NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Bintang Kampus

Rahasia Dua Bintang Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.

"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"

Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.

"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia kemarin siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.

"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.

Gilang Putra Candra, mahasiswa semester 4 andalan Universitas Gama dalam setiap lomba karya tulis nasional tak sengaja bertemu dengan Jeny Mau Riska Atlit Karate-Do sabuk hitam yang juga mahasiswi semester 4 Universitas Gama di gang belakang kampus.

Pertemuan tak sengaja itu, perlahan menjadi rumor di kalangan mahasiswa angkatan mereka.

Akankah rumor itu menjadi awal rahasia mereka?

Ikuti kisah mereka dalam RAHASIA DUA BINTANG KAMPUS

Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, lokasi hanya kebetulan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Klarifikasi

Gilang menggerakkan tuas ke kanan.. lalu ke kiri dengan tangan kiri, begitu berulang kali . Tangan kanan menekan tombol dengan gerakan cepat. Ekspresi tegang, tawa geli campur kesal.

PLAK

"Aaah.. Kalah lagi."

Mesin Arcade tak luput dari pukulan kekesalannya.

Dering ponsel berbunyi lirih, getar kuat yang menyadarkannya ada panggilan masuk.

" Assalamu'alaikum. Kenapa Ris? "

"wa'alaikumsalam, dimana kamu Gil? "

"Dimana lagi? di Arcade lah, kenapa emang?

"Aku kesana, jangan kabur ya!! "

TUT-TUT-TUT

"Kenapa ni anak?"

Gilang memasukkan ponsel ke sakunya, berlalu ke meja kasir.

"Kak, Top up ya 50.000," ujarnya sambil menyerahkan selembar uang dan kartu membernya.

Gilang memilih mesin tari. Tas ia letakkan di sudut dekat mesin, musik di pilih. Pemain di pilih. Kakinya lincah menekan tombol. Musik dengan beat cepat membuat Gilang bersemangat, kacamata ia masukkan ke tas. Ketampanan yang tersembunyi di balik kacamata itu kini tersibak dengan jelas.

Siswi-siswi SMA yang juga bermain di sana tercengang melihat ketampanan Gilang. Tambah lagi, tariannya yang lincah menginjak tombol demi tombol membuat rambutnya yang sedikit lebat ikut menari mengikuti gerakan tubuhnya.

Tak sedikit yang tertarik merekam aksi bebasnya itu. Ia tak peduli, sekarang hanya meluapkan badmoodnya lah yang menjadi prioritasnya.

Meski tersengal di akhir tarian, tapi hatinya puas siang itu.

"Kak, bagi kontak WhatsApp dong? " tanya salah satu siswi SMA malu-malu.

"Duh, sori ya. Sudah punya cewek, " elaknya.

"Ah, ngeles aja kakak. Aku tahu kakak kuliah di kampus Gama kan? kakakku kuliah di sana juga. Katanya kakak jomblo."

"Ih, di bilangin nggak percaya."

"Mana foto ceweknya kalau ada?" tantang Siswi itu.

"Dia nggak suka di foto, jadinya nggak punya," seloroh Gilang berusaha bertahan.

"Tetep aku nggak percaya. Siapa namanya coba? "

Tiba-tiba sebuah ide muncul begitu saja di kepalanya.

"Adalah, yang pasti dia karate-ka. Berani kamu tantangin dia? " balas Gilang.

"Ish, udah ah pergi aja yuk. Sok jual mahal, " cibirnya sambil mendengus.

Gilang terkekeh, " Dasar anak ingusan, " teriaknya.

Tepat saat itu, Gilang baru menyadari Aris sudah berdiri tak jauh dari rolling door gedung Arcade.

"Jadi bener Kamu deket sama Jeny Gil? kok nggak pernah cerita sih? " tanya Aris menghampiri.

"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.

"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"

Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.

"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia tadi siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.

"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.

"Terus, barusan kamu ngaku-ngaku punya pacar karate-ka ke anak-anak SMA tadi?"

"Cih, itu cuma ngeles aja biar nggak di mintain no. WA. Males aku nanggepin anak ingusan."

