Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Malam itu, rintik hujan sisa sore tadi masih menyisakan hawa sejuk yang merayap masuk lewat celah jendela kamar utama. Suara gemericik air dari kamar mandi menandakan Ziva sedang menikmati ritual mandi malamnya setelah seharian beraktivitas.
Baskara, yang baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi luar, masuk ke kamar dengan rambut yang masih agak basah. Ia hanya mengenakan celana pendek hitam dan bertelanjang dada, berniat mencari kaus oblong abu-abu favoritnya yang biasanya ia pakai untuk tidur.
Ia membuka lemari pakaian besar yang kini sudah terbagi dua wilayah secara adil. Sisi kanan yang rapi dengan kemeja dinas dan jas miliknya, serta sisi kiri yang penuh dengan warna-warni pakaian Ziva—mulai dari blazer kerja hingga piyama satin.
"Mana ya kaus abu-abu itu? Perasaan kemarin sudah dicuci," gumam Baskara.
Ia mulai menggeledah tumpukan pakaian di rak bagian tengah. Tangannya merogoh ke bagian paling belakang, tempat yang biasanya menjadi persembunyian pakaian-pakaian yang jarang dipakai. Namun, bukannya menemukan kain katun lembut kausnya, jemari Baskara justru menyentuh sesuatu yang terasa asing. Kainnya licin, tipis, dan memiliki detail renda yang halus.
Dahi Baskara berkerut. Dengan rasa penasaran khas seorang detektif, ia menarik benda itu keluar dari balik tumpukan kaus oblongnya.
Matanya melebar. Tangannya memegang sepotong pakaian tidur tipis berwarna merah marun dengan potongan yang... sangat berani. Itu adalah lingerie sutra dengan aksen brokat di bagian dada dan punggung yang hampir terbuka sepenuhnya. Jelas sekali ini bukan gaya berpakaian Ziva yang biasanya lebih suka piyama tertutup atau kaus kedodoran.
Tepat saat Baskara sedang mematung menatap benda "berbahaya" itu, pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat menyeruak keluar bersamaan dengan sosok Ziva yang muncul dengan handuk melilit rambutnya dan piyama katun bergambar beruang.
"Lagi nyari apa—"
Kalimat Ziva terputus di udara. Matanya melotot tajam, jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik sebelum akhirnya berpacu liar. Pandangannya terkunci pada benda merah marun yang sedang menggantung di tangan besar Baskara.
"Mampus gue..." batin Ziva menjerit. Ia ingin sekali bumi mendadak terbelah dan menelannya bulat-bulat saat itu juga.
Baskara menoleh perlahan, wajah kakunya kini dihiasi ekspresi bingung yang campur aduk dengan sedikit rona merah yang menjalar di telinganya. "Ziva... ini apa? Sejak kapan kamu punya baju... dinas malam seperti ini?"
Ziva refleks berlari kecil, mencoba merebut baju itu dari tangan Baskara, namun suaminya itu justru mengangkatnya lebih tinggi, membuat Ziva harus berjinjit sia-sia.
"Balikin, Kak! Ih, jangan diliat!" seru Ziva dengan wajah yang sudah semerah baju yang dipegang Baskara.
"Kenapa disembunyikan di balik kausku?" tanya Baskara dengan suara rendah yang terdengar sedikit menggoda, sebuah nada yang jarang sekali ia gunakan.
Ziva akhirnya menyerah, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu yang luar biasa. "Itu... itu dibeli satu bulan yang lalu, Kak! Pas di mall itu loh! Mama... Mama lo yang beliin pas kita jalan bareng!"
Baskara tertegun. "Mama yang beliin?"
"Iya!" sahut Ziva dari balik tangannya. "Mama kan ngajak gue ke mall pas lo lagi piket bulan lalu. Terus pas lewat toko pakaian dalam, Mama narik gue masuk. Katanya buat 'persiapan' biar hubungan kita makin harmonis. Gue udah nolak, sumpah! Tapi lo tau kan nyokap lo gimana? Kalau nggak dituruti bisa ngambek seminggu!"
Baskara membayangkan Mamanya yang memang terkenal sangat ingin mereka segera memiliki momongan. Ia bisa membayangkan betapa malunya Ziva saat itu dipaksa membeli baju seperti ini.
"Terus kenapa nggak pernah dipakai? Malah ditaruh di tumpukan paling belakang?" tanya Baskara lagi. Kali ini ia menurunkan tangannya, namun tetap memegang baju itu.
