*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 - Predator Kota Adam
Perjalanan dari Hutan Veridian menghabiskan waktu sekitar dua hari berjalan kaki. Kesunyian hutan yang hanya dipecah oleh suara alam, berganti dengan gema aktivitas manusia yang semakin mendekat. Sol sepatuku menyerah. Langkah kaki yang tadinya ringan, kini mulai sulit, terhalang tapak sepatu yang mulai menganga.
Aku berhenti sejenak di punggungan bukit terakhir, menatap Kota Adam yang terhampar di bawah seperti mangkuk batu raksasa. Bekas ibukota yang kini menjadi pusat kegiatan militer sekaligus pusat kegiatan bagi para Tarker sepertiku.
Aku bisa melihat tembok-tembok batu kuno yang sama yang telah berdiri selama ratusan tahun, dan di baliknya, atap-atap barak Aegis Legion—para tentara penjaga kedaulatan Republik Stellamontia—tertata rapi dalam formasi geometris. Kota Adam adalah markas utama mereka.
Aroma wangi yang manis, khas pohon Palliton, memenuhi hidungku saat menuruni lereng. Pohon-pohon raksasa ini berbaris melingkari kota, layaknya benteng alami yang setia. Kulit kayunya yang pucat dan daunnya yang berurat keperakan, akan berpendar di malam hari, menciptakan perisai cahaya dan aroma yang tak disukai hewan liar.
Gerbang utama kota, selalu menampakkan sisi hitamnya. Warga biasa berlalu lalang keluar masuk tanpa hambatan, tapi beda soal dengan pria berambut kuning itu—dan seluruh orang dengan warna rambut yang sama. Mereka dikenal dengan ras Gora.
Di pinggir gerbang, ia dibentak-bentak oleh kadet Sentinel Corps— siswa militer di akhir masa pendidikannya alias prajurit cadangan, yang ditugaskan menjaga ketertiban kota dan perbatasan.
Aku memalingkan wajah, merasa debu jalanan jauh lebih menarik untuk diamati daripada tontonan rendah itu. Cengkeramanku pada tali tas sedikit mengencang.
"Aku bilang buka semua lapisannya!" gertak si kadet, suaranya melengking penuh otoritas palsu.
Pria Gora—yang berbadan besar dan kekar—itu hanya menghela napas, jemari besarnya dengan kesal membuka ikatan kulit terakhir.
Aku bisa merasakannya. Daya Gora ini jauh diatas si kadet Sentinel. Kalau bisa ku klasifikasikan dalam Beastology, Gora ini mungkin tipe D, dan Sentinel ini jelas tipe B. Jika ini di belantara, kadet ini sudah punah dalam sekali sentak. Tapi di sini, si Gora bertransformasi menjadi Kategori A yang jinak, dipaksa menelan harga dirinya demi izin masuk kota.
Dasar manusia. Predator yang hanya berani kalau memakai seragam dan berkelompok.
Di ujung gerbang, Sentinel lain memindaiku dari atas sampai bawah. Aku hanya mengerling ke arahnya. Aku menarik kain berpola wajik Marga Pellian di leherku sedikit lebih tinggi, memastikan pola khas Suku Mien itu terlihat jelas.
Penjaga itu melirik sekilas ke arah wajahku, lalu ke tas besar berisi gulungan peta yang mencuat keluar. Dia memberikan anggukan singkat—sebuah pengakuan terhadap profesi Tarker yang memiliki hak istimewa untuk lewat tanpa diinterogasi.
"Misimu Lancar, Tarker?" tanyanya singkat.
"Misiku lancar, sepatuku tidak," jawabku datar.
Aku melangkah melewati gerbang tanpa perlu membuka tas, sementara di belakangku, pria Gora itu masih berlutut di lumpur, mencoba merapikan kembali sisa-sisa hidupnya yang diacak-acak.
Ras Gora dulunya adalah bangsa penakluk yang adidaya dan menguasai dunia, sebelum Moonfall—kehancuran dunia lama. Namun karena kezalimannya kala itu, meninggalkan dendam pada umat manusia. Dendam yang terus berlanjut bahkan setelah berpuluh tahun era After Moon.
Itu kata orang, aku tak sepenuhnya percaya.
Begitu melewati gerbang, dinding suara kota langsung menghantamku.
Ah, bagian ini yang paling membuat malas.
Dengungan konstan dari ratusan percakapan dalam berbagai logat, derap langkah Kuda Batu yang beradu dengan jalanan, teriakan para pedagang yang menjajakan barangnya, dan denting palu pandai besi yang ritmis—semua suara itu terasa seperti serbuan setelah kesunyian hutan.
Dengungan pasar ini lebih buruk dari koloni Tawon Angin Silet. Setidaknya tawon itu diam kalau kau tidak mengganggu sarangnya, sementara para pedagang ini tetap berteriak meski kau tidak punya satu Aspen pun di saku.
Aku menarik kain khas suku Mien di leherku sedikit lebih tinggi, mencegah hidungku menghirup debu jalan dan seolah mencari perlindungan untuk menembus keramaian pasar ini.
Hhhh... sungguh hari-hari yang membosankan... kuharap di rapat nanti ada hal menarik, meskipun sepertinya hanya akan begitu-begitu saja.
Pikiranku yang bosan sembari berjalan menuju Markas, tiba-tiba dibuyarkan oleh suara berteriak dari arah depan...
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu
Pas kita lari, dia datang
Mau betumbuk kah mereka?😭