Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.
Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.
Atau begitulah yang ia kira.
Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ASPAL YANG MENUNGGU
CHAPTER 3.
Ada hari-hari ketika Julian merasa dunia barunya terlalu lunak.
Bukan dalam arti membosankan, tapi terlalu memaafkan. Jika ia terlambat bangun, tidak ada konsekuensi. Jika ia berhenti di tengah latihan, tidak ada yang memaksa. Tidak ada rasa terdesak seperti dulu—tidak ada suara ibu di kepalanya yang mengingatkan tentang uang sewa, tidak ada kalender balapan yang menentukan apakah ia masih layak dipertahankan.
Semua ini… pilihan.
Dan justru karena itu, Julian mulai mendorong dirinya sedikit lebih jauh.
Latihannya berubah. Tidak lagi sekadar menggerakkan otot, tapi mengajaknya bekerja. Kardio lebih panjang. Core training lebih berat. Keseimbangan. Fleksibilitas. Ia menutup mata saat berdiri di satu kaki, mencoba merasakan pusat gravitasi tubuh barunya—di mana ia goyah, di mana ia kuat.
Tubuh ini belajar cepat.
Bukan karena bakat, melainkan karena jiwa di dalamnya tahu persis apa yang ia minta.
Richard memperhatikan perubahan itu tanpa banyak komentar.
Suatu pagi, saat Julian bersiap berangkat ke kampus, ayahnya berdiri di ruang makan dengan secangkir kopi yang sudah dingin.
“Kau ke mana sore ini?” tanyanya, seolah itu pertanyaan biasa.
Julian berhenti sejenak. Ia tidak berbohong, tapi juga tidak terburu-buru.
“Aku mau ke Bologna,” jawabnya akhirnya. “Ke fasilitas Ducati.”
Richard mengangkat alis. Tidak terkejut. Tidak menolak.
“Hanya melihat,” lanjut Julian. “Aku tidak akan turun lintasan.”
Richard menatapnya lama. Tatapan seorang ayah, tapi juga seorang pria yang terbiasa membaca niat di balik kata.
“Aku tahu,” katanya singkat.
Tidak ada izin resmi. Tidak ada larangan. Hanya satu kalimat yang cukup untuk membuka pintu.
Perjalanan ke fasilitas Ducati terasa berbeda dari perjalanan ke kampus.
Mobil masih sama. Sopir masih tenang. Tapi di dada Julian, ada sesuatu yang bergerak—bukan gugup, bukan takut. Lebih seperti… ingatan yang berjalan mendahului dirinya.
Ketika ia turun dari mobil, bau itu langsung menyambutnya.
Aspal. Karet. Oli.
Julian berhenti sesaat. Menarik napas.
Tubuhnya bereaksi lebih dulu. Bahunya mengendur. Pandangannya menyempit, fokus ke detail-detail kecil yang tidak disadari orang lain—tekstur lintasan, arah angin, bayangan yang jatuh di tikungan.
Ia tidak menyentuh motor mana pun hari itu.
Ia hanya berjalan.
Mengamati pembalap-pembalap muda yang sedang latihan. Cara mereka masuk tikungan. Cara mereka membuka gas terlalu cepat. Cara beberapa dari mereka terlalu berani—dan yang lain terlalu ragu.
“Rookie,” gumam Julian pelan, tanpa nada merendahkan.
Ia pernah berada di sana.
Beberapa mekanik memperhatikannya.
Bukan karena wajahnya dikenal—Julian Ashford jarang muncul di berita. Tapi karena cara ia berdiri. Cara ia menatap lintasan tanpa banyak bergerak.
“Itu anak Ashford?” bisik salah satu dari mereka.
“Yang keluarganya pegang saham?” jawab yang lain.
“Katanya mau ikut program amatir.”
Julian mendengar, tapi tidak menoleh.
Ia tidak datang untuk membuktikan apa pun hari itu.
Ia datang untuk mengingat.
Di satu tikungan panjang, Julian berhenti.
Ia berdiri cukup lama, sampai seorang pria paruh baya mendekat. Jaket Ducati, wajah yang lelah oleh tahun-tahun di paddock.
