Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harmoni dan Reruntuhan
Fajar di Underworld tidak membawa kehangatan matahari, melainkan pendaran cahaya redup yang membiaskan warna ungu di cakrawala. Di lapangan pelatihan pribadi keluarga Phenex yang telah diperkuat dengan segel pelindung berlapis, atmosfer terasa begitu padat. Riser berdiri di podium pengawas, tangannya bersedekap, menatap empat wanita yang kini berdiri di tengah arena.
Di satu sisi, Yubelluna dan Shizuka berdiri berdampingan. Di sisi lain, Saeko dan Esdeath mengambil posisi mereka. Ini bukan sekadar latihan; ini adalah cara Riser untuk memaksa energi mereka yang saling bertolak belakang agar bisa mengalir dalam satu frekuensi tempur yang sama.
"Yui, aktifkan Simulasi Pasukan Neraka. Level: Bencana," perintah Riser dalam hati.
[ Protokol Simulasi Aktif. ]
[ Musuh: 500 Prajurit Bayangan Tingkat Tinggi. ]
[ Kondisi Kemenangan: Penghancuran total tanpa korban di pihak sendiri. ]
Tanah di tengah arena mendadak bergetar, dan ratusan sosok hitam pekat dengan mata merah menyala bangkit dari bayang-bayang. Mereka membawa senjata-senjata besar yang memancarkan energi kutukan.
"Ingat," suara Riser bergema melalui sistem komunikasi sihir. "Jika kalian gagal berkoordinasi, energi kalian akan saling membatalkan. Esdeath, jangan biarkan esmu memadamkan api Yubelluna. Saeko, bergeraklah di celah serangan mereka."
Esdeath menyeringai lebar, rapierya yang baru saja diperbaiki oleh sistem berpendar biru dingin. "Akan kutunjukkan pada kalian bagaimana seorang Jenderal memimpin!"
Esdeath menghentakkan kakinya ke tanah. BRAK! Sebuah gelombang es raksasa merambat cepat, membekukan barisan depan pasukan bayangan dalam sekejap. Namun, dia tidak berhenti di situ. Dia memanggil 《Ice Cavalry》—puluhan prajurit es berkuda yang melesat maju menembus barisan musuh.
"Terlalu terburu-buru, Rook," gumam Yubelluna. Dia mengangkat tongkat sihirnya. "Api, jangan padam oleh dinginnya. Bakarlah di dalam es itu!"
Yubelluna melepaskan rentetan bola api ungu. Bukannya menghancurkan es milik Esdeath, bola-bola api itu justru masuk ke dalam tubuh prajurit es kavaleri tersebut. Hasilnya mengerikan: prajurit es itu kini memancarkan panas ekstrem dari dalam, membuat mereka meledak seperti bom termobarik saat menyentuh musuh.
[ Analisis Integrasi: Api & Es. ]
* Status: Sinkronisasi Darurat Berhasil.
* Efek: Frost-Burn Explosion.
"Kerja bagus, Queen," Esdeath mengakui dengan nada yang sedikit lebih lunak, meski matanya tetap fokus pada pembantaian di depannya.
Sementara itu, Saeko bergerak seperti kilat merah di antara ledakan-ledakan tersebut. Dia tidak membutuhkan area serangan yang luas; dia adalah eksekutor titik vital. Setiap kali ada prajurit bayangan yang berhasil lolos dari jebakan es dan api, Saeko sudah berada di sana untuk membelah mereka.
"Shizuka! Sayap kiri!" teriak Saeko.
Shizuka, yang biasanya tampak malas, kini bergerak dengan ketangkasan yang mengejutkan. Dia berlari di belakang Saeko, tangannya terus memancarkan pendaran hijau. Setiap kali Saeko melakukan gerakan ekstrem yang menguras stamina, Shizuka melepaskan 《Miracle Pulse》 jarak pendek yang memulihkan otot Saeko secara instan.
"Siap, Saeko-chan! Teruslah menebas, aku akan menjaga napasmu tetap segar!" seru Shizuka sambil menghindari serangan kapak besar dengan gerakan meliuk yang luwes.
[ Status Anggota: ]
* Saeko: Stamina 99% (Terus dipulihkan).
* Shizuka: Output Energi Stabil.
* Esdeath & Yubelluna: Dominasi Area 85%.
Riser memperhatikan bagaimana aura dingin Esdeath mulai selaras dengan panasnya sihir Yubelluna. Esdeath belajar untuk tidak membekukan area yang sedang dibakar oleh Yubelluna, melainkan menciptakan wadah es agar ledakan api Yubelluna menjadi lebih terarah. Itu adalah pemandangan yang indah sekaligus mengerikan.
"Cukup untuk pemanasan," ucap Riser.
Dia menjentikkan jarinya, dan sisa-sisa pasukan bayangan itu hancur menjadi debu. Area latihan kini dipenuhi oleh kabut uap panas akibat pertemuan es dan api. Keempat wanita itu berkumpul di tengah, napas mereka sedikit memburu, namun tidak ada luka di tubuh mereka.
Esdeath menatap Yubelluna, lalu menyarungkan pedangnya. "Aku harus mengakui, sihir apimu... tidak seburuk yang kukira. Kau tahu cara memanfaatkan celah kedinginanku."
Yubelluna menurunkan tongkatnya dan membungkuk sedikit. "Dan kau memiliki kontrol yang luar biasa atas kreasimu. Jika kita terus seperti ini, tidak ada tentara di dunia bawah yang bisa menembus pertahanan kita."
Saeko berjalan mendekati Riser yang baru saja turun ke arena. "Tuanku, kami mulai merasakan alirannya. Energi kami tidak lagi saling bertabrakan."
Riser mengangguk puas. Dia berjalan ke arah mereka, memberikan pujian yang tulus. "Kalian telah membuktikan bahwa kekuatan individu yang luar biasa bisa menjadi tak terkalahkan jika disatukan dengan kepercayaan. Tapi, ini baru awal."
[ Sinkronisasi Jiwa: 65%. ]
[ Peringatan Sistem: Fluktuasi Dimensi Terdeteksi di Dunia Manusia. ]
[ Catatan Yui: Sepertinya keberadaan Esdeath menarik perhatian 'tamu' yang tidak diundang dari dimensi lain. Bersiaplah, Pemalas. Waktu tenangmu sudah habis. ]
Riser menyipitkan mata. Dia merasakan getaran aneh di udara, sebuah kehadiran yang tidak berasal dari Underworld maupun dunia manusia yang biasa.
"Kembali ke kastel dan bersiaplah," perintah Riser, suaranya kembali menjadi berat dan penuh kewaspadaan. "Sesuatu yang besar sedang mendekat ke kota Kuoh. Dan kali ini, ini bukan sekadar Rating Game."
Esdeath menyeringai, tinjunya mengeras. "Bagus. Aku baru saja mulai merasa bosan dengan boneka bayangan itu."
Riser menatap langit ungu yang mulai bergejolak. Dia tahu, dengan anggota Peerage yang semakin kuat, tantangan yang datang juga akan semakin gila. Namun, itulah yang dia inginkan. Dia bukan lagi Riser yang hanya ingin bertahan hidup; dia adalah Riser yang siap menelan seluruh semesta ke dalam apinya.