NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 Uang 550 Ribu

Pagi itu aku datang dengan kepala masih berat. Bukan karena kurang tidur, tapi karena ada banyak hal kecil yang numpuk dan belum kelar di pikiranku. Sekolah rame. Suasana beda dari hari biasa. Orang-orang kelihatan lebih sibuk, lebih ribut, lebih cepat emosi. Aku baru naruh tas di bangku waktu Bu Santi manggil namaku dari depan kelas. “Naya, sebentar.” Aku langsung berdiri. Nggak pakai mikir.

Di luar kelas, Bu Santi berdiri sambil pegang map tipis. Mukanya serius, tapi bukan marah. “Kamu pegang uang konsumsi kemarin, kan?” tanyanya.

Aku ngangguk refleks. “Iya, Bu.”

“Totalnya berapa?”Aku berhenti sebentar. Otakku kayak nge-blank. Aku inget aku pegang uang, inget aku pakai, inget aku catat. Tapi angka pastinya… tiba-tiba nggak muncul. “Lima ratus…” aku berhenti. “Lima ratus lima puluh ribu, Bu.”

Bu Santi mengangguk. “Masih ada sisa?”

“Ada, Bu.”

“Berapa?” Di situ jantungku mulai nggak enak. Aku biasa rapi soal catatan. Biasanya. Tapi beberapa hari ini kepalaku penuh, capek, dan jujur aja, aku nggak ngecek ulang se-detail biasanya. “Sebentar ya, Bu,” kataku. “Catatannya ada di tas.” Aku buka tas. Ngobrak-abrik. Buku kecil catatan keuangan ada, tapi kertasnya agak lecek. Aku buka. Mataku nyapu angka-angka. Pengeluaran ini, itu, ini, itu. Tanganku dingin. Angkanya nggak langsung nyambung. Bu Santi nunggu. Nggak ngomel. Tapi diamnya justru bikin dadaku makin sesak. “Ada yang kurang?” tanyanya akhirnya.

“Enggak, Bu. Cuma… aku cek ulang,” jawabku. Suaraku kedengeran lebih pelan dari yang aku mau. Aku hitung ulang di kepala. Aku hitung di kertas. Aku cocokin sama nota yang masih ada. Dan di situ aku sadar, ada satu bagian yang kosong. Bukan karena uangnya ilang. Tapi karena aku lupa nyatet satu transaksi kecil. Dan satu transaksi kecil itu bikin totalnya jadi beda. “Bu,” kataku pelan, “boleh aku cek lagi nanti siang? Biar aku pastiin.” Bu Santi mikir sebentar, lalu mengangguk. “Ya sudah. Jangan lama-lama, ya. Ini perlu laporan.”

“Iya, Bu.” Aku masuk kelas dengan langkah yang nggak enak. Rasanya kayak semua orang ngelihat aku, padahal mungkin enggak. Aku duduk. Tara nengok. “Kamu kenapa?” bisiknya.

Aku geleng. “Nanti.” Pelajaran jalan, tapi aku nggak nyerap apa-apa. Angka lima ratus lima puluh ribu muter terus di kepala. Sisa uang. Nota. Catatan. Aku ngerasa bodoh. Bukan karena salah besar. Tapi karena lengah.

Waktu istirahat, aku keluar kelas. Duduk di tangga samping. Aku buka tas lagi. Keluarkan semua nota. Satu-satu. Snack. Air mineral. Plastik. Es batu. Transport kecil. Aku inget hari itu. Capek. Panas. Aku lari-lari kecil. Aku bayar cepat. Aku simpan nota asal. Aku mikir nanti dicatat rapi. “Nay.”

Aku nengok. Rara berdiri di depan tangga. “Kamu dipanggil Bu Santi?” tanyanya. “Iya,” jawabku singkat. “Soal uang?” Aku diem sebentar. “Iya.”

Rara melipat tangan. “Uangnya aman, kan?” Nada suaranya datar. Tapi ada tekanan kecil di situ. “Aman,” kataku. “Cuma lagi dicocokin.” Rara mengangguk pelan. “Soalnya ini sensitif.” Aku tahu. Aku juga tahu posisi aku. “Iya,” jawabku. Pendek. Rara pergi. Ninggalin aku dengan perasaan makin nggak enak. Aku lanjut ngitung. Aku tulis ulang semua di kertas baru. Pelan-pelan. Biar nggak salah. Hasilnya masih sama. Selisih kecil. Tapi cukup buat bikin aku panik. Aku pegang kepala. Narik napas panjang. Aku tahu aku nggak ngambil. Aku tahu aku nggak pake buat hal aneh. Tapi angka tetap angka. Dan orang jarang peduli sama niat kalau hasilnya beda.

