NovelToon NovelToon
Guru ABK Dikejar 2 Duda

Guru ABK Dikejar 2 Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Ibu Pengganti / Duda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama Pelatihan

Aditi meletakkan tas bahu di sofa yang ada di ruangan Baskara. Ia melepaskan sepatu kanvas slip on-nya.

Ini aja kan yang dicopot? Eh astagfirullah, nakal deh gue, hahaha...

Aditi melipat bibirnya dan menghampiri ke arah Baskara. Ia duduk bersimpuh di ujung matras, jauh dari Baskara yang ada di tengah.

"Diti, kalau jauh-jauhan terapinya gimana bisa dilakuin? Kamu di sini, di samping aku." Baskara tersenyum melihat Aditi yang nampak malu-malu.

Aditi menghampiri Baskara dengan cara berjalan menggunakan lututnya. Harum tubuh Baskara tercium di hidung Aditi, ketika ia duduk di samping sang bos.

"OK Diti, anggep aku anak yang punya fokus atau ketertarikan tinggi sama benda berputar. Kita sebut perilaku kayak gitu, fiksasi.

Fiksasi bisa sama macem-macem. Selain sama benda berputar, bisa juga sama benda bertekstur, benda yang mengeluarkan bunyi spesifik atau benda dengan efek visual. Kayak lampu atau cermin."

Aditi menganggukkan kepalanya. Ia akan menambahkan paparan Baskara dalam catatannya nanti.

"Sekarang gimana caranya kamu bisa instruksiin aku untuk susun donat ini. Sesuai ama yang udah kamu pelajarin tadi."

Baskara terlihat terdiam, termangu. Ia putar salah satu donat terbesar di atas matras.

Sang bos benar-benar menghayati peran. Aditi terkekeh melihatnya.

"Diti, serius ya. Ayo, praktekin hasil belajar tadi." Baskara melirik pada Aditi.

"Oh iya, Mas. Maaf maaf." Aditi menghela napas. "Hai Dek Babas, lagi apa?"

Terdengar suara menahan tawa dari mulut Baskara. Gantian, ia yang tak bisa serius.

"Ah, Mas Bas mah gitu! Katanya serius?!"

"Hahaha... Sori-sori Dit, abis muka kamu lucu." Baskara tertawa lepas.

Aditi mencebikkan bibir. Muji mah cakep kek, cantik gitu. Ini lucu mulu bilangnya. Beneran berasa jadi kayak Dono Warkop gue!

"OK Diti, sori sori. Ayo kita ulang." Baskara menarik napas. Ia kembali terdiam. Matanya terfokus pada donat yang ia putar-putar.

"Hai Dek Babas, ini Kak Diti. Kita main tumpuk donat yuk. Tuh, bagus kan donatnya, tapi berantakan. Yuk kita susun."

Baskara bergeming, masih memutar-mutar donat besar. Aditi berusaha mengingat ilmu yang telah ia serap.

Kalo anaknya nggak denger, kasih physical prompt. Nggak boleh ditoyor ya? Eh, astagfirullah, guru macam apa gue?!

Waduh, ini berarti gue megang tangan Mas Bas dong? Ibuu....

Pelan, Aditi memegang telapak tangan kekar Baskara. Ia arahkan ke tiang susun donat agar dekat dengan tubuh Baskara.

Tangan itu kemudian Aditi arahkan pada donat yang ada di matras. Ia lepaskan tangan Baskara. Takut malah tak mau lepas nanti.

"Pinter Dek Babas. Sekarang pilih mau donat yang mana. Yang Dek Babas pegang aja ya."

Baskara masih bergeming. Kembali Aditi pegang tangan Baskara dan mengarahkannya untuk memasukkan donat berwarna ungu ke tiang susun. Terus seperti itu hingga donat tersisa dua saja yang belum disusun.

Ini si Mas Bas nggak lagi modusin gue kan? Menghayati peran amat.

