Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Bilah gunting baja yang berat itu terasa dingin saat bersentuhan dengan permukaan meja pola yang dilapisi plastik grid hijau. Felysha Anindhita menekan telapak tangan kirinya kuat-kuat pada hamparan kain sutra biru tua—midnight blue—yang permukaannya tampak berkilau setiap kali terpapar cahaya lampu neon studio. Ia tidak segera menggerakkan guntingnya. Matanya tertuju pada garis kapur tipis yang melengkung mengikuti pola lingkar lengan gaun, memastikan tidak ada serat kain yang melipat di bawah tekanan jemarinya.
Felysha menarik napas panjang, menahannya selama beberapa detik untuk menstabilkan detak jantungnya yang mendadak terasa lebih kencang saat pintu studio di ujung lorong terbanting menutup. Suara itu hanya suara angin atau mungkin mahasiswa lain yang terburu-buru, namun pundak Felysha secara otomatis naik menegang. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan denyut di pangkal lehernya—tepat di balik plester transparan yang tersembunyi di bawah lilitan syal wol tipisnya.
Gunting mulai bergerak. Krek. Krek. Krek.
Bunyi logam yang membelah serat sutra itu terdengar mantap, namun Felysha harus berkonsentrasi penuh agar ujung guntingnya tidak melenceng. Ia menunduk cukup rendah sampai beberapa helai rambutnya yang lolos dari ikatan menjuntai menyentuh permukaan meja. Setiap jengkal kain yang terpotong adalah kemajuan kecil, namun pikirannya seolah terbagi antara garis kapur di depannya dan sisa-sisa ingatan tentang tangan kasar yang merenggut tasnya beberapa malam lalu.
Ia meletakkan gunting saat potongan panel depan itu selesai. Felysha meraba tepian kain yang baru dipotong, memastikan tidak ada bagian yang terburai. Tangannya kemudian bergerak otomatis menuju saku mantel yang tersampir di kursi tinggi di sampingnya. Ia menyentuh permukaan saputangan putih milik Mahesa yang sudah ia cuci bersih dan ia lipat dengan sangat rapi di sana. Tekstur kain saputangan itu terasa berbeda dengan sutra di mejanya—lebih kasar, lebih jujur, dan entah mengapa, memberikan rasa aman yang ganjil.
"Felysha, kamu sudah mengerjakan bagian dart di pinggang?"
Suara Madame Claire yang berat dan berwibawa muncul di sisi kirinya. Felysha tersentak, bahunya bergidik pelan sebelum ia berbalik menghadap instruktur senior tersebut. Madame Claire mengenakan kacamata yang digantung dengan rantai emas, matanya menyapu tumpukan pola kertas di meja Felysha sebelum berhenti pada manekin kayu yang masih setengah terbungkus kain muslin.
Felysha menelan ludah yang terasa sedikit pahit. "Saya baru saja menyelesaikan potongan utama kain sutranya, Madame. Setelah ini saya akan mulai menyematkan jarum untuk bagian pinggang."
Madame Claire melangkah mendekat, jemarinya yang keriput namun lincah meraba permukaan sutra biru milik Felysha. "Warna yang sulit. Midnight blue butuh pencahayaan yang sempurna dan jahitan yang sangat bersih. Jika benangmu sedikit saja tidak rata, cahaya di atas catwalk nanti akan memperlihatkan cacatnya." Madame Claire berhenti sejenak, matanya yang tajam kini menatap lurus ke arah syal wol yang melilit leher Felysha. "Kenapa kamu memakai syal di dalam ruangan yang suhu pemanasnya sudah diatur konstan? Kamu sedang sakit?"
Felysha secara refleks menaikkan tangan kanannya, merapatkan lilitan syal itu hingga menutupi dagunya. "Hanya sedikit kedinginan, Madame. Musim gugur kali ini terasa berbeda bagi saya."
