NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Hallen menjatuhkan bola basketnya, napasnya tersengal namun senyum kemenangannya sangat lebar. Ia berjalan mendekati Julian yang terengah-engah dengan wajah pucat karena menahan amarah.

"Kau kalah, Julian." bisik Hallen, suaranya terdengar oleh orang-orang di sekitarnya. "Kapten basket atau bukan, aku sudah membuktikan bahwa kau tidak punya tempat di samping Kenzie. Tepati janjimu, kawan. Jauhi dia."

Hallen sengaja menyenggol bahu Julian saat berjalan melewatinya. Provokasi itu menjadi sumbu terakhir bagi ledakan emosi Julian yang sudah tertahan sejak pagi. Semua rasa frustrasinya atas Elena, Kenzie dan keputusasaannya tumpah seketika.

Julian berbalik dengan cepat. Sebelum Hallen sempat bereaksi, sebuah pukulan keras mendarat di rahang sang kapten basket itu.

BUGH!

Hallen tersungkur ke lantai semen yang keras, kepalanya membentur lantai dengan bunyi yang mengerikan. Kerumunan berteriak histeris. Julian tidak berhenti, ia menarik kerah seragam basket Hallen dan kembali mendaratkan pukulan di perutnya.

"Kau pikir kau siapa?!" raung Julian. Kekuatannya hampir tak terkendali. "Kau hanya anak kecil yang bermain dengan mainan yang tidak kau pahami!"

Julian kembali melayangkan satu pukulan ke wajah Hallen. Membuat satu memar yang langsung terpampang jelas di pelipis kanan dekat matanya.

"Julian, hentikan!" suara Kenzie menggelegar, dingin dan sarat akan kemarahan.

Julian berhenti dengan tangan yang masih mengepal di depan wajah Hallen yang sudah berdarah. Ia menoleh dan melihat Kenzie menatapnya dengan pandangan paling jijik yang pernah ia lihat. Di sisi lain, ia melihat Lyana berdiri di tribun, tersenyum puas sambil melipat tangan. Lyana telah mendapatkan apa yang ia mau, kehancuran citra Julian.

Hallen meringis kesakitan, namun ia tertawa pelan sambil menyeka darah di bibirnya. "Pukullah lagi, Julian. Itu tidak akan mengubah kenyataan. Kau kalah. Kau harus menepati janjimu sebagai laki-laki."

Julian melepaskan cengkeramannya dengan hempasan keras, membuat kepala Hallen kembali membentur ke lantai semen. Ia berdiri dengan tubuh bergetar karena emosi yang tertahan. Julian menatap tangannya yang memerah, lalu menatap Kenzie yang kini sudah berjalan mendekati Hallen untuk membantunya berdiri, bukan karena Kenzie peduli pada Hallen, tapi karena ia ingin menjauh dari Julian.

"Kenzie, aku—" Julian mencoba bersuara.

"Jangan katakan apa pun." potong Kenzie dingin. "Tepati janjimu pada Hallen. Jauhi aku. Aku tidak butuh pelindung yang bertindak seperti binatang buas."

Kenzie membantu Hallen berjalan keluar dari lapangan. Julian berdiri sendirian di tengah lantai semen yang luas itu, di bawah tatapan menghakimi puluhan siswa. Julian memenangkan perkelahian, tapi ia kehilangan segalanya. Di pojok ruangan, Lyana bergumam pelan, "Satu langkah lagi menuju kegelapan, Ayah."

Hari itu, Arcandale kembali sunyi, namun bagi Julian, kesunyian itu adalah penjara yang ia bangun sendiri.

...•••...

Malam menyelimuti London dengan keheningan yang menyesakkan, seolah-olah langit pun enggan bersaksi atas kehancuran harga diri yang terjadi di lapangan basket sore tadi. Di kediaman Julian yang megah namun terasa dingin, Julian mengurung diri di ruang kerjanya. Ruangan itu hanya diterangi oleh sebatang lilin yang mulai meleleh dan cahaya rembulan yang menembus jendela kaca patri.

Julian duduk di kursi kayu tua, menatap sebuah bingkai di atas meja. Di sana, Elena muda tersenyum tulus, mengenakan gaun putih musim panas saat mereka pertama kali memutuskan untuk menua bersama di kota ini. Julian menyentuh permukaan kaca itu dengan jemarinya yang masih lebam dan memerah bekas memukuli Hallen.