“Kau melihat sesuatu?” tanyanya, nada netral.
Julian berpikir sejenak. Lalu mengangguk.
“Mereka masuk terlalu cepat,” katanya pelan. “Tapi keluar terlalu lambat.”
Pria itu menoleh ke lintasan. Mengamati. Beberapa detik berlalu.
“Hm,” gumamnya. “Kau pembalap?”
Julian menggeleng. “Belum.”
Jawaban itu jujur.
Pria itu tersenyum tipis. “Kau boleh ikut track walk minggu depan. Tanpa motor.”
Julian menoleh. Kali ini matanya bertemu dengan mata pria itu.
“Terima kasih,” katanya singkat.
Tidak ada euforia. Tidak ada senyum lebar.
Tapi di dalam dadanya, sesuatu mengunci dengan pas.
Malam itu, Julian duduk di tepi ranjang.
Tubuhnya lelah, tapi bukan karena latihan fisik. Lebih karena ia membiarkan terlalu banyak kenangan lewat.
Ia teringat Michael—berdiri di balik pagar sirkuit bertahun-tahun lalu, hanya sebagai penonton, bermimpi terlalu besar untuk seseorang dari latar belakangnya.
Sekarang ia berada di sisi lain pagar.
Dan anehnya, mimpi itu tidak terasa liar lagi.
Ia menutup mata.
Dalam gelap, lintasan muncul jelas di kepalanya. Tikungan demi tikungan. Jarak pengereman. Titik apex. Semua masih ada.
Ia tidak tersenyum.
Ia hanya menghela napas panjang, seperti seseorang yang akhirnya pulang ke tempat yang ia tinggalkan terlalu cepat.
Di ruang kerja, Richard menerima laporan singkat.
Bukan laporan balapan. Bukan data. Hanya catatan kecil dari salah satu kontaknya di Ducati.
“Anakmu tidak banyak bicara. Tapi dia melihat lintasan seperti orang yang sudah lama mengenalnya.”
Richard menutup tablet itu pelan.
Untuk pertama kalinya sejak Julian pingsan berminggu-minggu lalu, Richard merasa satu hal dengan jelas:
Ini bukan fase.
Ini bukan keinginan sesaat.
Dan jika suatu hari Julian meminta restu secara penuh…
ia harus siap dengan jawabannya.
.
.
.
CHAPTER 4.
Lintasan terlihat berbeda ketika dilewati dengan berjalan kaki.
Julian menyadarinya sejak langkah pertama track walk dimulai. Aspal yang kemarin ia lihat dari kejauhan, kini ada tepat di bawah sepatunya. Setiap retakan kecil, perubahan tekstur, dan kemiringan halus terasa jauh lebih jelas. Angin pagi menyapu lintasan dengan lembut—cukup kuat untuk memengaruhi motor, cukup pelan untuk diabaikan oleh pembalap yang ceroboh.
Julian tidak berjalan bersama rombongan.
Ia menjaga jarak beberapa meter, cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk berpikir sendiri. Tangannya sesekali bergerak, seolah memutar gas imajiner, menghitung sesuatu yang hanya ia pahami.
“Di sini licin kalau terlalu dalam,” gumamnya pelan di tikungan kanan panjang.
“Dan keluarannya sempit… tapi bisa dipaksa.”
Seorang mekanik yang berjalan tidak jauh darinya menoleh.
“Dia bicara sendiri?” bisiknya ke rekannya.
“Entahlah,” jawab yang lain. “Tapi aku nggak pernah lihat anak baru lihat lintasan selama itu.”
Setelah track walk selesai, Julian seharusnya pulang.
Itu rencana awalnya.
Namun pria paruh baya yang kemarin mengajaknya—namanya Marco Bellini, koordinator program pembalap amatir Ducati—berdiri di dekat pit, tangannya disilangkan.
“Kau bawa perlengkapan?” tanyanya.
Julian berkedip. “Tidak.”
Marco tersenyum tipis. “Kami punya.”
