Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu Anggika
Di dapur, suasana rumah terasa sangat sepi. Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan.
Kulsum berdiri sambil melipat tangan di dada. Matanya mengawasi ruang tamu Anggi dan Mario sedang bermesraan.Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa, ia menarik tangan suaminya.
"Mas, ikut aku sebentar," bisiknya dengan nada tegas.
Herry mengerutkan kening. "Ada apa lagi, Sum?"
Namun Kulsum sudah lebih dulu menariknya masuk ke kamar. Pintu ditutup rapat.
Begitu pintu tertutup, Kulsum langsung meluapkan kekesalannya.
"Mas, aku benar-benar tidak mengerti!" katanya dengan nada tinggi.
"Kenapa sih kamu selalu membela anak angkat itu?"
Herry menghela napas panjang.
"Sum..."
"Tiap kali ada masalah, kamu pasti memihak Anggika!" potong Kulsum kesal.
"Padahal jelas-jelas Rendy itu anak kandung kita!"
Herry menatap istrinya dengan wajah lelah.
"Sum, sudah dua puluh tujuh tahun berlalu..." katanya pelan.
"Kenapa kamu masih saja tidak bisa menerima Anggi?"
Kulsum tertawa sinis.
"Justru itu yang membuat aku curiga!" katanya tajam.
"Jangan-jangan dia itu sebenarnya anak hasil selingkuhan kamu!"
Herry langsung menatap istrinya tajam.
"Kulsum! Jaga ucapanmu!"
Namun Kulsum tidak peduli.
"Kalau bukan anak kamu, kenapa kamu mati-matian mengupayakan supaya Anggika menggantikan posisi anak kita waktu itu?"
katanya dengan nada penuh tuduhan.
"Apalagi waktunya pas sekali dengan saat aku melahirkan!"
Herry mengusap wajahnya frustasi.
"Sum, aku sudah menjelaskan ini berkali-kali."
"Tapi aku tidak pernah percaya!" balas Kulsum cepat.
Herry menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata dengan suara berat.
"Anggika itu anak dari almarhum sahabatku."
Kulsum terdiam sebentar, tapi wajahnya tetap keras.
"Dia meninggal di hari yang sama saat kamu melahirkan," lanjut Herry.
"Dan saat itu... anak kita sudah tidak bisa diselamatkan."
Kulsum mengepalkan tangan.
"Aku hanya ingin menghiburmu waktu itu," kata Herry lirih.
"Aku tidak tega melihat kamu hancur karena kehilangan bayi kita."
Namun Kulsum justru semakin marah.
"Aku lebih baik tahu anakku meninggal!" katanya dengan suara bergetar.
"Daripada harus membesarkan anak orang lain seumur hidupku!"
Herry menatap istrinya dengan kecewa.
"Kamu terlalu kejam, Sum..."
Kulsum tertawa pahit.
"Kalau saja waktu itu Anggika kecil tidak kecelakaan dan butuh donor darah..." katanya dingin.
"Mungkin sampai sekarang kamu masih menyembunyikan fakta kalau dia bukan anak kita."
Herry langsung beristighfar.
"Astaghfirullah..."
Ia menatap istrinya dengan mata penuh kekecewaan.
"Anggi itu anak yang sangat baik, Sum," katanya pelan namun tegas.
"Dia tidak pernah menuntut kasih sayang darimu."
"Dia tetap menghormatimu sebagai ibu."
"Dia selalu berusaha membuatmu bangga."
Herry menggeleng pelan.
"Apa hatimu sama sekali tidak tergerak?"
Kulsum justru mendengus.
"Siapa tahu dia anak haram," katanya sinis.
Herry langsung menatapnya tajam.
"Kulsum!"
Namun wanita itu tetap bersikeras.
"Lebih baik kamu jujur sekarang," katanya dingin.
"Kasih tahu Mario sebelum hari pernikahan mereka tiba."
Herry terdiam.
Kulsum melanjutkan dengan nada penuh ancaman.
"Kalau tidak..." katanya pelan.
"Keluarga kita akan dipermalukan untuk kedua kalinya oleh haram itu."
Herry menatap istrinya lama.
Wajahnya tampak berat, seolah sedang menahan banyak hal.
Ia menarik napas panjang.
“Sudah cukup, Kulsum.”
Wanita itu mengerutkan kening.
“Aku akan memberitahu Mario dan Anggi. Kamu tenang saja,” lanjut Herry dengan suara tegas.
Tanpa menunggu jawaban lagi, Herry langsung berdiri lalu keluar dari kamar menuju ruang tamu.
Di ruang tamu, Mario sedang duduk di sofa. Anggi terlihat berbaring santai dengan kepala bertumpu di paha calon suaminya.
Anggi yang tadinya setengah mengantuk ikut membuka matanya.
“Ada apa, Pak?” tanya Mario sopan
Herry berdehem pelan.
“Mario… bapak mau ngobrol sebentar. Bisa ikut bapak?” ujar Herry dengan nada serius.
Anggi langsung bangun dari posisi tidurnya dan duduk tegak. Ia menatap ayahnya dengan heran.