"Gilang, ada foto kamu sama si Jenny di share Erwin di grup kelas, coba cek deh."

Gilang bangkit mengambil tasnya, seketika semangatnya bermain jadi pupus diberondong pertanyaan dari Aris. Ia berlalu keluar dan berjalan santai menuju parkiran tempat Aris meletakkan motornya.

Gilang menatap foto yang di maksud Aris tadi di handphonenya.

"Brengsek Erwin, bikin rumor apaan anak ini?" tanyanya kesal.

"Nah, Kamu bagaimana ceritanya jadi jalan bareng gitu? "

"Ayolah ke kafe dulu ngadem, aku cerita sambil makan disana. "

Gilang sudah duduk di jok belakang, Aris menyusul menaiki motornya, menekan tombol starter dan memutar gas. Motor melaju menjauh dari Arcade.

***

"Jen, kamu deket sama Gilang?" tanya Bobi sesama rekan karate-ka.

Jeny yang tengah merapikan alat berlatih tertegun, masih tak paham dengan arah pertanyaan Bobi yang juga teman mainnya sejak kecil. Mereka tinggal di kawasan yang sama bertahun-tahun.

"Maksudnya? " tanya Jeny.

Bobi memperlihatkan ponselnya. Terpampang jelas foto Jeny sedang berjalan bersama seorang laki-laki yang ia temui di gang siang tadi.

"Foto ini lagi rame bahas kalian, memang beneran kamu dekat sama Gilang? sejak kapan? " tanya Bobi menyelidik.

"Cuma kebetulan ketemu, Aku malah baru tahu nama cowok itu Gilang, " sahutnya santai.

Kening Bobi berkerut--bingung.

"Terus maksudnya foto ini apa? "

Jeny hanya mengendikkan bahu.

"Harusnya tanya sama yang ambil foto itu maksudnya apa berbuat begitu?" sahut Jeny.

"Iya juga sih. Benar kamu nggak kenal kan? kalau nggak--"

"Apa? kamu niat cerita ke nenekku? Awas aja kamu kalau nenekku sampai tahu, " ancam Jeny.

Bobi terdiam dan berlalu pergi.

'Siapa lagi iseng ambil foto begitu? Nambahin rumor aja, ' batin Jeny kesal.

"Jeny, Bobi, " panggil sinpai.

"Ya, Sinpai."

 Jeny dan Bobi menghampiri Jery, Sinpai (pelatih) yang bertanggung jawab di dojo kampus mereka.

" Jeny, besok kamu ketemu pak Herman ya, tolong pastikan kita dapat uang saku untuk turnamen bulan depan. Tinggal dua minggu lagi, usahakan tidak ada yang terlewat persiapannya."

"Baik, Sinpai. "

"Bobi, kamu bisa hubungi teman-teman yang absen latihan hari ini? terutama Erwin. Dia masuk utusan untuk KATA putra tunggal. Sudah tiga kali dia tak datang berlatih. "

"Siap, Sinpai. Setelah ini saya hubungi Erwin."

"Kalian bisa pulang, jangan keluyuran ya. Jaga kesehatan, turnamen nanti kalian harus fit."

"Osh, Sinpai, " seru karate-ka Dojo Kampus Gama.

Mereka membubarkan diri mengambil peralatan pribadi dan berganti pakaian.

Di ruang ganti wanita, situasi terasa canggung. Beberapa karate-ka berbisik membicarakan kehebohan foto yang diceritakan Bobi tadi.

CEKLEK

Semua mata spontan menoleh ke arah pintu. Jeny melangkah santai masuk hendak berganti pakaian seragam kerjanya.

"Jen, shift sore y? " tanya sekar mendekat.

Jeny mengangguk kecil, lalu menoleh pada sekar yang terlihat ragu-ragu.

"Kenapa? ada yang mau dibahas? " tanya Jeny dengan nada dingin.

Yang lain ikut kikuk mendengar pertanyaan Jeny. Terang mereka sungkan, dari sekian banyak karate-ka Jeny sudah sabuk tertinggi. Bahkan banyak prestasi. Berbanding jauh dengan mereka yang masih di level bawah.

Sekar salah satu yang berani bicara dengan Jeny karena mereka sekelas dan juga teman sebangku saat SMA.