Rasa sakit di buku jarinya tidak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. Ia telah kalah. Seorang Aethern yang telah melewati revolusi dan perang besar, dikalahkan oleh seorang remaja manusia dalam permainan bola yang remeh. Namun, Julian tahu bukan Hallen yang mengalahkannya, melainkan bayang-bayang Kenzie yang terus menghantuinya, membuat tangannya gemetar dan fokusnya terpecah.

"Aku sudah berjanji." bisik Julian, suaranya parau dan pecah di kesunyian ruangan. "Aku harus menjauhinya."

Namun, semakin ia mencoba merapalkan janji itu, semakin kuat tarikan magnetis dari sosok Kenzie merobek jiwanya. Rasa bersalahnya pada Elena yang sedang terbaring lemah di kamar sebelah kini bercampur aduk dengan obsesi yang mulai gelap. Julian merasa seolah-olah Kenzie adalah satu-satunya udara yang bisa ia hirup, namun ia baru saja menyegel tangki oksigennya sendiri dan menyerahkan kuncinya pada Hallen.

Julian bangkit dengan kasar, menyapu beberapa buku dari mejanya hingga jatuh berserakan. Pikirannya mulai liar. Ia membayangkan Hallen menyentuh tangan Kenzie, membayangkan laki-laki remaja itu menatap mata jernih Kenzie dengan binar kemenangan. Setiap imajinasi itu terasa seperti siraman bensin pada api kecemburuannya.

"Dia tidak tahu apa-apa tentang Kenzie." geram Julian. Matanya yang biru kini berkilat dengan cahaya yang tidak alami, tanda bahwa sisi primordialnya sebagai makhluk abadi mulai mengambil alih akal sehatnya. "Dia hanya anak kecil yang bermain dengan api."

Di balik pintu yang tertutup rapat, Julian tidak menyadari bahwa rasa sayangnya yang tulus mulai bermutasi menjadi sesuatu yang lebih berbahaya, keinginan untuk memiliki sepenuhnya, tak peduli berapa banyak janji yang harus ia langgar.

...•••...

Sementara itu, di sebuah kedai kopi yang masih buka di pusat kota, Hallen duduk dengan kompres es menempel di rahangnya. Wajahnya babak belur, sudut bibirnya robek dan matanya sedikit membengkak, namun senyumnya tidak hilang. Hallen merasa seperti baru saja memenangkan lotre paling berharga di dunia.

Kenzie duduk di depannya, menatap Hallen dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada kemarahan di matanya, tapi juga rasa tidak enak yang mendalam karena dialah penyebab semua keributan ini.

"Kau seharusnya tidak perlu melakukan taruhan konyol itu, Hallen." ucap Kenzie dingin. "Aku bukan barang yang bisa kau menangkan atau kau hilangkan."

Hallen menurunkan kompresnya, meringis sesaat. "Aku tahu, Kenzie. Maafkan aku. Tapi aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa melihat Julian terus-menerus mengintimidasi setiap orang yang mencoba mendekatimu. Dia bersikap seolah dia punya hak istimewa atas dirimu dan aku hanya ingin membuktikan bahwa dia tidak sekuat yang dia bayangkan."

Kenzie terdiam. Ia teringat bagaimana lincahnya Hallen di lapangan tadi. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Hallen memang jago bermain basket, tapi kecepatan yang ia tunjukkan di poin-poin terakhir tadi terasa berlebihan. Hampir tidak manusiawi.

"Hallen." Kenzie menatap mata laki-laki itu dengan tajam. "Bagaimana kau bisa melakukan tembakan terakhir tadi? Gerakanmu begitu cepat, bahkan untuk ukuran atlet nasional pun itu tidak masuk akal."

Hallen tampak sedikit kebingungan, pasalnya dirinya sendiri pun tidak menyangka akan selincah itu. "Aku hanya sangat termotivasi, Kenzie. Adrenalin ku memuncak. Kau tahu sendiri taruhannya sangat besar."

Kenzie menyipitkan mata. Ia tidak merasakan aura Aethern pada Hallen, tapi ia merasakan sisa-sisa aroma mawar hitam yang sangat tipis pada seragam basket Hallen, aroma yang identik dengan Lyana. Kenzie mulai curiga bahwa Lyana telah melakukan sesuatu pada Hallen, sebuah bantuan gelap yang mungkin tidak disadari oleh Hallen sendiri.