"Yey, Dek Babas keren, pinter. Selesai juga ya."

Baskara tersenyum. "OK Diti. Kita evaluasi ya. Kamu udah tepat untuk selalu bimbing anak secara fisik buat jalanin instruksi yang kamu kasih.

Reinforcement kamu juga bener. Puji anak jika mereka berhasil jalanin instruksi. Tapi pujian yang terlalu general kayak pinter, keren, kurang kena buat mereka.

Puji secara spesifik. Jadi kalau kayak tadi, bilang pinter karna bisa susun donat. Pokoknya selalu kaitkan dengan konkret instruksinya apa.

Kadang pujian kurang efektif buat mereka. Reinforcementnya bisa kita ganti jadi mainan atau cemilan favorit mereka. Paham Diti?"

"Siap, noted Mas."

"Kamu sekarang ama Suci dulu. Aku ada perlu sebentar. Mau meeting sama temen dulu. Nggak apa-apa kan?" tanya Baskara.

"Aman, Mas."

"Nanti maksi sama aku ya, Diti."

"Duh, Mas. Aku ama yang laen aja ya. Sekalian biar tambah akrab. Aku... nggak enak.

Takut disangka mentang-mentang anak bawaan bos, nggak mau gabung ama yang laen."

Baskara tersenyum. "Besok aja maksi sama yang lainnya. Hari pertama sama aku. Besok aku ada agenda maksi di luar soalnya."

"Hhh, ya udah deh kalo gitu. Aku ke ruangan Kak Suci dulu ya Mas."

Baskara mengangguk. "Ntar balik ke sini lagi ya Dit, nunggu maksi."

"Iya Mas." Aditi berjalan keluar dari ruangan Baskara.

Aditi melangkahkan tungkainya menuju ruangan Suci Saraswati, sang supervisor bagi para terapis. Baskara sempat memperlihatkan ruangan-ruangan yang ada di AIC tadi pagi.

Aditi mengetuk pintu ruangan Suci, setelah memastikan itu benar ruangannya. Tertulis Head of Clinical dengan bentuk tulisan yang menarik, di daun pintu.

"Masuk." Suara Suci mengalun.

Aditi membuka pintu. Ia menganggukkan kepala. "Halo Kak Suci, Mas Bas minta saya ke ruangan Kakak."

"OK, silakan masuk." Aditi masuk dan menutup pintu kembali.

"Ya, tadi Baskara udah kasih tau saya buat dampingin kamu di hari pertama training. Nama kamu... Aditi ya?"

"Iya Kak Suci. Panggil Diti aja, biar nggak kepanjangan."

Aditi memperhatikan Suci. Bos level tiganya ini bagi Aditi, cantik. Rambutnya berwarna hitam bergelombang. Ia ikat ekor kuda. Alisnya tebal, bulu matanya juga tebal.

Bola mata Suci berwarna hitam pekat, seperti boneka. Kulitnya cerah. Hanya saja ada raut tak ramah yang tercetak di wajahnya.

"Saya udah baca CV kamu, dari Baskara. Ternyata kamu nggak punya background apa pun soal ABK ya?"

Aditi mengangguk. Tadi malam memang ia telah mengirim curriculum vitae dirinya via surat elekronik pada Baskara. Ia mengebut mengerjakannya.

"Iya Kak. Tapi saya yakin bisa menjadi bagian dari AIC, dengan potensi yang saya miliki.

Saya akan berupaya yang terbaik, dalam training dan setelah training. Atau dalam bekerja nanti.

Saya tidak akan mengecewakan ekspektasi Mas Baskara sebagai pihak yang telah percaya pada potensi saya."

Suci menganggukkan kepala. "Kamu... apanya Baskara?"

"Saya tetangganya Kak. Kebetulan rumah kami saling berhadapan. Walaupun demikian, saya yakin penilaian Mas Bas pada saya, obyektif.

Beliau mengajak saya bergabung karena yakin pada kemampuan saya." Aditi tersenyum.