Itu bukan izin resmi.
Bukan undangan tertulis.
Hanya celah kecil—dan Julian tahu persis bagaimana masuk ke dalamnya.
Ketika ia mengenakan wearpack Ducati untuk pertama kalinya, ada rasa aneh di dadanya.
Bukan nostalgia yang menyakitkan.
Lebih seperti sesuatu yang klik.
Helm ditutup. Dunia menyempit. Suara luar teredam.
Sudah lama, pikirnya.
Tapi tidak sejauh itu.
Motor yang disiapkan bukan mesin terbaik. Bukan spesifikasi balap penuh. Motor latihan—jinak, kata orang.
Julian duduk di atasnya.
Posturnya sedikit salah. Ia menyesuaikan. Mundur setengah senti. Turunkan bahu. Tekuk siku.
Mekanik di sampingnya memperhatikan.
“Dia cepat beradaptasi,” gumamnya.
Marco tidak menjawab. Ia hanya menatap.
Mesin menyala.
Raungannya tidak memekakkan. Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dada Julian bergetar.
Ia tidak langsung melaju.
Gas disentuh pelan. Kopling dilepas dengan presisi. Motor bergerak halus, hampir terlalu halus untuk seseorang yang baru naik lagi setelah lama.
Lap pertama ia habiskan untuk mendengar.
Bukan suara mesin—tapi ban. Aspal. Angin.
Lap kedua, ia mulai menambah ritme.
Bukan cepat.
Tepat.
Dari pit wall, seorang engineer muda—Clara Rossi—menyipitkan mata saat melihat data masuk.
“Aneh,” gumamnya.
“Apa?” tanya mekanik.
“Garis balapnya… bersih. Terlalu bersih.”
Julian masuk tikungan tanpa drama.
Ia tidak memaksa apex. Tidak menekan ban depan berlebihan. Ia membiarkan motor jatuh dengan sendirinya, lalu mengangkatnya kembali dengan gas yang stabil.
Tekniknya sederhana—late apex konservatif, dipadukan dengan throttle control halus. Teknik lama. Teknik veteran.
Bagi pembalap muda, teknik ini dianggap membosankan. Tidak agresif. Tidak spektakuler.
Tapi efektif.
Keluar tikungan, motor Julian selalu lebih stabil.
“Dia keluar lebih cepat dari yang masuk,” kata Clara pelan. “Padahal masuknya biasa saja.”
Marco mengangguk pelan.
“Itu tanda orang yang tahu balapan panjang.”
Lap demi lap, Julian mulai menambah kecepatan.
Bukan karena ingin pamer—tapi karena tubuhnya meminta.
Rem ditekan sedikit lebih dalam. Sudut miring bertambah beberapa derajat. Tapi tidak pernah melewati batas.
Ia tahu persis di mana batas itu berada.
Karena ia pernah melewatinya.
Dan mati karenanya.
Di tikungan terakhir, Julian sedikit mengubah jalur. Lebih sempit. Lebih berani.
Motor tetap patuh.
Pit wall sunyi.
Tidak ada sorak. Tidak ada tepuk tangan.
Hanya keheningan orang-orang yang sedang mencoba memahami apa yang mereka lihat.
Julian masuk pit setelah beberapa lap.
Mesin dimatikan. Helm dilepas.
Keringat mengalir di pelipisnya, tapi napasnya stabil. Tidak terengah. Tidak gemetar.
Marco mendekat. “Kapan terakhir kau naik motor?”
Julian berpikir sejenak.
“Cukup lama,” jawabnya.
Marco menatapnya tajam. “Kau bohong.”
Julian tidak membantah.
Ia hanya berkata, “Aku tidak ingin terburu-buru.”
Untuk sesaat, Marco tertawa kecil.
“Kalau begitu… kau cocok di sini.”
Dari kejauhan, Clara masih menatap data.
Ia tidak melihat anak konglomerat.
Ia melihat sesuatu yang jauh lebih langka.
Seorang pembalap yang tidak perlu membuktikan apa pun.
Dan itu…
jauh lebih berbahaya.