Hallen tiba-tiba meraih tangan Kenzie di atas meja. Tangannya hangat, bergetar karena antusiasme. "Kenzie, Julian sudah berjanji. Dia tidak akan mengganggumu lagi. Sekarang, bisakah kau memberiku kesempatan? Sabtu malam ini, ada festival musim gugur di Sungai Mathes. Maukah kau pergi bersamaku? Bukan sebagai taruhan, tapi karena aku benar-benar ingin mengenalmu lebih jauh."

Kenzie ingin menolak. Ia ingin pulang dan mengunci diri di apartemennya, merenungi mimpi tentang pedang itu. Namun, ia melihat luka-luka di wajah Hallen, luka yang didapatkan karena membelanya dari amukan Julian yang egois. Ia juga merasa perlu menjauh dari Julian demi kebaikan pria itu dan Elena.

"Baiklah." jawab Kenzie pelan. "Aku akan pergi."

Hallen bersorak pelan, wajahnya yang lebam terlihat berseri-seri. Ia tidak tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil sekarang adalah bagian dari jaring laba-laba yang ditenun oleh Lyana.

Di luar kedai kopi, di balik bayangan pohon besar, Lyana berdiri diam. Ia memperhatikan interaksi antara Hallen dan Kenzie melalui jendela kaca. Senyumnya tampak mengerikan di bawah cahaya lampu jalan yang remang-remang.

"Bagus, Hallen." bisik Lyana pada angin malam. "Teruslah berada di dekatnya. Jadilah tameng yang memisahkan mereka berdua. Semakin jauh Julian dari Kenzie, semakin rapuh pertahanannya sebagai Pelindung."

Lyana mengeluarkan ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat untuk seseorang yang ia panggil sebagai 'Mama'.

Pion sudah bergerak, Ma. Pertahanan Julian sudah hancur. Kenzie mulai memberi celah pada manusia itu. Bisa dilanjutkan ke misi selanjutnya.

Lyana tahu bahwa ramuan yang ia teteskan ke dalam botol minum Hallen tadi siang telah bekerja sempurna. Itu bukan sihir besar, hanya sedikit peningkat impuls saraf yang meminjam energi dari emosi penggunanya. Hallen memenangkan pertandingan itu dengan mengorbankan sedikit sisa vitalitasnya dan Julian kalah karena ia terlalu sombong untuk menyadari bahwa ia sedang bertarung melawan kecurangan halus.

...•••...

Keesokan paginya di SMA Arcandale, suasana terasa sangat berbeda. Julian benar-benar menepati janjinya, namun dengan cara yang sangat ekstrem. Ia berjalan melewati Kenzie di koridor tanpa melirik sedikit pun, seolah-olah Kenzie adalah debu yang tidak terlihat. Julian bahkan memindahkan tempat duduknya, memilih untuk duduk di barisan paling depan, memunggungi seluruh kelas.

Kenzie merasa dadanya sesak. Bukankah ini yang ia inginkan? Kebebasan dari Julian? Tapi melihat punggung pria itu yang kaku dan aura kesedihan yang terpancar darinya justru membuat Kenzie merasa lebih buruk daripada saat Julian mengejarnya.

Sementara itu, Hallen berjalan di samping Kenzie dengan bangga, meskipun perban masih menempel di wajahnya. Hallen terus mengajak Kenzie bicara, bercerita tentang rencana mereka untuk festival nanti, seolah-olah ia sedang memproklamasikan kemenangannya kepada seluruh sekolah.

Di kejauhan, Julian mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia mendengar tawa Hallen, juga mendengar suara lembut Kenzie yang menjawab pendek. Obsesi itu mulai menggerogoti nuraninya.

Dia tidak pantas untukmu, Kenzie. Dia hanya manusia yang akan mati dalam sekejap mata. Hanya aku yang bisa menjagamu. Hanya aku yang tahu rasa sakitmu, pikir Julian dalam kegelapan batinnya.

Perang batin Julian telah mencapai titik kritis. Janjinya pada Hallen dan kesetiaannya pada Elena kini berhadapan langsung dengan insting seorang abadi yang menolak untuk kehilangan belahan jiwanya lagi.

Di sudut sekolah yang tersembunyi, Lyana terus mengamati, menunggu saat yang tepat untuk memicu ledakan yang akan menghancurkan keluarga Klein selamanya. Dan mendapatkan darah murni dari Kenzie.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!