Siang, Bu Santi manggil lagi. Kali ini di ruang guru. Aku masuk. Bu Santi duduk. Ada Faris di situ. Sama Rizal. Jantungku turun. “Kamu sudah hitung ulang?” tanya Bu Santi. “Sudah, Bu,” jawabku. “Ada selisih kecil. Aku lagi cari penyebabnya.”

“Berapa selisihnya?” Aku sebutin. Nggak besar. Tapi cukup. Faris langsung angkat alis. “Kok bisa?” Nada suaranya bikin aku nggak nyaman. Bukan nanya, tapi kayak nuduh. “Aku lagi cek, Ris,” jawabku. “Mungkin ada nota yang belum kecatat.”

“Nota penting loh,” kata Rizal. “Harusnya lengkap.” Aku ngerasa tenggorokanku kering. “Iya. Aku tahu.” Bu Santi angkat tangan kecil. “Tenang dulu. Jangan langsung nyimpulin.” Aku makasih dalam hati, walau rasa paniknya belum turun.

“Uang sekarang di mana?” tanya Bu Santi. “Di aku, Bu.”

“Boleh dibawa?” Aku ngeluarin amplop dari tas. Tanganku agak gemetar. Aku serahin. Bu Santi buka, hitung pelan. “Jumlahnya sesuai sisa yang kamu catat.”

Aku ngangguk. “Iya.” Ruangan hening sebentar. “Naya,” kata Bu Santi akhirnya, “ibu percaya kamu. Tapi ini tetap harus jelas. Coba kamu ingat lagi, ada nggak transaksi yang nggak kamu catat.” Aku mikir keras. Aku pejamkan mata sebentar. “Ada satu,” kataku akhirnya. “Waktu beli es tambahan. Aku buru-buru. Notanya kayaknya kebuang.”

Faris mendecak pelan. “Nah kan.” Dadaku langsung panas. Tapi aku tahan. “Aku nggak ngada-ngada,” kataku. “Aku inget beli itu.” Rizal melirik Faris. “Kalau bener ada, ya wajar selisih.”

“Tapi kan nggak ada buktinya,” jawab Faris cepat. Aku ngerasa kayak berdiri sendirian. Bu Santi narik napas. “Gini. Kita cari dulu kebenarannya. Jangan rame-rame.”

Aku angguk. “Aku siap tanggung jawab, Bu.” Kalimat itu keluar sebelum aku mikir panjang. Dan jujur aja, aku nggak tahu itu keputusan tepat atau enggak. Setelah itu aku keluar ruang guru dengan kepala pusing. Lorong sepi. Suara kelas kedengeran samar.

Aku jalan tanpa tujuan jelas. Aku ngerasa campur aduk. Takut, kesal, capek. Aku bukan marah karena dicurigai. Aku marah karena aku tahu selama ini aku selalu beresin hal-hal yang orang lain nggak mau pegang. Tapi begitu ada satu hal yang nggak rapi, semua mata langsung ke aku. Aku duduk di bangku belakang aula. Sendirian. Aku mikir, kalau posisi dibalik, apa aku bakal sekeras itu ke orang lain? Aku buka ponsel. Chat Tara masuk. Gimana?

Aku balas: Belum kelar.

Nggak lama, dia datang. Duduk di sampingku. “Kamu kelihatan pucat,” katanya.

Aku ketawa kecil. “Kayak mau pingsan ya.”

“Uangnya beneran aman?” Aku nengok ke depan. “Aman. Aku yakin.”

“Terus?”

“Ada selisih kecil. Notanya ilang.” Tara diam. “Terus kamu yang kena?” Aku angguk. Dia mendesah pelan. “Capek ya.” Aku nggak jawab. Karena kalau aku jawab jujur, aku takut suaraku pecah. Sore itu, masalah belum selesai. Tapi satu hal berubah. Cara orang ngelihat aku. Nggak semua. Tapi cukup buat aku ngerasa jarak. Aku pulang dengan langkah berat. Di jalan, aku mikir terus. Uang 550 ribu itu bukan angka besar. Tapi hari itu, rasanya kayak beban paling berat yang pernah aku pegang. Bukan karena uangnya. Tapi karena kepercayaan itu rapuh. Dan sekali goyang, susah balikin ke posisi semula.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!