Ziva mengintip dari sela jarinya, bibirnya mengerucut sebal. "Ya kali gue pake, Kak! Gue kan belum siap mental! Gue takut lo malah ketawa atau malah lari ketakutan liat gue pake ginian. Makanya gue umpetin di situ biar lo nggak nemu, eh malah lo nemu pas nyari kaus!"
Baskara meletakkan baju tipis itu di atas tempat tidur. Ia melangkah mendekati Ziva, membuat gadis itu mundur selangkah hingga punggungnya menabrak pintu kamar mandi yang tertutup. Baskara meletakkan kedua tangannya di pintu, mengurung Ziva dalam jarak yang sangat dekat.
Aroma sabun lavender dari tubuh Ziva menyeruak, bercampur dengan aroma maskulin Baskara. Suasana kamar mendadak menjadi sangat panas, mengalahkan suhu AC yang sedang menyala.
"Aku nggak akan ketawa, Ziva," bisik Baskara tepat di depan wajah Ziva. Napasnya terasa hangat di kulit pipi Ziva. "Dan aku nggak akan lari ketakutan. Justru... mungkin aku yang akan kesulitan buat kontrol diri kalau kamu beneran pake itu."
Ziva menelan ludah dengan susah payah. Matanya menatap dada bidang Baskara yang tak tertutup kaus, lalu beralih menatap mata hitam suaminya yang tampak berkilat penuh arti. "K-Kak... jangan mulai deh. Tadi katanya mau nyari kaus kan? Tuh, kausnya kayaknya nyelip di laci bawah, bukan di situ."
Baskara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat "berbahaya" bagi kesehatan jantung Ziva. Ia tidak beranjak, justru semakin mendekatkan wajahnya. "Kausnya sudah nggak penting sekarang. Aku lebih tertarik sama rahasia-rahasia lain yang kamu sembunyiin di lemari itu."
"Kak Baskara! Udah ah, sana pake baju! Nanti lo masuk angin!" Ziva mendorong pelan dada Baskara, namun pria itu justru menangkap tangan Ziva dan menggenggamnya erat.
"Ziva, makasih ya."
"Buat apa?"
"Buat usahanya. Meskipun belum berani pake, tapi kamu sudah mau simpen baju itu. Itu artinya kamu mulai mikirin masa depan kita, kan?" tanya Baskara lembut.
Ziva terdiam. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Baskara yang begitu dalam. "Gue cuma... gue cuma nggak mau ngecewain Mama aja, Kak."
"Hanya Mama? Nggak ada alasan lain?" pancing Baskara.
Ziva menggigit bibir bawahnya, lalu ia bergumam sangat pelan. "Ya... mungkin dikit buat lo juga. Biar lo nggak liatin foto gue pake baju lemon terus, biar punya koleksi baru... eh, bukan gitu maksudnya!"
Baskara tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar sangat bahagia. Ia akhirnya melepaskan Ziva dan mengambil baju merah marun itu, lalu melipatnya dengan rapi dan memasukkannya kembali ke lemari Ziva, tapi kali ini di tumpukan paling atas.
"Aku tunggu sampai kamu siap memakainya, Zivanya Aurora. Tidak perlu buru-buru. Tapi jangan diumpetin lagi, ya? Aku lebih suka kamu jujur," ucap Baskara sambil akhirnya menemukan kaus abu-abunya yang ternyata memang terselip di balik bantal.
Ziva segera menghambur ke atas tempat tidur dan menenggelamkan wajahnya di bawah selimut, merutuki kejadian paling memalukan dalam hidupnya malam ini. Di bawah selimut, ia menyentuh pipinya yang masih terasa membara.
"Dasar polisi! Instingnya tajam banget kalau urusan nemuin barang bukti!" gerutu Ziva, namun di balik itu, ia merasakan kebahagiaan kecil yang mekar di hatinya. Ternyata, Baskara tidak se-kaku yang ia bayangkan jika menyangkut perasaan mereka berdua.
Malam itu, di kamar utama, rahasia di balik tumpukan kaus telah membuka satu lagi pintu kedekatan di antara mereka. Meski baju merah marun itu masih tersimpan rapi di lemari, benih-benih keberanian Ziva mulai tumbuh, seiring dengan rasa cinta yang semakin kuat di setiap detiknya.