"Cuma mau konfirmasi soal foto yang lagi rame. Kamu sudah tahu kan? "

"Oh itu, iya Bobi yang cerita tadi. Konfirmasi soal apanya? "

"Kalian dekat? "

"Nggak, kan kamu tahu sendiri siapa-siapa aja yang dekat sama aku?"

Sekar mengangguk mantap, "Kali aja yang ini kamu rahasiakan."

"Cih, buat apa? memangnya famous banget dia ya sampai kalian butuh konfirmasi dariku?"

"Kamu nggak tahu Gilang? "

Jeny menggeleng.

"Tahu namanya juga baru tadi dikasih tahu Bobi. Apalagi soal yang lain. Aku nggak ada waktu buat ngurusin orang."

Semua diruangan itu merasa tersindir. Mereka pura-pura acuh, tapi telinga masih berusaha mendengar percakapan Sekar dan Jeny.

"Gilang itu anak dekan kita, Jen. Dia mahasiswa fakultas Sains. Nah, dia itu incaran Mona, anak bungsu Rektor kita. "

"Oh gitu, terus? "

"Kita cuma nggak mau rumor ini bakal bikin kamu berurusan sama Mona. Biarpun mahasiswa, Mona cukup berpengaruh. Maklum lah anak kesayangan Rektor. Jadi, kamu perlu hati-hati sama Mona."

"Oke, Terima kasih infonya. Kalau memang dia butuh klarifikasi langsung dari aku, Aku siap ladenin. Aku tekankan, aku nggak ada hubungan sama orang yang namanya Gilang itu. Dan aku nggak ada niat buat kejar-kejar dia. Oke, kawan!! Aku kerja dulu. "

Sekar hanya menggeleng melihat sikap Jeny yang cuek sambil berlalu pergi.

"Kalian sudah dengar kan teman-teman, jadi aku harap kalian bantu klarifikasi biar Dojo kita juga nggak dapat masalah. Kalian tahu sendiri kan gimana Jeny, dia nggak bakal mau heboh bikin klarifikasi di grup."

"Oke, Sekar. Syukurlah dia nggak ada hubungan sama Gilang, kita cuma kasihan kalau urusannya sampai ke civitas, beasiswa Jeny yang bisa hangus."

Yang lain mengangguk setuju dengan komentar Leni.

"Aku juga khawatir soal itu, " gumam Sekar lirih.

***

"Oooh, jadi kamu sempat mau di palak sama senior?"

"Iya, tadinya mau ku ladenin aja biar nggak ribut. Tau-tau mereka sendiri yang bilang nggak jadi. Nggak lama cewek itu lewat kasih peringatan ke mereka. Jadi aku pikir mereka takut sama cewek itu. Memangnya dia siapa sih? Aku jadi penasaran."

"Nah ini, bahaya kalau sudah penasaran. Cari tahu, terkesan trus jatuh cinta deh, " seloroh Aris terbahak.

"Ya, nggak gitu juga lah. Tapi, aku kayaknya familiar sama cewek itu. Rasanya aku juga pernah berurusan dengan dia tapi nggak tahu soal apa dan kapan."

Aris mendekat, "Apa mungkin, dia cinta sejati yang kamu cari dulu? "

Gilang menatap Aris, ia teringat kejadian saat SMP dulu. Ia sempat salah paham dengan seorang siswi yang berbeda kelas dengannya, tapi belum punya kesempatan meminta maaf.

"Bisa jadi sih, tapi perempuan itu tak sedingin mahasiswi ini. Karakternya jauh beda."

Aris mengendikkan bahu.

1
falea sezi
lnjut bnyk
Cahaya Tulip: 😁🙏diusahakan kak.. krn up 3 novel baru setiap hari.. Terima kasih sdh mampir🤗🥰🙏
total 1 replies
falea sezi
kkn ne bapak nya mona prestasi mona apaan dah
falea sezi
suka novel yg ada gambar nya gini
Cahaya Tulip: 🥰🙏Terima kasih akak..
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍😍
Cahaya Tulip: Siap kak.. on progress🤗 di up besok ya.. Terima kasih🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!