Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK YANG TERHAPUS
Malam di kawasan Thamrin beneran tidak pernah tidur. Cahaya lampu neon dari gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi memantul di atas aspal yang masih terasa hangat, meski jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan malam. Di depan calon gerai elit "Angkringan Berkah", ketegangan sempat memuncak layaknya adegan di film-film aksi yang sering ditonton Rangga di waktu senggangnya dulu.
Rangga berdiri tegak dengan dagu terangkat. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana kainnya yang terpotong rapi, sebuah gestur yang menunjukkan dominasi tanpa perlu banyak bicara. Di depannya, lima orang pria berwajah sangar dengan jaket kulit kusam dan aroma rokok murahan yang menyengat tampak mencoba menanamkan rasa takut. Bau keringat mereka yang bercampur debu jalanan menabrak indera penciuman Rangga, mengingatkannya pada aroma terminal yang dulu menjadi tempat tinggalnya sehari-hari.
"Jadi, cuma segini nyali kalian? Datang malam-malam, bawa ancaman, cuma buat minta jatah preman?" suara Rangga terdengar rendah sekali, tapi bertenaga. Tidak ada sedikit pun nada gemetar atau keraguan di sana.
Pria yang paling depan, yang punya bekas luka melintang di alis kirinya, meludah ke samping dengan kasar. "Eh, Bos. Jangan sok jagoan deh! Ini wilayah kami. Mau buka bisnis mentereng di sini ya harus tahu aturan main dong. Kalau nggak, jangan salahin kami kalau besok pagi tenda peresmian mu ini sudah rata sama tanah!"
Rangga cuma tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai singa yang sedang menatap mangsa kecil. Ia melangkah maju satu langkah, menipiskan jarak sampai ia bisa menatap langsung ke dalam pupil mata pria itu. "Dulu, saya ini kuli panggul di pasar. Saya pernah tidur di atas aspal yang sekarang kalian injak ini dengan perut kosong. Jadi, jangan coba-coba ajari saya soal kerasnya aturan jalanan, karena saya sudah lulus dari sana sebelum kalian punya jaket kulit itu."
Rangga tidak mengeluarkan bogem mentah. Ia justru mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. Di layar itu, terlihat Rangga sedang duduk santai sambil tertawa bersama salah satu tokoh pemuda paling berpengaruh di Jakarta Pusat yang tempo hari sempat mampir ke angkringannya di Bandung. Seketika, nyali pria berbekas luka itu ciut drastis. Wajahnya yang tadi merah padam penuh emosi langsung berubah pucat pasi di bawah cahaya lampu jalan.
"Sudah ya? Beresin tenda yang sempat kalian miringkan tadi, lalu pergi. Jangan sampai Mas Galih panggil orang buat beneran beresin kalian," ujar Rangga santai sambil memasukkan kembali ponselnya.
Tanpa perlu diperintah dua kali, kelima orang itu langsung bergegas merapikan kekacauan kecil yang mereka buat dan pergi menghilang di balik lorong gelap dengan langkah seribu. Urusan preman beneran sudah beres. Tidak ada lagi ganjalan di sisi profesionalnya. Tapi, Rangga tahu ada satu jejak batin lagi yang harus ia hapus agar tidurnya malam ini bisa nyenyak sekali tanpa dihantui bayang-bayang masa lalu.
Rangga memacu SUV-nya menembus sisa-sisa kemacetan Jakarta menuju sebuah pemakaman umum di Jakarta Selatan. Jakarta di waktu tengah malam begini terasa lebih jujur; tanpa topeng kemewahan yang palsu, cuma ada kesunyian yang mencekam. Penjaga makam yang sudah ia beri uang tip sore tadi membukakan gerbang kecil dengan patuh. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip-kedip dan sinar bulan yang pucat, Rangga berjalan menyusuri gundukan tanah yang berjejer rapi.
Bau kamboja yang layu dan aroma tanah lembap tercium tajam setiap kali angin malam berhembus. Ia berhenti di depan sebuah nisan bertuliskan nama Laras. Kondisi nisan itu tampak bersih karena ia sudah sempat merapikannya tadi sore. Rangga berjongkok, jemarinya menyentuh marmer yang terasa dingin sekali di kulitnya.
"Aku datang lagi, Ras. Kali ini beneran cuma buat pamit," bisiknya pelan, nyaris seperti hembusan angin.
Tidak ada tangis yang pecah. Tidak ada lagi sesak yang mencekik kerongkongannya. Cuma ada rasa plong yang luar biasa besar di dadanya. Ia teringat kembali betapa dulu ia memuja wanita ini sampai rela jadi keset kaki, lalu teringat betapa hancurnya ia saat dilempar keluar dari apartemen seperti sampah yang tidak berharga.
Malam ini, di depan gundukan tanah itu, semua sisa-sisa amarah dan dendam itu seolah menguap begitu saja ke angkasa. Ia memberikan penghormatan terakhir, bukan untuk cinta yang sudah lama mati, tapi untuk masa lalu yang beneran sudah mendidiknya menjadi lelaki sekuat baja.
"Terima kasih ya sudah pernah buang aku dulu. Tanpa kejadian itu, aku nggak akan pernah punya nyali buat jadi pemenang seperti sekarang. Istirahat yang tenang ya, aku janji bakal jaga Rinjani dengan seluruh nyawaku," gumamnya sebelum bangkit berdiri. Ia merapikan pakaiannya, berbalik, dan meninggalkan kegelapan makam tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Langkahnya sekarang terasa ringan sekali, seolah gravitasi bumi tidak lagi membebani pundaknya.
