Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lilis Si Janda Kembang
#2
Hingga larut malam, Rayyan masih mondar-mandir di dalam kamarnya. Bimbang, galau, sekaligus sakit hati. Semua nano-nano menjadi satu. Jika dipikir-pikir bodoh sekali kalau Rayyan sedih karena merasa dicurangi sang kekasih. Karena dari sudut manapun, ia sempurna dalam segala hal.
Tampan, sudah pasti, banyak uang, walaupun sekarang masih belum. Tapi setidaknya, masa depannya sudah diramalkan akan menduduki kursi nomor satu di Senopati Group.
Tapi, demi sebuah pembuktian, Rayyan tak mau memanfaatkan statusnya untuk memikat wanita. Ia tetap menginginkan cinta sejati, wanita yang tulus tak lebih hanya sekedar wanita yang mencintai semua materi yang ada dalam dirinya.
Semua belum terlambat, yah, belum terlambat. Dirinya dan Mitha hanya berstatus pacaran, tidak tunangan, apalagi menikah. Jika Mitha bisa berbuat sesuka hati ketika dirinya berusaha setia, maka Rayyan pun merasa berhak untuk kembali memikirkan hubungan mereka ke depan.
Dengan berat hati Rayyan pun memblokir nomor sang kekasih, “Jika kamu bisa bersikap tak tahu malu, setelah aku bersusah payah memberikan sebagian hasil kerja kerasku. Maka jangan salahkan aku jika kelak aku pun bisa membuangmu.”
Rayyan meletakkan ponselnya kemudian memejamkan mata, esok ia akan memikirkan langkah apa yang harus ia perbuat.
•••
“Hati-hati, ya, Nak,” pesan Mama Marina pada putra bungsunya melalui panggilan. Rayyan baru saja pamit hendak menenangkan diri di sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya tinggal.
“Pasti, Ma.”
“Berapa lama, disana?”
“Kurang tahu, Ma. Mungkin satu bulan, bisa juga lebih.”
Krek!
Terdengar suara resleting ketika Rayyan menutup ransel besarnya.
“Itu lama sekali, katamu mau segera melamar Mitha?” tanya Mama Marina.
Rayyan terdiam, ia tak tega memberitahukan pada orang tuanya perihal Mitha. Tak tega bila nanti mereka ikut sedih.
“Biarkan saja dia berkelana. Anak kita itu laki-laki, sangat penting baginya untuk mencari banyak pengalaman. Nanti-nanti saja menikahnya, Rayyan baru 26 tahun, loh,” sela Tuan Gusman, membela Rayyan yang katanya pamit ingin berkunjung ke rumah Nanang sahabatnya.
Rayyan senang karena mendapatkan pembelaan dari papanya. “Tuan Ulat Bulu kesayangan netizen memang terdebest,” puji Rayyan selenge-an.
“Dan kamu, anak ulat bulu, jangan bikin malu Papa, ya?”
“Kalau soal itu, Tuan Gusman tak perlu khawatir. Aku akan tetap menjunjung kehormatan Anda setinggi-tingginya.” Rayyan menepuk dadanya, “Aku janji tak akan pernah membuat Papa dan Mama malu, Papa dan Mama hanya boleh merasa bangga padaku.”
“Bagus sekali. Itu baru Anak Papa.” Dengan rasa bangga, Tuan Gusman mengatakannya.
Sejauh ini, Rayyan tumbuh menjadi seseorang yang melebihi batas ekspektasinya. Tuan Gusman hanya ingin Rayyan belajar menjadi pemimpin, tapi Rayyan justru mewujudkannya dengan membuka pabrik skala kecilnya sendiri.
Dengan passion yang ia sukai, kemampuan alami yang ia miliki adalah bakat yang menurun dari kemampuan memasak sang mama, Nyonya Marina.
•••
Sungguh bukan jalur tempuh yang mudah, karena Rayyan di beri tantangan agar menggunakan transportasi umum kelas menengah kebawah. Mulai dari naik bis lintas provinsi, hingga berdesakan di minibus menuju Desa Kembang Turi, tempat Nanang berasal.
Rayyan duduk meringkuk di kursi belakang paling pojok, serta harus memakai masker sepanjang jalan. Penyebabnya, karena aroma keringat manusia, bercampur dengan aroma makanan, ditambah bau tanah sawah, serta bau peternakan, kini semua aroma itu mengepung indera penciumannya.
Rayyan mulai sedikit menyesal keputusannya, tapi apa daya ia sudah hampir tiba, tinggal satu kali pemberhentian lagi Rayyan akan tiba.