"Kedinginan atau ketakutan?" Madame Claire berujar datar, namun pertanyaannya membuat Felysha membeku. "Seorang desainer tidak boleh menyembunyikan dirinya sendiri di balik pakaiannya. Jika kamu merasa tertekan, gaunmu akan terlihat seperti sebuah sangkar, bukan sebuah karya seni. Perbaiki posturmu, Felysha. Bahumu terlalu tegang."
Setelah Madame Claire berlalu menuju meja Marc, Felysha kembali menatap manekinnya. Ia meraih botol jarum pentul yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Satu per satu jarum ia cabut, lalu ia menusukkannya ke permukaan kain muslin percobaan, mencoba menyesuaikan volume di bagian dada. Setiap bunyi klik saat jarum menembus permukaan manekin terdengar seperti detak jam yang mengejarnya.
Ponsel di saku mantelnya bergetar panjang. Felysha mengabaikannya. Getaran itu berhenti, namun hanya berselang sepuluh detik sebelum getaran kedua muncul—lebih lama, lebih menuntut. Ia tahu itu bukan Sophie atau teman kampusnya. Itu adalah alarm rutin dari Jakarta.
Felysha meletakkan jarumnya, berjalan menuju kursinya, dan mengambil ponsel itu dengan gerakan lemas. Layarnya menyala terang, menampilkan lima panggilan tak terjawab dan rentetan pesan WhatsApp.
Julian: Kenapa panggilanku tidak diangkat? Aku baru saja bicara dengan Andre. Dia bilang kamu belum keluar dari studio sejak jam delapan pagi.
Julian: Felysha? Aku tidak suka menunggu.
Julian: Kirimkan foto dirimu sekarang. Aku ingin memastikan kamu tidak pucat.
Felysha menarik napas panjang, menahannya di dada sampai terasa sedikit sakit, lalu mengembuskannya perlahan. Ia berdiri di depan cermin besar studio yang dipenuhi coretan kapur. Ia menarik sedikit syalnya agar tidak terlihat terlalu mencurigakan, memaksakan senyum tipis yang tampak kaku di depan kamera ponsel, lalu menekan tombol kirim.
Felysha: Aku sedang di tengah asistensi dengan Madame Claire, Julian. Aku baik-baik saja. Aku akan makan siang setelah bagian ini selesai.
Ia segera mematikan layar ponselnya sebelum balasan lain muncul. Ia tidak ingin melihat layar itu lagi. Felysha kembali ke manekinnya, namun fokusnya sudah buyar. Ia mencoba menusukkan jarum pentul, namun jarum itu justru menusuk ujung ibu jari kirinya.
"Aw..."
Setetes darah merah segar muncul di permukaan kulitnya yang pucat. Felysha segera menarik tangannya, menekan luka kecil itu dengan ujung jempolnya agar darahnya tidak mengenai kain sutra biru mahalnya. Rasa perih itu menjalar, namun ia justru merasa sedikit lega. Rasa sakit fisik ini jauh lebih mudah dipahami daripada rasa sesak yang diberikan oleh pesan-pesan Julian.
Ia berjalan menuju wastafel di sudut studio, membiarkan air dingin mengucur membasahi jarinya yang terluka. Ia menatap pantulan dirinya di cermin wastafel yang berkerak. Wajahnya tampak lebih tirus, dan matanya terlihat kehilangan sedikit binar yang dulu ia bawa saat pertama kali menginjakkan kaki di Paris. Ia meraba plester di lehernya lagi melalui balik syal. Goresan tali tas itu bukan hanya luka, tapi pengingat bahwa ia baru saja gagal menjaga "keamanan" yang selalu Julian banggakan.
"Kamu mau ke kafe bawah?" Sophie menghampirinya sambil merapikan tas bahunya. "Marc bilang ada menu soup a l'oignon yang baru keluar. Kamu butuh sesuatu yang hangat untuk menghidupkan kembali warna wajahmu, Fely."
Felysha mematikan keran air, lalu mengeringkan tangannya dengan tisu kertas. "Andre sudah menunggu di gerbang, Sophie. Dia membawakan makanan dari apartemen."
