NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Dominasi di Atas Prahara

"Keluar sekarang, Yansya, atau aku akan meratakan seluruh keangkuhanmu beserta rumah ini!" teriakan pria berjas abu-abu itu menggema melalui pelantang suara, membelah kesunyian malam dengan getaran yang sangat mengancam.

Aku segera menarik tubuh Seeula agar lebih rendah di balik meja kerja yang terbuat dari kayu jati solid. Mataku tidak lepas dari layar monitor pengawas yang memperlihatkan titik-titik merah di halaman depan. Kelompok ini bukan amatir seperti anak buah Gautama. Mereka bergerak dalam formasi militer yang sangat presisi dengan senjata yang memiliki kaliber mematikan.

"Yansya, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa mereka?" tanya Seeula dengan suara yang bergetar hebat.

Aku tidak menjawabnya dengan kalimat panjang. Tanganku bergerak cepat menekan tombol rahasia di bawah meja untuk mengaktifkan lapisan baja pada jendela dan pintu ruang kerja. Suara dentuman logam yang menutup rapat memberikan sedikit ruang bagi napas kami untuk kembali teratur.

"Tetaplah di bawah meja ini, Seeula. Jangan bergeser walau hanya satu sentimeter saja," pesanku dengan nada bicara yang sangat otoritas.

Aku meraih tablet kontrol yang tersembunyi di dalam laci. Rian sudah memberikan akses penuh pada sistem pertahanan otomatis yang kami pasang dua hari lalu. Aku melihat melalui kamera inframerah bahwa ada lima orang yang mencoba melakukan perforasi pada pintu gerbang utama.

"Rian, aktifkan protokol gangguan sinyal sekarang juga," perintahku melalui mikrofon kecil di kerah bajuku.

"Sistem aktif, Bos. Seluruh komunikasi radio mereka dalam radius lima puluh meter baru saja menjadi sampah," sahut Rian dengan nada yang sangat puas dari balik pengeras suara internal.

Aku berdiri perlahan, membiarkan bayanganku jatuh di atas lantai marmer yang kini diterangi cahaya lampu darurat berwarna merah. Aku mengambil senjata api jenis pistol taktis yang terselip di pinggang belakangku. Bagiku, kedatangan mereka adalah manifestasi dari ketakutan organisasi Konstelasi terhadap kekuatanku yang terus bertumbuh secara progresif.

Suara ledakan kecil terdengar kembali, kali ini menghantam lapisan baja jendela balkon. Aku melihat retakan kecil pada kaca antipeluru tersebut. Mereka menggunakan peledak termit untuk melelehkan engsel baja. Aku tidak akan menunggu mereka berhasil masuk ke dalam ruangan ini.

Aku berjalan menuju panel kontrol di dinding sebelah kiri. "Seeula, tutup telingamu sekarang."

Aku menekan tombol aktivasi gas pelumpuh non-lethal di area balkon. Dalam sekejap, asap putih pekat menyembur dari celah-celah ventilasi luar. Aku mendengar suara batuk yang tercekik dan tubuh yang jatuh menghantam lantai balkon dengan suara yang cukup keras.

"Bereskan sisa-sisanya di halaman, Rian. Gunakan menara kejut listrik pada pagar," instruksiku dengan mata yang tetap mengunci monitor.

"Siap, Bos. Mereka akan merasakan sensasi tegangan tinggi dalam tiga, dua, satu!" pekik Rian penuh semangat.

Kilatan cahaya biru menyambar di sepanjang pagar besi rumahku. Para penyusup yang mencoba memanjat pagar langsung terpental hebat dengan tubuh yang mengejang. Keadaan di halaman depan berubah menjadi kekacauan yang sangat menguntungkan posisiku. Aku segera membuka kunci baja pintu balkon dan melangkah keluar dengan senjata yang sudah siap menyalak.

Pria berjas abu-abu itu masih berdiri di luar jangkauan pagar listrik. Dia menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi dengan amarah sekaligus rasa takjub yang tidak bisa disembunyikan. Dia menjatuhkan pelantang suaranya ke aspal.

"Kau benar-benar anomali, Yansya. Tidak ada pengusaha di kota ini yang memiliki sistem pertahanan setingkat pangkalan militer seperti ini," teriak pria itu dengan nada bicara yang sangat sinis.