Kembali ke hotel, suasana kamar presidential suite sudah sunyi senyap. Cuma ada lampu nakas kecil yang menyala kuning hangat, memberikan kesan nyaman yang dalam. Rangga melepas kemejanya pelan-pelan, membiarkan kulitnya merasakan hembusan AC yang dingin setelah seharian terpapar debu dan panasnya Jakarta. Ia menatap Syakira yang tertidur miring di atas ranjang mewah itu, memeluk guling dengan raut wajah yang tenang sekali.
Rangga naik ke ranjang dengan sangat hati-hati, berusaha agar gerakannya tidak membangunkan istrinya. Tapi, baru saja ia menarik selimut, Syakira bergerak pelan dan membuka matanya yang masih sayu.
"Mas... sudah pulang? Kok lama sekali sih? Aku sampai ketiduran nungguin kamu loh," tanya Syakira dengan suara serak khas orang yang baru saja tersadar dari mimpi.
Rangga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik Syakira ke dalam dekapannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya yang selalu wangi sabun bayi dan minyak telon yang menenangkan. Ia menghirup aroma itu dalam-dalam, seolah-olah aroma itu adalah oksigen paling murni yang ia butuhkan setelah seharian menghirup pengapnya udara Jakarta yang penuh kepalsuan.
"Semuanya sudah beres, Dek. Urusan preman di gerai tadi sudah aman, urusan masa lalu di makam juga sudah Mas selesaikan beneran malam ini," bisik Rangga sambil terus mengelus rambut panjang Syakira dengan lembut.
Syakira mengusap punggung Rangga, ia bisa merasakan otot-otot suaminya yang tadinya tegang perlahan mulai rileks dalam pelukannya. "Mas beneran nggak apa-apa kan? Jakarta ini bising sekali ya, Mas. Rasanya kok aku pengen cepat-cepat pulang ke Lembang deh. Kangen sama udara dingin di kebun kita."
Rangga terkekeh pelan, ia mencium kening Syakira lama sekali dengan penuh perasaan. "Iya, Sayang. Jakarta ini sekarang cuma jadi tempat Mas cari uang saja, cuma tempat buat buktikan kalau keluarga kita bisa berdiri tegak di mana pun. Tapi rumah Mas... ya cuma kamu. Cuma di dalam hati kamu Mas merasa beneran bisa istirahat tanpa perlu pasang tameng."
Syakira tersenyum sangat manis sekali, lalu menaruh telapak tangannya di atas tangan Rangga yang sedang mendekap perut buncitnya. "Dedek bayinya nendang loh tadi pas Mas masuk kamar. Kayaknya dia juga sudah nggak sabar mau pulang ke rumah kita di Bandung."
Rangga merasakan tendangan kecil yang aktif di bawah telapak tangannya. Seketika, sisa-sisa kelelahan dan rasa sesak yang sempat mampir di hatinya menghilang tak berbekas. Inilah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan gerai elit di Thamrin yang bakal dipenuhi pejabat besok pagi, bukan mobil mewah yang terparkir di bawah, tapi kedamaian yang ia rasakan dalam pelukan Syakira dan kehadiran anak-anaknya.
"Besok habis acara potong pita dan semua peresmian selesai, kita nggak usah lama-lama ya? Kita langsung balik ke Lembang. Kita makan jagung bakar di teras sambil lihat bintang. Mas beneran rindu suasana rumah yang tenang," janji Rangga mantap.
"Beneran ya, Mas? Janji ya! Ah, Mas jangan sampai kegoda makan malam mewah sama kolega-kolega itu deh!" Syakira mencubit pelan pinggang Rangga, membuat lelaki itu tertawa kecil dalam kegelapan kamar.
"Nggak akan, Dek. Kolega bisa menunggu, tapi rindu Mas sama ketenangan Lembang sudah nggak bisa ditunda lagi. Jejak masa lalu Mas sudah Mas hapus bersih malam ini di makam tadi. Besok tinggal selesaikan kewajiban profesional sebentar saja, lalu kita pulang ke rumah kita yang sebenarnya. Mas mau kita tutup pintu masa lalu di Jakarta ini rapat-rapat."
Mereka berpelukan dalam keheningan yang sangat nyaman, cuma ada suara dengkur halus Rinjani yang terdengar dari kamar sebelah. Rangga memejamkan mata dengan perasaan syukur yang luar biasa. Ia merasa setiap potongan puzzle hidupnya sekarang sudah terpasang dengan sempurna. Ia sudah menang melawan Jakarta, ia sudah berdamai dengan bayang-bayang Laras, dan ia sudah memiliki pelabuhan terbaik dalam diri Syakira.
Rangga menarik selimut lebih tinggi, memeluk istrinya lebih erat, dan bersiap untuk tidur paling nyenyak yang pernah ia rasakan di ibu kota ini. Besok bukan lagi soal pembuktian diri, tapi soal menyelesaikan bab terakhir di kota ini sebelum benar-benar pulang sebagai pemenang ke pelukan rumahnya di Bandung. Semuanya beneran sudah beres. Tidak ada lagi beban, tidak ada lagi ganjalan. Cuma ada kedamaian yang menyelimuti keluarga kecil mereka di lantai empat puluh dua hotel mewah itu, menatap sisa malam Jakarta dengan hati yang sudah beneran merdeka.