seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2: Sujud yang Bergetar
Lampu neon di gerbong KRL berkedip-kedip, seirama dengan denyut di pelipis Shafira. Hujan deras mengguyur Jakarta sore itu, menciptakan tirai air yang memburamkan pemandangan di balik jendela kereta.
Shafira memeluk tas kerjanya erat-erat, seolah di dalamnya terdapat harta karun yang bisa menyelamatkannya dari badai yang baru saja ditiupkan oleh Dave Mahesa.
Pikiran Shafira melayang kembali ke ruang kerja CEO yang dingin itu. Kata-kata Dave “tenda”, “kuno”, “kedok agama” terasa seperti sembilu yang menyayat batinnya. Ia merasa terhina bukan karena kemiskinannya, tapi karena keyakinannya diinjak-injak oleh pria yang seharusnya menjadi pemimpinnya.
"Stasiun Tebet, pintu sebelah kiri akan dibuka," suara anunsier kereta membuyarkan lamunannya.
Shafira turun dan menerjang gerimis yang mulai mereda. Ia berjalan menyusuri gang sempit menuju rumah petak sederhananya.
Di sana, di balik pintu kayu yang catnya sudah mengelupas, adalah dunianya yang sebenarnya. Dunia di mana ia tidak perlu membuktikan apa pun pada siapa pun kecuali pada Tuhannya.
"Assalamualaikum," ucap Shafira saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, Nduk. Kok telat? Hujan ya di jalan?" Bu Aminah, ibunya, muncul dari arah dapur dengan celemek yang masih terikat.
Wajahnya yang mulai berkerut nampak teduh, sebuah oase bagi Shafira yang baru saja melewati padang pasir yang gersang.
"Iya, Bu. Tadi ada rapat sebentar dengan pimpinan baru," jawab Shafira sambil mencium punggung tangan ibunya. Ia berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar.
"Oh, anak Pak Devan yang baru pulang dari luar negeri itu ya? Tadi Bapakmu cerita sedikit sebelum berangkat lagi ke masjid. Katanya Tuan Muda Dave sudah mulai masuk kantor."
Mendengar nama itu disebut, jantung Shafira mencelos. "Bapak sudah pulang, Bu?"
"Sudah, tapi langsung mandi dan ke masjid. Katanya badannya agak pegal karena tadi pagi Tuan Muda minta taman belakang dirombak total. Bapakmu sampai harus angkut-angkut pot besar sendiri."
Hati Shafira terasa diremas. Ayahnya, Pak Rahman, sudah berusia hampir 60 tahun. Di usia senja itu, ia masih harus memeras keringat di rumah mewah pria yang tadi siang menghina putrinya dengan begitu angkuh.
Ironi ini terasa begitu pahit. Pria yang ia layani di kantor adalah orang yang sama yang memberikan perintah pada ayahnya dengan nada yang mungkin tak kalah dinginnya.
"Kak! Lihat nih, nilai simulasi try-out Arfan naik lagi!" Arfan, adiknya, muncul dari kamar dengan lembaran kertas di tangan. Matanya berbinar penuh harap.
"Kalau begini terus, Arfan yakin bisa tembus Kedokteran UI lewat jalur prestasi, Kak. Tapi... biayanya nanti gimana ya, Kak?"
Pertanyaan Arfan adalah palu yang menghantam pertahanan terakhir Shafira. Ia menatap wajah adiknya yang penuh semangat.
Arfan adalah harapan keluarga. Shafira sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa adiknya tidak boleh menjadi buruh kasar seperti ayah mereka. Arfan harus menjadi orang hebat.
"Jangan pikirkan biaya, Fan. Fokus saja belajar. Kakak akan usahakan semuanya," ujar Shafira sambil mengusap kepala adiknya. Ia tersenyum, meski di dalam hatinya ia sedang menangis meraung-raung.
Malam itu, setelah shalat Isya, Shafira bersujud sangat lama. Dalam keheningan malam yang hanya diiringi suara jangkrik, ia menumpahkan segala sesak di dadanya.
"Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui setiap helai rambut yang ku tutup demi mencari ridha-Mu. Namun Engkau juga Maha Tahu betapa keluargaku bergantung pada pekerjaan ini.
Apakah hamba harus menyerah pada kesombongan manusia demi sesuap nasi? Berikanlah hamba jalan keluar yang tidak mengorbankan iman hamba..."