Aku melompat turun dari balkon lantai dua dengan gerakan yang sangat luwes, mendarat tepat di depan gerbang yang kini sudah tidak lagi dialiri listrik. Aku mengarahkan moncong senjataku tepat ke arah dadanya.

"Nama saya adalah Yansya, bukan anomali. Dan kau baru saja melakukan kesalahan besar dengan mengotori halaman rumahku," sergahku dengan suara yang rendah namun sangat mematikan.

"Namaku adalah Darius. Aku datang untuk membicarakan masa depan, bukan untuk mati di tangan pemuda sombong sepertimu," timpal Darius sambil mengangkat kedua tangannya perlahan.

"Masa depanmu baru saja berakhir saat kau memutuskan untuk membawa senjata ke rumahku, Darius," tukasku sambil melangkah maju hingga jarak kami hanya terpaut dua meter.

Darius tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dipaksakan di tengah kepungan tim keamananku yang kini mulai muncul dari balik semak-semak halaman. "Konstelasi tidak akan membiarkanmu menang begitu saja. Kami adalah pemilik aliran modal di negeri ini."

"Modal tidak berguna jika kepalamu memiliki lubang peluru di tengahnya," balasku dengan senyuman yang paling provokatif.

Tiba-tiba, Seeula keluar dari pintu depan rumah dengan langkah yang terburu-buru. Wajah tampak pucat pasi namun sorot matanya menunjukkan keberanian yang tidak terduga. Dia berdiri di sampingku, menatap Darius dengan tatapan yang sangat menghina.

"Tinggalkan rumah kami sekarang juga, atau saya sendiri yang akan memastikan seluruh aset Konstelasi di Widowati Group akan saya sita atas dasar percobaan pembunuhan!" pekik Seeula dengan nada suara yang sangat stabil.

Darius tampak tersentak melihat keberanian Seeula. Dia melirik ke arahku, lalu kembali menatap Seeula. "Kalian berdua benar-benar pasangan yang sangat serasi dalam menghancurkan tatanan bisnis yang sudah mapan."

"Tatanan bisnis yang korup memang harus dihancurkan agar orang-orang jujur bisa bernapas, Darius," timpalku sambil memberikan isyarat pada tim keamanan untuk meringkus sisa-sisa penyusup yang masih pingsan.

Darius menarik napas panjang, lalu dia merogoh saku jasnya dengan gerakan yang sangat lambat agar tidak memicu tembakanku. Dia mengeluarkan sebuah koin emas dengan simbol yang sama seperti pada kartu namanya semalam. Dia melemparkan koin itu ke arahku.

"Simpan itu sebagai kartu masukmu ke pelelangan aset nasional besok. Jangan sampai terlambat jika kau masih ingin melihat saham Widowati tetap hijau," ancam Darius sebelum dia berbalik menuju mobil sedan hitamnya yang masih menunggu di jalanan.

Aku menangkap koin itu dengan tangan kiri, merasakan permukaan logamnya yang dingin dan bertekstur kasar. Aku tidak mengejarnya. Aku tahu membunuh pria seperti Darius sekarang hanya akan memicu serangan yang jauh lebih besar sebelum aku siap sepenuhnya. Aku harus bermain cantik di medan pertempuran mereka.

"Kau tidak apa-apa, Seeula?" tanyaku sambil menurunkan senjata dan merangkul pundaknya.

"Aku takut, Yansya. Tapi aku menyadari bahwa berdiri di belakangmu tidak akan menyelesaikannya. Aku harus berdiri di sampingmu," jawab Seeula sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.

Aku mengelus rambutnya, merasakan tanggung jawab yang semakin berat merayap di pundakku. Konstelasi bukan sekadar organisasi bisnis, mereka adalah entitas yang mengakar kuat pada sistem pemerintahan. Aku harus menggunakan seluruh pengetahuan masa depanku untuk meruntuhkan mereka dari dalam.

Keesokan paginya, kantor Widowati Group kembali diguncang oleh berita tentang serangan di rumahku. Namun, aku sudah memerintahkan Rian untuk memutarbalikkan fakta di media massa. Kami menyebutnya sebagai simulasi keamanan tingkat tinggi untuk menarik minat investor terhadap sistem perlindungan aset yang akan kami luncurkan.

