Sawyer Reynolds, seorang mahasiswa miskin di Central International University, menghadapi penghinaan dari pacarnya, Stella Reed, dan mahasiswa kaya, Dylan Cooper, yang mencampakkannya karena uang. Setelah dipukuli dan dikeluarkan dari kelas, Sawyer ditemukan oleh seorang pria kaya, Samuel, yang ternyata adalah ayahnya yang telah lama hilang. Sawyer mengetahui bahwa ia adalah pewaris tunggal kekayaan triliunan dolar. Dengan identitas barunya sebagai seorang miliarder, Sawyer berencana untuk membalas dendam kepada mereka yang telah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Bugatti Tourbillon
Saat melangkah keluar bersama Henry, mata Sawyer membelalak kagum ketika melihat betapa luas dan indahnya seluruh kawasan itu.
Rasanya akan memakan waktu berjam-jam untuk menjelajahi setiap sudutnya. Ia memperhatikan sejumlah pria berpakaian hitam yang berjaga secara strategis di sekitar rumah.
"Henry, siapa mereka?" tanyanya sambil menunjuk ke arah para pria itu.
"Itu adalah para pengawal, mereka sangat kuat dan bisa melindungimu dari bahaya," kata Henry.
Sawyer mengangguk hendak menjawab ketika pandangannya tertuju pada sebuah Rolls-Royce yang perkasa terparkir tidak jauh dari sana. Ia bertanya dengan takjub,
"Apakah itu milik ayah? Dan model Rolls-Royce apa itu? Kelihatannya berbeda dari SUV lain yang pernah kulihat.”
Henry mengangguk dan menjelaskan, "Ya, Tuan Muda. Ini hanya salah satu mobil yang ayahmu gunakan saat beliau berada di Central City. Ini adalah Rolls-Royce Cullinan, SUV termewah yang pernah ada. Bernilai sekitar 1,2 juta dolar dengan spesifikasi khusus ini.”
"Sial! 1,2 juta dolar?” gumam Sawyer, ia berjalan mendekati mobil itu untuk melihatnya lebih dekat. Pintu yang berat terbuka dengan sempurna, memperlihatkan kabin mewah dengan kulit seputih salju dan atap kaca bertabur bintang. Ia tidak bisa menahan diri untuk duduk di dalam, merasakan jok yang terasa seperti sofa termahal di dunia. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan bagaimana rasanya duduk di dalam "ruang tamu berjalan" yang harganya bisa untuk membeli sebuah kompleks perumahan. Selama ini ia hanya bisa memimpikan hal ini sambil menunggu taksi di pinggir jalan.
Melihat kegembiraan Sawyer, Henry menyarankan, "Tuan Muda, bagaimana kalau kita menuju garasi dan melihat mobil-mobil di sana? Kau bisa memilih mana pun yang kau suka."
"Garasi?" Mata Sawyer berbinar penuh semangat. "Tentu saja, ayo. Aku ingin sekali melihat garasinya."
Henry memimpin jalan, mengarahkan Sawyer menuju sebuah area tertutup besar yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan kendaraan.
Saat berjalan, Sawyer tidak bisa menahan diri untuk bergumam, "Sepertinya aku akan tinggal di sini saja daripada membeli rumah sendiri. Ini bukan rumah biasa, ini adalah sebuah mansion," ujarnya, terpesona oleh skala kemegahan semuanya.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di garasi. Pintu masuk garasi yang mengesankan itu tampak megah, dengan pemindai sidik jari yang mencolok di sampingnya.
Henry mengambil sebuah remote dari sakunya, menekannya, lalu mengaktifkan pemindai sidik jari. Saat ia meletakkan sidik jarinya pada sensor, pintu garasi terbuka perlahan dengan mulus.
Begitu pintu terbuka, tampaklah surga otomotif berteknologi tinggi. Ruangan itu begitu rapi, dengan lantai marmer mengilap dan dinding yang dihiasi lampu LED canggih, memancarkan cahaya bak suasana surgawi ke seluruh kendaraan. Setiap mobil ditempatkan dengan sangat teliti di atas platform khusus, dipamerkan seperti karya seni di galeri.
"Ya Tuhan." Kekaguman Sawyer memuncak. Ia menatap sekeliling, hampir tidak percaya bahwa garasi indah ini kini menjadi bagian dari kenyataannya. Tingkat kecanggihannya luar biasa, dengan sistem pengatur suhu terintegrasi dan sistem keamanan mutakhir yang memastikan setiap kendaraan terawat dalam kondisi sempurna.
Saat pandangan Sawyer menyapu lebih jauh, ia semakin terkejut. Ia menghitung bukan satu, bukan dua, tetapi hampir dua puluh mobil, semuanya diparkir dengan rapi dan teratur. Koleksi itu mencakup berbagai kendaraan mewah, dari mobil sport ramping hingga SUV luas, masing-masing menampilkan rekayasa dan desain kelas atas.
"Ini luar biasa! Aku belum pernah melihat yang seperti ini. Rasanya seperti ruang pamer mobil terbaik di dunia."