“Ngobrol apa, Pak? Kok kelihatannya serius banget?” tanya Anggi.
Mario mengelus rambut Anggi pelan, lalu menatap Herry.
“Ada apa, Pak?” tanyanya.
Herry terlihat ragu sejenak sebelum menjawab.
“Bapak cuma mau bicara sebentar sama Mario.”
Anggi mengerutkan kening.
“Kenapa harus sama Mario saja? Anggi gak boleh dengar?”
Herry menghela napas.
“Ini… urusan penting.”
Anggi menyilangkan tangan di dada.
“Penting sampai Anggi harus disuruh pergi?”
Mario menatap Anggi lembut.
“Sayang, mungkin bapak cuma mau bicara sebentar. Kamu tunggu di dapur dulu, ya.”
Anggi masih terlihat penasaran.
“Kenapa sih semuanya pada rahasia sama Anggi?”
Herry mencoba tersenyum tipis.
“Kamu ke dapur dulu, bantu ibu kamu.”
Anggi menghela napas panjang.
“Iya deh… Anggi ke dapur.”
Ia berdiri dari sofa dan berjalan menuju dapur, meskipun beberapa kali menoleh dengan rasa penasaran.
Setelah Anggi benar-benar pergi, Mario menatap Herry kembali.
“Sekarang… ada apa, Pak? Sampai Anggi harus disuruh pergi.”
Herry duduk perlahan di kursi depan Mario. Wajahnya terlihat berat seolah ada sesuatu yang sudah lama ia pendam.
Mario memperhatikan raut wajah mertuanya itu.
“Ada apa, Pak? Kelihatannya serius sekali,” tanya Mario pelan.
Herry menghela napas panjang.
“Rio… ada sesuatu tentang Anggi yang harus kamu tahu.”
Mario langsung menegakkan duduknya.
“Anggi kenapa, Pak? Dia sakit?”
“Bukan… bukan soal itu,” jawab Herry cepat.
“Lalu apa, Pak? Bapak bikin saya jadi khawatir.”
Herry menunduk beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan.
“Anggi… bukan anak kandung bapak.”
Mario terdiam sejenak. Ia terlihat kaget.
“Maksud bapak… bagaimana?” tanya Mario pelan.
Herry menatap Mario dengan mata berkaca-kaca.
“Bapak bukan ayah kandung Anggi. Jadi… bapak juga tidak bisa menjadi wali nikahnya.”
Mario mengerutkan kening.
“Kalau begitu… Anggi anak siapa, Pak?”
Herry menghela napas panjang lagi, seolah membuka luka lama.
“Dia anak sahabat bapak.”
“Dulu… ibu kandung Anggi meninggal saat melahirkan dia.”
Mario mendengarkan dengan serius.
“Waktu itu… sebenarnya anak yang dikandung Kulsum… sudah meninggal saat lahir.”
Suara Herry mulai bergetar.
“Karena bapak tidak tega melihat bayi Anggi sendirian… bapak membawa dia pulang. Karena kebetulan kami satu rumah sakit.”
Mario mulai mengerti.
“Lalu bapak bilang ke Bu Kulsum kalau… itu anak yang dia lahirkan?” tanya Mario memastikan.
Herry mengangguk pelan.
“Iya… bapak bohong.”
Mario terdiam beberapa detik.
“Jadi itu alasan Bu Kulsum… tidak pernah benar-benar sayang sama Anggi?”
Herry menunduk.
“Mungkin… sejak awal dia merasa Anggi bukan darah dagingnya.”
Mario mengusap wajahnya pelan.
“Kalau ayah kandung Anggi… dimana sekarang, Pak?”
Herry menggeleng.
“Bapak tidak tahu.”
“Yang jelas… ibu Anggi, Marisa, punya suami sah.”
Mario langsung menatap Herry.
“Jadi Anggi bukan anak haram?”
“Bukan,” jawab Herry tegas.
“Dia anak sah. Hanya saja… nasib membuat dia kehilangan orang tuanya.”
Mario menghela napas panjang.
“Anggi tahu soal ini, Pak?”
Herry langsung menggeleng cepat.
“Belum.”
“Bapak… tidak pernah punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.”
“Bapak takut… kalau Anggi tahu… dia akan menjauhi bapak.”
Mario terdiam cukup lama.
Lalu ia berkata dengan tenang.
“Pak… Anggi berhak tahu.”
Herry menatap Mario cemas.
“Kamu… tidak keberatan dengan masa lalu Anggi?”
Mario tersenyum tipis.
“Yang saya nikahi itu Anggi yang sekarang.”
“Bukan masa lalunya.”
“Yang penting masa depan kami.”
Herry terlihat lega mendengarnya.
“Terima kasih, Rio…”
Mario menepuk bahu Herry pelan.
“Suatu hari… Anggi pasti akan mengerti.”
Herry mengangguk pelan, meski di wajahnya masih terlihat kekhawatiran.
Di dapur, Anggi berdiri sambil membantu ibunya. Namun pikirannya tidak tenang.
“Kenapa ya bapak kelihatan serius banget ngobrol sama Rio…” gumamnya pelan.