Sophie mendesah, suaranya terdengar antara maklum dan jengkel. "Julian lagi? Kamu benar-benar tidak punya waktu untuk sekadar makan bersama kami? Kita di Paris, Fely. Bukan di kamp militer."
"Hanya untuk minggu ini, Sophie. Tugas ini benar-benar menyita pikiranku," dalih Felysha pelan.
Ia berjalan keluar studio, melewati lorong-lorong kampus yang dipenuhi manekin-manekin tanpa kepala yang mengenakan rancangan-rancangan berani. Langkah kakinya di atas lantai marmer terdengar ritmis, menciptakan gema yang seolah mengejek kesunyiannya sendiri. Saat ia mendorong pintu besar gedung kampus, udara dingin musim gugur Paris langsung menyergap wajahnya, memberikan sensasi segar yang tajam.
Di tepi trotoar, sedan hitam mewah itu sudah terparkir di posisi yang sama seperti kemarin. Andre berdiri tegak di samping pintu belakang, menatap lurus ke depan dengan ekspresi yang sangat profesional. Begitu melihat Felysha mendekat, Andre segera membukakan pintu tanpa suara.
Felysha masuk ke dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma parfum mewah yang steril. Andre menyerahkan sebuah kotak bekal berbahan keramik kepadanya. "Tuan Julian meminta Anda menghabiskan sup ayamnya selagi panas, Nona. Beliau tidak ingin Anda makan makanan sembarangan dari kantin kampus."
Felysha menerima kotak itu, meraba permukaannya yang terasa hangat. Ia tidak membukanya. Ia hanya memangkunya, menatap keluar jendela saat mobil mulai melaju membelah jalanan Paris yang ramai. Ia melihat sekelompok mahasiswa berjalan kaki sambil tertawa, berbagi sepotong baguette panjang yang dibungkus kertas cokelat. Mereka terlihat begitu ringan. Begitu bebas.
Di jari manisnya, cincin berlian itu berkilau tertimpa cahaya matahari yang masuk melalui kaca jendela yang gelap. Berlian itu tampak seperti mata yang sedang mengawasinya. Felysha meraba saku mantelnya lagi, merasakan keberadaan saputangan Mahesa di sana. Di tengah segala kemewahan yang diberikan Julian, selembar kain putih dari orang asing yang ia temui di taman itu terasa seperti satu-satunya oksigen yang tersisa dalam hidupnya yang mulai menyesakkan.
Ia memejamkan mata, membiarkan deru mesin mobil yang halus membawanya kembali ke apartemen, tempat di mana ia akan kembali duduk di depan layar laptop, melaporkan setiap detak hidupnya pada pria yang merasa memiliki dirinya sepenuhnya. Di tengah kemegahan Paris, Felysha Anindhita menyadari bahwa ia bukan sedang mengejar mimpi, melainkan sedang menjahit sendiri jeruji penjaranya, helai demi helai benang.
Kesunyian di dalam mobil itu bertahan lama. Andre tidak bertanya apakah harinya menyenangkan, dan Felysha pun tidak merasa butuh untuk bercerita. Ia hanya menatap plester di jarinya yang tertutup darah kering, sebuah tanda kecil bahwa dunia nyata—dengan segala rasa sakit dan orang-orang asing di taman—jauh lebih bisa ia rasakan daripada kontrol digital yang mengepungnya setiap detik.
"Nona, kita akan sampai dalam sepuluh menit," suara Andre memecah lamunannya.
"Terima kasih, Andre," jawab Felysha tanpa menoleh.
Ia merapatkan syalnya, menyembunyikan luka di lehernya, menyembunyikan rasa takutnya, dan menyembunyikan ingatan tentang seorang pria bernama Mahesa yang secara tidak sadar kini menjadi satu-satunya alasan mengapa ia masih berani untuk kembali menapak di trotoar Paris besok pagi.