Aku duduk di kursi kebesaranku, menatap koin emas pemberian Darius di atas meja jati. Rian masuk ke ruangan dengan membawa beberapa berkas baru dengan raut wajah yang sangat tegang.

"Bos, ada masalah serius di rumah aman tempat Madam Widowati ditahan sementara," lapor Rian sambil meletakkan tabletnya di depanku.

"Jelaskan dengan cepat, Rian," tuntutku dengan nada yang sangat tajam.

"Seseorang melakukan ekstraksi paksa. Tim keamanan kita di sana dilumpuhkan menggunakan gas tidur tingkat militer. Madam Widowati dibawa pergi menggunakan helikopter tak terdaftar," jelas Rian dengan suara yang sedikit bergetar.

Rahangku mengeras seketika. Konstelasi baru saja menunjukkan taring mereka dengan membobol protokol keamananku yang paling rahasia. Madam Widowati bukan sekadar mantan mertua, dia adalah saksi kunci sekaligus umpan paling berbahaya bagi Seeula.

"Siapkan tim pengejar ke koordinat terakhir helikopter itu, Rian. Jangan sampai ada satu pun jejak yang terlewat," perintahku dengan otoritas yang tidak bisa dibantah.

Aku segera meraih jasku dan melangkah menuju pintu. Namun, saat aku baru saja akan membuka pintu, Seeula sudah berdiri di sana dengan wajah yang sangat gelap. Di tangannya, dia memegang sebuah koin emas yang sama dengan miliku beserta secarik kertas.

"Ibuku mengirimkan ini lewat kurir internal perusahaan, Yansya. Dia bilang Konstelasi sedang menunggumu di gudang pelabuhan utara sekarang juga!" seru Seeula dengan suara yang pecah karena amarah yang memuncak.

Aku terpaku sejenak, menyadari bahwa koin yang dibawa Darius hanyalah pengalih perhatian agar aku tidak menyadari Madam Widowati sedang ditarik keluar dari pengawasanku.

"Jangan pernah berpikir untuk pergi ke sana sendirian, Seeula!" bentakku dengan nada yang sangat agresif.

"Aku tidak akan diam saja melihat ibuku dijadikan alat untuk menghancurkanmu, Yansya! Aku berangkat sekarang!" sahut Seeula sambil berbalik lari menuju lift pribadi sebelum aku sempat mengunci aksesnya.

Aku segera mengejarnya, menyadari bahwa Konstelasi baru saja menarik pelatuk yang bisa menghancurkan seluruh rencana masa depanku dalam sekejap mata.

1
ZasNov
Tidak mungkin Yansya datang tanpa persiapan.. 😄
ZasNov
Bagus Yansya, jangan sampai kecolongan lagi. Mereka bisa menggunakan Seeula untuk mengalahkanmu..
ZasNov
Semoga Yansya bisa menepati janjinya..
ZasNov
Seeula pasti lega banget Yansya datang..
ZasNov
Seeula bisa menjadi kelemahan sekaligus kekuatan Yansya. Tapi karena semua lawannya sudah tau kelemahan Yansya adalah Seeula, maka Yansya harus berusaha lebih keras lagi melindungi Seeula..
ZasNov
Yansya ga ada rasa takut sama sekali.. 😄👍
ZasNov
Seeula pasti semakin yakin dan percaya, kalau Yansya memang sedang melindunginya dengan berbagai cara..
ZasNov
Wah berarti kekuasaan Tuan Gautama layak diperhitungkan.. Jangan lengah Yansya, lawanmu kali ini tidak bisa dianggap remeh..
ZasNov
Menghadapi manusia yang jauh lebih berkuasa pun, Yansya sama sekali tidak gentar.. Kereeeenn... 👍
ZasNov
Yansya beneran ga ada takut2nya.. 😖
ZasNov
Seeula pasti merasa sangat dilindungi & di-Ratu-kan sama Yansya.. 😊
ZasNov
Pak Hermawan tidak ada pilihan lain, selain memenuhi permintaan Yansya..
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!