-tiba saat melihat lantai di bawah kaki mereka mulai berpendar ungu.

Seketika, sebuah formasi pengikat ruang aktif. Rantai-rantai yang terbuat dari air hitam pekat melesat dari lantai, mencoba melilit kaki dan tangan Wira.

Namun, dengan satu putaran cepat Siwa, Wira menciptakan perisai cahaya biru langit yang menangkis rantai-rantai tersebut.

"Sekar, urus kristal-kristal sukma itu! Jangan biarkan mereka terhisap lebih jauh!" perintah Wira sambil melesat maju ke arah Kaisar Baruna.

"Kau pikir kau bisa menang di wilayahku, Bocah?!" Kaisar Baruna berteriak dengan aura yang mengerikan.

Ia mengangkat tangannya, dan seluruh air di dalam ruangan itu memadat, membentuk naga air hitam raksasa yang menderu ke arah Wira.

Ini adalah kekuatan penuh dari Ranah Kedalaman Abadi. Tekanannya begitu dahsyat hingga lantai karang di bawah Wira retak dan hancur. Wira merasa seolah-olah seluruh samudera sedang menimpa pundaknya.

"Bocah! Jangan gunakan kekuatan fisik! Gunakan resonansi jiwa! Ingat apa yang kau pelajari dari pesan langit di mimpi-mimpimu!" Siwa berteriak memberi petunjuk.

"Nghhh... Bagaimana kau bisa tahu tentang mimpiku, Tongkat jelek?" jawab Wira yang masih dengan nada sedikit bercanda.

"Dasar bodoh, seriuslah sedikit, jika kau mati, aku juga akan lenyap, brengsek." jawab Siwa dengan nada yang sangat serius.

Mendengar perkataan dari tongkat jeleknya itu, Wira pun tak menjawabnya dan langsung memejamkan mata di tengah serbuan naga air hitam itu.

Ia seketika berhenti melawan tekanan itu. Sebaliknya, ia malah menyerap tekanan tersebut ke dalam inti sukmanya, lalu mengalirkannya keluar melalui Siwa dengan frekuensi yang berbeda.

"Jurus Sapu Jagat, Penenang Badai!" teriaknya kemudian.

Wira tidak memukul naga itu. Ia hanya menyentuh kepala naga air tersebut dengan ujung Siwa.

Seketika, naga hitam yang mengerikan itu pecah kembali menjadi tetesan air biasa yang jatuh tak berdaya ke lantai.

Kaisar Baruna ternganga. "Bagaimana mungkin... kau hanya seorang bocah!"

"Aku mungkin hanya bocah di matamu, tapi aku membawa harapan dari ribuan orang yang kau tindas," jawab Wira dingin.

Sementara itu, Sekar sedang bertarung melawan para pengawal elit bayangan yang menjaga kristal sukma.

Dengan pedang pendeknya, ia bergerak seperti kilat, menghancurkan segel-segel pengikat pada bola kristal.

Satu demi satu, sukma rakyat mulai terlepas dan terbang kembali menuju pemiliknya di kota.

Sosok asap hitam itu menggeram melihat rencananya mulai berantakan.

"Baruna, kau tidak berguna! Biar aku sendiri yang mengambil jiwanya!" ucap sosok asap hitam itu yang terdengar sangat marah.

Asap hitam itu dalam sekejap melesat ke arah Wira, berubah menjadi ribuan jarum kegelapan yang mengincar titik saraf sukma Wira.

Melihat itu, Wira dengan cepat mencoba menangkisnya, namun jarum-jarum itu bersifat transparan, menembus perisai Siwa seolah-olah itu hanya udara.

"Uhuk!...Ughh!!"

Wira memuntahkan darah segar saat salah satu jarum kegelapan berhasil menembus bahunya.

"Wira!" teriak Sekar cemas, namun ia sendiri masih terkepung oleh pasukan bayangan.

"Jangan mendekat, Sekar! Selesaikan tugasmu!" teriak Wira.

Ia langsung berlutut dengan napasnya yang mulai tersengal.

Energi hitam itu mulai meracuni aliran sukmanya, persis seperti yang terjadi pada gurunya dulu.

Namun, di tengah rasa sakit yang luar biasa, jimat melati dari Ratnawati di kantongnya kembali memberikan kehangatan yang aneh.

Bukan hanya itu, ia merasakan sebuah getaran lain dari arah Majapatih, seperti getaran harapan dari ribuan rakyat yang kini menyembah patungnya.

Energi kepercayaan dan rasa syukur dari rakyat Majapatih melintasi samudera, masuk ke dalam diri Wira melalui ikatan batin sebagai Sang Penyeimbang.

Hal seperti itu belum pernah terjadi di dunia ini, dan ini adalah pertama kalinya.

Dan saat itu juga, dalam sekejap Wira langsung mendongak, matanya kini bersinar dengan cahaya perak yang sangat terang.

"Kau salah, Iblis jelek," ucap Wira, suaranya kini terdengar berlapis, seperti gabungan dari suaranya sendiri dan suara ribuan rakyat yang bersatu.