"OK, kamu buktiin aja nanti. Saya sih lebih suka pembuktian daripada retorika." Suci menghela napas sambil mengangkat alis.

Ini bahaya nggak sih si Kak Suci? Cakep tapi jutek!

Aditi kembali tersenyum. "Sepakat, Kak."

"OK Diti, tugas pertama dari saya. Kamu buat resume dari salah satu klien kita."

Suci memberikan map bertuliskan Kavi Narayana. Map tersebut berisikan sejarah medis, hasil observasi serta target jangka pendek dan panjang anak tersebut.

"Kira-kira kamu bisa berapa lama ngerjainnya?" tanya Suci.

"Satu jam cukup, Kak?" Aditi bertanya balik.

"OK," jawab Suci.

Aditi langsung mengerjakan tugas yang diberikan oleh Suci. Ia mengerjakannya di tablet yang telah disediakan.

Aditi membaca cepat berkas di hadapannya. Ia berhenti di bagian yang menurutnya penting dan menarik. Aditi mengerahkan kemampuan terbaiknya.

Untung gue udah sarapan. Kalo nggak, semaput dah gue, mikir keras gini, huhuhu...

Suci memandangi Aditi. Penuh telisik. Mempertanyakan kenapa Baskara begitu percaya pada wanita muda di hadapannya ini.

Apakah Aditi memang sepotensial itu? Atau Aditi hanyalah wanita yang sedang diincar oleh Baskara? Untuk menggantikan sosok mantan istrinya.

Satu jam kurang 5 menit Aditi berhasil menyelesaikan tugasnya. Suci membacanya sekilas. Senyum miring tersungging.

"Analisis kamu cukup baik. Tapi memang sifatnya normatif. Wajar, kemampuan teknis kamu minim."

Suci berdiri dan berjalan ke arah rak buku. Ia mengambil dua buku mengenai Individualized Education Program. Ia mengangsurkannya kepada Aditi.

"Senin kamu harus serahin ke saya, resume dua buku ini. Sanggup?" tanya Suci.

"Sanggup Kak." jawab Aditi mantap.

"Kita ketemu lagi setelah makan siang. Silakan, kamu bisa istirahat sekarang," ujar Suci.

Aditi pun pamit dan meninggalkan ruangan Suci. Ia berjalan menuju ruangan Baskara sambil memeluk dua buku dari Suci. Sesuai instruksi sang bos, ia menunggu di ruangan itu.

Alhamdulillah, kelar juga. Walopun sementara, lumayan bisa napas. Jutek banget!

Bawaan gue jadi lapar kalo ketemu sama yang jutek gitu. Basoo, gue butuh basoo!!

Sagara Narayana masuk ke dalam ruangan Baskara. Ia merasa perlu mencuci tangan. Lengket oleh debu karena ia sempat berkeliling di sekitar AIC.

Sagara masuk ke dalam toilet tanpa menutup pintunya. Merasa tak perlu, karena hanya mencuci tangan.

Aditi memasuki ruangan Baskara. Ia duduk di sofa dua dudukan, tempatnya menyimpan tas. Buku-buku yang menjadi pekerjaan rumah, ia letakkan di samping tasnya.

"Aduh kebelet. Pipis ahh..."

Aditi memasuki toilet. Ia langsung menguncinya. Ia melangkah menuju kloset. Ketika ia memutar tubuhnya, bersiap menurunkan roknya, matanya terbelalak.

"Aaaaa, tolooong!"

Sagara tak kalah kaget. Matanya juga membelalak.

1
Tukang Ngunyah
ceritanya menarik buat betah baca
Inna Kurnia: Terima kasih Kak. Semoga cocok sampai tamat ya 🙏🏻
total 1 replies
falea sezi
nyimak moga bagus ampe ending
Inna Kurnia: terima kasih Kakak Falea. semoga cocok sampe tamat yaa 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!