Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJEMPUT ANDREA
Langit di balik dinding kaca raksasa terminal mulai menumpahkan warna jingga pekat. Seakan, seseorang baru saja menumpahkan tinta emas di atas cakrawala. Cahaya matahari sore yang rendah menusuk masuk ke dalam aula keberangkatan, memanjang di atas lantai granit yang dipoles mengilap, menciptakan bayangan-bayangan panjang dari orang-orang yang bergegas.
Di tengah hiruk-pikuk manusia yang berlarian mengejar jadwal, Vhirel justru terduduk di kursi yang berderet panjang. Ia telah berada di posisi yang sama selama lebih dari tiga puluh menit. Punggungnya tegak, namun ada keletihan yang tersirat dari cara bahunya sedikit turun. Ia tidak bergerak, tidak juga menyesap kopi di genggamannya yang kini sudah habis total. Pandangannya terkunci lurus pada pintu otomatis di ujung lorong—gerbang yang terus berdesis terbuka dan tertutup, namun tak kunjung memuntahkan sosok yang ia cari.
Di tengah kebekuan posisinya, sebuah getaran pendek di saku celana jeans yang Vhirel kenakan memecah lamunannya. Getaran itu terasa seperti sengatan listrik kecil yang mengembalikan kesadarannya ke realitas bandara yang bising.
Vhirel menghela napas panjang, sebuah embusan yang sarat akan beban penantian selama setengah jam terakhir. Dengan gerakan yang agak kaku karena terlalu lama berdiam diri, ia merogoh saku celananya. Jemarinya yang panjang menarik keluar sebuah ponsel pintar dengan layar yang menyala terang. Di saat yang sama, ia menarik ikon hijau ke atas dan menempelkan benda tipisnya itu ke daun telinga.
"Halo, Ma?" Lirih Vhirel.
"Gimana, Vhirel? Adik kamu sudah datang?"
Lelaki berkulit sawo matang itu menghembuskan napasnya gusar sambil menatap jam di lengannya. Jarum pendeknya kini nyaris berpindah ke angka enam. "Ma. Kalau Dea udah pulang... aku mungkin udah dari tadi per—"
"Kak Vhirel!"
Suara itu membuat Vhirel urung melanjutkan kalimatnya. Ia menoleh ke arah sumber suara, di mana seorang gadis tampak berlari kecil menghampirinya dengan napas terengah dan ransel yang melorot di salah satu bahu. Sementara, sebelah lengannya menggusur koper besar dibelakangnya.
Mula-mula, Vhirel beranjak dari kursinya. Matanya menyipit, memperhatikan sosok yang baru saja muncul dari balik pintu setelah kilat "lima menit" yang ia berikan.
Rasa jengkel yang tadi memenuhi dadanya perlahan surut, digantikan oleh decak kagum yang ia sembunyikan rapat-rapat. Andrea. Gadis kecil yang biasanya hanya ia lihat dalam balutan seragam sekolah yang berantakan, piyama tidur bergambar kartun, atau kaus oblong rumahan yang kebesaran, kini bertransformasi sepenuhnya.
Vhirel sempat mematung sejenak, kunci motor di genggamannya berhenti berputar. Ada denyut kebanggaan sekaligus rasa protektif yang mendadak muncul melihat adiknya tumbuh secepat itu.
"Kak Vhirel!" Seru Andrea, alias Dea, gadis yang kini telah tumbuh dewasa memeluk Vhirel erat.
Aroma keringat yang biasanya tertinggal di seragam sekolahnya kini telah menguap, berganti sepenuhnya oleh aroma parfum bunga yang lembut dan segar.
Vhirel sempat mematung. Pelukan itu terasa berbeda; bukan lagi pelukan anak kecil yang merengek minta dibelikan es krim, melainkan pelukan hangat dari seorang adik perempuan yang menyadari bahwa kakaknya telah menunggu dengan sabar.
"Aku kangen banget sama Kakak!"
Vhirel mendesis dan melepaskan pelukan sang adik. Di saat yang sama, ia mengacak-acak rambut gadis itu dan mencubit pipi adiknya gemas. "Apalagi aku! Empat tahun gak ketemu rasanya lamaaaaaaaa banget!"
"Au Kakak, sakit!" Ringis Dea dengan manja. Matanya tajam menatap penuh wajah Vhirel. Seketika itu juga, ia membeku.
Tersadar, di hadapannya bukan lagi sosok bocah yang kurus dan menyebalkan, kini berdiri seorang pria dewasa. Berbalut kaus berlengan panjang, nampak sosok yang tinggi, bahunya bidang, dengan postur tegap yang memancarkan kepercayaan diri tanpa perlu dipamerkan. Rahangnya tegas, membingkai wajah yang kini lebih keras oleh garis kedewasaan. Kulitnya sedikit lebih gelap, terpapar waktu dan perjalanan hidup. Alisnya tebal, menaungi mata tajam berwarna gelap yang tak lagi sekadar nakal, melainkan menyimpan ketenangan sekaligus wibawa. Tatapan itu membuat siapa pun sadar bahwa Vhirel telah melewati banyak hal—dan keluar sebagai seseorang yang tak mudah digoyahkan.
Sementara itu, rambutnya hitam, dipotong acak namun rapi, sebagian jatuh sedikit ke dahi, memberi kesan santai yang kontras dengan aura maskulinnya. Bibirnya membentuk garis tipis, jarang tersenyum, namun ketika itu terjadi, ada kesan hangat yang tak pernah Dea kenal sebelumnya. Sama seperti yang ia lihat saat ini.
"Bengong, lagi!" Seru Vhirel sambil mencubit pipi adiknya lagi, mengejutkan. "Ayo pulang! Papa sama Mama udah nungguin di rumah."
Dea mengangguk. "Aku kangen banget sama Mama. Kangen masakan Mama."
“Sama Papa, enggak?” Tanya Vhirel sambil merebut gagang koper dari genggaman Dea. Gerakannya refleks, tegas, seolah itu sudah menjadi kebiasaannya.
Dea hendak memprotes, namun urung. Langkah pria itu kini berada setengah langkah di depannya, menarik koper tanpa menoleh, sementara mereka mulai meninggalkan area bandara.
"Kangen, dong!" Balas Dea. "Aku kangen kalian. Kangen masakan Mama... kangen nasihat Papa dan..."
Vhirel mengangkat sebelah alisnya heran. "Dan...?"
"Kangen Kak Vhirel yang dulu."
Vhirel mendesis. "Emang aku berubah?"
"Iya!" Angguk Dea. "Dulu bau keringet, sekarang wangi maskulin."
"Bagus, dong!" Sambar Vhirel. "Kan biar banyak cewek yang suka!"
"Huh, dasar genit!"
"Biarin!"
Dea mengulum bibirnya. "Ngomong-ngomong... Kak Vhirel udah punya pacar sekarang?"
"Hmmm..." Mata Vhirel berpaling, membaur ke langit senja. Lalu tak lama, sorot hangatnya menoleh ke arah Dea yang sedari tadi mengunci geraknya penasaran. "Ra... ha.... si... a!"
"Kak Vhireeeeel"
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,