Henry tersenyum, jelas senang dengan reaksi Sawyer. "Benar, Tuan Muda. Ibumu ingin memastikan kau memiliki akses pada yang terbaik dari yang terbaik. Beliau selalu menambahkan mobil baru ke koleksi ini sambil berkata, suatu hari ketika aku menemukan putraku, semuanya akan menjadi miliknya. Kau boleh memilih mobil manapun yang menarik perhatianmu."
Mendengar itu, Sawyer sedikit terharu. "Sepertinya aku telah membuat ibu sangat khawatir. Jika aku tahu ibu masih hidup, aku juga akan ikut berusaha mencarinya."
Henry menepuk bahu Sawyer dan berkata, "Tuan Muda, itu bukan salahmu. Setidaknya kau telah merasakan bagaimana orang miskin hidup di masyarakat dan bagaimana mereka diperlakukan. Itu akan membantumu memahami cara mengambil langkah ke depan. Meskipun aku memiliki gelar yang baik, dulu aku bekerja sebagai tukang semir sepatu sebelum dibawa masuk ke keluarga ini."
Sawyer menghela napas dan mengangguk. Ia lalu mulai berjalan menyusuri garasi, mengusap lekukan halus setiap mobil dengan jemarinya. Setiap kendaraan seolah berbisik tentang kekuatan, kemewahan, dan presisi. Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa bagi seseorang yang tumbuh dengan keadaan sederhana.
Setelah meneliti dengan saksama, akhirnya Sawyer berhenti pada sebuah Bugatti Tourbillon hitam yang ramping, garis-garisnya memancarkan keanggunan abadi. Ia menoleh pada Henry dan bertanya, "Bukankah ini Bugatti Tourbillon yang disebut sebagai salah satu mobil tercepat di dunia?"
Henry mengangguk. "Benar sekali, Tuan Muda. Ini adalah Bugatti Tourbillon, penerus legenda dengan mesin V16 hybrid yang luar biasa."
Mendengar itu, kebahagiaan mendadak memenuhi diri Sawyer. Dari yang biasa memanggil taksi, kini ia akan memiliki salah satu hypercar terbaru dari pabrikan asal Prancis itu.
"Berapa harga Bugatti Tourbillon ini?" tanyanya.
"4,2 juta dolar, Tuan Muda." jawab Henry singkat.
"Apa? 4,2 juta dolar? Itu sangat mahal." pikirnya. "Kurasa ketika Stella melihatku suatu hari nanti mengendarai mobil ini, dia pasti akan tergila-gila ingin kembali padaku. Bukan hanya itu, semua gadis kampus mungkin ingin mendekatiku dan setiap pria di kampus akan memandangku dengan iri, lagipula tidak ada seorangpun di kampus yang mampu memiliki mobil semahal ini."
Memikirkan hal itu, ia menoleh pada Henry dengan senyum tipis. "Aku pilih yang ini. Ini sebuah mahakarya."
Henry mengangguk, tampak puas dengan pilihan Sawyer. Ia dengan cepat membuka sebuah loker dan mengambil sebuah kunci, lalu menyerahkannya sambil berkata,
"Pilihan yang sangat bagus, Tuan Muda. Aku akan memastikan mobil ini terdaftar atas namamu."
Sawyer mengangguk dan berkata, "Bagus, aku ingin mencoba mengendarainya di sekitar sini dulu. Kalau sudah siap benar-benar keluar, nanti akan kubawa."
Henry mengangguk dan berkata, "Tentu, Tuan Muda. Garasi ini cukup besar, kau bisa mencobanya di sini, tetapi aku penasaran apakah kau bisa mengemudi."
Sawyer meyakinkannya dengan percaya diri, "Tentu saja, aku dan dua temanku belajar mengemudi bersama. Aku cukup mahir, tapi kau bisa duduk di samping dan mengajariku beberapa hal."
Setelah mengatakan itu, ia mendekati Bugatti Tourbillon, langkahnya penuh antusias. Saat ia membuka pintu dan duduk di kursi pengemudi, ia tak bisa menahan napas kagum melihat bagaimana bagian dalam Bugatti Tourbillon terlihat.
Dasbor berteknologi tinggi yang ramping dihiasi berbagai layar sentuh canggih, menampilkan informasi mulai dari navigasi hingga metrik performa. Setirnya sendiri adalah karya seni, dilapisi kulit halus dan dilengkapi kontrol yang tampak seperti berasal dari film futuristik.
Sawyer mengusap permukaannya yang halus, mengagumi kualitas pembuatannya. Ia merasakan gelombang kegembiraan mengalir dalam dirinya. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadari, matanya mulai berkaca-kaca.
"Ada apa, Tuan Muda? Mengapa ada air mata di matamu?" tanya Henry.
Sawyer mengusap air matanya dan berkata, "Baru kemarin aku berjalan seperti orang tak waras hanya untuk mendapatkan pekerjaan paruh waktu, bahkan aku diusir karena pakaianku, tapi lihatlah aku sekarang mengenakan pakaian Louis Vuitton yang mahal."
"Dua malam lalu aku dihina karena miskin, tapi lihat aku sekarang, memiliki 10 miliar dolar dan juga memiliki Bugatti seharga 4,2 juta dolar," katanya.