"Kau pikir kau bisa mengalahkan dunia dengan ketakutan? Kau lupa bahwa di atas ketakutan, ada keberanian yang lahir dari cinta dan kepercayaan." lanjut ucap Wira dengan nada yang mulai datar, tenang dan tegas.

Setelah itu, Wira pun langsung berdiri tegak.

Kini Ia tidak lagi memegang Siwa sebagai tongkat pukul. Ia memegang Siwa secara horizontal di depan dadanya.

"Jurus Sejati, Cahaya dari Semesta!"

Tepat saat ia selesai mengucapkan jurusnya, sebuah ledakan cahaya putih murni terpancar dari tubuh Wira, memenuhi seluruh ruang bawah tanah.

Cahaya itu begitu suci hingga asap hitam itu berteriak kesakitan saat bagian-bagian tubuhnya mulai menguap.

Kaisar Baruna yang terkena cahaya itu langsung terpental menghantam dinding kristal hingga pingsan, ranah kultivasinya hancur seketika akibat keserakahannya sendiri yang berbalik menyerang.

Sedangkan untuk sosok asap hitam itu kini mulai mengecil dan mulai memudar.

"Ini... ini belum berakhir, Bocah! Aku hanyalah bayangan dari tuanku! Saat dia turun nanti, bumi akan menjadi debu!" ucapnya sebelum menghilang.

Dengan satu teriakan terakhir, sosok itu menghilang ke dalam celah dimensi yang menutup dengan cepat.

Keheningan pun kembali menyelimuti palung kegelapan tersebut.

Ribuan bola kristal telah pecah, dan sukma rakyat telah kembali.

Wira terduduk lemas, seluruh pakaiannya basah oleh keringat dan darah.

Sedangkan tongkatnya, Siwa juga tampak meredup, kehabisan energi setelah menyalurkan kekuatan sebesar itu.

Sekar langsung bergegas berlari ke arah Wira dan langsung memeluknya erat.

"Kau hampir mati, Wira! Kau benar-benar bodoh!" tangis Sekar pecah.

Wira tersenyum lemah, menyandarkan kepalanya di bahu Sekar.

"Tapi aku belum mati, kan? Dan... lihat, udaranya sudah mulai segar, Huaahhh.. Mmuu-.." jawab Wira yang kemudian mencium kening Sekar dengan senyum lembutnya namun tetap saja terlihat bodoh.

"Dasar bodoh." ucap Sekar mencubit punggung Wira dengan wajah yang kembali merona merah.

"Apa kau baik-baik saja, Sekar?" tanya Wira dengan lemas setelah melihat lengan kekasihnya itu mengeluarkan darah.

Sekar pun langsung menutupi, "Umm.. Ini hanya luka kecil, setelah aku memulihkan energi, pasti akan segera pulih," jawab Sekar dengan lembut menenangkan kekhawatiran Wira.

Mereka berdua pun akhirnya beranjak pergi dari tempat itu dengan Sekar yang menopang tubuh Wira dan membantunya berjalan.

"Ahhh... Kenapa tubuhku sangat lemas sekali, Sekar sepertinya aku butuh penyaluran energi darimu nanti." goda Wira yang kembali mendapat sebuah cubitan dari Sekar.

Menjelang pagi, rakyat Samudera Biru terbangun dengan perasaan yang aneh.

Beban berat yang selama ini menekan pundak mereka mendadak hilang. Mereka merasa lebih bersemangat, lebih hidup.

Wira dan Sekar berdiri di puncak menara tertinggi istana, menatap matahari yang mulai terbit dari ufuk timur.

Kaisar Baruna telah diamankan oleh faksi pendekar yang selama ini memberontak secara rahasia, dan sistem penindasan di benua itu mulai dibongkar satu persatu.

"Wira, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Sekar sambil menggenggam tangan Wira.

"Kita masih punya banyak benua untuk dikunjungi, Sekar," jawab Wira.

"Iblis tadi bilang dia hanyalah bayangan. Artinya, musuh yang sebenarnya jauh lebih kuat dari apa yang kita hadapi hari ini." lanjutnya dengan tatapan yang serius.

Wira kemudian menatap ke arah laut lepas. Tekadnya kini sudah melampaui dendam pribadi.

Ia menyadari bahwa perjalanannya adalah untuk mempersiapkan bumi.

Setiap benua yang ia bebaskan, setiap rakyat yang ia murnikan, akan menjadi pondasi kekuatan bagi bumi saat perang besar yang sesungguhnya pecah nanti.

"Siwa, kau masih sanggup berjalan jauh kan?" tanya Wira dalam pikirannya.

"Hmph! Jangan remehkan aku, Bocah. Tapi kali ini, tolong jangan lupakan aku di kamar lagi saat kau sedang sibuk. Itu sangat menghina kehormatanku sebagai Ruh Pohon Jagat," gerutu Siwa.

Wira dan Sekar tertawa bersama, suara tawa yang jernih di bawah sinar matahari pagi yang baru.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!