Air matanya membasahi sajadah. Ia teringat ancaman Dave.
Besok pagi, pilihan itu harus diambil besok pagi. Jika ia datang tanpa jilbab, ia akan mengkhianati dirinya sendiri. Jika ia mengundurkan diri, dari mana biaya kuliah Arfan? Dari mana uang obat jantung ibunya?
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Pak Rahman pulang dari masjid. Beliau melihat Shafira masih mengenakan mukena di atas sajadah.
"Nduk, belum tidur?" tanya Pak Rahman lembut sambil duduk di kursi plastik di ruang tamu.
Shafira mendekati ayahnya, duduk di lantai di samping kaki sang ayah. "Pak... kalau Shafira berhenti kerja, Bapak kecewa tidak?"
Pak Rahman terdiam sejenak. Ia mengusap kepalanya yang sudah memutih. "Ada masalah di kantor? Apa Tuan Muda Dave tidak sebaik Pak Devan?"
Shafira menelan ludah. "Dia... dia punya aturan baru, Pak. Aturan yang sulit Shafira jalani."
Pak Rahman menatap mata putrinya dalam-dalam. Sebagai orang yang bertahun-tahun bekerja di keluarga Mahesa, ia tahu betul tabiat Dave yang keras dan arogan sejak kecil, apalagi setelah lama tinggal di London tanpa bimbingan agama yang kuat.
"Nduk," suara Pak Rahman berat namun tenang.
"Bapak ini cuma tukang bersih-bersih. Bapak sering dihina orang, dianggap rendah karena tangan Bapak penuh tanah. Tapi satu hal yang Bapak jaga: Bapak tidak pernah memberi kalian makan dari hasil yang haram, dan Bapak tidak pernah membiarkan kalian kehilangan harga diri di hadapan Allah."
Beliau menghela napas panjang. "Kalau aturan itu memaksa kamu menjauh dari Allah, lepaskan pekerjaan itu. Jangan takut lapar. Allah yang memberi rezeki, bukan Tuan Muda Dave. Bapak masih kuat mencangkul, masih bisa cari tambahan dengan jadi kuli panggul di pasar kalau perlu."
Mendengar itu, tangis Shafira pecah. Ia memeluk lutut ayahnya. Keikhlasan sang ayah justru membuat bebannya terasa semakin berat. Ia tidak tega melihat ayahnya harus bekerja lebih keras lagi di usia senja.
Di sisi lain kota, di sebuah penthouse mewah di jantung Jakarta, Dave Mahesa sedang menyesap wiski non-alkoholnya sambil menatap pemandangan kota dari dinding kaca.
Di meja kerjanya, terletak berkas profil karyawan divisi keuangan. Foto Shafira Azzahra terpampang di sana.
Dave memperhatikan foto itu. Gadis itu punya mata yang aneh, pikir Dave. Mata yang seolah-olah memiliki kedamaian yang tidak pernah Dave miliki, meskipun Dave punya segalanya.
"Kita lihat besok, Shafira," gumam Dave sinis.
"Seberapa kuat prinsipmu bertahan di hadapan kebutuhan hidup. Di dunia ini, semua orang punya harga. Kamu hanya belum menyebutkan harganya saja."
Bagi Dave, jilbab itu hanyalah simbol ketertinggalan. Ia ingin membuktikan bahwa di bawah kepemimpinannya, tidak ada ruang bagi 'hal-hal sentimental' seperti itu.
Ia ingin mematahkan semangat Shafira, karena entah mengapa, ketenangan gadis itu membuatnya merasa terganggu seolah-olah ketenangan itu adalah cermin yang menunjukkan betapa hampa hidup Dave selama ini.
Malam semakin larut. Shafira kembali ke kamarnya. Ia membuka lemari, menatap deretan jilbabnya yang tertata rapi. Tangannya gemetar saat menyentuh kain pashmina yang akan ia pakai besok.
Apakah besok akan menjadi hari terakhirnya sebagai karyawan Mahesa Group? Ataukah ia akan menjadi pecundang yang menggadaikan mahkotanya demi angka-angka di rekening bank?
Shafira mematikan lampu. Di kegelapan, ia berbisik lirih, "Hasbunallah wanikmal wakil. Cukuplah Allah bagiku..."
.