Tapi pandangan matanya tiba-tiba tertuju pada seorang gadis yang baru saja naik ke dalam bus mini, wajah lelahnya tak membuat senyum itu memudar. Sepertinya usianya masih muda, tapi wajahnya terlihat dewasa karena melawan beratnya tantangan hidup.
“Eh, Lilis, darimana?” sapa salah seorang ibu yang duduk memangku baki yang telah kosong usai berjualan di pasar.
“Dari pasar, Lek. Belanja buat ngisi warung,” jawab wanita itu.
“Wah, masih ramai, warungmu?”
“Alhamdulillah, masih, Lek. Ya, lumayan buat biaya hidup sehari-hari, dan juga biaya sekolah Arimbi.”
“Berbudi sekali kamu, Nak. Meskipun Saodah bukan ibu kandungmu, kamu tetap ikhlas menafkahi dia dan adikmu setelah bapak kalian meninggal.”
Wanita itu kembali melempar senyum, namun, kecut, enggan melanjutkan kembali pembicaraan. Bus kembali melaju perlahan, melewati jalanan yang tak selalu mulus. Tapi gadis itu tetap mengeratkan pegangan tangannya agar tetap berdiri tanpa perlu mengemis tempat duduk.
Rayyan jadi merasa malu, padahal barang bawaannya tak seberapa banyak dibandingkan gadis itu. “Mbak,” kata Rayyan.
Gadis itu menoleh, “Silahkan, pakai tempat duduk saya.”
“Terima kasih, Mas, tapi tak perlu, Lagian sebentar lagi saya turun.”
Karena mendapat penolakan, maka Rayyan bisa apa selain kembali duduk di tempatnya.
Kalimat sebentar yang diucapkan gadis itu, rupanya membutuhkan waktu hampir 30 menit. Hingga tak lama kemudian gadis itu pun turun, sambil membawa barang-barang belanjaannya.
“Desa Kembang Turi, siapa lagi yang mau turun!” teriak kernet bus.
Rayyan terperanjat, “Desa Kembang Turi, Pak?”
“Iya, Mas. Nah, tadi Masnya bilang mau ke Desa Kembang Turi?”
“Benar, Pak. Terima kasih, sudah mengingatkan.”
Rayyan bergegas turun sambil memanggul kembali tas ransel besarnya.
“Ray! Akhirnya, merasakan juga jadi orang desa!”
Sungguh sambutan yang absurd, Rayyan segera memeluk dan memiting leher Nanang namun pria itu justru tergelak bahagia, setelah mengerjai sahabatnya.
“Dasar, kunyuk!” maki Rayyan dengan nafas ngos-ngosan, “hampir dua hari aku menempuh perjalanan, nyaris saja balik lagi ke Ibu Kota.”
Nanang semakin tergelak bahagia, seraya memeluk pundak sahabatnya. “Sekali-kali lah, biar tahu rasanya menjadi diriku, ketika pulang kampung. Ayo, Emakku sudah masak belut dengan sambal spesial buatmu.”
“Wah, kebetulan aku sudah lapar.”
Mereka berjalan menghampiri motor bebek milik Nanang, yang parkir tak jauh dari sana. Ternyata Rayyan kembali melihat gadis di dalam bis yang tadi menolak tawaran kursi darinya, gadis itu tak melihat Rayyan, hanya sibuk mengikat barang belanjaannya agar tak jatuh dari motor selama ia berkendara.
Setelah semua dipastikan aman, gadis itu pergi, tanpa menyapa siapa-siapa lagi, kecuali pamit pada Nanang. “Mas Nanang, aku duluan, ya.”
“Hati-hati, Lis.”
Rayyan hanya jadi penonton, “Kamu, kenal dia?”
“Iya. Kenapa? Kamu memperhatikan dia? Tertarik padanya?” tanya Nanang, yang nampak heran dengan tatapan Rayyan pada Lilis.
“Ck, ngomong asal jeplak aja. Nggak, lah, aku cuma bertanya, karena tadi kami satu bis.”
“Oh, kirain.” Nanang mulai menstarter motor bebeknya. “Tidak apa-apa, sih, kalau tertarik, dia gadis tangguh, tulang punggung keluarga, tapi— sudah janda di usia belia.”
“What?!”
Rayyan benar-benar tak habis pikir, masih ada saja cerita semacam ini.
“Tak usah kaget begitu, di desa kami sudah biasa jika ada yang menikah muda, tapi yang bercerai setelah enam bulan menikah, baru Lilis seorang.”
Rayyan tak lagi peduli, ia saja tak menyangka jika penjelasan Nanang akan begitu panjang. Niatnya kemari hanya untuk liburan menenangkan diri, sambil berdiskusi dengan Nanang tentang situasi pabriknya.
lanjuttttttt